
Senin pagi.
Novia bersiap-siap berangkat ke kampus. Sebelum berangkat ke kampus Novia selalu sarapan pagi di meja makan bersama keluarga nya.
"Nov, ayah sama papa udah berunding semalam tentang niat nya Satrio buat ngelamar kamu, ayah sama papa setuju jadi tolong kamu bilang sama Satrio untuk malem ini kerumah ya, biar nanti ayah sama papa kasih jawaban nya sama dia langsung."
"Iya yah nanti Novia sampaikan ke satrio."
"Wih udah mau balap gue aja," ucap kakaknya.
"Ya mungkin dia udah ketemu jodoh nya duluan. Biarin aja toh kan Satrio nya juga menyanggupi biaya kuliah dia, jadi kan meringankan biaya keluarga." Dengan nada ketus.
Novia hanya tertunduk diam tidak memperdulikan omongan ibunya sambil memakan nasi goreng.
"Sudah sudah cepat sarapan nanti pada telat," ucap ayahnya dengan wajah yang galak.
"Iya yah," ucap Mutia dengan lirih.
Setelah selesai sarapan Novia berangkat ke kampus naik ojol. Setelah sampai di kampus Novia bertemu dengan caca dan melepas rindu dengan sahabatnya itu.
"Novia............." pekik Caca dari kejauhan sembari berlari menuju ke arah Novia.
"Caca." Menoleh ke samping.
"Ya ampun nov kangen banget sama lo." Memeluk Novia dengan erat.
"Sama gue juga kangen banget sma lo." Membalas pelukan caca dengan erat.
"Eh gimana bokap lo udah sehat?" tanya Novia.
"Alhamdulillah udah Nov."
"Alhamdulillah."
"Eh tau gak si nov gue punya cerita seru buat lo." Dengan nada nya yang heboh.
"Sama dong, gue juga punya cerita buat lo." Novia pun tak kalah hebohnya dari Caca.
"Oh ya? cerita apa?" tanya Caca dengan antusias.
"Gue mau lamaran sama pak Satrio," ucap Novia dengan wajah yang seketika memerah.
"Hah serius lo?" tanya Caca dengan wajah kaget dan sikap nya yang heboh.
"Iyalah emang kapan seorang Novia pernah bohong." Novia terkekeh melihat ekspresi Caca yang kaget.
"Yeay jadi juga mau makan rendang." Tertawa meledek.
"Ih gue deg-degan tau." Wajah memerah.
"Deg-degan itu wajar namanya lo masih punya jantung, kalo udah gak punya jantung deg-degan itu yang gak wajar," ledek caca.
"Ih lo mah malah ngeledek." Menggerutu karena di ledek oleh sahabatnya.
"Oh iya, acara nya kapan nov?" tanya Caca dengan antusias.
"Belum tau ca, baru malem ini mau dirundingin sama keluarga gue."
"Mudah-mudahan cepet ya, soalnya gue mau sahabat gue ini bahagia dan terlepas dari lingkaran keluarga lo yang cuek itu."
"Iya ca, doa in aja ya."
Sepersekian detik mereka berpelukan.
"Oh iya ca katanya lo mau curhat juga."
"Ntar aja deh, hari ini kan ada matkul bebeb elo nov kita masuk dulu ntar kelar gue cerita sekalian istirahat makan ke kantin."
"Bebeb? "
"Pak Satrio." Dengan nada agak meninggi.
"Iya ada apa ya? " jawab pak satrio yang tiba-tiba datang dari arah belakang Caca.
"Eh enggak pak," jawab Caca dengan wajah memerah menahan malu.
Novia hanya terkekeh melihat Caca yang salah tingkah.
"Yasudah cepet masuk saya mau mulai matkul nya sebentar lagi nih"
__ADS_1
"I.......ya pak." Caca langsung berlari menuju kelas.
Novia pun menyusul di belakang caca sambil tertawa kecil. Jam mata kuliah pun berjalan sesuai jadwal. Jam menunjukkan pukul 10.30 menandakan jam mata kuliah habis.
"Baik sampai disini saja pertemuan kita minggu ini. Jika ada yang ingin ditanyakan bisa chatt saya atau langsung ke ruangan saya ya, saya akhiri wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Satrio kepada mahasiswa nya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab para mahasiswa.
Selesai mata kuliah Caca dan Novia pergi ke kantin. Tiba-tiba diperjalanan arah ke kantin Novia teringat akan amanah ayah nya tadi pagi yang menyuruh nya bilang ke pak Satrio bahwa ia di undang kerumah.
"Eh ca tunggu bentar deh." Berhenti sejenak.
"Kenapa nov?" tanya Caca bingung.
"Temenin gue dulu yok ke ruangan pak Satrio," ajak Novia kepada sahabatnya itu.
"Ih mau ngapain?" tanya Caca kebingungan dengan tingkah sahabatnya itu.
"Gue mau ada perlu penting."
"Yaelah, yaudah gue anterin tapi gue tunggu luar ya gak masuk."
"Kenapa? " tanya Novia heran.
"Gak mau mengganggu dua manusia yang lagi kasmaran," ledek Caca.
"Ih rese deh." Mencubit lengan Caca.
"Yaudah yuk buruan abis itu ke kantin, gue laper nih."
"Iya iya bawel." seraya menarik tangan Caca.
Caca dan Novia pun menuju ruangan pak Satrio. Sampai di depan ruangan pak Satrio Caca menunggu di depan ruangan pak Satrio, karena takut mengganggu privasi mereka berdua.
"Gih buruan masuk gue tunggu sini aja."
"Serius lo gak mau masuk?" tanya Novia mencoba meyakinkan.
"Enggak lah, ngapain."
"Yaudah gue masuk dulu ya lo duduk dikursi itu aja kalo capek berdiri." Menunjuk deretan bangku yang ada di depan ruangan Satrio.
Novia pun masuk ke ruangan pak Satrio. Namun sedang ada mahasiswa yang sedang bimbingan skripsi Novia pun disuruh menunggu sejenak.
"Pak maaf mengganggu waktu nya saya mau ada perlu," ucap Novia dengan canggung.
"Oh Novia, iya silahkan duduk dulu disana ya saya sedang ada yang bimbingan skripsi." Melempar senyum manisnya.
"Iya pak."
Novia pun menunggu di kursi tunggu seperti biasa nya sampai mahasiswa bimbingan skripsi nya selesai.
"Ini sudah bagus, saya rasa hanya sedikit saja yang harus saya koreksi disini." Fokus mengoreksi.
"Baik pak."
"Cuma disini saya tekankan sama kamu, untuk lebih memperbaiki kata-kata di dalam skripsi ini, disini ada beberapa yang masih typo jadi tolong diperbaiki ya." Melingkari bagian-bagian yang salah.
"Baik pak"
"Oke, cukup cuma itu saja koreksi dari saya dari judul isi semua sudah bagus." Menyerahkan lembar skripsi.
"Baik pak, jadi hanya typo nya saja ya pak?" tanya mahasiswa itu meyakinkan.
"Iya," jawab Satrio dengan ramah.
"Baik pak nanti saya akan perbaiki, kalo gitu saya permisi pak terimakasih atas waktunya."
"Iya sama-sama, nanti kalau mau bimbingan lagi silahkan hubungi saya dulu." senyum ramah.
"Baik pak, saya permisi."
"iya silahkan."
Mahasiswa itu pun meninggalkan ruangan pak Satrio. Kini tinggal Novia dan pak Satrio di dalam ruangan itu.
"Iya nov ada perlu apa? sini pindah duduk di depan saya." Tersenyum manis.
Novia pun beralih posisi pindah ke tempat duduk di depan meja pak Satrio.
__ADS_1
"Gini pak, nanti malam kalau bisa bapak kerumah ya," pinta Novia dengan lembut.
"Alhamdulillah, udah dapet jawabannya?" tanya Satrio dengan sumeringah.
"Sudah pak." tersenyum bahagia.
"Apa jawaban nya?" Tanya satrio penasaran.
"Rahasia dong, biar jadi surprise." ledek Novia.
"Hem............. sekarang udah ketularan iseng ya."
"hehe."
"Yaudah nanti malem ba'da isya aku kerumah, bilang sama keluarga kamu ya."
"Iya pak."
"Tersenyum."
"Yaudah kalau gitu saya permisi dulu pak kasian Caca nunggu di depan."
"Loh kenapa gak disuruh masuk."
"Caca nya gak mau pak."
"loh kenapa?" tanya Satrio heran.
"Gak tau pak katanya nya si mah tunggu di depan aja."
"aneh temen kamu itu." tertawa kecil.
"Hehe ya begitulah pak, yasudah saya permisi ya pak mau makan siang sama Caca."
"Gak mau makan siang sama saya dikantin? " ledek pak Satrio.
"Ih bapak ini."
"Yasudah sana kasian tuh temen kamu nunggu diluar."
"Iya pak."
Novia pun keluar dari ruangan pak Satrio.
"Eh ca yuk kita ke kantin."
"Ya ampun nov, sampe garing gue di luar nungguin lo." Memasang muka bete nya.
"Ya salahnya lo gua ajakin masuk gak mau."
"Ya gue fikir kan cuma sebentar," memonyongkan bibir seksinya.
"Haha........yaudah yaudah ayok kita makan" rayu Novia agar Caca mood nya kembali baik.
Mereka pun beranjak menuju kantin kampus untuk makan siang.
"Mba minta buku menu nya dong."
"Ini mba silahkan."
"Lo mau makan apa nov?"
" Ayam bakar aja sama es teh."
"Yaudah mba ayam bakar satu ayam goreng mentega satu es teh nya 2 ya."
"Iya mba, mohon ditunggu sebentar ya."
"Oke."
Saat sendang menunggu pesanan mereka Novia pun menanyakan apa yang sebenarnya ingin Caca ceritakan tadi pagi.
"Eh ca lo mau cerita apa?" tanya Novia penasaran.
"Gini nov, kemarin itu kan gue nemenin bokap gue sakit, nah si dokter nya ini ganteng banget udah gitu ramah banget sama gue."
"Terus? "
"Terus pas gue mau pulang dia minta wa gue dong, ya ampun nov gue seneng banget."
__ADS_1
Cerita panjang lebar, sampai makanan pun datang dan mereka menyantap hidangan yang sudah mereka pesan. Setelah selesai makan merekapun lanjut mengobrol sebentar. Setelah itu Novia dan Caca pun pulang kerumah masing-masing.