SUAMI NARSIS

SUAMI NARSIS
STRATEGI PENYELAMATAN SARAH


__ADS_3

20 menit berlalu. . .


Sebuah Helikopter mendarat dengan sempurna pada sebuah Mansion mewah milik Paman Hendri Raditya, saudara kedua Papa Wildan. Ia memilih untuk membangun istana dipuncak, karena ia ingin hidup tenang jauh dari kata kebisingan.


Zayyan dan Papa Wildan dengan segera turun dari Heli dan melangkah masuk kedalan rumah Paman Hendri.


"Kakakku sayang! Suatu kehormatan kau mau menyempatkan diri untuk singgah kerumah gubukku" Sapa Paman Hendri sembari melebarkan kedua tangannya intuk memeluk Kakak yang sangat jarang ia temui itu.


Papa Wildan pun balas memeluk sosok adiknya yang sedikit menyebalkan namun lumayan ia rindukan.


"Ayo silahkan duduk, Kak. Kau mau minum apa?" Tawar Paman Hendri


"Aku akan minum setelah kita berhasil membuat strategi untuk menyusup masuk kedalam Villa itu" Kata Papa Wildan


"Ah. . Kakak, kau ini! Jangan sampai kau dehidrasi sebelum melawan musuh, ingat umurmu sekarang sudah tidak muda lagi" Ejek Paman Hendri


Papa Wildan mendengus kesal "Hendri, aku kemari dalam misi!"


"Aku tahu" jawab Paman Hendri dengan santainya


"Kalau begitu ayo bantu aku berpikir!"


"Minum dulu!" Paman Hendri kembali menwari Kakaknya


Dengan terpaksa Papa Wildan pun mengiyakan, karena ia tahu bagaimana sifat adiknya, jika sudah menwarkan sesuatu maka jangan harap untuk bisa menolaknya "Baiklah! Bawakan aku air teh manis"


"Tentu!"


Zayyan yang menyaksikan hanya menggeleng, ia tidak berani memotong pembicaraan antar saudara itu "Paman Hendri selalu saja begini, padahal situasi benar-benar mencekam" batinnya


.


.


Setelah Papa Wildan selesai meminum tehnya, barulah kedua saudara itu terlihat serius. Paman Hendri membuka map yang telah ada diatas meja sebelum kedatangan Papa Wildan tadi.


"Aku telah memerintahkan anak buahku untuk mengepung setiap sisi Villa itu" ujar Paman Hendri sembari memperlihatkan denah lokasi Villa milik April


"Apa itu tidak berbahaya!?" Tanya Papa Wildan sedikit khawatir


"Ck. . . Kau ini! Jangan ragukan kemampuan strategi bermainku, bukankah kita sudah sama-sama ahli dalam bidang ini"


Yah. . . Papa Wildan dan Paman Hendri adalah anggota Mafia yang cukup ditakuti baik dalam dunia politik dan bisnis. Namun hanya segelintir orang yang mengetahui tentang siapa sebenarnya keluarga Raditya, dan selebihnya lagi hanya memandang Raditya tumbuh dan berkembang karena kehebatannya dalam mengelola pasar bisnis.


"Baiklah aku mengerti, aku sudah tidak seenergik dulu lagi, itulah yang membuatku sedikit khawatir"

__ADS_1


"Tenang saja, kau bisa mengandalkan adikmu yang masih muda ini Kakak!" ujar Paman Hendri sembaritersenyum manis pada Kakaknya


Papa Wildan berdecih, namun ia juga membenarkan perkataan adiknya. Karena mereka berdua memang terpaut usia 15 tahun.


"Oh ya, aku juga telah menemukan titik lokasi keberadaan calon menantuku. Ia disekap diruangan ini" Paman Hendri memberikan tanda pada denah itu, tempat dimana Sarah disekap


"Ternyata kau sudah merencanakan ini semua?"


"Tentu! Menunggumu sangat lama, itu membuang-buang waktuku"


Senyum dibibir Papa Wildan mengembang, ia bangga dengan Adiknya yang sudah sangat bisa diandalkan. "Pantas saja kau begitu santai!"


"Haha. . . Semua sudah aku perhitungkan, Kak!" ujar Paman Hendri.


Mereka bertiga pun mulai mengatur strategi, setelah melalui sedikit perdebatan, akhirnya di setujui oleh Papa Wildan. Barulah Paman Hendri mengutus para anak buahnya untuk menjalankan misi masing-masing.


.


.


"Baiklah semua sudah beres, 1 jam lagi kita akan memulai operasinya! Kakak dan keponakan juga harus bersiap-siap. Masuklah kedalam ruang perlengkapan perangku, didalam sana sudah aku siapkan untuk kalian berdua"


Papa Wildan mengangguk dan segera menuju tempat yang dimaksudkan adiknya itu, diikuti dengan Zayyan dibelakang.


****


Reza datang berkunjung menemui orang tua Sarah, baru saja ia mendudukkan tubuhnya diatas sofa ruang tamu, Momi Sabrina datang menemuinya. Membuat Reza kembali berdiri dan membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai salam hormat.


"Selamat sore, Bibi" Sapa Reza


"Nak Reza, rasanya sudah lama sekali Bibi tidak melihat wajah tampanmu" Canda Momi Sabrina. Yah. . . Momi Sabrina sangat mengenal Reza, karena dari dulu Reza sering sekali berkunjung kerumahnya walau sekedar bertamu sebentar.


"Bibi, selalu saja bisa bercanda"


"Bibi serius! Oh ya, apa kau bersama Sarah kemari!?"


Kening Reza berkerut "Ini berarti Sarah tidak ada dirumah, kemana dia sebenarnya?" batinnya, kemudian berusha tersenyum pada Momi Sabrina "Tidak bibi, aku kemari karena ingin mengembalikan ponsel milik Sarah yang sempat tertinggal diatas meja westafel toilet"


Dengan segera Momi Sabrina menerima ponsel milik Putrinya itu "Lalu, orangnya kemana?"


Reza sesaat membisu, ia bingung harus menjawab apa. Tiba-tiba ditengah keheningan datanga Mama Dessy dengan mata yang hampir bengkak karena tak hentinya menangis saat mendnegar kabar hilangnya Sarah.


"Sister!"


Pandangan Momi Sabrina teralihkan saat mendengar suara tak asing baginya "Dessy!?" ia pun segera bangkit dari duduknya dan mendekat kearah sahabatnya itu, tanpa banyak bertanya Momi Sabrina memeluknya

__ADS_1


"Tenanglah!" Momi Sabrina berusha menenagkan dengan menepuk-nepuk halus penggung sahabat sekaligus calon besannya itu.


Setelah Mama Dessy sedikit tenang, Momi Sabrina menuntunnya menuju sofa dan segera mendudukkan tubuh masing-masing "Apa kau mau menceritakan masalahmu?"


Mama Dessy meraih telapak tangan sahabatnya itu, dengan suara yang parau ia mulai memberanikan diri untuk berucap "Sabrina, calon menantuku diculik"


Kening Mama Sabrina mengerut, cukup lama ia mencerna baik ucapan sahabatnya itu "Apa maksudmu, siapa yang diculik!?"


"Sarah!"


Kedua bola mata Mama Sabrina terbelalak karena terkejut. Seakan nyawanya hanya tinggal dikerongkongan, membuatnya begitu kesulitan untuk bernafas. Seluruh tubuhnya mulai melemah sebelum akhirnya ia jatuh pingsan. Beruntung saat itu Reza masih ada dilokasi, dengan cepat ia menggendong Mama Sabrina menuju kamar dan membaringkannya.


"Sister! Sadarlah" Pekik Mama Dessy sembari menepuk-nepuk halus pipi sahabatnya, namun sama sekali tidak bereaksi.


Reza pun segera mengambil kotak P3K dan mengambil minyak kayu putih didalamnya, kemudian menyerahkan pada Mama Dessy untuk bantu mnegoleskan pada bagian pelipis dan leher. Sedangkan Reza dengan sigap memijat bagian telapak kaki Mama Sabrina agar cepat sadar.


"Maaf, Nyonya! Sebelumnya saya sudah sangat lancang mendengar pembicaraan anda, tapi apa benar jika Sarah diculik?" tanya Reza pada Mama Dessy setelah mereka nerdua selesai dengan tugas masing-masing


"Maaf anak muda, tapi bolehkah aku bertanya lebih dulu, kau siapa?"


"Saya adalah patner kerja Sarah dikantor. Kedatangan saya kemari untuk mengembalikan ponsel Sarah yang tertinggal didepan meja kaca westafel toilet. Sarah yang menghilang tiba-tiba, membuat saya berasumsi jika hal buruk terjadi padanya"


"Kau benar Nak Reza, Sarah saat ini sedang diculik oleh perempuan yang memiliki gangguan mental"


Kening Reza berkerut "Sebenarnya saya sedikit bingung dengan kasus ini, karena setahu saya Sarah adalah wanita baik dan tidak pernah memiliki musuh sebelumnya. Bolehkah saya mengetahui siapa wanita yang anda maksud memilki gangguan mental itu?"


"Wanita itu bernama Aprillia, dia sangat terobsesi untuk memiliki Putraku Zayyan, akan tetapi putraku tak pernah sedikit pun mau menjalin kisah dengannya"


"Oh. . . Jadi Nyonya ini adalah Mama dari Tuan Zayyan. Aku sungguh tidak menyangka bisa bersitatap langsung dengan Nyonya Besar Raditya" Batinnya, kemudian berkata "Jadi perkataan Nona April tempo hari tidak main-main!?"


Mama Dessy gagal mencerna ucapan Reza "Apa maksudmu!?"


"Maafkan saya, Nyonya. Beberapa hari yang lalu, Nona April datang menemui saya. Ia menwarkan sebuah kerja sama untuk memisahkan Sarah dan Tuan Zayyan, akan tetapi saya menolak, dan itu benar-benar membuatnya marah, sehingga ia bersumpah dengan sendirinya jika ia tak akan membiarkan Tuan Zayyan maupun Sarah bahagia"


Tubuh Mama Dessy seketika melemah saat mendengar pernytaan dari mulit Reza. Ia pun segera mendudukkan tubuhnya diatas kursi sembari memijat-mijat halus bagian pelipisnya "Astaga! Wanita itu memang benar-benar sudah gila"


.


.


Setelah sepersekian menit Reza mengobrol dengan Mama Dessy juga telah mengetahui jika Zayyan dan Tuan Wildan sedang melakukan penyelamatan, membuatnya sedikit lega dan berharap keselamatan untuk semuanya. Kini ia melangkah keluar setelah tadi berpamitan pada Momi Sabrina yang juga sudah sadar, namun tiba-tiba amsaja langkahnya terhenti saat melihat wanita yang sudah sekian lama tak ia jumpai sedang duduk dengan wajah yang serius menghadap layar laptop


"Lyra!?"


Lyra yang kebetulan saat itu tengah mengantar Mama Dessy untuk menemui Momi Sabrina, ia tak ikut masuk kedalam karena sangat disibukkan untuk memantau keberadaan Tuannya. Kemudian ia menengadahkan kepalanya saat menyadari ada yang memanggil namamya.

__ADS_1


"Reza!?" Sapa Lyra yang tak kalah terkejut. Pandangan mata mereka sesaat terkunci sebelum akhirnya Reza mengkahiri dengan memberikan senyuman hangatnya.


__ADS_2