Suamiku Adalah Mantan Kekasih Kakakku

Suamiku Adalah Mantan Kekasih Kakakku
Belanja #1


__ADS_3

Ke esokan pagi nya...


"Assalamualaikum, halo ini siapa ya?" tanya Novia heran dengan nomor baru yang masuk ke dalam ponselnya.


"Wa'alaikumsalam, ini ibu sayang," jawab ibu Inggit dengan lembut.


"Ibu inggit?" tanya Novia dengan ekspresi kaget.


"Iya, calon ibu mertua mu," ledek ibu Inggit kepada calon menantunya.


"Oh........hehe maaf bu Novia kaget kirain tadi siapa." Tertawa garing.


"Iya gak apa-apa nak."


"Oh iya.......ada apa ya bu?" tanya Novia penasaran.


"Kamu hari ini kuliah nak?"


"Iya bu nanti jam setengah 11 Novia ada jam kuliah bu, kenapa ya?" tanya Novia heran.


"Hem............. jadi gini, ibu rencana nya mau ajak kamu beli cincin lamaran sekalian beli barang untuk acara lamaran nanti, kemarin kan ibu telfon ayah dan papa kamu supaya acara lamaran kamu dirangkap sama acara seserahan nya biar cepat nikah nya." Terkekeh.


"Hah? kok mas Satrio gak bilang ya sama Novia." Terkejut.


"Ibu juga baru bilang pagi ini sama Satrio."


"Owalah, yaudah bu nanti sekitar jam 1 an aja paling Novia bisa nya."


"Yasudah gak apa-apa nanti ibu bilang sama satrio supaya sekalian bareng kamu dari kampus terus jemput ibu dirumah terus langsung berangkat deh."


"Hehe oke bu siap," ucap Novia patuh.


"Yaudah ibu mau telfon satrio dulu ya sayang."


"Iya bu," jawab Novia.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Novia pun bersiap untuk berangkat ke kampus. Jam menunjukkan pukul 12.00 wib, novia menuju masjid yang ada di kampus nya untuk menunaikan sholat dzuhur. Setelah selesai sholat dzuhur Novia kembali ke prodi nya untuk menemui pak Satrio.


"Novia," panggil Satrio dari dalam mobil.


"Iya pak," jawab Novia spontan saat melihat Satrio dalam mobil yang menghampiri nya.


"Yuk masuk mobil," ajak kekasihnya.


"Tapi pak memangnya kalo Novia masuk disini gak apa-apa?" tanya Novia dengan ragu.


"Ya memang kenapa?" tanya Satrio heran.


"Novia takut di lihat temen Novia," jawab Novia dengan wajah yang celingukan melihat sekitar.


"Yasudah kalo memang kamu takut, kamu bisa naik di kolam dekat taman kampus aja ya, disitu kamu gak terlalu jauh jalannya, dan juga temen kamu gak bakal liat." Tersenyum lembut.


"Iya pak," jawab Novia patuh.


Mereka pun bertemu di kolam dekat taman kampus.


"Kita jemput ibu dulu ya ke rumah."


"Iya pak."


"kok pak si?" tanya Satrio tak terima.


"Lah ini kan masih dilingkungan kampus." Terkekeh.


"Iya juga si ya, tapi kan gak ada yang ngeliat kita sayang." Salah tingkah.


"Tetep aja masih di lingkungan kampus," ledek Novia.


"Iya deh iya." Mengalah.


Keluar dari gerbang kampus.

__ADS_1


"Nah sekarang baru deh bisa panggil mas," goda Satrio.


"Ih dasar." Mencubit pinggang Satrio.


"Aw....... sakit......sakit." Meringis kesakitan.


"Rasain tuh suruh siapa ledekin aku mulu." Memajukan bibir bawahnya.


"Awas kamu ya kalo udah jadi istri aku, aku kelitikin kamu sampe nangis."


"Bodo gak takut ble......" Menjulurkan lidahnya.


"Nah kok nantangin hm.....hem......" Ekspresi gemas mencubit pipi Novia.


"Aduh........aduh mas sakit tau." Meringis kesakitan.


"Suruh siapa nantangin aku." Gantian menjulurkan lidah.


"Dih iseng," ucap Novia dengan kesal


"Biarin," ledek Satrio.


Sesampai nya di rumah Satrio.


"Assalamualaikum ibu," sapa Novia kepada ibu mertuanya


"Wa'alaikumsalam, wah mantu ibu sudah dateng." Dengan wajah yang sumeringah.


Novia mencium tangan ibu Inggit dan berpelukan.


"Gimana bu, sehat?" tanya Novia kepada calon mertuanya.


"Alhamdulillah sehat sayang, kamu gimana kuliah nya lancar?" ucap ibu Inggit dengan penuh kasih sayang.


"Alhamdulillah lancar bu."


"Ini mau sampe kapan ya kangen-kangenannya?" tanya Satrio menyindir ibu dan calon istri nya.


"Ih sirik aja deh." Melirik Satrio.


Di dalam mobil.


"Kok kamu malah duduk di belakang sama ibu si bukan nya duduk di depan aja nemenin Satrio." Memegang tangan Novia.


"Enggak ah bosen hihi, aku mau di belakang aja nemenin ibu." Memeluk ibu Inggit.


"Duh..... duh.......manja nya mantu ibu ini ya," ledek Satrio kepada calon istri nya.


"Ih biarin, sirik aja." Novia menjulurkan lidahnya.


"Ya gak apa apa to, lagian ibu juga dari dulu pengen banget punya anak perempuan tapi sayang nya anak ibu laki laki semua." Tertawa. "Jadi kalo Novia manja sama ibu ya ibu seneng banget." Membalas pelukan Novia.


"Hem..............sayang ibu." Memeluk calon mertuanya.


"Sama aku gak sayang?" tanya Satrio.


"Enggak." tertawa meledek.


"Ih awas aja ya." Satrio menatap tajam melalui kaca tengah.


"Yaudah nih udah awas." Terkekeh.


"Udah kamu nih satrio ngeledek Novia aja." Menepuk pundak anaknya.


"Loh yang ngeledek kan Novia bu." Memasang muka sebal.


"Udah yang bener bawa mobil nya, gak usah gangguin mantu ibu." Memeluk manja menantunya.


"Hm.......memang ya hastag wanita selalu benar." Menggelengkan kepalanya.


"Yuhuuuuuuu," ucap Novia sambil tertawa puas.


Sesampai nya di mall.


"Kita ke toko berlian dulu ya."

__ADS_1


"Loh bu bukan nya ke toko emas ya," ucap Novia bingung.


"Ibu mau yang terbaik untuk calon mantu ibu, ibu mau beliin kamu berlian di toko langganan ibu disana cincin berlian nya bagus bagus," ucap ibu Inggit sembari mengelus kepala menantunya.


"Tapi bu......" ucap nya terbata.


"Ssttt.........gak boleh pake tapi." Menarik tangan novia menuju toko berlian.


Di toko berlian.


"Hai ibu inggit, apa kabar? lama gak ketemu," sapa sang pemilik toko berlian langganan ibu Inggit.


"Alhamdulillah baik, baru juga sebulan gak kesini udah dibilang lama." Seraya menepuk bahu pemilik toko.


"Hehe bagi saya itu lama bu, mau cari cicin kalung atau gelang bu?" tanya sang pemilik toko.


"Saya mau cari cincin."


"Untuk ibu?" tanya sang pemilik toko dengan ramah.


"Bukan, untuk calon mantu saya." Tersenyum.


"Wah....ibu inggit udah mau punya mantu, ini calon nya Satrio?" tarsenyum ke arah Novia.


"Iya alhamdulillah si jomblo akut udah ketemu jodoh nya." Tertawa meledek satrio.


"Ih ibu ini buka kartu aja."


Tertawa bersama.


"Ini bu cocok untuk kulit mantu ibu yang putih." Menyodorkan cincin dan kotak nya.


"Wah bagus banget nih, model nya simpel tapi mewah."


"Ini model terbaru loh bu cuma satu model ini aja, limited edition."


"Coba deh di tangan kamu sayang," ucap ibu Inggit seraya memberikan cincinya kepada Novia.


Novia memasukkan cincin berlian itu ke jari manis nya.


"Wah.......pas," ucap ibu Inggit sumeringah.


"Cocok kan bu saya bilang juga apa pasti cantik kamu yang pake."


"Ini 24 carat kan?" tanya ibu Inggit.


"Ya iya dong buk, biasa nya juga saya selalu kasih ibu 24 carat."


"Berapa harga nya?" tanya ibu Inggit.


"Seratus dua puluh lima juta bu," ucap sang pemilik toko.


Novia terkejut.


"Bu kita beli emas aja ya yang harga nya lebih murah dari berlian," bisik Novia.


"Gak apa-apa sayang, ini bukan apa-apa buat ibu ini tanda terimakasih ibu untuk kamu karena kamu udah ubah pola fikir nya Satrio," bisik ibu Inggit.


Memang sebelum dengan Novia, Satrio sempat frustasi karena gagal menikah dengan mantan kekasih nya itu sampai-sampai ia berniat untuk tidak akan menikah dengan perempuan manapun.


"Pola fikir?" Novia bertanya dalam hati.


"Gak ada discount nih?"


"Yaudah sama ibu inggit mah apa sih yang enggak, saya discount jadi 120 juta ajah deh."


"Oke, saya ambil ya."


"Sebentar ya bu saya bungkus dulu ke kotak," ucap sang pemilik toko.


"Ini bu barangnya ya." Memberikan kotak yang berisikan berlian.


"Saya bayar pake debit kaya biasa nya ya." Mengeluarkan sebuah kartu debit dari dalam dompet mahalnya.


"Oke bu," ucap pemilik toko langganan ibu Inggit.

__ADS_1


Setelah selesai mereka pun mencari barang untuk seserahan.


__ADS_2