SUAMI NARSIS

SUAMI NARSIS
WEDDING DAY — AKAD NIKAH


__ADS_3

Serangkaian adat sudah dilalui Sarah, dimulai dari Piare Calon None Pengantin, Siraman dan Ditanggas, dan terakhir ialah Malam Pacar.


Tak sedikit drama yang dilaluinya ketika melaksanakan serangkain adat tersebut, terutama perdebatan ringan dengan mominya saat disuruh minum jamu godokan namun ia selalu menolak, belum lagi rengekan Sarah saat ia meminta ponselnya untuk dikembalikan karena ingin menghubungi calon suaminya, namun tak pernah dihiraukan oleh mominya.


****


Tibalah hari-H. Menjelang akad, sedari subuh Sarah sudah dibangunkan untuk menunaikan sholat subuh, kemudian sarapan, setelah itu ia mulai dirias untuk acara akad nikahnya.


Kebaya putih dan rok batik yang bergaya modern membalut tubuh rampingnya. Sanggul serta bunga melati menjadi penghias diatas kepalanya. Riasan wajah yang tidak terlalu tebal, atas permintaan Sarah sendiri membuatnya tampil begitu cantik natural.


.


.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Iring-iringan pengantin telah tiba dikediaman orang tua Sarah, setengah jam sebelum acara dimulai.


Calon pengantin Pria yang tak lain adalah Zayyan terlihat begitu gagah dengan balutan busana berwarna putih khas akad nikah pada umumnya. Kegugupan pun jelas terbaca pada raut wajahnya yang selama ini selalu datar "Ma, bagaimana penampilanku!?" Tanyanya


"Mama sudah berapa kali mengatakannya Zay, jika ketampnananmu bertambah saat kau mengenakan pakaian ini!" ujar Mama Dessy. Ia mulai lelah mengulangi jawaban yang sama. Dimulai dari sebelum berangkat hingga tiba dikediaman mempelai wanita, Putranya itu tak henti bertanya dengan pertanyaan yang itu-itu saja.


"Maaf, Ma. Aku hanya berusaha menghilangkan rasa gugup yang semakin menguasai diriku. Apa lagi saat melihat pak penghulu disana" Jelas Zayyan seraya mengarahkan pandangannya pada orang yang akan menikahkannya.


"Wajar itu, Boy! Hari ini kau akan menerima sebuah tanggung jawab yang begitu besar. Dimana kau akan berjanji didepan Tuhan, sedangkan malaikat dan kami semua yang hadir disini akan menjadi saksi atas ucapanmu nanti" ujar Papah Wildan menimpali "Ingat, Boy!! Jika bisa sekali tarikan nafas saja kau mengucapkannya agar cepat sahnya" Sambungnya sembari menepuk ringan salah satu bahu putranya untuk memberikan semangat


Zayyan mengangguk sembari tersenyum "Insya Allah! Semoga aku bisa"


Ditengah-tengah obrolannya, penghulu yang sudah lebih dulu duduk ditempat yang akan dilantangkannya akad terlihat melambaikan tangan memanggil calon pengantin pria untuk mendekat. Dengan nafas yang naik turun tidak beraturan dan telapak tangan yang dingin Zayyan segera menghampiri.

__ADS_1


Zayyan begitu terlihat sangat serius saat mendengarkan beberapa arahan serta nasihat yang disampaikan oleh penghulu tersebut. Sampai tiba waktu yang ditunggu, pengantin pria sudah terlihat lebih tenang dari sebelumnya, kegagahannya bertambah saat duduk menghadap penghulu, didampingi Papah Wildan dan juga Paman Baskoro (Saudara laki-laki Almarhum Daddy Rehan) yang akan menjadi saksi.


"Saudara Zayyan Raditya Bin Wildan Raditya Saya Nikahkan dan Kawinkan engkau dengan Saudari Sarah Atmaja Binti Rehan Atmaja dengan mas kawin beruapa uang senilai Rp9.092.020,- dibayar tunai"


"Saya terima Nikah dan Kawinnya Sarah Atmaja Binti Sarah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" ujar Zayyan begitu gugup hingga tidak sadar akan apa yang diucapkannya


"Maaf nak Zayyan, ayo kita ulang lagi" pinta penghulu btersebut


Zayyan begitu terkejut saat mendengar ucapan penghulu tersebut, rasanya ia sudah benar. Karena tidak ingin protes, ia pun menurut dan kembali mengulang namun salah lagi, hingga akhirnya pada ijab kobul yang ketiga ia berhasil dan membuat orang-orang yang menyaksikan mengucap kata "SAH"


Sang pengantin pria segera bangkit dari duduknya dan melakukan sujud syukur, setelah beberapa menit lalu ia menerima segala tanggung jawab tentang Sarah kepadanya.


Semua orang begitu terharu melihat Zayyan, banyak yang tak menyangka dengan perbuatannya. Laki-laki yang selama ini dikenal super perfeksionis, mampu meliangkan air mata.


'Daebakkkk... Aku benar-benar tidak menyangka jika Tuan Zayyan mampu melinangkan air mata.' Batin Lyra yang hadir dalam acara tersebut, sembari menyeka air matanya yang juga ikut terjatuh saay menyaksikan momen haru tersebut.


.


Tak jauh berbeda dengan Sarah. Saat mendengar kata SAH melalui pintu kamar tempatnya dirias, ia juga melakukan sujud syukur dan menangis karena Zayyan bisa melewati masa tegangnya beberapa menit lalu.


Momi Sabrina datang menemui putrinya membawa sebuah amplop yang berisi surat didalamnya "Sarah! Kau sekarang sudah menjadi istri. Selamat ya, Nak! Semoga kau bisa melaksanakan segala tugasmu dengan baik"


"Terimakasih, Mom!" Ucap Sarah tulus kemudian memeluk Mominya.


Amplop kecil yang dibawa Momi Sabrina segera ia serahkan pada Sarah "Nak, sebelum Daddy pergi ke Kalimantan, Daddy pernah membuat tulisan tangan yang nantinya akan ia ungkapkan untukmu saat hari pernikahanmu nanti, tapi rencana hanya tetap rencana saat takdir lebih dulu bekerja. Ini... Ambil dan bacalah nanti, sekarang kita harus keluar karena Zayyan sudah menunggumu"


Sarah segera menerima amplop tersebut dan menyimpannya pada laci meja "Ayo, Mom!" Ajaknya

__ADS_1


Momi Sabrina menuntun putrinya itu berjalan keluar dengan langkah yang pelan dan sangat anggun. Langkahnya terhenti tepat dihadapan Zayyan. Pandangan mata mereka bertemu dan saling mengunci, ada rasa rindu setelah 2 hari tak saling memberi kabar. Kemudian pandangan mata mereka berakhir dengan senyuman.


"Pasang cincinnya dulu Zay" pinta Mama Dessy sambil menyerahkan sebuah box perhiasan yang sudah terbuka kepada Putranya


Zayyan pun segera mengambil cincin tersebut dan memasangnya pada jari manis sebelah kanan wanita yang baru beberapa menit lalu sah menjadi istri, dan begitu pun sebaliknya dengan Sarah. Kemudian Zayyan meletakkan satu tangannya diatas kepala istrinya lalu membacakan sebuah do'a untuk keberkahan Rumah tangganya kelak, s etelah itu mencium kening Sarah.


Kemudian dilanjut dengan sungkeman diantara kedua orang tua Zayyan dan juga orang tua Sarah. Setelah itu para tamu ada sebagian yang pulang dan ada yang sebagian masih tertinggal menikmati beberapa sajian yang terhidang.


Ditengah-tengah percakapan Zayyan dan juga Papanya, tiba-tiba seorang menepuk sebelah pundaknya dari belakang, sontak membuat sang pemilik bahu berbalik. Wajah dingin yang semula hendak ia tunjukkan kini berubah menjadi senyuman saat melihat dengan siapa saat ini ia berhadapan.


"Paman Hendra"


"Oh Zayyan, keponakanku yang paling tampan. Selamat atas pernikahanmu!" ucap Paman Hendra yang baru saja datang saat akad telah selesai. Ia segera memeluk bangga keponakannya itu.


"Ku pikir, Paman tidak akan datang karena tidak suka dengan keramaian seperti ini"


"Kau adalah keponakanku! Mana mungkin aku melewatkan acaramu, yaah walapun aku terlambat"


Zayyan terkekeh "Aku mengerti, Paman. Jarak rumahmu dari sini sangat jauh, bisa dimaklumi"


"Terimaksih! Kau memang yang paling menegerti paman. Oh ya, dimana menantuku?" Tanya Paman Hendra sembari menyapu pandangannya mencari sosok Sarah.


"Dia ada dikamarnya paman, katanya kepalanya sedikit pusing"


Paman Hendra menganggukkan kepalanya "Kasihan sekali, pasti sanggul dikepalanya sangat menyakiti"


Zayyan terkekeh mendengar penjelasan Pamannya "Sok tahu sekali! Oh ya, Paman. Aku kesana sebentar, bicaralah dengan Papa" pamitnya

__ADS_1


Paman Hendra hanya mengangguk. Sesaat kepergian Zayyan, pandangannya menyapu dekorasi acara kemudian netranya terhenti pada sosok yang tak asing baginya 'Sabrina?!' gumamnya sembari mengerutkan keningnya.


__ADS_2