
PT. Asphalt Indo. Tbk.,
Jelang 3 hari menuju pernikahan, Sarah justru semakin disibukkan dengan pekerjaannya. Belum lagi mengajari rekannya untuk menghandle segala pekerjaannya karena mulai besok sampai tujuh hari kedepan ia akan mulai cuti menikah. Ditengah-tengah kesibukannya, pintu ruangan terbuka dengan sedikit kasar, membuat sang pemilik ruangan mengalihkan pandangannya. Alisnya mengerut tat kala mendapati Nada yang tengah berjalan cepat mendekat kearahnya dengan nafas ngos-ngosan
'BRAK!' Suara hentakan meja yang berhasil diciptakan Nada membuat Sarah mendengus kesal
"Nada!" Pekik Sarah
'Huhh... Huhh... Huhh..' Suara tarikan nafas Nada yang tak teratur "Maafhh... Maafkan aku Sarahhh!!" ucapanya, dengan suara yang masih tersengal-sengal
"Kau kenapa? Apa Debt Collector yang mengejarmu, sampai seperti ini, hah?!" Ketus Sarah
"Bicara sembarangan!"
"Kalau begitu, katakan!"
Setelah merasa nafasnya mulai kembali teratur, Nada segera duduk diatas kursi yang ada dihadapan Sarah, tentunya meja kerja yang dihiasi dengan tumpukan dokumen serta komputer dan perlengkpaan ATK lainnya menjadi pembatas antar keduanya. "Sarah apa ini undangan pernikahanmu?" tanyanya seraya menyerahkan sebuah box berwarna merah jambu dengan inisal ZS
Sarah pun meneraih dan segera membukanya. Didalam kotak tersebut terdapat sebuah undangan berbahan dasar aklirik, yang tulisannya dibubuhi dengan tinta emas, serta desain unik didalamnya membuat undangan tersebut nampak elegan. Sejenak ia membaca kemudian beralih menatap Nada "Ia, ini undangan pernikahanku. Kenapa bisa ada pada mu? Rasanya, aku belum membagikannya?"
"Semua karyawan dikantor sudah mendapatkan ini!"
Kening Sarah mengerut "Oh ya, siapa yang membagikannya?"
"Nyonya Besar, dibantu dengan beberapa pengawalnya"
"Siapa Nyonya Besar yang kau maksud?"
"Nyonya Besar Rad's Holding— Dessylia" ucap Nada dengan menggebu-gebu
Sedang Sarah semakin memperkerut keningnya karena bingung "Apa hubungannya dengan undanganku?!"
Pertanyaan Sarah membuat Nada ikut mengerutkan keningnya "Kau sedang bercanda denganku?"
"Bercanda apanya?! Aku dari tadi kebingungan maksud dari ucapanmu! Mengapa undangan pernikhanku sudah tersebar dan apa hubungannya dengan Nyonya Besar Rad's Holding?" Tanya Sarah kembali
"Oh My! Aku tidak tahu apa kau sedang bercanda atau berpura-pura tidak tahu. Tapi biar ku jelaskan!" Sungut Nada, kemudian meraih undangan tersebut dan menujuk nama calon pengantin pria "Lihat ini! ZAYYAN RADITYA putra pertama dari WILDAN RADITYA dan DESSYLIA!
Sejenak Sarah berpikir, dan menatap tajam ke arah Nada "Apa aku tidak salah dengar? Jangan bilang Raditya yang kau maksud adalah pemilik Rad's Holding?!"
__ADS_1
"Tepat sekali!"
Mulut serta kedua bola mata Sarah terbuka lebar saat mendengar pernyataan tersebut. Ia segera bangkit dari duduknya dan menggebrak meja membuat Nada terkejut "Apa?! Bagaimana bisa??"
"Kau ini yang bagaimana?! Mau menikah tapi tidak tahu sama sekali latar belakang calon suamimu! Oh My.. Sarah Atmaja!! Apa yang kau lakukan beberapa bulan ini, heh? Mengapa sampai tidak mengetahui seluk beluk calon suamimu. Beruntung ia adalah pengusaha bukan penipu" Sembur Nada
"Masalah yang selalu datang, membuatku terlupa untuk mencari tahu siapa dirinya! Aku juga tidak menyangka jika Zayyan adalah putra dari Raditya. Selama ini yang aku tahu dia adalah seorang konsultan pajak. Dia memang mengatakan akan meneruskan usaha Papanya tapi aku tidak tahu usaha apa yang ia maksud karena aku sungguh tidak tertarik membahasanya" Jelas Sarah seraya mengusap kasar wajahnya dan kembali duduk diatas kursi kebesarannya
"Tunggu sebentar!" Sarah segera menyalakan komputernya dan mencari struktur organisasi Rad's Holding, matanya membulat sempurna saat melihat sebuah nama yang tak asing terpampang jelas pada bagian atas "Oh Astaga! Zayyan ternyata CEO baru yang menggantikan Tuan Wildan selama 6 bulan terakhir! Ya Tuhan.. Kenapa aku tidak menyadari ini?!"
Nada berdecih sembari menggeleng pelan "Dasar wanita aneh! Kau adalah manajer akuntansi, mengetahui semua tentang profile perushaaan, harta bergerak, dan tidak bergeraknya, tapi mengapa kau tidak mengetahui CEO nya?"
"Kau tahu sendiri bukan? CEO Rad's Holding tak pernah memperlihatkan wujud aslinya, kecuali dengan para atasan tertinggi dan anggota dewan. Lagi pula aku baru saja menjabat sebagai manajer, jelas aku tidak tahu"
"Hm... Kau benar juga! Tapi tetap saja kau adalah wanita aneh!! Dimana-mana jika orang akan menikah pasti akan menyelami lebih dalam tentang latar belakang keluarganya. Tapi kau? Kau malah tidak tahu sama sekali! Aku sungguh bingung dengan jalan pemikiran unikmu" Balas Nada dengan ketusnya
"Aku tak pernah mencari tahu, karena Paman dan Bibi sangat baik terhadapku. Belum lagi Mama dan Papaku bersahabat dengan kedua orang tua Zayyan, membuatku merasa sudah sangat cukup, tak perlu mencari tahu lagi" Terang Sarah
Nada menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara kasar seraya menggeleng pelan "Baiklah.. Aku percaya. Lanjutkan pekerjaanmu! Tak usah memikirkan omongan orang diluar sana"
Kening Sarah mengerut "Omongan apa maksudmu?!"
"Yaa.. itu karena aku akan menikah? Aku rasa wajar-wajar saja, karena sebelumnya aku memang selalu menjadi pembicaraan" Jawab Sarah
"Jika kau hanya akan menikah dengan laki-laki biasa mungkin tak akan sepanas ini beritanya. Tapi karena kau menikah dengan CEO induk dari perusahaan tempat kita bekerja membuat semua berpikir negatif terhadapmu"
Kening Sarah mengerut, ia gagal mencerna ucapan temannya itu "Apa?! Mengapa bisa begitu?"
"Sudah... tak usah dilanjutkan pembicaraan ini! Aku khawatir kau tak fokus. Kembali bekerja, aku akan coba mencari solusinya." Pinta Nada seraya meninggalakan Sarah yang masih penuh dengan pertanyaan.
.
.
Sesuai dengan permintaan teman sekaligus rekannya itu, Sarah benar-benar tidak memusingkan masalah pernikahannya. Ia saat ini benar-benar disibukkan dengan beberapa laporan yang harus diselesaikan. Masalah latar belakang dan tanggapan miring orang-orang terhadapnya, ia kesampingkan terlebih dahulu.
Merasa sedikit pegal dan lelah, ia mencoba merenggangkan otot-ototnya kemudian bangkit dari dududknya untuk ketoilet sekedar membasuh muka agar tidak terlalu suntuk. Langkahnya terhenti didepan pintu masuk tolulet ketika mendengar beberapa karyawan wanita sedang asik menggunjing seseorang, dan orang yang dimaksud tak lain adalah dirinya sendiri.
"Aku tidak tahu harus berkata apa? Entah dia beruntung atau memang sengaja menggait para atasan"
__ADS_1
"Dulu Direktur kita Pak Reza yang ia pacari, dan sekarang CEO yang ingin ia nikahi"
"Benar! aku jadi curiga, jangan-jangan dia memutuskan Pak Reza karena ingin menikah dengan CEO."
"Jelas pasti! Direktur akan terkalahkan dengan CEO"
"Haha.. Sarah terlihat baik, tapi siapa sangka ia itu rakus! Ku pikir diberbeda dari wanita lainnya ternyata lebih berbahaya"
"Sudah-sudah! Berhenti menceritakan seseorang, belum tentu ia seperti yang kalian pikirkan!"
"Itu sudah jelas!"
"Jelas bagaimana? kau bertanya saja tidak! Lagi pula, kita semua kan tahu jika Sarah adalah wanita baik-baik, dan lagi dia tak pernah menjalin hubungan spesial dengan Pak Reza. Bukankah orang baik bertemu jodoh yang baik juga, aku rasa ini sepadan untuknya"
"Tak usah membelanya! Aku sungguh muak dengannya"
"Ya aku setuju!"
*Serangkaian percakapan yang Sarah dengar dibalik dinding toilet.
Ia tersenyum getir sembari memegangi dadanya yang terasa sakit saat mendengar tuduhan yang mengerikan itu. "Ini lah sebab aku tidak pernah mau menjalin kasih disatu perushaan! Sekuat tenaga aku menghindari, tapi semua telah menjadi ketentuan takdir sang Ilahi. Aku juga tidak tahu, apa aku harus berkata beruntung karena menikah dengan anak dari pemilik perushaan ini atau ini adalah awal musibah" batinnya, kemudian menghela nafas beratnya "Baiklah... Tak apa, Sarah! Kau harus kuat!!" sambungnya. Ia pun mengurungkan niatnya untuk membasuh muka, kemudian melangkah kembali kedalam ruangannya.
****
Waktu sudah menujukkan pukul 5 sore, yang menandakan waktu bekerja telah berakhir dan seluruh karyawan diharuskan pulang kecuali yang lembur.
Dengan langkah yang lemah Sarah keluar dari ruangannya. Tanpa ia sadari, sudah ada Nada dan Reza yang menunggunya diluar ruangan.
Reza segera mendekati Sarah yang berjalan menunduk dengan wajah yang ditekuk "Kau tak apa, Sarah?" Tanyanya
Langkahnya terhenti, dan menoleh kesamping "Eh.. Pak Reza dan Nada" sapanya sembari tersenyum, yangbterlihat dipaksakan.
"Ayo kita pulang!" Ajak Nada seraya menggandeng tangan Sarah menuju masuk kedalam lift diikuti dengan Reza dibelakangnya. Ia tidak ingin bertanya masalahnya, karena ini pasti menyangkut tentang gunjingan rekan kantornya.
'TING!' Pintu lift terbuka, sampailah ketiga manusia itu pada lantai dasar kantor. Kening Sarah mengerut melihat banyaknya karyawan yang tengah berdiri didepan pintu utama.
"Itu Sarah!" ujar salah seorang karyawan sambil menujuk kearah Sarah yang baru saja keluar dari pintu lift. Mereka semua pun secara bergerombol mendatangi Sarah, membuat sang objek yang dituju sedikit takut.
"Ini ada apa, Nad?!" tanya Sarah sembari berbisik ditelinga temanya itu
__ADS_1