
Novia tiba dirumah ibu Inggit dengan menggunakan ojek online. Setiba nya di halaman Novia berdiri sejenak melihat sekeliling rumah ibu Inggit yang terlihat sangat sepi dan seperti tidak ada orang.
"Sepi banget rumah ini, beda banget sama dulu aku diajak kesini sama mas Satrio pertama kali kelihatan nya gak sesepi ini. kasian ibu harus ditinggal anak-anak nya bekerja pasti ibu Inggit kesepian banget," gumam Novia seraya menghela nafas panjang.
Novia terdiam beberapa saat hingga akhirnya ia melanjutkan langkah kakinya untuk memasuki rumah ibu Inggit.
"Assalamualaikum," ucap Novia sembari memencet bel rumah ibu Inggit.
"Wa'alaikumsalam," jawab bik yati asisten rumah tangga ibu Inggit, seraya membuka pintu.
"Eh non Novia sudah dateng, ayuk masuk non ibu sudah menunggu non dari tadi," ucap bik yati dengan ramahnya.
"Iya bik terimakasih, ibu ada dimana bik?" tanya nya seraya melihat sekeliling ruangan untuk mencari keberadaan ibu Inggit.
"Ibu ada di teras belakang non, sebentar bibik panggilkan dulu ya." Bik yati langsung menuju teras belakang untuk memberitahukan ke ibu Ibu inggit bahwa Novia sudah datang.
"Bu, non Novia sudah datang dia sudah ada di ruang tamu," ucap bik Yati kepada majikan nya.
Ibu Inggit langsung bergegas ke ruang tamu untuk menemui Novia.
"Ibu, apa kabar?" menyapa seraya mencium kedua tangan ibu Inggit.
"Alhamdulillah baik sayang, gimana kabar kamu?" tanya ibu Inggit dengan lembut.
"Alhamdulillah baik bu," jawab Novia dengan senyuman nya yang manis.
Mereka berbincang-bincang melepas rasa rindu mereka yang lama tidak berjumpa. Ibu Inggit sudah menganggap Novia sebagai anaknya sendiri, ia sangat menyayangi Novia sama seperti ia menyayangi anak-anak kandungnya.
Setelah berbincang cukup lama mereka lanjut untuk makan siang. Setelah selesai makan Novia dan ibu Inggit sholat berjamaah. Ketika selesai terdengar suara bel pintu rumah, ibu Inggit meminta bik Yati untuk membukakan pintu. Ternyata Vano pulang dari bekerja, Vano memasuki ruangan dan heran melihat sebuah tas yang ia tahu itu bukan milik ibunya.
"Bik, itu tas siapa di atas meja? ada tamu ya? kemana tamu nya kok gak ada?" tanya Vano bertubi-tubi kepada bik Yati.
"Iya den, itu tas nya non Novia," jawab bik Yati.
__ADS_1
"Oh kak Novia, dimana dia bik kok gak ada aku ingin menemuinya." Celingukan mencari sosok Novia di setiap sisi rumahnya.
"Non Novia lagi sholat di ruang sholat den sama Ibu," jelas bik Yati.
"Oh yasudah saya mau ke kamar dulu mau ganti, bilang sama ibu ya bik Vano udah pulang," ucap Vano kepada bik yati seraya menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
Tak selang begitu lama Novia dan ibu Inggit kembali ke ruang tamu.
"bik," panggil ibu Inggit kepada asisten rumah tangga nya.
"Iya bu, ada apa? ibu perlu apa?" tanya nya dengan mengatur nafas yang masih tersengal akibat buru-buru untuk menemui ibu Inggit.
"Enggak saya cuma mau tanya, tadi siapa yang dateng? tukang paket ya?" tanya ibu Inggit.
"Den Vano bu, tapi langsung masuk ke kamar katanya mau ganti baju dulu," jawab bik Yati.
"yaudah tolong disiapin makan untuk Vano ya bik, sama tolong siapin makanan dan cemilan bawa bawa kesini," ucap bu Inggit dengan lemah lembut.
"Baik bu." Bik Yati bergegas menuju dapur untuk menyiapkan semua yang diperintah oleh majikan nya.
"Eh ada kak Novia disini," sapa Vano dengan ramah.
"Panggil aku Novia aja kan aku gak jadi kakak ipar kamu, justru aku yang harus manggil kamu kakak," ujar Novia memasang senyum getir nya mengingat dirinya yang tak gagal menjadi bagian dari keluarga ibu Inggit.
"Yaudah deh senyaman nya aja, panggil aku baby juga gak apa-apa," ujar Vano mencairkan suasana agar tak teringat akan hal pahit yang menimpa keluarga nya.
"Heh kebiasaan raja gombal ini, dimana ada cewe cantik pasti digombalin." Ibu Inggit mencubit pinggang Vano dengan gemas, membuat Novia terkekeh melihat nya.
"Aduh............duh sakit tau bu, aku kan cuma bercanda aja biar gak tegang-tegang banget," Menahan rasa sakit sambil cengegesan memegang tangan ibu Inggit yang mencubitnya.
Mereka pun saling mengobrol dan bersenda gurau. Tak terasa hari semakin siang dan akan beranjak sore, ibu Inggit ingin mengajak Novia dan Vano untuk pergi ke makam Satrio. Akhirnya mereka pun pergi kesana untuk melepas rindu dengan orang yang sangat mereka sayangi.
Sesampainya disana Novia berjongkok di samping batu nisan Satrio seraya mengelus-elus nya. Rasa sakit dan sedih ketika ditinggalkan calon suami nya itu pun kini terulang kembali, namun saat ini ia lebih bisa ikhlas akan semua yang terjadi.
__ADS_1
"Mas ini aku, aku dateng untuk tengokin kamu," ucap Novia menahan tangis nya dan mencoba untuk lebih kuat.
"Sayang ibu kangen sama kamu, ibu selalu doa in kamu setiap waktu supaya kamu tenang disana ya," ucap ibu inggit seraya tersenyum pahit menahan rasa sakit ditinggal anaknya.
Mereka pun menaburkan bungan diatas makam Satrio. Lalu setelah lumayan lama, karena hari sudah senja mereka bergegas untuk pulang kerumah. Setelah sampai dirumah ibu Inggit Novia langsung berpamitan karena ia takut ayahnya marah apabila ia pulang terlalu sore.
"Bu Novia pamit ya, kapan-kapan kalau Novia ada waktu Novia main kesini lagi." Mencium tangan ibu Inggit dan memeluk nya.
"Iya sayang, kamu hati-hati ya biar Vano aja yang antar kamu supaya lebih aman," ujar ibu Inggit seraya memegang tangan Novia.
"Iya bener tuh kata ibu, kamu biar aku anter aja ya soalnya kalo naik ojek online ibu nanti jadi gak tenang." Vano membenarkan ucapan ibunya.
"Iya yaudah bu, kalo gitu Novia pamit dulu ya. Ibu jangan lupa jaga kesehatan nya, kalo kangen Novia telfon aja nanti Novia kesini." Tersenyum manis.
Novia pun diantar oleh Vano untuk pulang. saat sedang diperjalanan ponsel Novia berbunyi, dan mau tak mau Novia harus mengangkat panggilan yang masuk tersebut karena itu dari Andra.
"Hallo sayang, kamu dimana? gimana udah pulang apa belum? kalo belum aku jemput ya?" tanya Andra dengan lembut."
"Iya hallo mas, udah kok aku udah dianter sama kak Vano adiknya mas Satrio," jawab Novia dengan ragu, takut kekasihnya itu marah dan cemburu.
"Oh yaudah aku dirumah aja ya sayang ada hal yang harus aku omongin sama kamu penting," ucap Andra dengan santai tak menunjukkan sama sekali ekspresi marah atau cemburu.
"Iya sayang, sampai ketemu dirumah ya." Menutup telfon.
Panggilan of.
"Siapa Nov? pacar ya?" tanya Vano seraya tersenyum menggoda Novia.
"Em...............enggak kok itu temen," jawab Novia ragu sambil menggigit bibir bawahnya.
"Kalo pun benar itu pacar kamu juga gak apa-apa kok, keluarga kami gak mungkin akan marah lah hidup itu kan harus terus berjalan. Kamu juga butuh pasangan hidup untuk dampingin kamu." Tersenyum seraya mengusap kepala Novia.
"Iya kak sebenarnya aku udah punya pacar, tapi walaupun begitu mas Satrio ada tempat tersendiri didalam hati aku. Aku gak akan pernah bisa lupa atas semua kasih sayang yang mas Satrio pernah kasih sama aku semasa dia hidup." Menunduk menahan kesedihan.
__ADS_1
"Iya aku tau itu,pasti kamu juga gak akan lupa sama kak Satrio, udah jangan sedih lagi ya. " tersenyum manis.
Sesampai nya dirumah Novia Vano langsung berpamitan untuk pulang, karena ingin menemani ibunya yang kesepian dirumah.