
Setelah melewati beberapa prosedur, kini Sarah sudah berada didalam ruang operasi, ditemani oleh suaminya. Tirai pembatas antara dirinya dengan dokter sudah dipasang, operasi pun segera dimulai.
Sarah terlihat begitu tegang, ia semakin mempererat gengaman tangan pada suaminya, seolah meminta kekuatan untuk mengurangi rasa gugupnya. Sedangkan Zayyan tak hentinya mendoakan keselamatan untuk istri dan kedua anaknya, ia juga membisikkan kata positif untuk menyemangati istrinya.
Perasaan Zayyan mulai campur aduk saat mendengar dokter mulai menyayat kulit perut istrinya. Tangannya dibuat gemetar, kedua lututnya tiba-tiba melemah, dan keringat dingin membanjiri tubuhnya. Dirinya seakan mati rasa saat melihat dokter mulai menindih perut Sarah menggunakan kedua tangan untuk mendorong bayi keluar. Ia benar-benar tak menyangka jika melahirkan semenakutkan ini, sebesar ini perjuangannya untuk memberikan sebuah kehidupan bagi seorang anak.
Sudah lima belas menit berlalu bayi pertama berhasil dikeluarkan "Tuan selamat! Bayi pertama anda perempuan" ujar salah seorang suster memberitahukan pada Zayyan dan berlalu untuk segera membersihkan bayinya.
Selang lima menit disusul dengan suara tangisan bayi kedua "Tuan selamat! Bayi kedua anda laki-laki" ujar suster lainnya
Zayyan tersenyum penuh haru saat mendengar kedua anaknya sedang berlomba mengeluarkan suara tangis. Rasa sesak yang sedari tadi ia rasakan seakan musnah. Ia benar-benar tak menyangka akan diberi kepercayaan untuk membesarkan dua anak sekaligus terlebih lagi dengan dua jenis kelamin yang berbeda. Zayyan langsung memalingkan pandangannya kearah istrinya
"Ra! Makasih yah, kamu udah ngasih kehidupan baru buat mereka. Sampai kamu dengan rela memberikan perutmu yang mulus ini buat disayat" ujar Zayyan lalu menghujani dengan kecupan dipucuk kepala istrinya dengan bertubi-tubi.
"Makasih udah buat aku menjadi seorang pria, suami, dan juga ayah. Tanpa kamu, aku gak akan bisa ngelihat mereka didunia ini"
"Ini sudah tugas aku mas untuk menjadi seorang ibu, apapun akan aku lakukan untuk anak kita" ujar Sarah begitu tenang
Setelah melewati berbagai rangkaian pemeriksaan organ tubuh pada kedua bayi tersebut, suster lalu menyerahkannya kepada Zayyan untuk diadzani. Ia pun segera pergi mengambil wudhu, dan setelahnya berdiri didepan baby box tersebut, membungkukkan sedikit tubuhnya, lalu mengumandangkan adzan pada kedua anaknya.
Sarah begitu terharu saat menyaksikan momen haru tersebut "Ternyata sebahagia ini menjadi orang tua, aku baru tahu mulianya perjuangan seorang ibu seperti apa. Rasanya kalau ingat Momi marah-marah ke aku gak ada apa-apanya, dibandingkan dengan perjuangannya yang berhasil membesarkan aku, dan membuat aku juga merasakan jadi seorang ibu. Terimakasih atas segalanya" gumam Sarah dalam hati
"Sayang coba lihat!! Ini anak kita, cowok sama cewek" ujar Zayyan dengan begitu antusias setelah mengadzani kedua anaknya
Sarah tersenyum lalu meraih anak yang ada dalam gendongan suaminya "Jadi ini wajah kamu sayang, mamah dan papah sudah lama nunggu kalian!" ujarnya sambil menciumi anaknya
"Apa sekarang kita udah jadi orang tua mas? Apa sekarang aku sudah jadi seorang ibu dan kamu ayah??" tanya Sarah seakan tak percaya dengan apa yang dialaminya beberapa waktu tadi
"Iya Sayang. Sekarang gelar kita bertambah, kita mendapatkan gelar yang sangat mulia"
"Aku benar-benar nggak nyangka kita sekarang jadi orang tua. Oh ya, apa sudah ada nama untuk anak kita?"
__ADS_1
Yaa.. Selama ini Sarah dan Zayyan tak pernah tahu apa jenis kelamin kedua anaknya yang mereka pedulikan adalah sehat tanpa kurang sedikit pun. Sehingga Sarah benar-benar tidak mempersiapkan nama untuk bayinya, namun tampaknya Zayyan memang sudah mempersiapkannya
"Namanya Shehaan dan Shaluna? Gimana?? Kamu uka gak???"
"Waah namanya bagus banget mas!! Jadi, apa yang akan menjadi Kakak adalah Shaluna?"
"Harusnya Shaluna, tapi aku mau Shehaan yang jadi Kakak, karena dia laki-laki, dia punya tanggung jawab untuk melindungi ibu dan juga saudara perempuannya. Jadi rahasia ini cukup kita yang tahu. Deal!!
"Aku setuju!! Tapi gimana dengan dokter" tanya Sarah
"Itu dah beres!" jawab Zayyan begitu santai
"Good! kamu emang bisa andalin haha..."
"Ra! Sesuai perjanjian kita, kamu gak boleh ngelupain aku!!"
Sarah terkekeh mendengar ucapan suaminya "Kamu apa-apaan sih Mas!! Kamu dan anak-anak adalah prioritas aku. Baru aja anak lahir dah cemburu aja" ujarnya penuh ledekan
"Oke!! Jangan ingkar ya, kalau sampai kamu ingkar, anak-anak bakalan aku antar ke rumah neneknya biar kamu bisa perhatiin aku lagi"
^^
Kini Sarah sudah dipindahkan keruang perawatan ibu dan anak. Mamah Dessy dan Papah Wildan baru saja tiba, karena mereka baru saja pulang dari luar Negeri.
"Sarah! Selamat ya sayang akhirnya kamu sudah jadi ibu, dan makasih nak akhirnya Mamah bisa menyandang status sebagai nenek, rasanya sudah sangat lama menanti ini" ujar Mamah Dessy begitu hebohnya, ia langsung mengambil cucunya dari gendongan Zayyan
"Pelan-pelan mah" ujar Zayyan seakan tak terima saat melihat Mamahnya menggendong anaknya dengan begitu santai
"Jadi kamu ngeraguin Mamah?!" ujar Mamah Dessy tak terima sambil melototkan kedua bola matanya menatap sinis kearah Zayyan
Zayyan langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "Hee.. Maaf mah"
__ADS_1
Papah Wildan pun mendekat kearah putranya dan segera memeluknya "Boy selamat ya, sekarang kamu sudah jadi seorang ayah!" ucapnya dengan bangga
"Makasih pah Zayyan benar-benar gak nyangka sudah menjadi orang tua sekarang" ujar Zayyan sembari melepas pelukannya Papahnya
"Jadi, bagaimana rasanya menyaksikan istri melahirkan?"
"Sarah yg disayat, tapi seperti aku yang mau mati pah. Itu mengerikan, aku benar-benar gak sanggup mau mengingatnya" ujar Zayyan bergidik ngeri
Papah Wildan pun terkekeh mendengarnya, lalu menepuk ringan sebelah bahu putranya "Hargailah istrimu, jangan sampai menyakitinya. Apa yang kamu berikan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perjuangannya"
Zayyan begitu terharu dengan ucapan Papahnya "Pasti Pah!! Zayyan akan berusaha melakukan yang terbaik untuk anak dan juga istriku"
Kemudian Zayyan menatap lekat wajah orang yang telah melahirkannya kedunia, ia mendekat dan meraih tangan mamahnya "Mamah maafin Zayyan ya selama ini suka ngebantah setiap omongan Mamah. Hari ini aku baru tahu, dan sadar, betapa luar biasanya perjuangan seorang ibu untuk memberikan kehidupan baru bagi seorang anak, bahkan nyawa menjadi taruhannya" ujarnya lalu memeluk mamahnya
Mamah Dessy tersenyum sambil menepuk-nepuk halus punggung putranya "Cukup kamu menjadi anak yang penurut sudah membuat mamah senang nak. Sekarang kamu tahu kan betapa besar perjuangan istrimu, maka sayangilah dia, jaga perasaannya, jangan sampai kamu menggores luka dihatinya. Bahkan perhatian kamu pun tak akan ada nilainya jika dibandingkan dengan dia yang sudah melahirkan anak untukmu"
"Ia ya mah itu pasti, Zayyan akan berusaha dan terus berusaha demi kebahagiaan keluarga kecil kami"
—THE END—
"Semanis apapun akhir sebuah cerita, akan memulai kembali sebuah kisah baru, dengan konflik yang berbeda dan dengan akhir yang sedih atau bahagia."
Terimakasih yang sudah menyempatkan waktu membaca karya novel pertama author ♥
Mohon maaf Author juga manusia biasa, yang kadang khilaf dalam penulisan atau alur cerita yang tak sejalan.
Terimakasih!
__ADS_1
Salam sayang,
@azzuranathan 🌸