
Sore hari.
"Nov kamu dandan kaya gitu mau kemana?" tanya ibu dewi kepada anaknya dengan heran, karena selama ini Novia jarang sekali make up seperti akan pergi pesta.
"Ini bu, Novia mau pergi ke acara pesta temen pak Satrio sama pak Satrio," jelas Novia kepada ibunya.
"Oh.....jangan pulang malem malem." Muka tidak suka.
"Iya bu." Mengabaikan sikap ibunya dan lanjut bersiap.
Tok......tok.....tok.....
"Assalamualaikum," ucap Satrio seraya mengetuk pintu rumah Novia.
"Wa'alaikumsalam," jawab ibu Dewi dari dalam rumahnya.
Ibu novia pergi untuk membukakan pintu.
"Hem........bu Novia nya ada?" tanya Satrio dengan nada yang sangat sopan di dengar.
"Ada tunggu, Novia nih ada nak Satrio," teriak bu Dewi memanggil anaknya.
"Iya bu," sahut Novia seraya menuruni tangga.
"Bu saya minta izin mau ajak Novia ke acara pernikahan teman saya." Meminta izin kepada ibu Dewi dengan sopan dan ramah.
"Iya, jangan pulang malem malem," jawab ibu Dewi dengan datar dan wajah yang terlihat tidak suka.
"Bu, Novia pamit ya," ucap Novia dengan nada yang menahan ketidak nyamanan nya akibat ibunya yang bersikap ketus kepada Satrio.
"Ya," jawab ibu Dewi dengan singkat.
Di dalam perjalanan.
"Ibu kamu kenapa ya nov? kok sepertinya kurang suka sama aku." Satrio merasakan sikap ibu Dewi yang seperti tidak suka dengannya.
"Enggak kok mas, kalo belum kenal ibu emang gitu orangnya, tapi kalo udah kenal baik banget kok ramah orangnya" Novia menutupi ke tidak sukaan ibu nya dan coba menenangkan perasaan kekasinya.
"Yang kamu bilang benar, mungkin aja ya karena belum akrab." Mencoba positif thinking seraya tersenyum teduh.
"Iya mas." Membalas senyuman Satrio.
Ibu novia tidak suka Novia terlalu dekat dengan pak Satrio, karena ibu nya ingin yang Menikah dengan pak Satrio itu kakak nya Novia bukan novia. Namun, sebisa mungkin Novia menutupi itu dari Satrio agar kekasihnya itu tetap merasa nyaman dengan Keluarganya.
"Nov," ucap Satrio memecah keheningan di dalam mobilnya.
"hem.....iya ada apa mas?" jawab Novia dengan lembut.
"Kamu cantik banget hari ini," goda Satrio sukses membuat pipi Novia memerah.
"Ih gombal." Memukul ringan pundak Satrio karena gemas dengan tingkah kekasih nya itu yang kerap kali menggodanya.
"Ih gak bohong, memang cantik kok." Menoleh ke arah Novia seraya tersenyum manis.
Novia hanya tersenyum menahan detak jantungnya yang semakin terpacu. Sepanjang perjalanan Novia hanya diam, sedangkan Satrio sesekali memandangi wajah cantik Novia yang terlihat anggun mengenakan gaun.
"Duh parkiran penuh banget," ucap Satrio frustasi karena melihat parkiran yang begitu padat dengan mobil-mobil para tamu undangan.
"Itu ada satu yang kosong mas." Sembari menunjukkan tempat kosong.
"Alhamdulillah sampe juga." Satrio membuka siftbelt nya.
"Nanti tunggu jangan turun dulu." Keluar dan membukakan pintu untuk Novia.
"Ih kirain kenapa mas." Novia merasa sangat bahagia merasakan perlakuan Satrio yang sangat lembut kepadanya.
"Hehe silahkan tuan putri." Mempersilahkan keluar mobil seraya tersenyum.
"Sikap mas jangan terlalu manis gini, nanti aku diabetes." Tertawa meledek.
"Hem.......udah pinter gombal sekarang ya." Mengelus kepala Novia yang lebih pendek dari nya.
"Kan mas yang ajarin." Terkekeh.
"Yaudah yuk masuk," ajak Satrio seraya menyodorkan lengan nya meminta untuk di gandeng.
"Uh........calon suami aku ternyata so sweet banget." Meledek sembari menggandeng lengan pak Satrio.
Mereka berduapun berjalan menuju ke dalam gedung. Suasana yang sangat ramai, dipenuhi oleh para dosen dan beberapa dekan yang turut hadir.
__ADS_1
"Rio.........," ucap Bagas salah satu teman Satrio yang menyapa nya.
"Wey bro apa kabar?" ucap Satrio menanyakan kabar bagas seraya bersalaman dan berpelukan.
"Alhamdulillah baik, kamu sendiri gimana kabarnya? lama gak bertemu." Bagas adalah dosen juga di kampus yang sama. Namun, bagas mengajar berbeda jurusan dengan Satrio. Mereka adalah teman lama yang sudah lama tak bertemu semejak lulus kuliah S2, dulunya mereka satu kampus dan satu tempat duduk.
"Alhamdulillah baik, iya nih sekarang pada sibuk masing masing, oh ya ini siapa? calon mu ya?" tanya Bagas dengan lekat memandangi Novia yang begitu anggun dan cantik.
"Iya doa in aja tahun ini nyusul si Ferdi naik pelaminan." Melempar candaan yang sukses membuat Bagas dan dirinya sendiri terkekeh.
"Pinter banget nyari nya yang masih SMA gini, masih unyu-unyu." Tertawa meledek.
"Eits.......just information dia udah kuliah semester 6 loh, awet muda kan calon istri ku?" ucap Satrio dengan sangat bahagia dan bangganya memiliki calon istri seperti Novia.
"Hah? masa si? muka nya masih baby face banget kaya masih SMA," ucap Bagas tak mempercayai ucapan Satrio.
"Terimakasih," ucap Novia dengan ramah dan tersenyum imut.
"Oh ya rio aku tadi ketemu hellen loh," Ucap bagas spontan bermaksud meledek Satrio.
"Biarin aja aku juga udah gak mau ketemu dia," jawab Satrio dengan datar.
"Masih sakit hati tah bro? haha." Bagas tertawa mencairkan suasana.
"Ya enggak lah orang udah punya masa depan ngapain repot repot mikirin masa lalu," jawab Satrio dengan santai menanggapi ucapan teman nya itu.
"Haha, yaudah aku duluan ya soalnya istri nunggu dirumah." Menepuk bahu Satrio berpamitan untuk pergi.
"Okee hati-hati." Tersenyum ramah.
"Oke sampe ketemu lagi di lain waktu." menjulurkan tangannya dan bersalaman seraya memeluk.
Di dalam gedung sangat ramai, Satrio pun menyapa beberapa teman teman dan mengobrol, sementara itu Novia duduk di sudut ruangan dan membiarkan Satrio bercengkrama dengan menyapa teman-temannya. Tiba-tiba ada seorang pria menghampiri nya.
"Permisi boleh aku tau siapa namamu?" tanya seorang pria yang menurut Novia tidak asing.
"Em.......aku Novia," jawab Novia dengan ramah dan lembut.
"Oh...Novia sepertinya aku pernah melihat kamu," ujar pria itu dengan yakin.
"Oh ya, Dimana?" tanya Novia penasaran, karena ia pun merasa tidak asing dengan pria tersebut.
"Kamu bukannya mahasiswi jurusan keguruan ya?" tanya nya dengan yakin.
"Kenalin aku Yusuf aku asisten dosen nya pak yuda." Pria tersebut memperkenalkan dirinya kepada Novia.
"Oh...iya aku baru inget, kakak yang waktu itu nganter document pak Yuda ke kelas aku ya pas matkul nya pak Yuda," ucap Novia dengan yakin setelah mampu mengingat pria itu adalah asisten dosennya pak Yuda.
"Iya itu kamu inget." senyum manis.
"Hehe iya aku emang orang nya pelupa kalo gak di ingetin," ujar Novia dengan wajahnya yang sangat imut.
"Kamu kesini sama siapa?" tanya nya penasaran.
"Emmmm........itu.........aku......sama......" ucap Novia dengan ragu-ragu.
"Hey Nov yuk kita pulang,"Ajak Satrio yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Novia.
"Aduh mampus aku ketauan sama anak kampus," batin Novia.
"Em.........iya ayuk," jawab Novia dengan ragu.
"Eh kamu bukannya asisten dosen Yuda kan?" tanya Satrio kepada Yusuf setelah menyadari keberadaan nya.
"Eh iya pak Satrio," jawab nya dengan sopan.
"Kenal sama Novia?" tanya Satrio dengan ramah, namun sebenarnya ia sedang cemburu melihat Yusuf yang mencoba mendekati Novia.
"Enggak kok pak, cuma pernah ketemu aja." jawab Yusuf dengan sangat sopan dan takut membuat dosen nya itu merasa tersinggung.
"Oh......gitu." Seraya mengelus-elus dagunya.
"Emmm.....maaf pak Novia ini?" belum sempat selesai pertanyaan nya langsung dijawab tegas oleh Satrio.
"Emmm Novia adik sepupu saya." Tersenyum.
"Agak lumayan sakit si cuma dianggep adik cuma aku tau pasti maksud nya pak Satrio baik, cuma gamau bikin aku susah nantinya," batin Novia.
"Oh begitu saya kira istri nya pak." Tertawa ringan untuk mencairkan suasana.
__ADS_1
"Kelihatan nya begitu ya?" tanya Satrio dengan tetap tenang dan tersenyum.
"Memang seharusnya begitu," batin Satrio.
"Kalo begitu saya pamit duluan pak sepertinya pak Yuda mencari saya."
"Iya silahkan kami juga mau pulang." Mempersilahkan Yusuf untuk pergi.
Di dalam mobil suasana menjadi hening, hanya ada suara musik yang memecah keheningan di dalam mobil itu. Tiba-tiba Satrio memegang tangan Novia, Novia pun tersentak dari lamunan nya.
"Kamu gak marah kan sayang, aku bilang kamu cuma adik aku?" tanya Satrio dengan lembut.
"Emmm......enggak kok mas aku tau kamu ngelakuin itu untuk kebaikan aku kan, aku justru makasih kamu udah ngelindungin aku." Tersenyum bahagia.
"Makasih ya udah mau ngerti, aku sayang kamu." Tersenyum sembari mengelus kepala Novia.
"Iya mas," jawab Novia lembut seraya tersenyum.
Suasana Tiba-tiba hening untuk beberapa saat.
"Mas, boleh aku nanya sesuatu?" ucap Novia memecah keheningan.
"Tentu boleh dong sayang." Tersenyum.
"Emmm......Hellen itu siapa? "
Satrio pun terkejut mendengar pertayaan dari Novia. Namun, mau tidak mau ia harus menjelaskan yang sebenarnya karena Novia adalah calon istrinya kelak.
"kamu mau tau tentang Hellen?" tanya nya dengan ragu, dan sebenarnya Satrio sudah malas membahas tentang Hellen.
"Iya kalo mas gak keberatan untuk ceritain nya," ucap Novia dengan pasrah.
"Tapi kamu harus janji ya, kamu jangan marah," pinta Satrio karena takut Novia marah atau ngambek dengannya.
"Iya calon suamiku hehe." Tertawa meledek.
"Hem..........pinter gombal." mengelus kepala Novia dengan gemas.
"Kan mas yang ajarin." Mengedipkan mata sebelah menggoda Satrio.
"Ih gemes banget sih kamu." Mencubit pipi Novia.
"Awww....sakit tau, udah buruan cerita," pinta Novia seraya mengelus pipinya yang sakit dicubit oleh Satrio dengan gemas.
"Jadi Hellen itu mantan aku." Sepersekian detik suasana menjadi hening.
"Kamu gak marah kan?" sambung nya.
"Enggak lah mas, semua orang punya masa lalu nya masing masing, jadi ngapain aku marah," jawab Novia dengan tenang dan santai.
Novia tersenyum untuk meyakinkan satrio bahwa ia tidak marah dan tidak masalah dengan mantan nya itu. Tapi satrio mencoba menjelaskan agar Novia tidak salah faham terhadapnya.
"Dia itu pacar aku waktu kuliah dulu di pasca sarjana. Waktu kita sama-sama wisuda dan udah sama-sama jadi dosen aku rencana nya pengen nikah tapi dia nya belum mau karena pengen daftar PNS dulu. Jadi kita sama-sama daftar PNS, akhirnya aku sama dia diterima PNS tapi dia diterima PNS nya di Bengkulu sedangkan aku disini. Kita sempet cek cok besar sebelum pisah sampai akhirnya dia tetap dengan pendirian nya untuk tetep pergi ke bengkulu. Dan sampai sekarang aku sama dia gak saling kontak dan memberi kabar." Menghela nafas.
"Mas maaf aku gak maksud untuk buat mas sedih lagi." Merasa bersalah karena mengorek luka Satrio.
Satrio memegang tangan novia.
"Gak apa-apa kok sayang udah masa lalu juga, yang terpenting sekarang aku sudah punya kamu." Tersenyum.
"Iya mas." Wajah memerah menahan detak jantung yang semakin tidak bisa dikendalikan.
"Hemmm....minggu besok kamu ada acara gak?" tanya nya dengan lembut.
"Gak ada mas, kenapa memangnya?" tanya Novia penasaran.
"Kerumah ibu aku yuk, aku kenalin sama ibu dan adik adik aku," ajak Satrio.
"Hah?" terkejut.
"Kenapa? kamu gak mau?" tanya Satrio heran melihat Novia yang terkejut.
"Bu.... bu......bukan gitu mas, aku takut." Memelankan suara.
"Tenang aja ibu aku baik kok, adik adik aku juga ramah." mencoba meyakinkan Novia.
"Yang bener?" tanya Novia meyakinkan.
"Iya sayang, gimana mau kan?" tanya Satrio meyakinkan.
__ADS_1
"Yaudah minggu besok kita kesana." Tersenyum manis.
Novia pun menyetujui ajakan Satrio yang akan mengajaknya untuk bertemu dengan ibu nya.