
"Tapi Bi—" ucapan Zayyan tiba-tiba terpotong
"Gak ada penolakan! Masuk!!" Pinta Momi Sabrina dengan ketusnya
Dengan hembusan nafas yang berat Zayyan terpaksa meniyakah "Baiklah" Ia melangkah masuk mengikuti Momi Sabrina "Mau bertemu calon Papa mertua, justru oenampilan sedang kusam begini. Bisa-bisa kalah tampan aku dari Papanya Sarah" batinnya sembari merapikan sedikit gaya rambutnya.
Langkah Momi Sabrina terhenti tepat diruang keluarga, terlihat Daddy Rehan sedang duduk bersantai memainkan ponselnya.
"Selamat malam, Paman" Sapa Zayyan
Daddy Rehan segera meletakkan ponselnya saat melihat kekasih anaknya datang "Nak Zayyan, ayo silahkan duduk"
Segera Zayyan duduk tepat dihadapan calon Papa Mertuanya dengan meja menjadi oenghalang daintara keduanya. Rasa kurang percaya diri semakin menjadi saat ia melihat Daddy Rehan begitu rapi, bersih, dan wangi "Asataga! Baru kali ini aku merasa kalah masalah penampilab" batinnya
"Kalian bicaralah dulu! Aku akan kedapur untuk mempersiapkan segalanya" Pinta Momi sabrina, kemudian mengalihkan pandangannya pada Sarah yang baru saja tiba "Baby, kau ikut Momi kedapur!"
Sepeninggal Momi Sabrina dan Sarah, Daddy Rehan mulai membuka percakapan dengan basa basi "Terimakasih, Zayyan. Kau sudah mengajak Putriku menghabiskan weekendnya diluar hari ini"
"Sama-sama, Pamam. Ini merupakan bentuk tanggung jawab ku karena sudah memaksa Sarah untuk istirahat selama seminggu dirumah sebelum kembali bekerja" ujar Zayyan
Rehan kemudian tersenyum hangat kepada laki-laki yang duduk dihadapannya. "Sepertinya aku memang harus merelakan putri semata wayangku. Walau pun Zayyan sering terlihat sangat menyebalkan, akan tetapi ia sangat pengertian dan memiliki rasa tanggung jawab luar biasa" batinnya, kemudian berkata "Bagaimana pekerjaan kamu Zay? Apa semua lancar? Karena Paman dengar dari Papa mu, jika orang tua April telah menarik semua sahamnya"
"Alhamdulillah semua tetap berjalan lancar seperti biasa, Paman. Tuan Abraham Mahveen menarik sahamnya karena alasan pribadi, bukan bisnis. Alasan itu membuat para investor lainnya berpikir dua kali untuk ikut menariknya. Justru banyak investor baru berdatangan setelah Tuan Mahveen menarik semua sahamnya. Mungkin karena kepercayaan mereka terhadap perusahaan kami." ujar Zayyan menjelaskan
Daddy Rehan menghela nafas lega saat mendengarnya "Syukurlah Zay. Paman benar-benar merasa tidak enak. Karena membela Sarah, justru berimbas keperusahaan kalian"
"Paman, tenang aja! Aku bahkan rela mengorbankan semuanya jika memang sesuatu itu pantas untuk diperjuangkan" Ujar Zayyan penuh penegasan "Oh, ya. Apa Paman sedang cuti?"
"Paman, sudah kembali dipindah tugaskan bekerja di kantor pusat mulai minggu depan. Mengingat kalian yang sebentar lagi akan menikah, membuat Paman sesegera mungkin mendesak pemindahan tugas kemari. Itu semua agar Momi Sarah tidak kesepian setelah nanri putrinya menikah" Terang Daddy Rehan
"Syukurlah jika begitu! karena jujur, aku pun sedikit khawatir dengan Bibi. Jika sudah menikah nanti, Bibi pasti tidak akan mau ikut bersama kami"
"Tidak usah dipikirkan, Zay. Paman juga tidak akan setega itu meninggalkan Momi Sarah sendirian. Oh, ya Zay. . ."
"Iya Paman?!"
"Paman harap setelah nanti kalian menikah, kau dapat menjadi suami yang bertanggung jawab bukan hanya didunia tapi juga akhirat. Jika suatu saat nanti kau sudah tidak lagi sanggup mengurusnya, kembalikan saja. Paman akan bersedia menerimanya kembali. Jangan kau buat dia menangis atau menyakitinya, karena kami merawatnya dengan penuh cinta dan kasih sayang"
"Aku pasti akan mendidiknya dengan baik, Paman! Berusaha memberikannya cinta dan kasih sayang melebihi pemberian kalian berdua. Walau pada kenyataannya cinta tulus dari kedua orang tua tak ada tandingannya" Jawab Zayyan
Daddy Rehan tersenyum, ia sedikit puas dengan jawaban calon menantunya itu "Sarah merupakan wanita yang manja saat berada dekat dengan orang yang disayanginya. Ia juga tidak begitu pandai mengungkapkan kesedihannya. Paman, harap kau bisa peka"
"Aku akan berusha paman!" Tegas Zayyan kembali
"Dengar Zay, saat seorang istri sedang marah ajaklah bicara baik-baik, jangan mengasari atau bahkan mendiamkanya. Wanita suka akan kelemah lembutan, hatinya pasti kembali mencair saat kau mampu memperlakukannya dengan baik. Ingat, Nak! 1:1000, kau berikan ia satu kasih sayang, maka dia akan memberikan beribu-ribu kasih sayangnya untukmu" ujar Daddy Rehan yang memberi wejangan terhadap calon menantunya. Terlihat beberapa kali ia mengerejapkan kedua bola matanya mencoba menahan cairan bening yang akan keluar dari kedua sudut matanya.
__ADS_1
Zayyan menunduk saat mendengarkan nasihat yang sangat bermakna itu. Ia benar-benar mencerna dengan baik setiap ucapan yang disampaikan calon Papa Mertuanya "Terimakasih kasih Paman, telah memberi kepercayaan kepada ku untuk mengambil alih tanggung jawab paman selama ini kepada Sarah. Aku akan berusaha untuk terus mengajari, menyayangi, dan memperlakukannya seperti seorang Ratu. Seperti Paman dan Papa, yang memperlakukan istrinya, seperti itu pula aku akan memperlakukan Sarah, bahkan lebih."
"Terimakasih kasih Zay. Paman akan pegang perkataanmu sebagai seorang lelaki" ujar Daddy Rehan lalu tersenyum dan juga dibalas senyuman oleh Zayyan
"Ayo makan!! semuanya sudah siap" ajak momi Sabrina yang baru datang, seketika memecah obrolan serius diantara kedua lelaki yang mencintai putrinya tersebut.
Kedua lelaki itu segera bangkit dari tempat duduknya, lalu mengikuti Momi Sabrina yang telah lebih dulu melangkah menuju dapur. Mereka mendudukkan tubuh masing-masing diatas kursi dan Sarah duduk tepat disamping Zayyan.
"Selamat menikmati, Zay" ujar Sarah sembari menyerahkan sebuah piring yang sudah diisi dengan nasi dan beberapa lauk
Zayyan tersenyum hangat menatap wanita pujaan itu, sembari menerima piring yang telah diisi lauk "Terimakasih"
Sarah tiba-tiba salah tingkah dibuatnya, wajahnya mulai merona saat mendapatkan senyum manis itu "Sering-sering lah seperti ini. Walaupun kau kusam karena belum mandi, tapi tetap manis dengan tersenyum seperti tadi" batinnya
"Aku sudah benar-benar tidak sabar untuk menikah denganmu. Ingin merasakan masakanmu yang sudah jelas tidak enak itu" batin Zayyan, sembari menarik sedikit sudut bibirnya saat membayangkan rumah tangganya bersama wanita yang tengah tersipu malu itu.
Kedua orang tua Sarah yang menyadari tingkah dua sejoli itu langsung melemparkan senyuman antara satu sama lain.
"Eheemm.." Seketika lamunan mereka masing-masing buyar saat mendengar deheman dari mulut Daddy Rehan
"Itu makanan buat dimakan bukan dijadkan pajangan" Sembur Momi Sabrina yang berusaha menggoda dua sejoli itu.
"Ayo kita makannnn!!" ujar Sarah semangat. Ia tidak ingin menanggapi ocehan Momi Sabrina yang nantinya akan panjang sepanjang jalan tol.
***
Saat ini mereka berempat sedang duduk santai diruang keluarga sesaat setelah makan malam bersama.
"Oh ya, Zay! Tadi sore Mamamu menelpon Bibi, mengatakan jika besok kalian akan melakukan poto prewed" ujar Momi Sabrina
"Apa tidak bisa ditunda dulu, Bi?"
"Ini sudah dijadwalkan 1 bulan yang lalu, bagiaman bisa dibatalkan? Lagi pula akan sangat susah mencari penggantinya, karena bulan ini musim nikah"
"Memangnya kenapa kau mau menundanya, Zay?" tanya Sarah
"Aku khawatir kau kelelahan!"
"Tidak apa, kau lihat aku sangat sehat bukan. Bukannya kita telah menghabiskan waktu bermain dengan anak-anak, tapi lihatlah aku tidak mengapa bukan?"
Diiringi dengan nafas yang berat Zayyan terpaksa mengiyakan keinginan Sarag "Baiklah. Aku berharap besok semuanya lancar"
"Tenanglah!"
"Oh ya, Sarah! Bagaimana dengan kesiapanmu menikah?" Tanya Daddy Rehan
__ADS_1
"Aku belum ada belajar sama sekali, Dad. 2 bulan ini waktuku sangat terbuang-buang " Sesal Sarah
"Tenanglah, sayang! Waktumu habis bukan karena keinginanmu. Lagi pula untuk menjadi istri yang baik bukan sekedar mempelajari teori, tapi dengan mempraktekkannya yaitu saat kita telah menikah" ujar Daddy Rehan
"Tapi kan harus belajar teori dulu, Dad"
"Kau memang benar, teori dan praktek itu berkaitan. Jadi gunakanlah sisa waktumu sebelum menikah nanti untuk belajar agar kau tidak salah mempraktekkannya"
"Apa yang diucapkan Daddy itu benar, Sayang. Kau tahu ajaibnya pernikahan?"
Sarah menggeleng
"Menikah itu membuat seseorang menjadi dewasa. Mampu meredam ego masing-masing. saling menghargai setiap perbedaan"
"Apa memang seperti itu?"
"Ya, jika kau mampu melewati apa yang Momi ucapkan tadi, percayalah pernikahan kalian akan bahagia sampai akhir hayat"
"Terdengar simpel, namun sedikit sulit saat dipraktekkan" Timpal Zayyan
"Itulah perlunya komunikasi yang baik. Menikah itu tentang belajar, bagiaman caranya agar kita bisa menaiki satu pesatu tangga untuk menjadikan keluarga itu sampai pada level tertingginnya. Bahkan Momi sama Daddy saja masih terus belajar walaupun sekarang sudah tua."
"Aku berharap bisa menjadi istri yang baik seperti Momi" ujar Sarah
"Kalau mau jadi istri yang baik, ikuti apa kata suami. Selama itu benar dan tidak melanggar hukum agama. Akan tetapi jika itu melanggar, kau boleh menolak itupun harus dengan cara yang lembut jangan kasar"
"Kau belajar dengan Momi saja, Sarah. Momi itu istri yang hampir mencapai kesempurnaan" ujar Rehan seraya melirik kearah istrinya
"Ah kamu, sayang. Jika berbicara suka benar" Ujar Sabrina malu-malu lalu menepuk pelan bahu suaminya
Zayyan tersenyum mendengar gombalan-gombalan manis yang dilontrakan Daddy Rehan
Cukup lama mereka mengobrol hingga tak terasa waktu sudah menujukkan pukul 9 malam, badan Zayyan semakin terasa lengketnya begitu pula dengan Sarah yang sedari tadi ikut menemani tak juga beranjak untuk kekamar mandi.
Zayyan melihat jam dipergelangan tangannya "Baiklah, Paman dan Bibi sepertinya aku harus undur diri"
"Berhati-hatilah, Zay. Sampaikan salam Bibi, untuk Mamamu" pinta Momi Sabrina
"Pasti, Bi" Zayyan pun segera bangkit dari duduknya sembari sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai penghormatan, kemudian melangkah keluar diikuti dengan Sarah dibelakangnya.
"Berhati-hatilah!" Pinta Sarah yang sudah berada didepan mobil sambil tersenyum manis
Dengan gemas Zayyan segera mengacak-acak rambut Sarah "Iya. Masuklah! Mandi setelah itu istirahat. Sampai bertemu besok"
Sarah hanya mengangguk kemudian melambaikan tangannya saat mobil Zayyan sudah melaju keluar dari halaman.
__ADS_1