
Siang ini Sarah begitu sibuk melakukan cross check pada fisik barang yang baru saja datang dari berbagai supplier, dan dibantu dengan dua orang pegawainya. Disela-sela kesibukannya, ia merasa kepalanya sangat berat, pandangannya pun mulai kabur, namun tetap saja ia lanjutkan hingga akhirnya ia terjatuh dan tergeletak diatas lantai.
Dua orang pegawai yang saat itu menyusun barang tiba-tiba berlari menuju bossnya, mereka sangat panik, tanpa pikir panjang mereka segera membawa Bossnya menuju Rumah Sakit, dan tak lupa mengabari suami Bossnya.
^^
Perlahan Sarah membuka matanya "Sayang kamu udah bangun!!" ujar Zayyan dan segera memeluk istrinya
"Aku di Rumah Sakit lagi?" tanya Sarah, sambil memegangi kepalanya yabg masih sedikit pusing
"Iya Ra! Tadi anak buah kamu ngasih tau kalau kamu pingsan jadi aku cepat-cepat kesini"
"Aku cuman pingsan doang malah dibawa ke Rumah Sakit segala!"
"Beruntung kamu segera dibawa kemari, jadi kita tau penyebabnya kamu pingsan kenapa"
"Kenapa?" tanya Sarah
"Kamu di vonis sakit yang menggembirakan. Selama sembilan bulan perut kamu akan terus membesar"
Sarah mengerutkan keningnya ia gagal mencerna ucapan suaminya, pikirannya mulai kacau saat mendengar perutnya akan membesar "Maksud kamu apa mas? Itu penyakit apa?? Kenapa mesti sembilan bulan?!" tanyanya sedikit takut
Zayyan pun terkekeh melihat raut wajah istrinya yang dirasa sangat menggemaskan "Kamu HAMIL!" ujarnya begitu semangat, dan langsung memeluk istrinya yang masih berbaring dan menghujaninya dengan kecupan-kecupan pada seluruh wajah Sarah.
Sarah membelalakkan kedua bola matanya ia benar-benar tidak percaya dengan perkataan suaminya "Ka-kamu se-serius mas!?" ujarnya terbata-bata, dan matanya mulai berkaca-kaca
"Aku serius Ra! Usia kandungan kamu udah dua bulan! Selamat ya sayang!!"
"Tapi kenapa aku nggak ngerasa mual sama sekali ya, gak sama kayak pertama hamil?"
"Nanti kita tanyain dokternya, yang jelas sekarang aku seneng! Seneng banget!! Makasih ya Ra" ujar Zayyan dan mengecup tangan istrinya
Air mata yang sudah tak dapat lagi terbendung, kini mengalir dikedua pipinya mulus milik Sarah, ia menangis haru dan bersyukur. Ia benar-benar tak menyangka, padahal baru kemarin ia mengeluhkan untuk segera hamil, ternyata Allah telah lebih dulu memberikannya. "Jangan makasih sama aku mas, makasih sama Allah yang masih memberi kita kepercayaan" pintanya
"Itu udah pasti Ra!"
Tiba-tiba datang seorang dokter dan perawat melangkah masuk menuju Sarah "Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat atas kehamilan anda Nyonya. Anda sedang mengandung anak kembar"
Sarah membelalakkan kedua bola matanya begitu pula dengan Zayyan, mereka seakan tak percaya "Kembar dok?!" tanya Sarah mencoba memperjelas apa yang ia dengar
"Iya nyonya"
"Alhamdulillah!!" ujar Zayyan begitu senang, ia mengusap kedua wajahnya beberapa kali mengucap syukur "Terimakasih ya Allah!! Kau gantikan dua kali lipat dari apa yang telah Kau ambil" gumamnya dalam hati. Ia pun langsung memeluk istrinya dan menciumi pucuk kepala Sarah beberapa kali tanpa memperdulikan dokter dihadapannya.
__ADS_1
"Mas udah!! Malu tahu!!" ujar Sarah berbisik, mencoba melepas pelukan suaminya
"Aku gak peduli!! Aku lagi seneng banget!!!"
"Iya mas aku tahu, aku juga seneng tapi aku masih mau nanya sama dokter"
Zayyan pun segera melepas pelukannya dan mengarahkan pandangannya pada dokter tersebut "Maaf dokter" ujarnya lalu tersenyum
Dokter itu pun balas tersenyum "Tidak masalah tuan!! ujarnya lembut
"Jadi apa yang harus saya lakukan dokter?" tanya Sarah
"Sebaiknya anda mengurangi aktivitas yang berat, karena akan menimbulkan kontraksi pada rahim. Segera beristirahat jika Nyonya mulai merasa lelah, karena jika dipaksakan maka akan berdampak pada perkembangan janin. Selain itu, jaga asupan makanan agar janin dan ibu mendapatkan nutrisi dan asupan gizi yang cukup. Anda harus lebih ekstra karena ada dua nyawa didalamnya" pinta dokter tersebut
"Siap dokter!!" ujar Sarah begitu semangat "Tapi dok, aku kok nggak ada merasa mual sama sekali ya? Apa itu wajar?? Gak ngaruh kan sama kehamilan???" tanyanya sedikit panik
Dokter itu pun tersenyum saat mendengar pertanyaan Sarah "Itu hal yang normal, mual dan muntah bukanlah indikator utama kehamilan yang sehat. Ibu hamil yang tidak mengalami mual, karena mereka bisa menoleransi perubahan hormon yang signifikan pada kehamilannya"
"Ooh gitu" ujar Sarah sambil mengangguk-anggukan kepalanya, ada perasaan lega saat mendengarnya. "Oh iya dok. Apa suami bisa ngidam?"
"Tentu bisa Nyonya. Suami ngidam disebut Couvade Syndrome atau yang biasa disebut sindrom kehamilan simpatik. Sindrom ini timbul karena kuatnya ikatan batin suami dengan istri sehingga menimbulkan gejala yang intens. Maaf, apa tuan mengalaminya?" tanya dokter pada Sarah
"Aku kurang yakin sih dok.Tapi... udah lebih dari satu bulan ini dia seneng banget makan rujak, padahal dulu paling susah diajakin makan gituan. Sering minta dibuatin suatu makanan, dan harus melalui tangan aku, katanya kalau beli diluar rasanya hambar"
Zayyan yang sedari tadi mendegarkan, langsung mebelalakkan kedua bola matanya ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengar "Apa itu akan lama dok? Apa aku bakalan mual dan muntah juga??" tanyanya mulai panik
"Tuan tenang saja, gejala ini hanya bersifat sementara. Biasanya timbul pada trimester pertama atau menjelang kelahiran sang buah hati" ujar dokter tersebut
"Terus usia kandungan istri saya sudah masuk trimester berapa dok?"
"Usia kandungan nyonya baru memasuki dua bulan, itu berarti masih ada satu bulan lagi untuk melewati trimester pertama"
Zayyan menghela nafas lega "Syukurlah!! Gue gak mau bengkak gara-gara makan terus. Pantesan aja seneng banget ngemil akhir-akhir ini, tapi gak apa-apa lah dari pada Sarah yang ngidam entar mintanya macam-macam lagi kayak dulu" gumamnya dalam hati "Terimakasih dokter atas informasinya. Jadi kapan istri saya boleh pulang dok?"
"Sama-sama tuan. Karena kondisi Nyonya dan janin baik-baik saja jadi sore ini sudah diperbolehkan untuk pulang, dan ini resep obat silahkan ke apotik terlebih dahulu untuk mengambil obatnya" pinta dokter sambil memberikan selembar kertas yang berisi resep
Zayyan segera mengambil resep tersebut "Terimakasih dok" ujarnya
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu" pamit dokter tersebut dan berlalu meninggalakan ruang perawatan Sarah.
"Mas!" panggil Sarah setelah kepergian dokter tersebut
"Iya Ra"
__ADS_1
"Orang tua kita udah dikasih tau?"
"Belum!"
"Kenapa?"
"Aku mau buat kejutan!! Kasihan mereka kalau ke Rumah Sakit segala, sore ini kan kita juga udah pulang"
Sarah mengerutkan kedua keningnya, ia gagal mencerna ucapan suaminya "Mana bisa jadi kejutan mas! perut aku makin hari makin besar, yang ada mereka bakalan tahu duluan"
"Aduh Sarahhhh!! Bukan itu maksudnya" ujar Zayyan sambil menepuk halus jidatnya
"Jadi?"
"Besok malam kalau gak ada halangan, kita bikin acara makan malam, dan setelah selesai makan kita kasih lihat hasil USG nya"
"Oh iya ya!! Hee..." ujar Sarah sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
Zayyan menghembuskan nafasnya secara kasar "Gitu aja mesti dikasih tau!!" ujarnya dengan nada malas
"Cieee yang ngidam. Bawaannya sensi banget!!" ledek Sarah
"Gak apa-apa yang penting aku ngidam gak macem-macem kayak kamu, banyak maunya" ujar Zayyan tak mau kalah
"Haha.. . Oh iya mas. Kamu ada mual atau muntah gitu gak sih?" tanya Sarah begitu penasaran
"Alhamdulillah gak ada sih sejauh ini, dan semoga aja jangan. Itu hal yang paling gak enak didunia"
"Terus yang enak apa?
"Yang enak itu ngerujak.. Hemmm!!" ujar Zayyan dan membayangkan nikmatnya
"Awas tuh ilernya jatuh haha."
"Ngeselin banget sih!! Gangguin aku ngehayal aja" ujar Zayyan ketus
"Sensi amat sih mas. Awas loh gantengnya ilang. Tuh udah kabur setengah" ujar Sarah asal
"Kegantengan aku ga akan pernah kabur, yang ada tambah nempel dengan kegantengan yang lainnya"
"Dasar NARSIS! Udah ah, ke apotik sana!!"
"Emang aku mau ke apotik" ujar Zayyan sambil berlalu meninggalakan Sarah.
__ADS_1
Sedangkan Sarah hanya bisa tertawa dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang sedikit kekanakan.