SUAMI NARSIS

SUAMI NARSIS
KEMBALI BEKERJA


__ADS_3

Selama tiga hari sebelum mulai kembali bekerja, Sarah benar-benar memanfaatkan waktunya untuk belajar menjadi seorang istri. Begitu banyak drama yang ia lewati, tak sedikit ia merusak peralatan dan perlengkapan dirumah mominya.


Seperti saat mencuci piring, ia tak sengaja melemparkan piring kedalam westafel dan mengenai piring lainnya hingga memecahkan beberapa, dengan alasan terkejut saat melihat kukunya yang hampir patah.


Ada lagi saat disuruh praktek mencuci baju. Ia memasukkan seluruh pakaian kedalam mesin cuci hingga tak memiliki ruang, menuang 1 plastik deterjen yang baru dibuka, setelah itu menekan tombol ON tanpa mengisi air, hingga akhirnya merusak mesin cuci tersebut.


Momi Sabrina berulang kali memijat pelipisnya karena merasa sangat pusing dengan tingkah laku putrinya yang benar-benar tidak tahu apa-apa.


Namun selama tiga hari itu Sarah banyak menujukkan kemajuan, membuat kedua orang tuanya menghela nafas lega merasa tidak sia-sia mengajarinya setidaknya Sarah sudah mulai tahu.


****


Pagi ini Sarah sudah kembali bekerja, ia begitu sangat disibukkan dengan segudang pekerjaannya. Walaupun ia sudah memberikan job pendinginnya kepada rekannya, namun tak serta merta membuatnya kekurangan pekerjaan saat ia mulai kembali masuk bekerja.


Waktu istirahat tiba, Sarah yang sudah merasa lapar dari tadi segera menutup laptopnya dan meraih kunci mobil serta dompetnya untuk pergi makan siang diluar sendiri seperti biasanya


"Sarah!" Panggil Nada saat mendapati Sarah keluar dari ruangannya


"Nada! Kau ini mengapa selalu membuatku terkejut?" Ketus Sarah sembari memegangi dadanya


"Kau mau kemana?!"


"LUNCH!"


"Tidak bisa!" Sergah Nada, ia segera mendekat dan menarik paksa lengan Sarah "Kau tidak boleh, keluar! Ikut aku!!" sambungnya


"Nada, kau menyakiti lenganku! Lagi pula kau mau membawaku kemana?" pinta Sarah yang dengan terpaksa mengikuti langkah Nada


"Tak usah banyak tanya!"


Langkah mereka berhenti tepat didepan pintu pada sebuah ruangan yang biasa dipakai untum sebuah acara kecil-kecilan, pelan Nada menarik handel pintu kemudian


"SELAMAT DATANGGGGGG!!!" Ucapan serentak dari rekan-rekan satu divisi Accounting and Finance


Ruangan tersebut sudah dipenuhi dengan hiasan balon serta tambahan akssoreies lainnya untuk menambah kesan manis. Jangan lupakan nasi tumpeng, kue tart, serta banyaknya lauk pauk yang sudah tersaji. Ada pula live musik yang dibawakan oleh penyanyi dadakan yaitu, Reza, embuat acara tersebut semakin meriah. Ruangan ini memang dirancang kedap suara, sehingga tidak masalah jika bergaduh didalam, karena tidak akan menganggu pekerja lainnya yang berada diluar ruangan.


Sarah begitu terkesiap melihat sambutan yang tak biasa itu. Kedua bola matanya berkaca-kaca karena merasa terharu, namun semenit kemudian ia mengerutkan keningnya saat pandangannya liris kedepan dan melihat tulisan *SELAMAT DATANAG dan SELAMAT ATAS KENAIKAN JABATAN*


Ia menyenggol pelan bahu Nada yang masih berdiri disampingnya "Nada"


"Apa?"


"Siapa yang naik jabatan?!"


"Kau" Jawab Nada singkat


"Jangan bercanda"


"Tidak" Dengan semangat Nada mengulurkan tangannya sembari tersenyum "Aku tidak bercanda. Selamat ya Sarah. Kau sekarang menjadi Manager kami"

__ADS_1


Sarah menerima jabatan Nada sembari menarik teman satu timnya itu kedalam dekapannya "Terimakasih, Nada. Aku sungguh tak mempercayai ini"


"Sama-sama, Sarah. Aku turut senang" ucap Nada setelah pelukan mereka terlepas.


Kemudian Sarah mendekat kearah Reza yang sedang asik memainkan gitarnya sembari bernyanyi "Pak Reza, pinjamkan aku mic-nya!" Pintanya dengan sopan


Segera Reza menghentikan aktivitasnya, dan dengan ia memberikan benda yang tengah ia pegang itu "Ini" ucapnya sembari tersenyum


"Terimakasih!" Sarah segera mengambilnya kemudian berdiri tepat disamping Reza yang masih setia duduk diatas kursi sembari memeluk sebuah gitar.


"Team!" Ucap Sarah.


Satu kata itu mampu membuat suasana riuh menjadi senyap dan mengalihkan semua pandangannya pada asal suara. Saat merasa semua memperhatikan ia berucap "Terimakasih untuk usaha kalian yang sudah mempersiapkan sambutan ini. Aku benar-benar tidak menyangka dihari pertamaku kembali masuk bekerja dihadiahkan dengan posisi baru. Terimakasih, tanpa bantuan dari kalian aku tidak bisa berada diposisi yang sekarang ini. Semoga kalian bisa meraih posisi yang lebih tinggi dari apa yang sekarang aku terima"


"Kau pantas mendapatkan posisi itu, Sarah. Kita semua tahu kau memiliki bakat, attitude yang baik, serta tugas yang tak pernah kau lalaikan. Jadi, sudah sepantasnya kau berada diposisi sekarang" Ujar salah satu team yang berada disana


Senyum Sarah mengembang, rasa haru dan bahagia kini meliputinya "Sekali lagi terimakasih! Untuk merayakan ini, bagaimana kalau besok aku meneraktir kalian makan, bebas pilih tempat"


"MAKAN-MAKAN LAGI KITAAAAAA" teriak orang-orang yang berada didalam ruangan itu.


Kemudian acara berlanjut sampai jam makan siang berakhir. Sarah yang kala itu sedang berdiri dan terlihat asik mengobrol dengan teman-temannya sembari menyesap soft drink ditangannya, sedikit dikejutkan dengan adanya sebucket bunga mawar berwarna pink tua yang melambangkan rasa syukur kepada seorang teman dari arah belakngnya. Segera sarah menoleh dan sedikit terkejut melihat sosok Reza dengan senyuman khasnya.


"Selamat atas segalanya, semoga kita bisa menjadi tim yang lebih baik lagi kedepannya" ucap Reza kembali menyerahkan bunga tersebut.


Dengan senang hati Sarah menerima bunga mawar kemudian tersenyum "Terimakasih, Pak Reza"


"Sekali lagi selamat! Aku memang tidak salah mempromosikanmu!" Ucap Reza sembari mengulurkan tangannya


Lama Reza menjabat tangan Sarah. Ia pandangi wanita yangbada dihadapnnya itu dengan begitu intens, ada perasaan rindu yang mendalam namun ia zadar akan posisinya. Lamunannya tiba-tiba buyar saat Sarah mencoba melepaskan jabatan tangan tersebut. Tak sedikit yang menyaksikan momen mereka berdua, namun tak bisa lagi mendukung seperti biasa, karena Sarah telah memiliki calon suami.


"Eh. Maafkan aku, Sarah!" jabatan tangan tersebut segera lepas, dan Reza menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena sedikit merasa malu.


"Ti-tidak apa-apa Pak. Kalau begitu aku kesana dulu menemui yang lainnya" pamit Sarah yang merasa sedikit canggung, kemudian melangkah pergi setelah mendapat anggukan dari Reza.


Hembusan nafas Reza secara kasar mengudara, sembari memandangi Sarah yanh semakin menjauh dari pandangannyan "Arghh... SHIT! Bisa-bisanya aku seperti tadi, hampir saja aku membuka jalan setan" batinnya dengan mengumpat kesal


Nada yang memperhatikan gerak gerik Direkturnya itu menghela nafas berat "Kasihan sekali, Pak Reza. Tidak pernah mendapat kesempatan dari Sarah dan sekarang peluang itu benar-benar tertutup" batinnya


****


Kini Sarah telah tiba dikediaman orang tuanya setelah seharian begitu disibukkan dengan pekerjaannya. Rasa lelah dan kepala yang sedikit pusing membuatnya tidak menyadari jika ada dua mobil asing yang sedang terparkir dihalaman depan.


"Krieett!" Suara pintu terbuka saat Sarah berhasil mendorongnya "Aku pulang!" ucapnya sembari melangkah masuk. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat lampu seluruh ruangan menyala sehingga menyilaukan kedua bola matanya.


"SELAMATTTT!" Ucapan serentak dari orang-orang yang telah berbaris rapi dihadapannya.


"Paman, Bibi, Kakek, Nenek, Zahra, dan kau Zayyan" ujar Sarah yang menyebut satu untuk memperjelas kebenaran dengan apa yang dilihatnya sekarang.


"Iya sayang, ini kami" Jawab Mama Dessy

__ADS_1


Pandangan Sarah beralih menatap dekorasi yang terbilang mewah itu, dan bola matanya fokus pada tulisan selamat "Maksudnya ini selamat apa, Bi?"


"Selamat atas kebebasan dan kenaikan jabatanmu" jawab Mama Dessy


Kening Sarah berkerut "Aneh! Padahal aku belum bercerita tentang hal ini sama sekali"


"Tak usah sibuk mencari jawabannya, yang jelas kau memang naik jabatan kan?" Timpal Zayyan sembari berjalan mendekat


"Hehe.. kau benar!" ucap Sarah sedikit malu


"Selamat, Sarah!" Ucap Zayyan sembari tersenyum kemudian menyerahkan sebucket bunga tulip putih


Dengan segera Sarah menerimanya laku mencium dalam-dakam aroma bunga yang sangat ia sukai itu "Terimakasih bunganya, Zay. "


"Sekali lagi selamat!" Ujar Zayyan, kemudian melebarkan kedua lengannya untuk memberikan sebuah pelukan kepada Sarah.


Namun tiba-tiba gerakan Sarah terhenti ketika hendak meneggelamkan wajahnya pada dada bidang calon suaminya itu saat Momi Sabrina berujar "Belum halal!"


Benar saja kedua sejoli itu langsung salah tingkah. Zayyan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "Maafkan aku, Bi"


Seluruh orang yang berada disana seketika tertawa melihat tingkah kedua sejoli itu.


"Yasudah ayo kita makan dulu" ajak Momi Sabrina, lalu mereka semua melangkah menuju ruang makan


****


Setelah mereka berdua selesai makan malam, kini Zayyan dan Sarah duduk dibangku taman yang terletak disamping rumah orang tua Sarah


"Hari ini dua kali dapat surprise. Aku merasa senang sekali" ujar Sarah


"Oh ya? Siapa?!" Tanya Zayyan


"Dengan semua tim divisi dari Accounting and Finance"


Setelah mendengar pernytaan Sarah, perasaan tidak suka tiba-tiba menjalar dalam dirinya "Itu berarti, atasanmu yang sangat care itu juga ada?"


"Maksudmu Pak Reza"


"Hmm..." Dengan malas Zayyan menjawab saat kembali mendengar nama Reza


"Pak Reza kan atasanku, sepertinya tidak ada yang dipermasalahkan saat dia juga ikut memberi selamat"


"Jadi, kau senang karena dia?!"


"What the hell?! Benar-benar sulit dipercaya jalan pemikirannya" Batin Sarah, karena tidak ingin merusak suasana ia pun segera menangkup kedua Pipi Zayyan "Calon Suamiku yang sangat tampan dan baik. Sudah berapa kali kujelaskan jika aku dan Pak Reza hanya sebatas atasan dan bawahan. Lagi pula, ia dan Lyra akan segera menikah"


Seketika ucapan dan perlakuan Sarah yang lembut mampu meluluhkan kedongkolan hati Zayyan "Yah aku hanya sedikit khawatir saja"


"Terimakasih sudah mengkhawatirkanku, tapi percayalah diantara kami benar-benar tidak ada apa-apa. Beri aku kepercayaan seperti aku yang telah memberikan kepercayaan padamu. Kita sudah sama-sama dewasa, memilki komitmen untuk terus konsisten dalam hubungan ini. Lagi pula sebentar lagi kita juga akan menikah, bukan?"

__ADS_1


Zayyan tersenyum, dengan segera meraih kepala Sarah dan membenamkannya dalam dada bidang miliknya "Maafkan aku" ujarnya sembari mencium pucuk kepala calon istrinya.


__ADS_2