
"Apa merawat hanya karena kasihan?" Tanya Sarah dengan dinginnya "Ck.. Aku sama sekali tidak kasihan denganmu, atau bahkan merasa bersalah atas ucapanku yang lalu. Aku kemari sebagai orang yang menyayangimu, yang akan tulus merawatmu tidak hanya disni, tapi sampai kita menua" Sanbungnya. Ia sengaja berucap sedikit kasar karena tahu bagaimana sifat gengsinya Zayyan yang tak ingin diperhatikan hanya karena dikasihani.
Zayyan sedikit terkejut denga pernytaan yang dilontarkan Sarah, namun ia segera menepisnya.
Tak juga mendapat respon Sarah menggenggam telapak tangan Zayyan kemudian tersenyum sembari menatap dalam kedua bola mata laki-laki yang ada dihadapannya itu "Kesampingkan gengsimu! Kalau kau mau marah-marah, nanti setelah ini. Sekarang katakan, kau mau apa?" tanyanya dengan lembut
Tentunya, ucapan Sarah yang sepertinya mengandung hipnotis membuat Zayyan seakan luluh, dengan cepat berkata "Aku ingin buang air kecil" ucapnya pelan
Senyum Sarah mengembang. Dengan lembut ia bantu mendudukkan tubuh Zayyan yang sebelumnya berbaring diatas ranjang, Kemudian dengan sekuat tenaga ia memapah Zayyan menuju toilet
"Ini sungguh memalukan!" batin Zayyan ditengah-tengah langkahnya
Sarah membuka pintu toilet dan membiarkan Zayyan masuk duluan setelah itu disusul olehnya sembari mengaitkan botol infus pada pengait dinding.
"Keluarlah!" pinta Zayyan
"Kau tidak ingin aku bantu mebersihkannya?"
Ucapan Sarah yang menggoda membuat Zayyan sedikit salah tingkah dibuatnya "Kau gila?!"
"Haha... Aku hanya bercanda! Baiklah aku tunggu diluar"
Beberapa menit kemudian handel pintu toilet teratik kebawah, menujukkan Zayyan akan segera keluar. Sarah pun bersiap menyambutnya, dan menuntunnya kembali menuju ranjang. Zayyan memilih duduk sembari menyandarkan tubuhnya pada head board karena merasa sedikit bosan terus berbaring. Setelah dirasa posisi Zayyan aman, ia segera duduk diatas kursi disamping ranjang.
"Kau mau sesuatu?!" tanya Sarah
"Tidak!" Namun tiba-tiba perut Zayyan berbunyi, membuatnya kembali salah tingkah "Kenapa aku begitu memalukan hari ini" batinnya kembali penuh dengan frustasi
Karena tak ingin Zayyan malu, Sarah mengalihkan suasana yang sedikit aneh itu dengan berkata "Oh ya, kata Bibi kau belum makan dari semalam. Jadi, mau tidak mau sekarang kau harus makan!"
"Tidak!"
Sarah sama sekali tidak memperdulikan Zayyan. Ia raih sepiring bubur yang baru saja diantarkan oleh OB yang bsajiannya berasal dari dapur rumah sakit kemudian menambahkannya dengan lauk. Ia ambil satu sendok dan menghadapkannya tepat pada mulut Zayyan "Ku mohon, makanlah!"
"Aku bilang tidak!"
"Jika kau ingin melawanku, maka kusarankan untuk mengisi tenagamu, agar kau bisa mngusirku cepat dari sini. Apa kau tidak malu dengan kondisi tubuhmu yang lemah seperti sekarang, hah?!" Sembur Sarah dengan nada galaknya
Zayyan membisu "Kenapa dia galak sekali? Harusya aku yang marah dengannya." Batinnya, kemudian melirik bubur yang ada dihadapanya "Aku sebenarnya lapar sekali! Tapi aku gengsi. Huh... baiklah ini tak akan berlangsung lama. Mama juga tidak ada disini, jadi aku terima saja" batinnya kembali. Tanpa menjawab ia segera membuka mulutnya dan menerima suapan dari tangan Sarah. "Aneh! Kenapa rasa buburnya enak sekali? Ah.. mungkin karena aku kelaparan"
.
.
Sarah tersenyum melihat piring yang berisi bubur itu bersih tak tersisa setelah Zayyan berhasil menghabiskannya. Bahkan buah pencuci mulutnya pun habis "Syukurlah! Aku senang sekali melihat dia mau makan dan menghabiskan 1 piring, karena tadi Bibi bilang ia hanya makan 1 X dalam sehari itu pun tak lebih dari 3 sendok" batinya. Kemudian setelah imembantu Zayyan meminum air putih, ia berkata "Berisitirahatlah 10 menit, setelah itu kau harus minum obat!" Pintanya
"Tidak mau!"
"Aku tidak suka penolakan!" Tegas Sarah, ia mengikuti gaya bicara Zayyan.
"Ck.. Sejak kapan kau jadi pemaksa seperti ini, hah?!"
"Sejak aku menjadi kekasihmu"
"Menyebalkan!" Ketus Zayyan, kemudian memalingkan kepalanya menghadap tembok. Bukan karena kesal, akan tetapi ka tak tahan berlama-lama menatap Sarah.
10 menit berlalu..
__ADS_1
"Waktu istirahat habis!" ujar Sarah.
Ia pun segera mengambil obat yang ada didalam laci meja lalu mengeluarkannya isinya sesuai dengan anjuran pakai dari dokter "Minumlah!" pintanya sembari menyodorkan piring kecil yag berisi obat
"Tidak mau!"
Sarah meghela nafas beratnya, dengan lemut ia berkata "Zayyan, Kumohon minumlah! Apa kau tidak kasihan telah merepotkan Bibi selama beberapa hari ini? Lihatlah! Beliau bahkan kurang istirahat karena memikirkan kesehatanmu"
Lagi-lagi Zayyan terkalahkan oleh ucapan Sarah, dengan segera ia meneguk habis semua pil yang diberikan Sarah "Terimakasih!" ucapnya setelah semua obatnya berhasil ditelan.
"God Boy!" Ujar Sarah dengan gemas sembari mengacak-acak rambut Zayyan.
Perlakuan Sarah membuat Zayyan menarik sedikit sudut bibirnya, namun ia tak bertenaga untuk melawan saat rasa kantuk menguasai dirinya. Mungkin karena efek obatnya, tak mebutuhkan waktu lama ia membenarkan posisinya berbaring, dan terlelap.
"Selamat tidur, Zayyan. Aku mencintaimu!" ujar Sarah dengan tulus sembari mengecup kening laki-laki yang tengah ia rawat itu.
Sarah yang juga selama seminggu ini lelah batin dan fisik, ikut tertidur dengan posisi yang terduduk dan kepalanya diatas ranjang sembari mengenggam telapak tangan Zayyan.
****
2 jam berlalu..
Zayyan mulai tersadar dari tidur lelapnya. Setelah 5 hari ia mengalami gangguan sulit untuk tidur, dan ini adalah kali pertamanya dapat tidur dengan tenang. Telapak tangannya terasa berat ia pun menoleh kesamping, benar saja sosok wanita yang telah membuat hantinya gundah gulana selama beberapa hari ini tengah tertidur begitu pulsanya dengan menggunakan telapak tangannya sebagai bantal. Senyum sempurna tercetak jelas diwajahnya saat menyaksikan itu "Terimakasih!" gumamnya pelan
10 menit berlalu..
"Kenapa dia belum bangun juga?" batin Zayyan
20 menit berlalu..
30 menit berlalu..
"Haisss.. Aku harus menggerakkannya sedikit, ini tidak bisa dibiarkan. Tanganku sepertinya mulai kehabisan aliran darah!"
Zayyan pun mencoba menggerakkanya kembali, tapi Sarah semakin mengencangkan pertahananya membuat dirinya yang lemah itu semakin tak memilki tenaga. "Aku sebenarnya tak tega membangunkannya, tapi sepertinya tangannku mulai mati rasa"
40 menit berlalu..
"Mengapa dia betah sekali tidur dengan posisi seperti itu, apa badannya tidak sakit?" pikir Zayyan, ia pun menghela nafas beratnya kemudian mencoba bersuara "Sarah bangunlah!"
Sarah yang entah sedang bermimpi apa perlahan-lahan kesadarannya mulai kembali saat mendengar sama-samar suara Zayyan memanggilnya. Perlahan ia membuka kedua bola matanya, dan tersadar akan posisinya yang mendindih tangan Zayyan. Dengan segera ia mengagkat kepalanya "Awwhh!" pekiknya sembari memegangi leher dan punggungnya.
"Kau kenapa?!" Zayyan panik mendengar rintihan Sarah
"Leherku sakit sekali, punggungku juga rasanya tak bisa diluruskan" Anduhnya
"Bagaimana tidak sakit! Kau tidur sudah seperti orang mati! Hampir satu jam aku mencoba membangunkanmu" sembur Zayyan
"Benarkah?!"
"Yaaa.. Bahkan telapak tangaku saja masih belum bisa kugerakkan karena ulahmu yang menindih terlalu lama. Apa sebegitu nyamannya telapak tanganku?"
Sarah tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat mendengar ocehan Zayyan "Hee.. Maafkan aku!"
Bukannya menjawab Zayyan justru membuang pandangannya kesamping, membuat Sarah mengerucutkan bibirnya. Sembari memijat-mijat tegkukya yang pegal, ia meraih ponselnya diatas nakas bermaksud memeriksa chat namun pandangannya teralihkan dengan jam yang diponselnya "Astagaa! Ternyata sudah jam 4 sore!" ucapnya dengan begitu heboh "Ini berarti aku tertidur hampir 3 jam lamanya?! Oh.. Astaga! Berapa banyak waktuku terbuang" sambungnya
Zayyan berbalik dan menatap Sarah dengan tajam "Kau berisik sekali!"
__ADS_1
"Hehe... Maafkan aku, Zay. Aku hanya terkejut bisa tertidur selama itu"
Zayyan tak menjawab
"Oh ya, kau butuh sesuatu?!" Tanya Sarah
"Tidak ada!"
"Yakin?!"
"Hm.."
"Kau tidak lapar?!"
"Tidak!"
"Ya sudah!" Sarah pun bangkit dari duduknya dan menuju kulkas mencari sesuatu yang bisa dimakan, karena dari siang tadi ia belum makan sama sekali. Terlihat sepiring buah-buahan masih terbungkus rapi, ia pun segera mengambilnya dan membawanya tepat dihadapan Zayyan. Ia sobek plastik yang membungkus buah itu, kemudian dengan santainya ia memasukkan buah anggur hitam kedalam mulutnya. "Emm.. Manis dan segar sekali!"
Entah mengapa, Zayyan yang melihat itu beberapa kali menelan salivanya. Rasanya ia juga tertarik dengan buah-buahan yang ada ditangan Sarah namun ia begitu gengsi untuk memintanya. "Jika badan lemah seperti ini, uangku yang banyak saja tak ada artinya dari sepiring buah itu. Enak sekali sepertinya" batinnya
Sarah yang menyadari, menarik sedikit sudut bibirnya kemudian memetik 1 buah anggur dan mengarahkannya pada mulut Zayyan "Makanlah! Selain segar ini juga menyehatkan"
Lama Zayyan menatap Sarah sampai kemudian memakannya. Layaknya orang yang baru makan buah mereka berdua berhasil menghabiskan 1 piring besar. Bahkan masih saja ingin menambah.
"Sehabis maghrib aku akan memesan buah-buahan yang banyak. Sulit dipercaya, makan buah didepan orang yang disayangi rasanya lebih nikmat" Jelas Sarah
"Dia benar. Bahkan aku saja yang tak terlalu suka makan buah strawberry karena rasanya yang sedikit aneh mendadak ketagihan" batinnya.
"Oh ya Zay, kau mau makan apa nanti malam?! Aku yakin kau pasti sangat bosan dengan bubur dirumah sakit ini" Taya Sarah
"Terserah!"
Sejenak Sarah membisu "Kenapa kata keramat itu keluar? Biasanya yang megatakan terserah kebayakan waita" batinnya " Kau mau sate?"
"Aku tidak ingin berjerawat karena makan kacang"
"Emm... Soto?"
"Aku tidak mau makan berlemak"
"Ikan lele crispy?"
"Aku tidak suka lele"
"Martabak?"
"Tak membuat kenyang"
Sarah mendengus seraya mengerucutkan bibirnya "Dia mengatakan terserah, tapi tawaranku ditolak semua. Jadi menyesal menanyaiya" batinnya, kemudian ia menawarkan lagi "Bagaimana dengan nasi padang?"
Kedua bola Zayyan berbinar-binar mendengar tawaran keempat Sarah "Oke. Tapi kau harus mencari tempat makan nasi padang yang paling enak"
"Tenang saja! Asal kau mau bekerja sama denganku untuk tidak mngadukan hal ini pada dokter. Aku akan membelikan sesuai pesananmu"
"Hemm.. Aku juga bosan dengan bubur"
Senyum Sarah mengembang dan segera mengacungkan jempolnya "Good"
__ADS_1