SUAMI NARSIS

SUAMI NARSIS
FIRST LUNCH


__ADS_3

Pagi ini, Sarah pun kembali disibukkan dengan segudang aktivitas pekerjanya. Tanpa sadar waktu telah menjukkan pukul 12.00 siang. Waktunya tiba untuk beristirahat, ia pun bergegas menutup laptopnya, lalu meraih ponsel yang terletak diatas meja kerjanya.


.


.


Dilain tempat terlihat seorang Zayyan yang juga begitu disibukkan dengan pekerjaannya, dengan gerakan tangan malas, terpaksa ia meraih ponsel yang terletak diatas tumpukan berkas-berkas kerjanya, karena sedikit terganggu dengan suara ponselnya sudah dua kali berdering.


Namun, rasa malas Zayyan seketika hilang saat melihat nama sang penelpon adalah Cute Girl "Ini benar Sarah kan? Rasanya hanya nama dia yang kuberi inisial?" batinnya. Dengan segera, Zayyan menggeser tombol berwarna hijau pada layar ponselnya untuk menjawab panggilan tersebut


📞


"Selamat siang, Nona"


"Selamat siang, Tuan"


"Apa ada hal yang mendesak?"


"Benar, ini sangat mendesak"


"Tentang apa itu?"


"Tentang perut yang belum terisi siang ini"


Zayyan terdiam ia sedikit tidak mengerti maksud Sarah "Apa-apaan ini, kenapa aku harus mendengar cerita yang tidak penting ini?" batinnya


"Tuan, apa anda masih disana?"


Suara Sarah dari seberang telpon mengagetkannya Zayyan "Saya masih disni, Nona. Jika perut anda belum terisi, maka makanlah bukan menelpon saya"


"Ah. . tidak begitu maksud saya, Tuan. Saya hanya ingin mengajak anda makan siang bersama, sebagai pengganti ajakan anda kemarin. Bagaimana?"


"Oh Astaga. . . Maafkan saya, Nona. Baiklah, anda mau makan apa?"


"Selama itu masih bisa diterima, saya akan memakannya"


"Baiklah, saya hanya khawatir jika anda alergi terhadap suatu makanan"


"Tenang saja! Semuanya aman"


"Kalau begitu bersiap-siaplah, kirimkan alamat anda bekerja, saya akan menjemput anda"


"Tapi, Tuan—"


Tut. . . tut. . . lagi-lagi Zayyan mematikan panggilan secara sepihak.


Zayyan melompat kegirangan bagaikan orang yang baru mendapatkan jackpot "Yesss! Akhirnya aku bisa makan siang secara resmi dengannya"


Ia yang semula begitu fokus dengan pekerjaannya tiba-tiba dengan mudah melupakan segalanya, saat mendapatkan tawaran dari wanita pujaannya itu. Raut wajah yang semula tampak dingin pun seolah sirna dan tergantikan dengan keceriaan.


Zayyan pun segera melangkah masuk menuju toilet untuk memastikan ketampanannya yang tidak berkurang. Mulai dari membasuh wajah, menyisir rambut, dan tak lupa parfum dengan aroma maskulin yang ia semprotkan sedikit. “Perfectttt!! Kau memang selalu tampan Zayyan” pujinya pada dirinya sendiri dihadapan cermin westafel.

__ADS_1


.


.


Sementara dilain tempat, setelah Sarah mendapat pemutusan telpon secara sepihak, ia pun mulai bersiap-siap, dari merapikan rambutnya menggunakan jari-jari tangannya lalu menberikan sedikit lipstik berwarna pink pada bibir tipisnya agar terlihat lebih fresh "Sempurna!!" Gumamnya sambil tersenyum didepan cermin bedaknya.


Ini merupakan pertama kalinya Sarah pergi makan siang bersama seorang Pria. Sebenarnya, ia sedikit malas untuk mengajak orang lain terlibat dalam aktivitas makan siangnya. Namun, entah kenapa perasaan tidak enak selalu datang padanya saat mengingat penolakanya kemarin kepada Zayyan, sehingga ia pun berinisiatif untuk mengajaknya makan siang hari ini.


***


15 Menit kemudian. .


Zayyan telah tiba dihalaman kantor tempat Sarah bekerja "Tidak salah lagi, ini kan salah satu anak cabang dari perushaan Papa? Ternyata Sarah berkeja disni" batinnya


Tiba-tiba pikirannya buyar, tatkala melihat Sarah tengah berjalan mendekat kearah mobilnya, terlihat sangat anggun walapun hanya menggunakan jaz blazer dan rok span dengan panjang selutut. Zayyan pun segera keluar dari mobil dan membukakakn pintu untuk Sarah


"Terimakasih, Tuan Zayyan" ujar Sarah sembari tersenyum.


Zayyan pun balas tersenyum tanpa menjawab ucapan Sarah, kemudian menutup kembali pintu mobilnya saat memastikan Sarah sudah duduk manis didalam mobil.


Didalam perjalanan


Hening. . .


Hening. . .


Sarah yang biasanya banyak bicara, entah mengapa seketika saja membisu saat satu mobil dengan Zayyan, ia hanya sibuk menunduk dan meminkan jari jemarinya sembari mengigit-gigit tipis bibir bagian bawanya "Hm. . .Mengapa suasananya jadi canggung seperti ini? Apa bahasan yang bagus untuk memulai percakapan ya?" Batinnya


"Oh ya, Kita akan makan siang dimana Tuan?" tanya Sarah yang mulai membuka percakapan


"Restoran Seafood" Jawab Zayyan singkat, jelas, dan padat.


"Apa tempatnya masih jauh?"


"Sekitar 5 menit lagi"


Sarah pun hanya mangut-mangut, tak lagi bertanya karena bingung terus mendapat jawaban singkat namun jelas. "Sudahlah! Lebih baik aku diam saja. Sepertinya manusia seperti ini memang sulit diajak berbasa basi busuk. Tapi bagaimana saat ia berhadapan dengan kliennya, apa dia juga bersikap seperti ini? Aku bisa pastikan kerjasama akan batal ha. .ha. ." batin Sarah, sembari terkekeh pelan


Zayyan yang menyadari akan tingkah Sarah yang tersenyum sendiri, langsung mengerutkan kedua keningnya "Kenapa lagi dengan wanita ini? Bukannya kembali bertanya, malah tertawa tidak jelas seperti itu. Apa jangan-jangan diwajahku ada suatu benda aneh yang menempel ya?" batinnya, kemudian Zayyan mengalihkan sedikit spion tengahnya untuk melihat wajahnya "Aman! Tidak ada yang cacat"


***


Kini mereka telah tiba disebuah restoran yang menyajikan hidangan seafood. Zayyan bergegas keluar dari dalam mobil, kemudian membukakan pintu untuk Sarah, sembari mengulurkan tangannya, tentunya perlakuan lembut Zayyan disambut baik oleh Sarah. Mereka pun masuk diantar oleh seorang pramusaji menuju ruang VIP yang sudah dipesan Zayyan sebelumnya.


Zayyan pun menarik kursi dan mempersilahkan Sarah untuk duduk, lagi-lagi Sarah sedikit terkejut saat mendapat pelakuan manis "Oh My. . . Pria ini benar-benar tidak bisa ditebak. Dingin-dingin tapi manis, seperti permen mento*s hihi. . ."


Sambil menunggu pesanan tiba, Sarah mulai membuka suara "Aku baru tahu jika ada tempat sebagus ini di ibu kota"


"Namanya juga ibu kota, jelas semuanya yang terbaik, mungkin anda kurang piknik Nona"


"He. . he. . lebih tepatnya seperti itu, Tuan. Saya sering makan diluar tapi yang jaraknya dekat dengan kantor saja. Hemat waktu, tenaga, dan pastinya biaya"

__ADS_1


"Wanita ini apa adanya sekali, padahal kebanyak wanita yang pernah kukencani suka tempat yang mewah demi sebuah pencitraan" batin Zayyan, kemudian menarik sedikit sudut bibirnya.


Tak lama pesanan mereka tiba, mata Sarah begitu berbinar-binar saat melihat hidangan yang tersaji didepan matanya. "Hm. . Kalau seperti ini makanannya, langsung eksekusi saja!!"


Sarah membalik piringnya, kemudian mengambil sedikit nasi menaruhnya diatas piring, diikuti dengan lauk yang beraneka macam. Ia pun mulai makan menggunakan tangan, membuat Zayyan yang baru saja hendak memasukkan makanan kemulutnya sedikit merasa aneh melihatnya "Astaga! Bagaimana bisa ia makan dengan cara seperti itu?" batinya


Sementara Sarah yang mulai tersadar segera meberikan senyumnya "Maafkan saya, Tuan. Tapi makan kepiting sangat enak jika menggunakan tangan"


"Tidak masalah, Nona. Selama anda menikmati, saya sudah cukup senang"


"Terimakasih atas pengertian anda, Tuan"


Zayyan hanya mengangguk kemudian melanjutkan makannya yang sempat tertunda. Ia makan menggunakan sendok, dan makanan yang ia makan hanyalah lobster bakar. Begitulah Zayyan, bahkan cara makanya daja sangat ia perhatikan, demi sebuah kesempurnaan.


***


Setelah selesai dengan makan siangnya, mereka pun bergegas kembali karena Sarah sudah terlambat 20 menit dari waktu istirahat. Sebenarnya tidak menjadi masalah bagi atasannya, namun tidak dengannya. Itu karena ia selalu on time dan tidak ingin merusak prinsipnya yang sudah ia bangun selama ini.


"Huh. . Makan siang saja harus sejaih ini, untung saja makanya enak, jadi aku tidak terlalu menyesal" Batin Sarah, sembari terkekeh pelan


Zayyan yang tak sengaja melihat tingkah Sarah, kembali mengerutkan keningnya, dan sedikit menggelengkan kepalanya "Apa ini memang kebiasaannya ya, suka tertawa sendiri? Hem. . . Benar-benar wanita unik"


"Tuan, terimakasih banyak untuk traktirannya. Saya jadi merasa enak, eh maksudnya tidak enak hehe. . ." ujar Sarah


Zayyan pun tersenyum "Tidak masalah, Nona. Saya berharap anda tidak keberatan"


"Ah, tentu tidak. Ini merupakan rezeki, tidak baik ditolak"


"Syukurlah! Apa anda masih bersedia untuk pergi makan siang bersama saya lain waktu?"


"Saya sudah pernah mengatakan, jika mendapat ajakan makan siang adalah suatu hal yang sangat sulit untuk saya tolak, kecuali jika ada suatu hal yang urgent"


"Baiklah! Kalau begitu, lain kali kita makan bersama lagi"


"Saya tunggu, Tuan"


"Ya Tuhan. . Aku merasa senang sekali hari ini! Ini berarti kesempatanku untuk sering bertemu dengannya akan semakin lebar" Batin Zayyan, sembari menyunggingkan senyumnya


.


.


Tak terasa mobil yang mereka tumpangi telah tiba dihalaman kantor tempat Sarah bekerja, Zayyan dengan sigap segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Sarah


"Tuan, sekali lagi saya ucapkan terimakasih untuk makan siang yang luar biasa banyaknya"


"Sama-sama, Nona. Semoga hari anda menyenangkan, saya harus undur diri dahulu" Pamit Zayyan


"Baik! Berhati-hatilah, Tuan"


Zayyan hanya mengangguk dan segera kembali masuk kedalam mobil. Merasa Sarah sudah mulai jauh, ia pun segera mengerahkan kaca spion tengah kearahnya, apalagi jika bukan untuk memeriksa wajahnya "Huh. . . Syukurlah! Ketampananku tudak berkurang, aku sudah sangat khawatir sepajang jalan, takut jika makanan yang terselip diantara gigi-gigiku"

__ADS_1


Setelah merasa baik, Zayyan pun melajukan mobilnya untuk kembali kekantor.


__ADS_2