Suamiku Adalah Mantan Kekasih Kakakku

Suamiku Adalah Mantan Kekasih Kakakku
Rencana Perjodohan


__ADS_3

Di tempat lain sahabat Novia, yaitu Caca dan keluarganya sedang mengadakan pertemuan dengan keluarga ibu Inggit. Mereka membahas rencana perjodohan anak mereka.


"Jadi bagaimana pak, bu? Apa rencana perjodohan ini akan terus berlanjut ke jenjang serius?" Tanya ibu Inggit kepada orangtua Caca.


"Saya ikut gimana baik nya aja bu, sesuai dengan wasiat Almarhum," ucap ayah Caca.


Almarhum ayah Vano adalah sahabat dekat ayah Caca. Mereka sempat merencanakan perjodohan ini dulu sebelum ayah Vano meninggal, namun hal ini hanya diketahui oleh ayah ibu Vano dan Caca. Sedangkan Caca dan Vano sama sekali tak pernah mengetahui hal tersebut, dan baru bertemu sewaktu Satrio meninggal. Ibu Inggit pun tak pernah bertemu dengan Caca karena sedari Caca kecil hingga dewasa ia tinggal dengan neneknya, karena kesibukan bisnis papa dan mamanya.


Flasback on.


"Sayang hari ini kamu jangan kemana mana ya, akan ada tamu penting hari ini kamu harus menyambut nya," ucap sang mama.


"Tamu siapa ma? Kok tumben harus ada aku segala?" Tanya Caca heran.


"Udah pokoknya hari ini kamu jangan kemana mana ya," pinta sang mama.


"Iya ma," ucap Caca dengan patuh.


Jam menunjukkan pukul 2 siang, Caca merasa bosan dirumah. Ia ingin keluar untuk mencari hiburan ke mall, seperti biasa dia hanya menghabiskan waktu untuk shopping dan bertravelling. Caca adalah anak tunggal, jadi sudah dapat dipastikan bahwa ia sangat dimanja oleh papa dan mama nya. Namun, sifat manja nya kadang hilang saat ia bersama sahabatnya yaitu Novia. Caca menganggap Novia seperti sodara kandung nya sendiri, karena memang ia tak memiliki saudara kandung. Hal sekecil apapun pasti ia ceritakan kepada sahabatnya itu, dan ada banyak hal yang bisa ia jadikan pelajaran dari kehidupan sahabatnya itu yang berbanding terbalik dari dirinya.


Setelah setengah harian menunggu tamu yang di janjikan mama nya tak kunjung tiba, akhirnya Caca memutuskan untuk pergi dan langsung mengambil kunci mobilnya di atas nakas.


"Kamu mau kemana sayang?" tanya mama Nina.


"Mau pergi mah, abis tamunya gak dateng dateng aku bosan nunggunya," keluh Caca.


"Eits siapa bilang belum datang, yuk turun ke bawah tamunya sudah datang."


Caca menuruti perkataan mamanya, dan ikut turun menemui tamu yang dibicarakan dari semalam.


"Nah ini kenalkan bu anak saya Caca," ucap mama Nina memperkenalkan.


"Loh ini Caca temennya Novia kan?" tanya ibu Inggit dengan ekspresi kaget nya.


"Iya ibu, owalah ini tamunya toh ya ampun ma, pa kenapa gak bilang si dari semalem kalo ibu Inggit yang mau datang." Caca lantas menyalami dan mencium punggung tangan ibu Inggit.


"Ya Allah, gak nyangka banget to, ternyata anakmu ini temen nya calon mantuku dulu," ucap ibu Inggit penuh haru.


"Oh jadi calon nya Novia kemarin itu anak jeng to? Kakaknya Vano?" tanya ibu Nina yang tak kalah kaget.


"Iya jeng."

__ADS_1


Setelah pertemuan itu mereka merencanakan acara perjodohan itu, dan hubungan mereka kian terasa kekeluargaan nya. Namun, Vano masih tetap diam seribu bahasa. Ia hanya menjawab yang perlu dijawab saja, tak ada senda gurau atau sekedar basa basi kepada Caca.


Flashback Of.


"Baik untuk mempersingkat waktu ya, karena sekarang sudah saat nya mempersatukan anak anak kita. Bagaimana kalau bulan depan saja pak?" ucap ibu Inggit dengan yakin.


Mendengar itu Vano yang sedang menyeruput teh nya langsung tersedak.


"Ada apa Van? Kamu setuju kan?" ucap ibu Inggit dengan wajah memelasnya membuat Vano tak tega.


"Iya Vano ikut ibu aja," jawab Vano singkat.


Sikap Vano masih sama saat mereka bertemu, dingin dan tak banyak bicara.


"Bagaimana dengan kamu ca?" tanya sang papa.


"Caca juga ikut aja pa," ucap Caca pasrah.


"Baik jadi untuk tanggalnya kita tentukan hari ini ya, karena aku rasa anak anak kita ini sudah tak sabar," ledek ibu Inggit.


Vano hanya tersenyum kecut mendengar ledekan ibunya, berbeda dengan orang tua Caca yang langsung tergelak.


"Ma aku berangkat dulu ya, mau jenguk Novia dia baru pulang dari rumah sakit," ucap Caca berpamitan.


"Novia masuk rumah sakit sayang?" ucap mama Nina yang baru mendengar kabar tentang Novia.


Mama Nina dan papa Bagas sudah menganggap Novia sebagai putri mereka sendiri, jadi apapun yang terjadi pada Novia mereka sudah pasti ikut khawatir.


"Iya ma, baru aja pulang hari ini."


"Yaudah papa sama mama titip salam ya buat Novia, mama sama papa belum bisa menjenguk kesana. Papa sama mama mau urus acara pernikahan mu," ujar sang papa.


"Iya pa, ma nanti Caca salamin."


Setelah berpamitan Caca langsung berangkat menuju rumah sahabatnya. Namun sebelum itu ia mampir di salah satu toko kue untuk membelikan makanan untuk sahabatnya. Ketika tengah asyik memilih kue dan beberapa desert pandangan Caca menangkap sesosok pria yang sangat tak asing dimatanya. Ya, tentu saja pria itu adalah Vano calon suaminya. Namun Caca langsung memicingkan matanya karena menangkap sosok perempuan cantik yang berdiri di samping calon suaminya itu sambil bergelayut manja. Melihat itu ia langsung mengalihkan pandangan nya, dan bergegas menuju kasir.


"Caca," panggil seorang pria yang berdiri gagah nan tampan itu.


"Eh kak, disini juga," ucap Caca pura pura tak tau.


"Iya nganter......."

__ADS_1


"Kenalin, aku pacar nya Vano," sambar seorang wanita cantik yang sedari tadi bergelayut manja di lengan Vano.


Hati Caca terasa mencelos mendengar penuturan wanita itu, air mata nya serasa ingin jatuh seketika. Namun ia tak melakukan itu, ditahan nya air matanya itu dan langsung menyambut uluran tangan wanita disebelah Vano.


"Hai aku Caca," ucap Caca memperkenalkan diri seraya memasang senyum yang sedikit dipaksakan.


"Aku Helena, pacar sekaligus calon istri Vano," ucap wanita itu penuh penekanan.


Vano hanya diam, dan masih dengan sikap dingin nya. Bukannya ia saat ini seharusnya mencoba menjelaskan, tapi tidak! Vano diam seribu bahasa dan hanya menatap datar ke arah Caca seolah ia pria yang tak punya perasaan.


"Oh kalau begitu aku duluan ya, mau jenguk Novia," ucap Caca langsung kemeja kasir.


"Novia kenapa? Apa dia sakit?" tanya Vano khawatir.


"Iya, baru aja dia keluar dari rumah sakit hari ini," jawab Caca dengan ketus.


"Berapa mba?" tanya Caca langsung mengalihkan pembicaraan kepada sang kasir.


"Totalnya 250 ribu rupiah kak," ucap sang penjaga kasir.


Setelah selesai membayar Caca berlalu begitu saja tanpa menyapa dua manusia yang sudah membuat hatinya sakit. Di dalam mobil ia memukul stir dengan kesal.


"Lelaki sialan!!!!! Brengsek!!!!!!" umpat nya seraya mengeluarkan air mata yang sedari tadi ia berusaha tahan.


"Pokoknya perjodohan ini harus dibatalkan! Aku gak mau nikah sama lelaki sedingin kulkas kaya dia!!" celotehnya sepanjang jalan.


Setelah sampai dirumah Novia, Caca berusaha menenangkan dirinya agar tak membuat sahabatnya khawatir karena melihatnya menangis. Ia lalu bergegas masuk ke dalam, membawa buah tangan nya untuk Novia.


.


.


.


.


Hi riders jangan lupa like dan komen nya ya supaya outhor makin semangat update nya 💚


Kira kira Caca jadi gak ya nikah sama Vano?


Yuk komen, kira kira Caca cocok gak nih sama Vano.

__ADS_1


__ADS_2