
Berjalan melihat lihat toko baju.
"Kita beli bad cover dulu ya, yuk kita ke toko sprei," ajak ibu Inggit kepada calon mantu dan anaknya.
Setelah membeli bad cover ibu inggit Satrio dam Novia pun lanjut berbelanja membeli keperluan yang lain. Setelah selesai belanja ibu Inggit, Satrio dan Novia pun lanjut makan di resto favorite Novia dan Satrio.
Sesampainya di resto.
"Selamat datang ibu Inggit," ucap salah satu pelayan seraya membungkukkan badan nya seraya memberi hormat.
"Iya," jawab ibu Inggit dan tersenyum ramah.
Novia merasa kebingungan.
"Mari bu sudah saya siapkan tempat VIP."
"Ini kan tempat biasa yang aku sama mas Satrio tempati pada saat makan disini, owalah ini ruangan VIP," batin Novia.
"Mba saya pesan menu kaya biasa nya ya, kalo ibu mau makan apa?" tanya Satrio kepada ibunya
"Ibu mau makan iga bakar pedas manis es teh nya satu."
"Baik bu segera kami buatkan," ucap sang pelayan.
"Selamat sore ibu inggit, saya senang sekali ibu bisa datang untuk langsung mengecek restoran," ucap sang menager resto ibu Inggit.
"Mengecek restoran?" Novia bertanya dalam hatinya.
"Sebenarnya si saya gak ada niat mau cek resto cuma tadi abis belanja jadi sekalian aja deh makan di resto sekalian cek cek resto bentar," jelas ibu Inggit.
"Oh.......begitu bu, memang ibu dari mana bu?" tanya manager itu kelihatan sangat akrab dengan ibu Inggit membuat Novia semakin bingung.
"Saya habis beli barang untuk lamaran Satrio," jawab ibu inggit dengan ramah.
"Oh......pak Satrio mau nikah?" Tersenyum manis.
"Iya alhamdulillah sudah ketemu jodohnya." Tersenyum.
"Ada karyawan sini yang bilang, pak Satrio akhir-akhir ini sering ke resto beberapa kali."
"oh ya rio?" tanya ibu Inggit seraya menoleh ke arah anaknya.
"Iya bu, kemarin beberapa kali makan disini sama Novia."
"Owalah, ya bagus dong kalo Novia suka makanan di resto ini," ucap bu Inggit dengan senang.
"Hehe iya bu." Novia Masih merasa bingung.
"Maaf bu izin saya tinggal sebentar ya bu, soalnya masih ada beberapa urusan di belakang," ucap sang manager.
"Iya iya silahkan." Tersenyum ramah.
Beberapa saat ketika manager itu sudah pergi meninggalkan mereka.
"Bu......maaf Novia mau tanya," ucap Novia lirih.
"Iya sayang mau tanya apa," jawab ibu Inggit dengan lembut.
__ADS_1
"Itu tadi manager nya teman ibu?" bertanya dengan wajah polosnya.
Satrio tertawa mendengar pertanyaan dari Novia. Novia belum mengetahui kalau resto tempat biasa mereka makan itu adalah milik keluarga Satrio.
"Enggak sayang," ucap ibu Inggit seraya tersenyum enuh kasih sayang. "Emang Satrio gak pernah cerita ke kamu ya?" tanya ibu Inggit heran.
"Enggak bu." Menggelengkan kepalanga.
"Satrio." Menatap Satrio dengan tajam.
"Hehe Satrio gak sempet bu buat cerita nya ke Novia." Tertawa garing
"Alasan aja," ucap ibu Inggit kesal kepada anaknya.
Novia masih merasa bingung.
"Ini resto milik keluarga sayang. Almarhum ayahnya Satrio dan ibu dulu yang membangun resto ini. Ini salah satu nya kenangan ibu dan ayahnya Satrio yang paling membekas," jelas ibu Inggit.
"Oh............jadi begitu bu, Novia malah baru tau kalau ini resto keluarga mas Satrio." Mengangguk paham.
"Memang si Satrio ini agak jahil orang nya." Mendorong pelan bahu anaknya.
"Bukan agak jahil bu memang jahil," ledel Novia.
Tertawa bersama.
Setelah selesai makan, mereka pun menuju gedung untuk merancang acara lamaran Novia dan Satrio.
Sesampainya di gedung.
"Sabar bu, barangkali masih di jalan orangnya." Mengelus lembut pundak ibunya.
"Tapi ibu itu sudah telepon dari tadi seharusnya dia udah sampai, ini kok malah kita duluan yang sampai." Berkali kali coba menelfon manager nya itu.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru. Rupanya itu adalah langkah suara kaki Maya manager gedung milik keluarga Satrio.
"Maaf Bu, Maaf saya terlambat tadi macet di jalan." Dengan tergesa-gesa.
"Kebiasaan deh kamu Maya, gak pernah on time."
Maya adalah manager gedung keluarga nya satrio, maya masih lajang dan sempat suka dengan adam adik nya satrio.
"Maaf ibu........macet tadi di jalan."
"Yasudah lupakan. Sebelum kita rancang dekorasi nya, ini perkenalkan calon mantu ibu Novia," ucap ibu Inggit mengalihkan pembicaraan.
"Hi....Novia, saya Maya." Memperkenalkan dirinya dengan ramah kepada Novia.
"Saya Novia." Tersenyum ramah.
"Cantik banget bu calon istrinya pak Satrio kaya orang arab arab gitu muka nya."
"Iya lah calon istri nya siapa dulu," ucap Satrio dengan sangat pd nya.
"Pak Satrio ini bisa aja, lihat tuh mba Novia nya jadi malu pipi nya merah," ledek Maya.
Maya memang akrab dengan keluarga ibu inggit karena sudah lama menjadi manager gedung milik keluarga nya Satrio.
__ADS_1
"Yaudah nanti malah keburu kesorean, jadi gimana rancangannya Maya?" tanya ibu Inggit.
"Iya bu, mari ikut saya saya jelasin detail dekorasi nya."
"Jadi dekorasi untuk pelaminan lamaran nya di tengah dinding ini ibu. rencana nya mau saya buat model simple tapi tetep kelihatan mewah seperti ini." Maya menunjukkan gambar.
"Oke bagus saya setuju. Gimana menurut kamu sayang?" tanya ibu Inggit kepada Novia seraya menunjukkan gambar ke Novia.
"Bagus kok bu bagus banget, kalo menurut kamu gimana mas?" tanya Novia kepada calon suaminya.
"Bagus sayang, aku ikut kamu sama ibu aja mau gimana pun dekorasi nya kalo kalian suka aku akan suka juga." Tersenyum manis.
"Oke saya suka dekorasi pelaminan nya terus untuk red karpet nya gimana?"
"Oh kalo untuk itu ibu tenang aja, ini sudah saya siapkan. Rencana nya di sepanjang pinggir karpet nya mau saya taruh lampu lampu hias berbentuk bunga, terus di tengah tengah nya mau saya kasih miniatur berbentuk mahkota raksasa dengan gantungan kristal hias dan untuk di depan pintu masuk mau saya buat lorong tema nya tumbuh tumbuhan hujau dengan lampu gantung hias dan beberapa lampu led tumbler di pinggir dinding lorong nya, Ini bu silahkan dilihat contoh dekorasi nya." menunjukkan gambar.
"Bagus keren banget ada hijau hijau nya bikin mata fresh."
"Bu, apa ini gak terlalu mewah hanya untuk sekedar lamaran? ini dekorasi nya seperti udah kaya acara pernikahan."
"Gak apa apa sayang, ibu emang sengaja buat acara nya meriah supaya teman teman kamu bisa datang teman teman Satrio bisa datang dan teman teman ibu juga bisa datang dan kamu bisa ajak semua keluarga kamu supaya meriah. Ini kan hari bahagia nya si jomblo akut ini." Menunjuk Satrio. Jadi ibu mau yang spesial." Tertawa kecil.
"Pasti deh ujung-ujungnya aku lagi deh yang dipake jadi alasan." muka pasrah.
Ibu Inggit dan Novia tertawa melihat ekspresi Satrio.
"Oke.... Maya saya suka sama rancangan dekorasi kamu. selanjutnya, untuk kursi dan meja VIP sudah kamu siapkan?" tanya ibu Inggit dengan rinci.
"Sudah bu, saya menyiapkan 100 meja VIP dan 400 kursi," jelas Maya.
"Bagus, untuk make up nya MUA yang akan merias keluarga Novia sudah kamu hubungi?" tanya ibu Inggit.
"Sudah bu saya sudah membooking MUA terbaik di kota ini."
"Bagus.......untuk keluarga saya juga sudah?" tanya ibu Inggit dengan detail.
"Sudah bu."
"Hmm.........ibu rasa sudah cukup si atau Novia apa kamu mau nambah apa ngomong aja ke maya biar di catat."
"Enggak bu kaya gini aja sudah lebih dari cukup."
"Yasudah, kalo gitu cukup lah nanti kalo ada yang kurang saya hubungin kamu lagi."
"Baik bu."
"Yasudah kalo gitu saya pamit dulu ya pulang duluan, kasian Novia capek kaya nya butuh istirahat."
"Iya bu mari saya antar ke parkiran."
"Gak usah, kamu cek cek gedung aja sama penjaga gedung siapa tau ada lampu yang putus atau kerusakan apa segera perbaiki mumpung waktu nya masih agak lama."
"Iya bu...... kalo gitu hati-hati dijalan ya bu."
"Iya."
Setelah melihat gedung dan dekorasi mereka pun kembali ke rumah ibu inggit untuk beristirahat.
__ADS_1