
Flash back
Satu jam sebelum Papa Wildan berada dikediaman orang tua Sarah
.
.
Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Disnilah Papa Wildan dan Mama Dessy berada, sudah lima hari mereka menghabiskan waktu berdua untuk mengurus Putra pertamanya yaitu Zayyan. Ya.. Zayyan saat ini terbaring lemah akibat kurangnya asupan nutrisi dan stress dengan pikiran yang berlebih.
"Papa bagaimana ini? Zayyan sudah 5 hari terbaring lemah seperti ini. Mama benar-benar tidak tega. Mama ingin menghubungi Sabrina saja rasanya memintanya untuk membujuk Sarah agar tidak membatalkan rencana pernikahan ini" Keluh Mama Dessy
Papa Wildan sejenak terdiam "Apa aku ungkapkan saja pada Sabrina semuanya? Tapi apa tidak apa-apa? Aku khawatir jika ia... Ah sudahlah. Sepertinya aku sudah tidak ada pilihan lain" batinnya
Mama Dessy menggerak-gerakkan lengan suaminya saat tak mendapat jawaban "Papa, apa kau mendegarkanku?!"
"Iya, Ma. Aku sangat mendengarkanmu, Papa sedang berpikir bagaimana caranya agar Putra kita sembuh" Jawab Papa Wildan dengan tenang
"Saat ini yang dia perlukan hanya Sarah, Pa!"
"Percuma menelpon Sarah, Ma. Dia mungkin akan kemari dan memberikan semnagat untuk Zayyan, tapi setelah Zayyan sembuh ia pasti akan kembali dengan keputusan awalnya untuk membatalkan rencana pernikahan ini"
Kening Mama Dessy mengerut, ia gagal menverna ucapan suaminya "Kenapa bisa begitu?!"
"Sarah itu memiliki pendirian yang tetap. Ia tak akan mudah terpengaruh hanya dengan melihat kondisi Zayyan saat ini. Terkecuali kita membuktikan jika Rehan tidak bersalah, mungkin dia akan mempertimbangkan ulang keputusannya" Jelas Papa Wildan
"Kau bisa menjelaskannya langsung pada Sarah, Pa. Bukankah Rehan telah mengatakan semuanya padamu"
Papa Wildan menghela nafas beratnya "Jika hanya berucap, tidak akan memberikan rasa percaya, Ma. Dia pasti akan mengira kita membuat-buat cerita agar mau kembali dengan Zayyan. Papa harus memikirkan cara lain"
"Baiklah, Pa. Aku percaya kau bisa menyelesaikan masalah ini" ucap Mama Dessy
Flash back off.
Papa Wildan menarik sedikit sudut bibirnya saat menyaksikan dan mendengar langsung pengakuan Sarah pada Mominya, jika ia masih menyanyangi Zayyan "Bearti aku masih memilki kesempatan untuk menariknya kembali menjadi menantuku" batinnya
Momi Sabrina baru saja keluar dari dapur saat mendapat pesan dari Bini Ratna jika sedang kedatangan tamu. Langkahnya terhenti saat menyadari sosok yang tak asing tengah duduk santai diatas sofa sembari memainkan ponselnya "Wildan" sapanya
Pandangan Papa Wildan teralihkan saat Momi Sabrina memanggilnya, ia tersenyum kemudian berkata "Bagaimana keadaanmu?"
__ADS_1
Momi Sabrina balas tersenyum "Seperti yang kau lihat, aku sangat baik"
Papa Wildan menghela nafas lega "Syukurlah!"
"Wildan, apa kau kemari membicarakan tentang batalanya pernikahan anak kita?" Tanya Momi Sabrina sesaat setelah ia mendudukkan tubuhnya diatas sofa berhadaoan dengan Papa Wildan
"Salah satunya"
"Bearti ada hal lain?"
Anggukan Papa wildan memperjelas pertanyaan Momi Sabrina
"Wildan sebelumnya aku meminta maaf atas ketidak nyamanan ini. Satu minggu mereka putus, aku baru tahu sekarang. Aku terlalu larut dalam kesedihan sehingga lupa jika ada anak yang juga sebentar lagi akan menikah" Sesal Momi Sabrina
"Aku bisa memakluminya! Tapi sebelumnya aku ingin mengatakan suatu hal tentang Rehan"
Kening Momi Sabrina mengerut "Hal apa itu?"
"Kau ingat saat hari perjodohan Sarah dan Zayyan?" Tanya Papa Wildan
Momi Sabrina mengangguk
"Saat itu —
Flash back
Kutepuk sebelah bahunya kemudian aku tersenyum saat ia menatapku "Kau dan aku sudah lama bersahabat, tidak kah kau ingin berbagi masalah denganku?" tanyaku
Rehan tertawa dan berkata "Aku hanya ingin berbagi kebahagiaan. Karena jika masala, mungkin kau memilki masalah yang lebih banyak dari pada aku"
"Aku sudah terbiasa dengan masalah pekerjaan, aku justru penasaran dengan masalahmu ini. Sepertinya sangat tidak biasa"
Rehan hanya menunduk, sepertinya beban itu memang sangat berat ia pikul hingga membuat punggungnya yang rata tak bisa lagi tegap seperti biasanya.
Lalu kutepuk kembali sebelah bahunya "Biacaralah, Rey!" Pintaku.
Setelah berhasil kubujuk kurayu akhirnya ia mau berucap "Aku telah menikah lagi" ucap Rehan
Empat kata yang keluar dari mulut Rehan sontak membuatku terkejut. Bagaimana tidak, laki-laki yang selama ini ku kenal sangat baik dan begitu setia diam-diam telah memilki 2 istri. "Kau sedang bercanda?!" tanyaku
"Aku serius!" tegas Daddy Rehan
__ADS_1
Kutatap dalam-dalam kedua bola mata Rehan, tidak ada kebohongan didalannya yang ada hanya raut penyesalan. Aku mencoba tenang dengan menghembuskan nafasku secara kesar "Jika aku boleh tahu, apa alasannya?!"
"Wanita itu mengatakan jika dia tengah mengandung anakku. Tapi aku merasa tidak pernah berhubungan dengan wanita lain kecuali dengan istriku sendiri"
"Lalu mengapa kau mau menikahinya?!" Tanyaku
"Dia mengancamku!"
"Bodoh sekali! Mengapa kau begitu menurut saat diancam, heh?! Jika saja aku diposisimu, sudah kupastikan tubuh wanita itu habis kucincang-cincang dan kuberikan pada singa peliharaanku!" Semburku dengan begitu kesal
"Bukan begitu, Dan! Dia mengancam akan mengirimkan foto pada Sabrina, yang mana didalam foto itu ada aku yang sedang tertidur tanpa mengenakan baju dan juga wanita itu tidur memelukku" Jelas Daddy Rehan
"Bisa saja diedit!" Cetusku
Kulihat laki-laki disampingku ini menghembuskan nafasnya secara kasar kemudian berucap dengan sedikit lesu "Aku sudah memeriksanya, dan itu riil"
"Bagaiman bisa? Kau tidur dengan wanita itu tapi kau tak merasa melakukannya. Aku jadi curiga, apa dia memberikanmu obat saat itu?"
"Aku juga tidak tahu, Dan. Aku benar-benar memang merasa tidak melakukannya. Lalu untuk masalah obat itu, kita sepemikiran. Sepertinya dia memang sengaja memberiku obat"
"Ck... Jadi, apa wanita itu benar hamil?!" tanyaku
"Dia sudah melahirkan, dan usia anak itu 2 tahun lebih berapa bulan, entahlah aku tidak begitu tahu dan peduli. Karena aku tidak yakin itu adalah anakku"
Keningnku menanut mendengar pernytaan Rehan "Kenapa?!"
"Tidak ada sedikit pun kesamaannya denganku"
"Kenapa kau tidak melakukan tes DNA saja?"
"Aku sudah berapa kali ingin mencoba, tapi wanita gila itu selalu saja tidak membolehkanku. Berulang kali dia mengancam akan memberitahukan Sabrina jika aku telah menikah lagi, jika sampai aku melakukan tes DNA itu, dan ancaman itu selalu berhasil membuat nyaliku menciut. Aku takut jika anak itu benar darah dagingku" ucapan Daddy Reha tertahan kemudian "Wildan! Aku begitu menyanyangi Sabrina, bahkan sedikit pun aku tak tak berniat menduakannya, tapi mengapa justru aku dijebak oleh wanita gila itu" sambungnya.
Kutepuk kembali bahunya saat kudengar keluhannya yang begitu tulus "Tenanglah! Aku percaya kau sangat mencintai Sabrina. Akan tetapi kusarankan agar kau tetap melakukan tes DNa itu bagaimana pun caranya, aku khawatir jika istrimu mengetahui lebih dulu, semuanya akan tambah runyam"
"Kau benar, Dan. Bahkan Sabrina saja mulai curiga denganku, apa lagi aku sekarang harus kembali tiap 6 bulan sekali karena harus berbagi waktu. Wanita gila itu selalu memaksaku untuk tinggal dengannya setiap kali aku cuti. Hal ini membuatku sering berbohong pada Sabrina jika ada masalah pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan"
"Kalau begitu, mulai sekarang kau harus memperbaiki segalanya, Rey. Jangan sampai semua yang kau pikirkan menjadi kenyataan" ujarku
Daddy Rehan mengangguk membenarkan perkataanku "Kau benar, Dan. Putriku juga sebentar lagi akan menikah, aku takut dia merubah niatnya jika tahu kejelekan Daddynya ini"
"Semua pasti ada jalan keluarnya, Rey. Kita berdo'! saja semoga benar, kau hanya dijebak oleh wanita itu. Apa kau perlu bantuanku?"
__ADS_1
"Terimakasih, Dan. Aku akan mengurusnya sendiri dulu"
Flash back end.