
Setelah 30 menit lamanya mereka menempuh perjalanan, kini mereka telah tiba disuatu tempat yang tidak asing bagi Sarah.
Senyumnya mengembang tatkala menyadari sedang dimana ia dan Zayyan berada. Setelah mobil terparkir, dengan segera ia keluar dari mobil, dan berlari-lari kecil tanpa memperdulikan Zayyan yang memintanya untuk berhati-hati.
"Tok. . . tok. . ." Suara ketukan pintu yang berhasil dibuat Sarah, membuat seseorang dari dalam ruangan segera membukakan pintu, tampak seorang wanita paru baya dengan raut wajah yang sedikit terkejut.
Sarah tersenyum saat melihat sosok wanita tersebut, kemudian berkata "Assalamualaikum, Bi"
"Waalaikumussalam. Nak, Sarah!" jawab Wanita itu dengan sedikit terkejut. Dengan segera ia memeluk Sarah dan meneteskan air mata. "Kau sudah sembuh, Nak?!" tanyanya setelah melepas pelukan tersebut
"Alhamdulillah, Bi. Aku sudah merasa sangat baik sekarang"
Perasaan lega terpancar pada raut wajah wanita itu "Syukurlah! Bibi dan anak-anak tak henti mendo'akan kesembuhan untukmu. Maafkan kami yang tak pernah bisa menjengukmu"
"Tidak apa, Bi. Aku mengerti bagaimana keadaan kalian. Berkat do'a Bibi dan juga adik-adik, aku bisa sembuh secepat ini" ucap Sarah begitu tulus, kemudian pandangannya menyapu seluruh tempat, namun tak menemukan apa yang ia cari, lalu beralih menatap wanita yang ia panggil Bibi itu "Oh ya, adik-adik kemana? Mengapa sepi sekali disini?"
"Mereka sedang makan siang, dan mungkin sudah selesai. Apa kalian sudah makan?"
"Kami baru selesai makan, Bi. Setelah itu kemari?"
Kening wanita itu berkerut "Kami?!"
Sarah mengangguk "Iya, Bi. Saya kemari bersama —"
Ucapan Sarah terpotong tatakala seorang anak kecil berteriak dari arah yang sedikit jauh dari tempatnya beridiri, anak itu segera berlari mendekat kearahnya "Kak Sarah!!"
Senyum Sarah mengembang saat menyadari siapa yang saat ini memanggilnya, dengan segera ia berjongok sembari merentangkan kedua lengannya untuk menangkap anak itu "Tiffany, aku sangat merindukanmu!"
Ya. . . Saat ini mereka sedang berada di sebuah Yayasan Panti Asuhan yang sering dikunjungi oleh Sarah setiap bulannya, namun sudah lebih dua bulan ia tak pernah berkunjung karena kesibukan dan peristiwa yang dialaminya.
Tiffanya segera melepas pelukannya, terlihat wajahnya sudah dipenuhi dengan cairan bening yang keluar dari pelupuk matanya "Kak Sarah, kau sudah sembuh?!"
Tangan sarah menyeka perlahan air mata yang membajiri pipi mulus anak itu, kemudian tersenyum "Jika kaka tidak sembuh, mana mungkin bisa kemari sayang. Terimakasih ya, berkat do'a kalian, kakak mampu melewati semuanya"
Zayyan yang baru saja tiba, bersedekap dada menyaksikan momen itu. Ia mengulas sebuah senyum karena merasa lega setidaknya hari ini wanitanya tidak merasakan kebosanan seperti hari kemarin.
Pandangan mata semua orang tiba-tiba teralihkan saat suara mobil box pengantaran memasuki halaman YPA dan terlihat seorang kurir turun dari mobil
"Paketan!!" Ujar kurir tersebut sambil menurunkan sebuah kotak yang terbilang cukup besar
Pengasuh panti yang dipanggil Bibi oleh Sarah— Nyonya Maya, mengerutkan keningnya ia merasa heran karena tidak pernah memesan barang. Ia pun segera mendatangi kurir tersebut "Maaf!! Tapi saya tidak ada memesan barang sebelumnya"
"Alamatnya jelas tertulis disini Buk. Silahkan di cek kembali" ujar kurir tersebut sambil menyerahkan selembar kertas tanda terima
"Zayyan?" Gumam pengasuh tersebut lalu mengerutkan keningnya mencoba mengingat nama tersebut "Namanya sangat familiar, tapi aku lupa dia siapa?" batinnya
Sarah yang melihat Nyonya Maya sedang bingung, segera mendekat "Ada apa, Bi?"
"Ada paketan masuk, tapi Bibi tidak pernah merasa memesan barang apa lagi sebesar ini"
"Apa ada nama pengirimnya?"
Nyonya Maya segera memperlihatkan kertas tanda terima itu "Lihatlah, nama pengirimnya Zayyan. Nama ini sangat familiar, akan tetapi bibi lupa siapa dia"
Kening Sarah berkerut "Apa ini dari Zayyan, calon suamiku?" batinnya, kemudian berkata "Lebih baik bibi terima saja dulu. Kita akan cari tahu sama-sama siapa makhluk bernama Zayyan ini" pinta Sarah
Nyonya Maya menagngguk membenarkan perjataan Sarah, ia pun meraih pena bolpoin yang telah disediakan kurir tersebut kemudian menandatangani serah terimanya "Terimakasih" ujarnya, sembari menyerahkan kembali kertas serta pena tersebut.
Setelah melihat Nyonya Maya menerima barang tersebut, Sarah segera berbalik mencari sosok laki-laki yang datang kesini bersamanya. Terlihat Zayyan tengah asik duduk bersandar pada sebuah kursi sembari memainkan ponselnya
__ADS_1
"Zayyan!" Panggil Sarah setelah ia duduk disamping calon suaminya itu.
Pandangan mata Zayyan beralih menatap wanita yang memanggilnya itu "Ada apa?"
"Apa kau yang mengirim paketan kemari?"
"Ya!" Jawabnya singkat jelas dan padat
"Kenapa kau tidak mengatakannya?"
"Kau tidak bertanya"
Sarah menghela nafas beratnya, ia sedikit gemas dengan jawaban Zayyan yang begitu singkat. Ingin sekali rasanya ia mengigit laki-laki itu jika saat ini bukan ditempat umum "Kau ini! Beruntung paketan itu tertulis namamu jadi aku tidak kesulitan mencari tahu siapa yang mengirim barang. Karena Bibi Maya tidak akan mau menerimanya jika pengirimnya tidak jelas"
"Sudah jelas bukan? Jadi terima saja"
"Baiklah! Terimakasih, Zayyan. Kau benar-benar merencanakan ini semua, tapi dari mana kau tahu aku sering ke panti ini" Tanya Sarah penuh telisik
Zayyan yang baru saja hendak menjawab pertanyaan Sarah, tiba-tiba terurungkan tatkala Nyonya Maya menghampiri mereka berdua. Wanita itu menatap lekat sosok Zayyan dan mencoba mengingat "Tuan, jika tidak salah, kau Putra Nyonya Dessy bukan?"
Senyum Zayyan menghangat tatkala wajah tampannya berhasil diingat oleh wanita paru baya yangbsedang berdiri didepannya itu "Benar, Nyonya"
Tidak dengan Sarah, keningnya berkerut karena bingung "Bibi, kau mengenalnya?"
"Bibi, mengenal Nyonya Dessy beliau adalah donatur tetal di Yayasan ini. Untuk Tuan Zayyan, ini kali kedua kami bertemu setelah 4 bulan yang lalu"
Sarah mengangguk seakan mengerti segalanya "Oh, pantas saja!"
"Kalian berdua menjalin ikatan?!"
Malu-malu Sarah berucap "He. . . Benar, Bi"
"Oh, ya?!" Sarah sedikit tidak percaya
"Iya, Sarah. 4 bulan yang lalu saat terakhir kau berkunjung kemari, secara kebetulan Nyonya Dessy juga berkunjung. Tak sengaja belaiu melihatmu sedang bermain bersama anak-anak, kemudian menanyakanmu"
"Kebetulan sekali! Tapi, kenapa aku tak melihatnya ya? Tumben sekali Bibi tidak menelponku"
"Nyonya Dessy sengaja tak mau menampakkan dirinya"
"Kenapa bisa?"
"Ya. . Karena ini" ujar Nyonya Maya sembari mengalihkan pandangannya kearah Zayyan, membuat Sarah ikut mengalihkan pandangannya pada sosok laki-laki yang duduk disebelanya namun ia gagal mencerna ucapan, Nyonya Maya.
Tiba-tiba Zayyan sedikit salah tingkah dibuatnya, saat menyadari hak tersebut. Dengan gaya angkuhnya ia berpura-pura tidak mendengar dan tidak menghiraukan tatapan yang penuh makna dari pengasuh itu.
"Oh iya, Sarah. Kata Nyonya Dessy, pertemuan kalian karena ketidak sengajaan ya. Saat itu kalian bersenggolan didalam mall?" tanya pengasuh tersebut
"He... Benar, Bi. Sedikit unik, namun itulah kenyataanya" Jawab Sarah sedikit malu
Nyonya Maya tersenyum melihat tingkah Sarah, ada perasaan senang ketika melihat wanita yang selalu datang sendiri ke Yayasan ini, sekarang sudah bersama kekasih "Semoga kalian berdua segera menikah"
"Aamiin"
"Aamiin" Batin Zayyan.
"Ya sudah, Bibi pergi dulu karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan" Pamit Nyonya Maya
Kedua insan itu hanya mengangguk. Setelah kepergian Nyonya Maya, kini tinggallah Zayyan dan Sarah yang masih setia duduk.
__ADS_1
"Oh. . . Jadi ini alasanmu mengajakku kemari, ternyata kau pernah juga kemari?" ujar Sarah
"Memangnya kau pikir apa?"
Sarah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kemudian tersenyum kikuk "Ya. . . Aku pikir karena kau mengetahui jika aku sering kemari. Awalnya aku semoat berbesar kepala"
"Syukurlah Sarah berpikir jika aku kemari bukan karena dia, tapi karena inisiatifku sendiri. Yah. . . walau pada kenyataan semua ini memang karena dirinya, entah kenapa aku sedikit gengsi mengakuinya" batin Zayyan, kemudian dengan gemas mengacak-acak rambut wanita itu "Memangnya kau sering kesini?"
"Iya, Zay. Setiap bulan aku pasti kemari, bermain dengan anak-anak menggemaskan itu" Terang Sarah sembari menunjuk kearah anak-anak panti yang sedang asik bermain dihalaman depan.
"Hum. . . Tapi selama kita menjalin ikatan, kau tak pernah kemari. Atau jangan-jangan kau datang sendiri?!"
"Apa kau tidak mendengar perkataan Bibi Maya barusan?"
"Apa?"
"Aku kemari 2 bulan yang lalu. Itu berarti bulan dimana dimana kau sempat menghilang. Setelah itu aku disibukkan dengan pekerjaanku, sampai pada akhirnya aku diculik dan mendekam didalam rumah sakit hampir 1 bulan. Jadi, bagaimana bisa aku kemari?"
Zayyan menganggukkan kepalanya "Hem. . kau benar"
Kedua bola mata Sarah memutar malas "Beginilah jika senang bersuudzon"
"Baiklah, maafkan aku! Kau tidak ingin bermain dengan anak-anak menggemaskan itu?" Tanya Zayyan mencoba mengalihkan pembicaraan
"Tentunya. Ayo Zay, kita bermain dengan mereka" Ajak Sarah
"Tidak, tapi aku tidak begitu tahu caranya bermain dengan anak-anak"
Tak memperdukikan penolakan Zayyan, Sarah segera menarik paksa lengan calon suaminya itu untuk bergabung dengan anak-anak "Ikut saja! Kau akan tahu sensiri nantinya akan berbuat apa. Belajarlah menjadi teman bagi anak kecil, karena kelak kau akan memiliki anak yang butuh ditemani" ujarnya ditengah-tengah langkah
Senyum Zayyan mengembang, perasaanya tiba-tiba menghangat saat mendengar kata Ayah. Setibanya dihalaman tersebut anak-anak segera menghampiri keduanya memberikan salam serta memeluk. Tak menunggu waktu lama Sarah segera beraksi, ia mengambil puzzle besar yang ada didalam kotak tersebut lalu dengan bantuan anak-anak perempuan ia menjadikannya benteng. Zayyan tak tinggal diam ia pun ikut membuat benteng dengan bantuan anak laki-laki. Setelah keduanya beres mereka mulai bermain tembak-tembakan air yang telah diberi warna, siapa yang terkena akan mendapat hukuman.
Permainan yang terlihat sangat kekanak-kanakan itu buktinya mampu membuat Sarah dan Zayyan tertawa lepas, dan terlupa dengan segala beban pekerjaan yang menghimpit otaknya setiap hari.
"Bermain dengan anak-anak, sungguh hal baru yang sangat menyenangkan bagiku. Aku tak menyangka di usiaku yang sudah memasuki kepala tiga baru menemukan permainan seru seperti ini" batin Zayyan, ia seakan lupa siapa dirinya yang dulu. Si laki-laki angkuh yang sangat sulit memberikan senyumannya.
"Zayyan benar-benar berbeda. Aku sungguh menyukai dia yang seperti ini, tidak ada keangkuhan. Dia bahkan mau berbaur dengan anak-anak begitu tulus, ya walau awalnya dia sangat menolak" batin Sarah, sembari tersenyum melihat kearah Zayyan yang tak hentinya tertawa bersama anak-anak.
Begitu asiknya bermain, mereka baru tersadar saat waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Dengan segera Zayyan mengajak Sarah pulang karena takut terkena semburan calon mertuanya.
****
Jam setengah 7 malam, mereka berdua baru saja tiba dikediaman orang tua Sarah. Zayyan segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Sarah.
"Terimakasih untuk segalanya, Zayyan" ucap Sarah tulus setelah ia keluar dari mobil
"Aku juga berterimakasih padamu, karena kau aku merasa sangat bahagia hari ini"
Sesaat mata mereka saling mengunci, sebelum akhirnya Momi Sabrina memecah keheningan daintara keduanya "Syukurlah! ku pikir putriku diculik lagi"
Kedua insan itu menoleh, Zayyan segera mendekat "Bibi, maafkan aku yang telah membawa Sarah sampai malam begini" ucapnya sembari membungkukkan sedikit tubuhnya
"Tidak apa-apa, Zay. Ayo masuk, kita makan malam bersama, Paman juga ada didalam" pinta Momi Sabrina
"Tapi Bi—" ucapan Zayyan tiba-tiba terpotong
"Gak ada penolakan! Masuk!!"
"Baiklah" . . . .
__ADS_1