
"Ih ibu lama banget ngobrolnya, aku sampe pegel nungguin di dalem." Dengan wajah sebalnya menunggu dan langsung menyampaikan keluh kesahnya.
"Ih emang kenapa si, orang lagi asik sama calon mantu ibu," ledek ibu Inggit kepada anaknya.
"Aku juga kan mau ajak Novia jalan jalan, liat danau di lapangan golf sama mau ajak dia naik kuda." Memasang wajah kesalnya akibat di ledek oleh ibunya.
"Emmm.......kalo naik kuda enggak deh makasih, aku takut jatuh." Menolak dengan wajah imutnya.
"Wah klop banget mertua sama menantu, sama sama takut buat naikin kuda." Tertawa meledek.
"Satrio kamu ini ngeledek aja, yaudah ibu mau ke dalem dulu mau siapin cemilan buat Novia," ucap ibu inggit seraya menepuk punggung anaknya.
"Gak usah repot - repot bu." Memegang tangan ibu Inggit.
"Gak repot kok sayang, kamu jalan-jalan dulu gih sama satrio ibu siapin cemilan dulu," Ucap ibu inggit dengan penuh kasih sayang.
"Iya bu, terimakasih." Tersenyum bahagia.
Novia dan Satrio pun berkeliling melihat Danau yang ada dilapangan golf pribadi milik keluarga Satrio.
"Mas, luas banget ya rumah kamu lapangan golf nya sampe ada danau nya gini," ucap Novia sambil menggandeng tangan Satrio.
"Dulu sewaktu ayahku masih hidup, beliau punya keinginan kalau punya rumah nanti harus ada lapangan golf yang ada danau nya sama lapangan berkuda nya, dan alhamdulillah semua itu terwujud," ucap Satrio menjelaskan.
"Mas," panggil Novia dengan lembut kepada calon suaminya.
"Iya sayang." Menoleh dan langsung menatap Novia dengan lekat.
"Kamu yakin mau nikah sama aku?" tanya Novia dengan canggung.
"ya yakinlah, memang nya kenapa?" tanya Satrio kembali merasa heran dengan pertanyaan kekasihnya.
"Ya enggak aku cuma ngerasa, aku gak pantes jadi menantu keluarga ini." Merendahkan nada bicaranya.
"Kok kamu ngomong nya gitu si." Langsung menghadap ke arah Novia dan memegang tangangan memandangnya dengam lekat.
"Ya enggak, soalnya aku kan dari keluarga biasa dan aku juga gak punya gelar apapun," ujar Novia tak pede dengan status keluarganya yang jauh dibawah Satrio.
"Aku gak pernah menilai orang dari kaya atau enggak nya dia strata nya dia lebih tinggi atau enggak dari keluarga aku. Aku dan keluarga ku gak begitu sayang." Memandang dengan lekat.
"Kamu juga bukan gak bergelar. tapi belum, nanti juga ada saat nya kok." Berbicara seraya tersenyum menenangkan hati Novia.
"Iya mas." Jantung Novia berdegup kencang.
"Yuk kita kita duduk di kursi tepi danau itu," ajak Satrio seraya minta di gandeng kembali oleh Novia.
Mereka duduk di kursi kayu dan mengobrol.
sampai ketika ada yang memanggil mereka berdua.
"Satrio........Novia........sini makan cemilan buatan ibu," panggil ibu Inggit dari kejauhan.
"iya bu," sahut Novia dan langsung mengajak Satrio untuk kembali kedalam rumah.
Mereka berjalan dan berkumpul di ruang keluarga kembali bersama adik adik nya.
"Nih ibu buatkan puding coklat dan chesee cake, kamu suka kan?" tanya ibu Inggit dengan senyum sumeringah.
"Wah kok pas banget bu, novia suka banget sama puding coklat."
"Oh ya... kalau begitu kamu sering sering main kesini biar kita bisa bikin puding coklat sama- sama." Dengan wajah bahagianya.
"Iya bu, nanti kalau Novia libur kuliah novia main kesini nemenin ibu." Tersenyum.
__ADS_1
"Wah, seneng banget deh ibu ditemenin calon mantu." Tersenyum lebar.
"Makasih ya nov udah mau nemenin ibu." Tersenyum dan memeluk Novia.
"Iya bu sama sama." Membalas pelukan calon ibu mertuanya.
"Beh puding buatan nya ibu emang the best banget desert-desert di restoran mahal mah lewat." Adam memuji masakan ibunya.
"Bisa aja kamu, jangan diabisin ini ibu bikin khusus buat calon mantu ibu loh," ucap ibu Inggit.
"Ibu kita anak nya juga mau kali, masa calon mantu aja yang di buatin." Meledek ibunya.
"kalian kan udah sering ibu buatin, kalo novia kan baru sekali ini, apalagi idris sering banget tuh ngabisin puding ibu." Tertawa bersama.
"Novia, nanti ikut ibu ke kamar ya, ibu mau ngomong sesuatu sama kamu," pinta ibu Inggit dengan spontan.
"Iya bu." Mengangguk patuh tapi dalam hatinya merasa bingung.
"Mau dikasih sesuatu tuh," ucap Satrio meledek Novia.
"Sok tau kamu," jawab ibu Inggit meledek balik anaknya.
Setelah selesai makan desert yang di buat oleh ibu Inggit, Novia pun diajak ke kamar ibu Inggit.
"Sini masuk nov"
"Iya bu"
"Buset ini kamar gede banget" batin Novia.
"Sini ikut ibu ke ruang ganti"
"Iya bu"
Novia pun disuruh duduk di kursi yang ada di ruang ganti itu, Ibu Inggit pun ikut duduk.
"Nov, coba deh kamu pake." Menyodorkan kotak perhiasan.
"Eh apa ini bu?" tanya Novia terkejut saat di sodori kotak perhiasan, yang berisi satu set perhiasan mewah.
"Ini perhiasan yang sengaja ibu belikan untuk calon istri nya Satrio nanti, nah sekarang kamu kan calon istrinya jadi ibu ingin memberikan ini untuk kamu," ucap ibu Inggit dengan penuh harap.
"Tapi bu, ini terlalu mewah bu untuk Novia." Merasa tidak enak.
"Novia memang berbeda dengan gadis lain." Dalam hati ibu Inggit.
"Pokoknya kamu harus terima ini, kalau enggak ibu bakalan sedih," ucap ibu inggit dengan wajah sedihnya.
"Em........... iya......bu Novia terima." Menerima dengan perasaan yang tidak enak.
"Makasih sayang kamu memang gadis baik." Memeluk Novia.
"Iya bu, Novia juga makasih banget." Membalas pelukan ibu mertua nya.
Setelah memberikan perhiasan kepada Novia ibu Inggit dan Novia pun turun ke bawah kembali.
"kamu gak di apa-apain kan sama ibu?" tanya Satrio seraya terkekeh.
"ya enggak lah, kamu kira ibu mau ngapain Novia," ujar ibu Inggit dengan wajah kesalnya karena di goda anaknya.
Satrio, Idris, Vano dan Adam tertawa melihat ekspresi ibunya yang sebal dengan pernyataan Satrio.
"Oh iya nov, kamu ikut makan malem disini yah nanti masak bareng sama ibu, kamu mau kan?" tanya Ibu Inggit dengan penuh harap.
__ADS_1
"Iya bu." tersenyum mengiyakan ucapan calon ibu mertuanya.
"Yeay ibu ada temen masak." Memeluk Novia kegirangan.
"Yaudah gih masak, kita udah pada laper nih" Ucap Satrio meledek ibu nya dan Novia.
"Iya sabar dong masih juga jam setengah 4, kita sholat ashar berjamaah yuk," ajak ibu Inggit kepada anak-anak dan calon menantunya.
"Yuk jarang jarang loh kita sholat berjamaah dirumah, biasa nya pada sholat ditempat kerja masing masing," sindir ibu Inggit yang selalu merasa kesepian dirumah.
"Yaudah ayok udah adzan tuh," Ucap Idris.
"Vano, Adam, udah dulu main game nya ayok kita sholat berjamaah bareng," pinta ibu Inggit kepada kedua anaknya.
"Iya bu." Beranjak dari tempat duduknya dan mematikan game yang sedang mereka mainkan.
Vano dan Adam langsung menghentikan aktivitas nya bermain game, dan langsung bergegas mengambil air wudhu.
"Yaudah kalian pada ke mushola duluan ya ibu mau ambilkan mukena untuk Novia," ucap ibu Inggit mengatur anak anaknya.
"Okee ibu komandan." Meledek.
"Dasar." Memelototkan matanya ke Satrio yang meledeknya.
Mereka sholat di mushola yang ada di rumah keluarga satrio. Setelah sholat Novia dan Ibu Inggit pun memasak hidangan untuk makan malam.
"Bu kalo mas Satrio itu suka makanan apa ya?" tanya Novia memecah keheningan di dapur.
"Oh.......kalo Satrio paling suka makanan yang pedas, kalo masak untuk dia pasti harus ada sambel nya. Contoh nya aja sambel ikan, sambel udang, atau sambel biasa kaya sambel balado pokoknya harus ada sambel," jelas ibu Inggit.
"Oh, kalo ibu suka nya makan apa?" tanya nya dengan penuh perhatian.
"Kalo ibu mah apa aja suka, sama si sama Satrio suka makan makanan pedas tapi ibu lebih suka desert desert gitu sih." Sembari memotong-motong sayuran.
"Kalo gitu kapan-kapan Novia buatkan ya," ucap Novia sembari membatu menyiapkan bumbu-bumbu.
"Wah ibu seneng banget loh dimasakin sama calon mantu." Wajah yang sangat senang dan bahagia.
"Hehe ibu bisa aja ih." Wajahnya seketika memerah.
Setelah selesai masak mereka pun makan malam. Selesai makan Novia pun diantar oleh Satrio untuk pulang.
"Bu novia pulang ya, nanti kapan-kapan Novia main kesini lagi nemenin ibu." Memegang tangan ibu Inggit.
"Iya sayang, bener ya kamu harus sering sering main kesini nemenin ibu." tersenyum bahagia.
"iya ibu." Sembari bersalaman dan memeluk ibu inggit.
"Idris, Vano, Adam aku pulang ya," ucap Novia dengan manis.
"Iya kak hati hati ya," ucap Idris.
"Sering main kesini ya kak nemenin ibu." senyum ramah.
"Iyaa." Tersenyum.
"Kak rio hati hati bawa mobil nya bawa anak orang nih," ledek Adam kepada kakaknya.
"Iya bawel." memukul pundak Adam geram.
"Aku pamit dulu ya, assalamualaikum," ucap Novia dengam sopan
"Wa'alaikumsalam," jawab ibu Inggit dan adik-adik satrio sembari tersenyum.
__ADS_1