
Di resto kesukaan Novia dan Satrio.
"Kamu mau pesen apa?" tanya Satrio dengan lembut.
"Kaya biasa nya aja deh," jawab Novia seraya menatap wajah tampan calon suaminya itu.
"Mba, seafood saus padang 2 es teh nya 2 ya," ucap Satrio kepada salah satu pelayan di resto itu.
"Baik pak, mohon ditunggu sebentar ya."
Sambil menunggu pesanan datang mereka pun mengobrol, Satrio tak henti-henti nya membuat pipi Novia tampak merah karena sikap malu-malu nya.
"Perasaan ngomong sayang nya udah dari tadi kok pipinya masih merah aja," ledek Satrio.
"Eh masa si." Langsung mengambil kaca di dalam tas nya.
Satrio tertawa melihat Novia yang salah tingkah.
"Ih.........mas ini itu blush on tau," Ujar Novia dengan wajah sebalnya.
"Hehe iya iya maaf, abis kamu lucu banget deh kalo diledekin." Tertawa meledek.
Makanan pun datang dan mereka menikmati hidangan yang sudah mereka berdua pesan.
"Silahkan pak, bu."
"Iya, terimakasih mba." Tersenyum.
"Iya pak sama-sama"
Menyodorkan makanan kepada novia.
"Nih makan biar gemuk," ledek Satrio.
"Ih rese deh," memukul lengan kekar Satrio dengan gemas.
Mereka pun menyantap hidangan yang sudah mereka pesan. Selesai menyantap hidangan Satrio mendapatkan telfon dari kepala prodi di kampus.
"Assalamualaikum pak, iya ada apa?" tanya Satrio.
Kepala prodi pun menjelaskan dan memerintahkan satrio untuk ke kampus.
"Hemmmm.......... iya pak, baik pak." Mengangguk patuh dengan wajah seriusnya.
"Iya.......Wa'alaikumsalam." Satrio menutup telfonnya.
Setelah selesai menerima telfon Satrio kembali fokus kepada Novia.
"Kenapa mas?" tanya Novia dengan heran melihat kekasihnya berwajah serius.
"Yuk aku anter kamu pulang." Satrio tidak menggubris pertanyaan dari Novia.
"Aku nanya gak di jawab," ucap Novia dengan nada merendah karena kecewa pertanyaan nya tidak dijawab.
"Iya nanti aku jelasin di mobil ya," ucap Satrio lembut seraya memegang pipi Novia dan tersenyum.
"He.....em." Novia mengangguk patuh.
__ADS_1
Di dalam mobil.
"Ada masalah apa mas?" tanya Novia lagi dengan lembut seraya mengelus lengan kekar Satrio.
"Aku dipanggil kepala prodi," jawab Satrio dengan wajah yang masih bingung.
"Kenapa? apa orang-orang kampus udah tau kalau kita punya hubungan?" tanya Novia khawatir.
"Bukan kok." Mencoba tersenyum.
"Terus kenapa mas tiba-tiba tegang gitu?" tanya Novia dengan lembut.
"Ada mahasiswi dan pacar nya yang membuat masalah," ujar Satrio sambil serius menyetir mobilnya.
"Ulah?" tanya Novia heran.
"Entahlah aku juga masih mencerna kata kata bapak kepala prodi tadi." Mengedikkan bahunya.
"Sabar ya mas, semua pasti akan baik baik aja." Mengelus pundak Satrio.
"Makasih sayang." Memengang tangan Novia yang berada di punggung nya lalu tersenyum.
Setelah mengantarkan Novia pulang, Satrio langsung menuju kampus untuk menyelesaikan masalah nya.
"assalamualaikum, permisi pak ada masalah apa ya ini?" tanya Satrio setelah memasuki ruangan nya.
"Silahkan duduk Satrio biar enak saya jelasin nya." Mempersilahkan Satrio duduk.
"Ada apa ya pak?" tanya Satrio kembali setelah duduk.
"hmm.........Iya, maaf kalau boleh saya tau bapak dan ibu serta mas nya ada perlu apa ya?" tanya Satrio dengan ramah.
"Alah gak usah sok gak tau pak!!" ucap lelaki dewasa yang duduk di hadapan Satrio dengan wajah sangat emosi.
"Loh, ada apa ini mas? kok tiba-tiba emosi," jawab Satrio dengan wajah bingung.
"Udah kamu jangan emosi ini kan bisa dibicarakan baik-baik," ucap lelaki paruh baya itu melerai yang tak lain adalah ayah Vallen mahasiswi kampus itu.
"Maaf pak, coba tolong jelaskan pelan-pelan jangan pakai emosi supaya saya nya juga faham apa yang keluarga bapak maksud supaya tidak ada ke salah pahaman diantara saya dan juga keluarga bapak," ucap Satrio dengan ekspresi sangat sabar.
"Maaf ini ya pak, calon mantu saya sudah emosi." Ternyata lelaki dewasa tadi adalah pacar dari Vallen mahasiswi kampus.
"Iya tidak apa-apa pak, coba jelaskan ada masalah apa," ucap Satrio yang sedari tadi masih dengan senyum ramah nya."
"Saya bapak dari mahasiswi yang bapak ajar," ucap ayah dari vallen.
"Iya siapa nama putri bapak?" tanya Satrio dengan sangat sopan.
"Vallen dia semester 6," jelas ayah Vallen
"Vallen?" tanya Satrio sembari mencoba mengingat-ingat.
"Jadi begini pak, Vallen anak saya sudah 2 hari ini tidak mau makan tidak mau keluar kamar, dia terus terusan mengunci pintu kamar nya. kata teman nya dia menjadi korban salah satu dosen yang memberikan pengaruh tidak baik terhadap anak saya, dan temannya itu bilng bahwa terakhir kali anak saya bercerita tentang nak Satrio ini," jelas ayah Vallen.
"Maaf ya pak sebelum nya, tapi hubungan nya sama saya apa ya?" tanya Satrio dengan bingung.
"Gak usah sok gak tau deh pak!!! apa yang sudah bapak lakukan sama pacar saya?" tanya Aldo pacar dari Vallen dengan nada meninggi.
__ADS_1
"Udah kamu gak usah emosi, gak akan selesai masalah ini kalo kamu emosi terus." Ayah Vallen mencoba melerai.
"waduh..... begini loh mas, saya gak pernah ngapa-ngapain si vallen saya juga gak inget yang mana anaknya. Saya kan ngajar gak cuma 10 atau 20 mahasiswa dan mahasiswi tapi banyak jadi saya gak ingat vallen itu yang mana. Dan memang nya saya ada berbuat apa ke dia? saya rasa saya gak pernah menyakiti mahasiswi yang saya ajar. Kalau pun dia mau bimbingan skripsi saya rasa anak bimbingan skripsi saya gak ada yang nama nya Vallen. Dan juga saya gak pernah ada macem-macem ke mahasiswi yang saya ajar, tapi waktu itu...." Mencoba mengingat. "Ah........saya ingat," ucap Satrio spontan ketika berhasil mengingat kejadian yang sebenarnya.
"Kenapa yo?" tanya kepala prodi itu dengan penasaran.
"Waktu itu ada yang DM saya lewat instagram, sebentar saya tunjukkan." Membuka handphone nya dan mencoba mencari DM Vallen yang masuk.
"Ini coba di cek mas,, apa ini akun instagram pacar mas?"
"Iya ini akun pacar saya, kok kalian bisa DM an!" ucap Aldo tak terima.
"Sabar dulu mas saya jelasin, jadi waktu itu pacar mas DM saya cuma gak saya baca karena saya masih sibuk ada beberapa urusan pribadi. Sebenarnya mas bukan saya sombong tapi memang banyak mahasiswi disini yang sering DM saya tapi saya enggan untuk membaca nya karena terlalu banyak. jadi kemarin itu pacar mas bilang suka ke saya. Nih silahkan lihat sendiri aja kalau mas gak percaya." Menunjukkan isi percakapan nya.
Pacar Vallen membaca isi percakapan antara Vallen dan Satrio, disitu memang terlihat jelas bahwa si Vallen memiliki perasaan kepada Satrio. Namun, cinta nya bertepuk sebelah tangan karena Satrio sama sekali tidak memiliki perasaan apapun terhadap si Vallen. Itulah yang membuat si Vallen depresi dan sampai mengurung dirinya di dalam kamar karena terlalu terobsesi kepada Satrio.
"Saya sudah jelaskan sama anak bapak, bahwa saya sudah memiliki calon istri dan bulan depan saya dan calon istri akan lamaran. Tapi Vallen malah terus mengganggu saya sampai akhirnya saya memutuskan untuk mem blok akun dia, agar tidak bisa mengganggu saya lagi. Tapi hasilnya dia malah terus menguhubungi saya lewat chatt maupun nomor seluler. Akhirnya saya memutuskan untuk mem blok semua akses agar dia tidak bisa menghubungi saya lagi. Jadi begitu pak, bu, mas cerita nya," jelas Satrio.
"Oh.......... jadi begitu cerita nya sampai sini saya paham. Maaf ini pak mungkin saya yang kurang becus dalam mendidik anak hingga akhirnya dia menjadi seperti ini. Saya sekeluarga minta maaf kepada pak Satrio atas tingkah laku anak saya dan calon mantu saya," ucap ayah Vallen menyesal.
"Iya pak, gak apa-apa kok ini hanya kesalah pahaman aja. Saya juga meminta maaf kalau saya sudah membuat anak bapak jadi seperti itu, tapi saya harus tegas karena saya dosen yang harus tetap profesional dalam mengajar," ucap satrio dengan ramah.
"Saya juga minta maaf pak saya sudah emosi," ucap Aldo menahan rasa malunya.
"Iya mas, pak. Gak apa-apa namanya juga salah paham." Tersenyum.
"karena masalah ini sudah jelas, sekali lagi saya meminta maaf kepada pak Satrio. Saya dan keluarga izin pamit," ucap Ayah Vallen.
"Iya pak, enggak apa-apa kok lagian ini hanya salah faham aja."
"Assalamualaikum," ucap keluarga Vallen.
"Wa'alaikumsalam," jawab Satrio dan bapak kepala prodi.
Keluarga Vallen pun meninggalkan ruangan pak Satrio dan bergegas pulang karena sudah tidak sanggup lagi menahan rasa malu nya akibat perbuatan Vallen.
"Yo, kamu mau lamaran?" tanya kepala prodi.
"Iya pak doa kan saja ya insyaallah tanggal 15 bulan depan," jawab Satrio dengan wajah tenang.
"Kok gak ada kabar si, saya malah baru tau sekarang."
"Iya pak, orang acara nya dadakan." Tersenyum malu.
"Tapi kamu gak ngehamilin anak orang kan?" ledek bapak kepala prodi.
"Wis.......bapak, ya enggak lah," jawab Satrio dengan kaget.
Tertawa bersama.
"Dapet orang mana?" tanya kepala prodi itu dengan penasaran.
"Gak jauh kok pak cuma nyebrang kota aja." Terkekeh.
"Yaudah semoga lancar sampai hari H ya, jangan lupa undang undang." Menepuk bahu Satrio.
"Aamiin, tenang kalo itu beres pak." tertawa renyah.
__ADS_1