SUAMI NARSIS

SUAMI NARSIS
PESAN KEKASIH SEBELUM PERGI


__ADS_3

Sore itu disebuah taman, terlihat Sarah tengah duduk santai disebuah bangku taman sembari memainkan ponselnya dan sesekali melihat jam dipergelangan tangannya. Ya. . . saat ini ia tengah menunggu seseorang dan sudah 20 menit berlalu dari janji yang seharusnya.


Tiba-tiba dari arah belakang ia duduk, dikejutkan dengan adanya sebucket bunga tulip berwarna merah "Untukmu yang sudah menunggu dari beberapa belas menit yang lalu" bisik sang pemberi bunga itu


Dengan segera Sarah menerima bunga itu kemudian menghirup dalam-dalam aroma khas bunga dari negeri Turki tersebut "Warna yang indah, dan wanginya benar-benar membawa ketenangan" kemudian menengadahkan kepala untuk mensejajarkan pandangannya pada sang pemberi bunga yang masi setia berdiri dibelakangnya "Terimakasih Zayyan, aku sangat menyukai bunga tulip"


Ya. . . Si pemberi bunga itu adalah Zayyan, mereka berdua telah membuat janji bertemu ditaman sore ini setelah pulang bekerja.


Senyum tersebut dibalas oleh Zayyan, dan segera memberikan kecupan singkat pada bibir tipis milik kekasihnya itu "Aku tahu! Oleh karena itu aku membelikanmu bunga ini" kemudian melangkah kedepan lalu mendudukkan tubuhnya tepat disamping Sarah tanpa mengijinkan jarak untuk menghitungnya walau hanya 0,1 centi meter saja.


"Maafkan aku sedikit terlambat!" ujar Zayyan, sembari meraih telapak tangan wanita pujaanya


"Tidak apa! Aku mengerti dengan kesibukanmu"


"Terimakasih, Sarah! Apa kau tidak ingin bertanya mengapa aku mengajakmu bertemu disni?"


"Hm. . . Jika sepasang jiwa yang saling mencintai bertemu, sudah dipastikan karena rindu"


"Kau benar! Aku sangat merindukanmu, tapi ada hal yang penting ingin kusampaikan?"


"Jangan bilang kau ingin membatalkan pernikahan kita?"


Zayyan langsung menyentil hidung Sarah dengan gemas "Bicara sembarangan!"


"Lalu!?"


"Besok dan 4 hari seterusnya aku akan berada diluar negeri untuk pertemuan bisnis"


"Owh. . . Semoga urusanmu disana lancar ya, Zay!"


"Aamiin. . .Apa kau tidak mau ikut?"


Sarah mengerutkan keningnya dan sedikit menarik sudut bibirnya saat mendapat penawaran yabg tak biasa dari calon suaminya itu "Ada-ada saja! Kau kesana untuk bekerja, bukan untuk liburan, jadi untuk apa aku ikut!?"


"Aku bisa mengajakmu jalan-jalan setiap malam setelah urusanku selesai"


"Tidak! Terimakasih Zayyan. Kita belum menikah, lagi pula aku bekerja. Rasanya sangat tidak professional jika aku meninggalkan pekerjaanku hanya untuk berlibur, beda halnya dengan cuti"


"Jadi kau sungguh tidak ingin ikut?" Tanya Zayyan kembali dengan penuh harapan


Sarah menggeleng, mempertegas tolakannya , membuat Zayyan kembali menghela nafas beratnya "Baiklah, tak apa! Tapi kau harus berjanji untuk menjaga diri baik-baik selama aku tidak disini"


"Kau tenang saja! Aku masih hidup sampai sekarang itu semua karena aku bisa menjaga diri"


Pernytaan Sarah membuat Zayyan terkekeh "Lucu sekali! Oh ya, Mama bilang setelah aku kembali kita akan segera melakukan foto prewedding, jadi persiapkan dirimu"


"Tenang saja! Kau yang harusnya mempersiapkan diri, bagaimana pun kau sudah cukup lelah dengan pekerjaan, ditambah lagi harus melakukan sesi pemotertan"

__ADS_1


"Tak ada kata lelah untuk sebuah masa depan"


"Kau benar juga!"


Sejenak Zayyan terdiam, ia sedang sibuk menyusun pertanyaan "Oh ya Sarah ada yang ingin ku tanyakan, tapi kau tidak boleh marah?"


"Apa itu?"


"Berjanjilah terlebih dahulu?"


"Asal kau tidak mengatakan untuk melakukan poligami setelah menikah, maka aku tidak akan marah!"


Perkataan Sarah kembali membuat Zayyan gemas, rasanya ia ingin sekali mengigit wanita yang sedang duduk disampingnya itu "Kau ini!"


"Aku hanya bercanda! Bicaralah!?"


"Ini tentang April"


Sarah menaikkan satu alisnya, dan dengan malas ia menjawab "Oh wanita itu? Ada apa dengannya!?"


"Sebelumnya aku minta maaf, Sarah! Beberapa hari ini aku memerintahkan seseorang untuk mengawasimu, karena aku takut kau diganggu oleh lelaki itu lagi, akan tetapi aku justru mendapat berita tak terduga ini"


"Tunggu sebentar! Siapa yang kau maksud lelaki itu?"


"Siapa lagi jika bukan Tuan Reza" ujar Zayyan dengan malasanya


"Tenanglah! Pak Reza bukan orang yang seperti itu. Kalau begitu lanjutkan tentang Nona Aprillia"


"Aku tidak mengatakannya ya, semua secara alami keluar dari mulut mu, tugasku disini hanyalah membenarkan perkataanmu. Jadi dilarang untuk marah"


Zayyan berdecih, moodnya tiba-tiba rusak karena nama Reza disebut dalam perbincangan yang mulanya manis itu. Sarah yang melihat hanya menggelengkan kepalanya "Tidak usah kesal! Sekarang bahas Nona April"


"Orang suruhanku telah merekam percakapan antara kau dengan Nona April tadi siang"


"Hum. . . Didalam percakapan itu semua sudah jelas bukan, jadi apa yang mau kau tanyakan?"


"Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih, karena kau tidak marah denganku. Kau terlihat begitu tenang menghadapi wanita sint*ing itu"


Sarah menghela nafas beratnya "Yah. . . aku mungkin saja akan termakan omongannya jika saja Lyra dan Zahra tidak mengatakan siapa April, dan bagaimana sifatnya. Dia benar-benar pandai dalam bermain kata-kata"


"Syukurlah! Terimakasih Sarah, aku sungguh lega. Selama aku tidak ada, jaga dirimu baik-baik ya? Aku pasti akan sangat merindukanmu disana" Pinta Zayyan, ia sedikit cemas karena harus meninggalkan Sarah dalam kondisi April yang tengah menggila. Benar-benar membuatnya khawatir, karena ia sangat mengetahui sifat pendendamnya April.


"Kau ini! Seperti aku akan dalam bahaya saja. Tenanglah, kau justru disana jaga diri baik-baik, jangan suka terlambat makan. Aku tidak mengizinkanmu sakit!" pinta Sarah


Zayyan terkekeh lalu mengacak-acak rambut Sarah "Siap! Tuan Putri"


Kemudian setelah itu mereka saling berpelukan.

__ADS_1


****


Zayyan tengah duduk disamping kolam renang rumahnya, entah mengapa perasaanya benar-benar tidak enak, seperti suatu hal besar akan terjadi. Tiba-tiba dari arah belakang seseorang menepuk bahunya, tentunya membuyarkan lamunan Zayyan, kemudian menoleh kebelakang "Papa!?"


Papa Wildan segera duduk disamping putranya dan menatap penuh telisik "Papa perhatikan kau sedari tadi sangat murung? Bicaralah, barangkali Papa dapat membantumu!"


Zayyan menegadahkan kepalnya kelangit, memandangi banyaknya benda-benada langit yang tengah bersaing menampakkan kilaunya, kemudian menghela nafas beratnya "Aku hanya khawatir, Pa"


"Khawatir kenapa? Sejak kapan kau memiliki kekhawatiran?" ejek Papa Wildan, ya bagaimana pun ia sangat mengetahui sifat putranya yang sangat egois itu jadi sungguh aneh saat mendengar Zayyan mengatakan khawatir.


"Ini tentang April, Pa"


Pap Wildan menaikkan sebelah alisnya, raut wajahnya sedikit berubah saat mendnegar nama wanita itu "Dia sudah kembali ke negara ini?"


"Benar. Apa Papa tahu, dia menggila saat mengetahui aku telah memilki kekasih lebih teptnya calon istri. Hari sabtu yang lalu Lyra sudah menjadi korban kekerasanya dikantor, dan hari ini ia menemui Sarah, memaksanya untuk meninggalkanku"


"Jadi? Kau khawatir karena Sarah akan meninggalkanmu!?"


"Tidak, Pa! Ternyata kehadiran Zahra dan Lyra dalam liburanku kemarin kepulau X membawa hikmah tersendiri. Kedua wanita itu menceritakan siapa April dan bagaiman sifatnya, sehingga saat Sarah bertemu dengan April ia sudah dapat membaca perangkap"


"Syukurlah, Boy! Papa sangat lega mendnegarnya. Lalu apa yang kau khawatirkan!?"


"Tadi siang aku menemui April dan memberikannya ancaman agar tidak lagi menganggu Sarah. Namun justru ia semakin menggila dan mengatakan padaku jika diantara mereka harus ada yang pergi, dan dia memastikan Sarah yang akan menghilang dari muka bumi ini. Aku tahu betul bagaimana jika ia sudah berucap, maka akan ia wujudkan walau bagai mana pun resikonya"


"Kalau begitu kalian harus lebih berhati-hati dari sekarang, Papa akan menyuruh seorang pengawal untuk mengintai setiap gerak gerik April"


"Terimakasih, Pa! Tapi aku sangat khawatir, besok aku harus pergi ke Singapur selama 5 hari, dan masalahku dengan April belum selesai, aku khawatir meninggalakn Sarah sendiri"


"Ajak saja dia ikut menemanimu!"


"Aku sudah mengajaknya, tapi dia menolak dengan tegas"


Sejenak Papa Wildan berpikir "Begini saja, kau fokus saja dengan pekerjaanmu disana. Sementara Papa akan mengawasi Sarah dengan mengutus seorang untuk megawasinya dari jauh"


Kening Zayyan berkerut "Mengapa harus jauh, jika bisa dekat?"


"Kau yakin!? Pengawal Papa adalah seorang laki-laki, dan jika ia mengawal Sarah maka mereka akan dejat selama 5 hari itu, apa kau tidak cemburu?" Goda Papa Wildan


Sejenak Zayyan berpikir "Jika aku biarkan mereka akan dekat-dekatan. Tapi jika dari kejauhan jelas akan bahaya. Ah. . . aku tidak boleh egois, hanya 5 hari. Lagi pula pengawal Papa telah memiliki sumpah setia" batinnya


"Bagaimana Boy?"


"Biarkan saja pengawal itu mengawasi dari dekat, aku takut Sarah kenapa-napa"


"Tapi, saran Papa, biarkan saja dari kejauhan, wanita seperti Sarah akan risih jika terus dikawal. Pasti dia juga akan merasa terancam dan tentunya berimbas dengan pekerjaanya"


"Baiklah Pah! Aku setuju, yang penting Sarah aman"

__ADS_1


"Kau tenang saja! Fokus saja dengan perjalanan bisnismu besok"


"Terimakasih Pa. Kalau begitu aku permisi dulu kekamar, harus segera istirahat" Pamit Zayyan, yang hanya dijawab anggukan oleh Papanya. Ia pun segera bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya.


__ADS_2