
Zayyan mendekatkan daun telinganya pada bibir Sarah mencoba meyakinkan jika benar suara tersebut berasal dari pujaan hatinya
"Hausss..." Suara itu kembali terdengar
Kedua bola Zayyan terbelalak saat meyakini jika suara itu benar keluar dari mulut wanita yang saat ini terbaring "Sarah, itu kau! Kau sudah Sadar!?"
"Beri aku minum! Aku sungguh haus" pintanya dengan suara yang begitu lemas dan nafas yang belum begitu teratur.
Dengan segera Zayyan mengambil air minum yang berada diatas meja dan bantu meminumkan Sarah melalui sedotan. "Pelan-pelan!"
Beberapa teguk air berhasil membasahi kerongkongan yang teramat kering kemudian tersenyum setelahnya "Terimakasih"
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, nampaklah seorang dokter dan juga perawat melangkah masuk. Dokter tersebut segera memeriksa setiap anggota tubuh Sarah.
"Bagaiman dokter?" Tanya Zayyan, setelah dokter tersebut memeriksanya
"Syukurlah! Tidak ada yang menghawatirkan, semua anggota tubuh Nona baik-baik saja. Hanya butuh pemulihan karena masih ada sebagian luka dalam yang belum kering" ujar dokter menjelaskan
Seulas senyum terpancar dari wajah Zayyan saat mendengar kondisi Sarah yang sudah baik-baik saja, dengan nafas yang lega ia bakata "Terimakasih banyak dok"
"Jangan lupa obatnya diminum agar lukanya cepat kering. Kalau begitu saya permisi" pamit dokter tersebut
"Silahkan dok" ujar Zayyan, dan hanya dijawab anggukan oleh dokter sebelum melangkah pergi.
Segera Zayyan mengalihkan pandangannya pada Sarah kemudian mendaratkan kecupan singkat pada kening wanita yang sudah teramat ia rindukan itu "Selamat datang kembali. Aku sangat bahagia melihatmu kembali membuka mata!"
"Kau ini! Seperti aku sudah lama saja tidak bangun-bangun"
Zayyan segera mendudukkan tubuhnya diatas kursi tepat disamping Sarah, kemudian meraih telapak tangan wanitanya dan mengenggam dengan hangat "Kau hampir 2 minggu tak sadarkan diri! Itu benar-benar membuatku sangat khawatir dan tersiksa"
Kedua bola mata Sarah terbelakak tak percaya "Kau bercanda!?"
Kepala Zayyan menggeleng pelan mempertegas perkataanya
"Astaga! Bagaimana bisa aku tidur selama itu!?"
"Tenanglah! Kau ini hampir 2 minggu tidak menggerakkan mulutmu, tapi saat sadar masih sanggup saja heboh sperti ini. Aku akan menceritakan semuanya setelah kau dipindahkan keruang rawat inap nanti"
"Aku ingin mendengarnya sekarang!" Desak Sarah
Hembusan berat nafas Zayyan mengudara, kemudian dengan tenang berkata "Ku mohon menurutlah kali ini!"
Sarah juga ikut menghela nafas beratnya, dengan bibir yang mengerucut ia terpaksa mengiyakan "Baiklah!"
"Gadis Pintar" Zayyan tersenyum sembari mengacak-acak rambut Sarah.
.
.
Kini Sarah telah dipindahkan keruang rawat inap setelah kondisinya dinyatakan sudah mulai membaik.
"Zayyan"
__ADS_1
Zayyan yang baru saja meletakkan ponselnya setelah menghubungi semua pihak keluarganya mengabarkan jika Sarah telah siuman, berjalan mendekat kearah orang yang memanggilnya "Kau butuh sesuatu?"
"Aku butuh penjelasanmu!?"
Dengan nafas yang berat Zayyan mendudukkan tubuhnya diatas kursi tepatnya disamping Sarah terbaring "Kau ini! Tidak bisa sabar sedikit"
"Aku sudah terlalu sabar"
Zayyan pun terkekeh "Baiklah! Dengarkan aku. Kau ditemukan dibawah jurang dengan kondisi yang tak bisa dijelaskan. Beruntung Tuhan masih memberimu kesempatan hidup, namun kau koma selama kurang dari 2 minggu lamanya, dan ini lah kali pertamamu bangun"
"Jadi, aku benar-benar terbaring selama itu!?"
Anggukan Zayyan menjadi jawaban atas pertanyaan Sarah, membuatnya kembali membelalakkan kedua bola matanya "Asataga! pantas saja seluruh badanku terasa sangat lemah saat tadi aku mencoba menggerakkannya, mataku sulit terbuka, namun pendengaranku sangat jelas saat mendnegar kau dan Zahra bertengkar"
Kening Zayyan berkerut, perasaanya tidak enak mulai menjalar pada dirinya "Apa yang kau dengar!?"
"Aku mendengar kau memkasa Zahra menghapus sesuatu, tapi dia tidak mau dan memilih kabur"
Zayyan menghela nafas leganya "Syukurlah! Itu berarti Sarah tidak mendengar saat aku mengucapkan janji untuk menemaninya kesalon. Baiklah. . . Setelah ini aku harus mencari Zahra dan merampas ponselnya untuk menghapus video terkutuk itu" batinnya
Sarah yang menyadari perubahan raut wajah Zayyan segera menegurnya "Kau kenapa Zay?"
Segera Zayyan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "Ah tidak apa-apa! Apa kau lapar?"
"Iya aku lapar, lapar tentang berita selanjutnya"
"Apalagi!?"
"Bagaimana kau bisa menemukanku!? Bukankah kau sedang berada diluar negeri!?"
Kedua tangan Sarah segera menutup mulutnya saat mendengar perintah minun obat, membuat Zayyan menaikkan salah satu alisnya saat melihat tingkah aneh wanitanya itu "Kau kenapa!?"
"Aku tidak mau minum obat!"
"Kau tidak ingin sembuh!?" sembur Zayyan dengan suara dinginnya
Tiba-tiba Suara Mama Dessy mengejutkan mereka berdua. Dengan nada yang meninggi Mama Dessy melayangkan pertanyaan pada Putranya itu "Ada apa ini Zayyan, kenapa kau ketus sekali!? Apakah kau lupa tentang air matamu yang sedikit-sedikit keluar saat menanti siumannya Sarah, hah!?"
"Ck. . ." Zayyan hanya berdecih, ia sedikit malu saat diingatkan tentang peristiwa jatuhnya air mata seorang laki-laki narsis.
"Benarkah kau menangis!?" Tanya Sarah
"Kau pun akan menangis jika berada diposisiku! Lupakan, saja!! Aku tidak ingin mengingat saat-saat mencekam itu"
Senyum Sarah mengembang "Terimakasih untuk ketulusan dan kesetiaanmu"
Zayyan pun balas tersenyum, namun Mama Dessy tiba-tiba memotong saat Putranya hendak menjawab "Sudah-sudah! Berhenti beradegan mesra dihadapan kami!!" kemudian ia mendekat kearah calon menantunya "Syukurlah kau sudah sadar, sayang. Kami semua sangat mengkhawatirkanmu"
"Terimakasih, Bibi atas semua perhatiannya selama aku
terbaring lemah"
"Bibi tidak bisa banyak memberikan perhatian, karena hampir setiap harinya Zayyan lah yang selalu bersikeras untuk menemanimu, menghabiskan waktu istirahatnya untuk menjagamu"
__ADS_1
Zayyan yang mendnegar itu kembali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia sedikit salah tingkah. Niat Sarah yang hendak mengucapkan terimakasih terurungkan tatkala dikejutkan dengan kedatangan Momi Sabrina dan Daddy Rehan.
"Sarah!"
Pandangan Sarah terlaihakan kearah pintu masuk, senyumnya terukir sempurna saat melihat kedua orang yang telah membesarkannya tiba "Mommy, Daddy"
Momi Sabrina mendekat dan segera memeluk serta menghujani dengan kecupan di pucuk kepala putrinya. Sarah pun balas memeluk menikmati dekapan seorang wanita yang melahirkannya.
"Kenapa tidurmu lama sekali, sayang?" tanya Momi Sabrina setelah melepas pelukannya
"Aku juga tidak tahu, Mom. Perasaan baru kemarin aku disekap, tapi kalian semua bilang aku sudah hampir 2 minggu tidak sadarkan diri"
"Tidak apa-apa, sayang! Momi bersyukur kau mau pulang setelah puas bermain dialam mimpi"
"Terimakasih, Mom"
"Oh ya, Momi sudah membawakanmu bubur, kau makan ya?" Pinta Momi Sabrina sembari mengambil rantang yang berisi bubur terasa masih hangat.
Kemudian Zayyan mendekat dan segera menawarkan diri untuk menyuapi Sarah, membuat Momi Sabrina yang semakin mengetahui sifat calon menantunya hanya tersenyum "Bibi akan mengijinkan kau menyuapi Sarah, tapi berjanjilah terlebih dulu!"
"Apa itu, Bi?"
"Setelah kau menyuapi, Sarah. Kau juga harus makan ya! Bibi, sudah memasakkan untukmu" Pinta Momi Sabrina. Yah, itu semua karena Zayyan yang tidak pernah begitu nafsu makan semenjak hilangnya kesadaran diri Sarah.
"Aku berjanji, Bi"
Momi Sabrina tersenyum, dan segera menyerahkan mangkuk yang baru diisi bubur kepada Zayyan.
"Terimakasih, Bi" Ucap Zayyan setelah menerima mangkuk tersebut kemudian mendekat pada Sarah "Makanlah! Aku tahu kau sedang lapar"
"Tapi aku tidak suka bubur!" Tolak Sarah
"Jika kau tidak makan, tubuhmu akan melemah dan itu akan memperpanjang masamu untuk terus makan bubur. Jadi, suka atau tidak kau harus makan. Lagi pula, ususmu baru beroperasi setelah libur yang cukup panjang, jadi lebih baik diisi dengan makanan yang mudah dicerna dulu, bukan!?" ujar Zayyan dengan lembut
Dengan pasrah Sarah pun mengangguk, ia mulai memakan bubur tersebut entah menagapa rasa bubur buatan Momi Sabrina sangat enak kali ini hingga ia tak sadar menghabiskan satu mangkok, membuat Zayyan mengulas senyum dibibirnya "Aku tahu kau lapar, oleh karena itu bubur ini habis" sindirnya
"Tak usah mengataiku!" Sembur Sarah
Membuat Zayyan terkekeh pelan. "Maafkan aku! Baiklah, ini berarti kau sudah bisa minum obat"
Kedua tangan Sarah lagi-lagi menutup mulut sembari menggelngkan kepalnya, membuat Zayyan mengerti akan maksudnya. Dengan kata yang lembut Zayyan berkata "Tidakkah kau mengingat pesan dokter tadi, jika kau harus meminum obat untuk bantu mengeringkan luka dalam. Yah. . . terkecuali kau memang betah beradalkama-lama didalam rumah sakit ini dan memakan bubur sepanjang hari, tidak masalah"
Tentunya ancaman itu berhasil meluluhkan benteng penolakan Sarah "Tidak-tidak! Segera berikan obat itu untukku! Ini hanya obat, aku jelas bisa meminumnya"
Zayyan tersenyum lalu memberikan Sarah obat yang jumlahnya lumayan banyak itu. Si penerima obat dengan ragu-ragu meminum, beberapa kali ia ingin memuntahkan karena kekusahan untuk menelan, namun saat mengingat pekataan Zayyan yang mengandung ancaman tentu saja obat tersebut berhasil masuk melewati kerongkongannya walau harus menghabiskan air sebanyak 2 gelas.
"Ini benar-benar menyiksa! Tapi tak apa demi kesembuhanku!!" batin Sarah
Momi Sabrina mengulas sebuah senyum saat menyaksikan momen langka tersebut, bagaimana tidak! Putrinya yang sedari dulu jika sedang sakit selalu saja bersi keras tidak mau meminum pil obat terkecuali syrup. Hingga akhirnya pil tersebut ditumbuk dan dicampur sedikit air agar melunak seperti sirup kemudian barulah ia mau meminum. "Zayyan memang luar biasa! Bahasanya yang lembut benar-benar mampu menakuti Sarah" batinnya
"Terimakasih! Semoga lekas sembuh" bisik Zayyan dan segera mengecup kening Sarah tanpa sadar jika keempat orang tua yang duduk dibelankang tengah memperhatikannya.
"Belum SAH!" Sembur Mama Dessy
__ADS_1
Seketika membuat satu ruangan tertawa, tidak untuk Sarah yang tertunduk menahan malu juga Zayyan yang salah tingkah dibuatnya.