
Malam tiba, terlihat Zayyan tengah bersiap-siap untuk acara makan malamnya bersama Sarah.
Sesuai saran dari sekretarisnya siang itu, ia benar-benar menggunakan kaos oblong berwarna putih, dilapisi outer jas blazer berwarna hitam, serta celana chino yang juga berwarna hitam, jangan lupakan sepatu sneakersnya putihnya. Menbuatnya terlihat santai namun tetap berkelas.
Tak henti ia memandangi wajah dan juga beberapa kali merapikan bajunya dihadapan cermin besar dindingnya. Ia tersenyum dengan begitu sempurna saat melihat aura baru yang terpancar dalam dirinya “Zayyan, kau memang selalu tampan, walau hanya menggunakan baju ini" gumamnya
Setelah dirasa sempurna, ia pun segera melangkahkan kakinya keluar kamar, melewati ruang keluarga untuk mencari keberadaan kedua orang tuanya. Terlihat Papa Wildan dan Mama Dessy sedang asik mengobrol ringan ditemani dua cangkir teh hangat dan beberapa cemilan yang tertata diatas meja.
"Mama. Papa!!" Panggil Zayyan, yang saat ini sudah berdiri dihadapan kedua orang tuanya.
Mama Dessy dan Papa Wildan yang kala itu sedang mengobrol, segera mengalihkan pandanganya pada Zayyan
"Wah . . . Putra Mama tampan sekali. Kau mau kemana, Zay?" Tanya Mama Dessy
"Aku mau dinner sama Sarah Ma"
"Wah. . wah. .Pantas tadi sore kau pulang agak cepat dari biasanya, ternyata sedang bersiap-siap untuk malam ini"
"Iya, Ma"
“Selamat ya, Boy! Akhirnya kau bisa merasakan malam minggu bersama kekasih” Papa Wildan menimpali
Zayyan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal “ Aku haya ingin lebih dekat denganya, Pa"
"Itu ide yang bagus, lagi pula pernikahan kalian 4 bulan lagi. Jadi, pergunakan waktu itu untuk saling mengenal lebih jauh"
"Terimakasih atas sarannya, Pa"
"Semoga dinner dipinggir pantai menjadi pilihan yang tepat ya. Oops!" Mama Dessy kecoplosan
Zayyan mengerutkan keningnya "Mama tahu?"
Bukan hal yang aneh bagi Zayyan jika Mama Papanya tahu tentang rencananya dinner malam ini. Dari dulu, setiap gerak geriknya memang selalu diawasai oleh kedua orang tuanya. Karena Zayyan tidak ingin melakukan suatu kesalahan, dan dipandang jelek oleh Mama Papanya, ia pun berambisi untuk selalu menujukkan hasil terbaiknya. Itulah sebab Zayyan terkena penyakit narsisme.
"He. . . Sebenarnya kami sudah tahu tentang rencanamu. Maafkan kami ya, Zay. Mama janji ini yang terakhir Mama mengawasimu. Kau sudah tumbuh dengan sangat baik, sudah sepantasnya kami membebaskanmu" Ujar Mama Dessy dengan bangga
Zayyan menggaruk tenguknya yang tidak gatal, ia sedikit malu karena bisa saja percumbuannya tadi siang didalam mobil juga diketahui oleh Mamanya "Tidak apa-apa, Ma. Terimakasih telah mempercayai ku. Kalau begitu, do'akan aku Ma, Pa, semoga lancar malam ini"
“Aamiin..! Jaga perilakumu, Zay. Jangan bersikap dingin, ingat! Dia itu calon istrimu, bukan lagi teman"
"Akan Zayyan usahakan, Ma"
__ADS_1
"Ya sudah! Berhati-hatilah! Cpat pergi sana, takutnya bedak Sarah luntur karena terlalu lama menunggumu"
Zayyan terkekeh, kemudian bertanya "Oh ya, Ma. Bagaimana dengan penampilanku?"
Mama Dessy segera mengacungkan kedua jempolnya, diikuti dengan Papa Wildan "Kau terlihat lebih cool saat memakai ini, daripada terus mengenakan setelan jas. Kesan santai lebih terlihat, dan Mama yakin Sarah tidak akan kaku mengajakmu berbicara"
"Benarkah!?"
Mama Dessy dan Papa Wildan mengangguk bersamaan, membuat senyum Zayyan mengembang "Lyra memang tidak salah pilih!" batinya
"Kalau begitu, aku pergi dulu" Pamit Zayyan, yang dibalas anggukan oleh kedua orang tuanya.
****
“Ting. . .tong. . .”
Suara bel rumah kediaman Sarah berbunyi, tak lama keluarlah Bibi Ratna dari balik pintu, kemudian tersenyum hangat saat mengetahui jika orang ada dihadapannya adalah calon suami Nona mudanya. “Tuan Zayyan! Mari, silahkan masuk”
“Terimakasih, Bi” ucap Zayyan sambil tersenyum
Bibi Ratna sedikit mengerutkan keningnya, ia merasa heran dengan sikap Zayyan “Anak muda ini! kemarin terlihat sangat dingin, tapi sekarang malah membawa kehangatab bagi siapa pun yang melihat senyumnya hi. .hi. . ” batinnya sembari menarik sedikit sudut bibirnya.
.
.
Zayyan mengangguk dan segera mendudukkan tubuhnya diatas sofa "Terimakasih, Bi"
"Kalau begitu, Bibi keatas dulu memberitahukan Nonna" Pamit Bibi Ratna, yang kembali dibalas anggukan oleh Zayyan.
.
.
Sarah yang saat itu tengah asik berputar-putar didepan cermin sembari bersenandung ria, tiba-tiba dikejutkan dengan suara Bibi Ratna yang baru saja masuk “Nona manis!”
“Huh. . Bibi! Suka sekali mengagetkanku!” sarah sedikit kesal kemudian mencebikkan bibirnya
“Lebih kaget mana? Dikagetkan sama Bibi atau sama Pangeran Tampannya??” ujar mbok Ratna yang kembali menggoda
“Haih. . Bibi ini bicara apa?”
"Sebenarnya saya cuma mau menyampaikan, jika dibawah sudah ada Tuan Zayyan"
__ADS_1
Sarah membelalakkan kedua bola matanya, tiba-tiba jantungnya berdetak 2x lebih cepat saat mendengar nama Zayyan "Sungguh!?"
Bibi Ratna mengangguk, sembari tersenyum "Tuan Zayyan malam ini tampan sekali, bahkan ia sempat tersenyum kepada Bibi. Sungguh berbeda sekali saat pertemuan pertama kami"
"Pertemuan pertama kami!? Bibi hati-hati kalau bericara, seperti sedang jatuh cinta saja" Sarah dengan ketusnya
"Jika saya tidak ingat umur, mungkin akan menjadi orang ketiga dalam hubungannya Nona ha. .ha. . ."
Seketika raut wajah Sarah terlihat sangat kesal mendnegar kata orang ketiga "Bibi. . ! kau menyebalkan sekal. Berhentilah berbicara yang tidak-tidak!"
Bibi Ratna kembali tertawa, sedangkan Sarah dengan perasaan masih begitu kesal segera mengambil hand bagnya dan berlalu meninggalakan Bibi Ratna yang masih terus saja tertawa.
.
.
Sarah melangkah menuruni tiap anak tangga, lagi-lagi suara dentuman high heelsnya mengalihkan pandangan mata Zayyan. Dress berwarna merah maroon dengan panjang selutut, diikuti dengan rambut panjangnya yang bergelombang itu ia biarkan terurai benar-benar memberikan kesan energik malam itu.
Zayyan yang sedang memandanginya dari bawah sana dengan susah payah menelan salivanya "Oh My. . . Kenapa dia cantik sekali" batinya, namun tak mengubah raut dinginnya.
"Selamat malam Zayyan. Maaf jika kau menunggu lama" Sapa Sarah sembari tersenyum dengan begitu manis
Zayyan pun balas tersenyum "Tidak apa! Oh ya, mana Bibi?" tanyanya sembari menyapukan pandangannya pada seluruh ruangan mencari sosok wanita yang telah melahirkan wanita pujaanya.
"Bibi disini! Apa kau rindu? Hati-hati dimarahi Daddynya Sarah" Canda momi Sabrina yang tiba-tiba datang entah dari mana
Zayyan mengulas senyum dibibirnya “Maaf Bibi. Aku mau izin membawa Sarah makan malam diluar"
"Kau tidak sekalian mengajak, Bibi?"
"Tidak!" Tolak Sarah dengan segera
Momi Sabrina pun tersenyum dan menyenggol pelan bahu putrinya "Serius sekali! Momi hanya bercanda"
Kemudian beralih menatap Zayyan "Hm. . . sebenarnya Bibi tidak mengizinkan, tapi karena kalian berdua sudah rapi. . . ."
Sarah langsung menatap Mominya dengan begitu memohon
Momi Sabrina terkekeh pelan "Ya sudah. . . Tapi ingat Zay! Aturan yang dulu tetap berlaku. Jika Sarah tidak boleh pulang lewat dari jam 10 malam"
"Aku akan mengusahankannya, Bi" Zayyan dengan begitu sopan
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu! Cepat pergi sana, malam minggu pasti jalanan sangat macet. Jangan sampai waktu kalian habis dijalan" Pinta Momi Sabrina
"Kalau begitu kami permisi dulu, Bi" Pamit Zayyan sembari membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai bentuk salam hormat.