
Hari ini adalah hari dimana jadwal Satrio operasi, Novia tak henti-henti nya memanjatkan doa untuk kelancaran dan keselamatan calon suami nya itu. Ibu Inggit dan ketiga adik Satrio pun sudah bersiap sedari pagi untuk memberi semangat kepada Satrio agar tetap kuat menjalani operasi nya, mereka pula tak henti-henti nya berdoa untuk keselamatan Satrio.
"Permisi pak Satrio sudah waktunya di operasi ya," ucap profesor Gunawan.
Semua orang di ruangan itu menjadi tampak tegang dan raut wajahnya berubah menjadi sangat cemas. Mereka mengantarkan Satrio menuju ruang operasi.
"Sayang maaf ya kalo aku ada salah, maaf kalau aku gak bisa memenuhi janjiku untuk menikahi kamu." Tersenyum sayu.
"Mas gak boleh ngomong gitu, mas harus kuat demi aku ya." Memegang tangan Satrio dengan erat dan terus mendampingi nya saat menuju ruang operasi.
Tak begitu lama mereka pun telah sampai di ruang operasi. Perasaan Novia makin tidak karuan jantung nya berdegub kencang cemas dan takut yang hanya bisa ia rasakan saat ini.
"Satrio pamit dulu ya, doa in aku ya." Berbicara kepada keluarganya dan calon istri nya sembari tersenyum damai seperti tidak ketakutan sama sekali.
"Mas, aku sayang kamu." masih memegang tangan Satrio dengan erat.
"Mas juga sayang kamu." perlahan genggaman tangan yang erat itu harus terlepas seiring di dorongnya Satrio menuju ruang operasi.
Begitu pintu operasi ditutup Novia menangis dan merasa ia akan berpisah dengan Satrio. Ibu Inggit yang melihat Novia menangis langsung memeluknya dan menguatkannya.
"Sabar sayang, Satrio akan baik-baik aja kok." Ibu Inggit mengelus-elus kepala calon menantu nya itu dengan lembut.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu kini sudah satu jam Satrio berada di ruang operasi. namun, profesor Gunawan tak kunjung keluar dari ruang operasi itu. Ibu Inggit yang awalnya tampak tenang kini mulai cemas dan gelisah. hingga setelah 2 jam profesor Gunawan keluar dari ruang operasi itu.
"Gimana prof keadaan kakak saya?" tanya Adam begitu profesor baru saja keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Operasi nya berjalan lancar, namun saat ini Satrio sedang dalam masa kritis. untuk itu saya mohon bantuan doa nya semoga kondisi nya kembali stabil," jawab profesor dengan nada yang lemah.
Mendengar hal itu ibu Inggit tidak terlalu cemas, karena walau anaknya itu sedang dalam masa kritis namun ia tetap percaya bahwa anaknya akan segera melewati masa kritis nya seperti sebelum-sebelumnya. Yang terpenting bagi Ibu Inggit operasi anaknya berjalan lancar ia akan terus berdoa agar anaknya kembali stabil. Berbeda dengan Novia, ia kembali menangis dan kaki nya lemas tak berdaya.
Melihat calon kakak ipar nya mulai drop dengan sigap ketiga adik Satrio itu pun langsung membantu nya untuk duduk dan memberikan nya minum, tak lupa mereka juga memberikan semangat dan meyakinkan Novia bahwa kakak mereka akan baik-baik saja. mendengar calon adik-adik ipar nya yang mencoba untuk meyakinkan nya Novia menjadi sedikit tenang dari sebelum nya.
Setelah satu jam akhirnya Satrio dipindahkan ke ruang ICU. Ibu Inggit mencoba masuk ke dalam ruangan itu untuk memberikan semangat kepada anaknya, walau ia tau anaknya tak akan merespon nya.
"Sayang, bangun ya kasian calon istri kamu nungguin kamu sampai dia drop seperti ini." Ibu Inggit tak kuasa menahan air matanya.
"Ibu sayang kamu, adik-adik kamu juga sangat sayang sama kamu dan calon istri kamu masih setia menunggu kamu di luar dengan keadaan yang sudah lemah." Ibu Inggit memegang tangan anaknya itu dan tak kuasa membendung air matanya itu hingga akhirnya ia menangis sesegukan.
"Ibu gak mau kamu seperti ayah kamu yang meninggalkan ibu, ibu sudah cukup kehilangan orang yang sangat ibu sayang, tolong jangan sampai ibu merasakan nya lagi ya nak." Mengelus kepala Satrio yang diperban pasca operasi.
Begitu pula dengan ibu Inggit, ia yang sedari kemarin tampak tenang kini menjadi benar-benar panik. Vano dan Idris mencoba menenangkan ibunya dan juga Novia. sedangkan itu Adam dan profesor Gunawan sedang berjuang demi keselamatan Satrio. berbagai upaya dilakukan oleh Adam dan profesor Gunawan agar detak jantung Satrio kembali stabil namun usaha itu hanyalah sia-sia setelah setengah jam berjuang profesor Gunawan menyerah dan tak mampu berbuat apa-apa lagi.
"Dam maafkan saya, kita sudah berusaha semampu kita. tapi sepertinya memang ini jalannya, kamu yang kuat ya." Profesor Gunawan memeluk Adam dan mencoba menenangkan nya saat ia menangis sesegukan.
"Kak, maafin adam ya adam gak becus dan gak bisa selametin kakak." Menangis memeluk tubuh kakaknya yang sudah tak bernyawa lagi.
Sementara itu profesor Gunawan keluar untuk memberitahukan kepada keluarga nya bahwa Satrio tidak bisa diselamatkan.
"Gimana dok keadaan kakak saya?" tanya Vano langsung saat profesor Gunawan baru keluar dari ruangan ICU.
"Maaf, kami tidak biaa menyelamatkan Satrio. saya dan Adam sudah berusaha, tapi tuhan berkehendak lain," ucap profesor Gunawan dengan wajah sedih dan penuh penyesalan.
__ADS_1
Novia yang mendengar hal itu langsung lemas kaki nya tak mampu lagi menopang badan nya air matanya tak henti meneteskan merasakan sesak di dada nya, ia masih tak percaya lelaki yang begitu dicintainya meninggalkan nya untuk selamanya. Novia terus menangis dan pandangan nya mulai kabur dan akhirnya ia jatuh pingsan dipelukan Vano. sedang ibu Inggit hanya bisa duduk terdiam tanpa sepatah kata apapun air mata nya terus mengalir, ia harus merasakan untuk kedua kalinya kehilangan orang yang sangat ia sayangi.
ibu Inggit langsung masuk ke dalam ruangan Satrio dan langsung memeluk Satrio dengan erat. adam yang melihat ibunya sangat rapuh mencoba menguatkan nya. sedangkan Novia dibawa oleh Vano ke UGD untuk ditangani karena kondisi nya yang sudah sangat lemah. Vano yang melihat kondisi nya menjadi seperti ini sedih dan ia hanya bisa menangis seakan tak percaya kakak yang sangat ia sayangi harus pergi untuk selama-lamanya. tak selang begitu lama Novia pun sadar dari pingsan nya, kondisi nya pun masih sangat terguncang.
"Mas." Novia memanggil panggilan sayang nya itu untuk Satrio seraya menangis dan sangat terpukul.
"Iya kak, ini vano ada disini. kakak mau apa?" tanya Vano yang sedari tadi menjaga Novia.
"Aku mau ketemu mas Satrio." Novia langsung beranjak dari ranjang tempat ia dirawat.
"Tapi kak, kakak masih lemah disini aja dulu ya abisin infusnya." Mencoba menahan Novia.
"Enggak aku mau liat mas Satrio." Seraya menarik selang infus yang terpasang ditangan nya.
"Kak tenang dulu ya, ia aku akan antar kakak kesana tapi kakak tenang dulu kakak harus kuat ya." Peluk Vano sembari menguatkan dan menenangkan Novia.
Novia pun akhirnya diantarkan ke ruang ICU tempat Satrio terakhir dirawat. begitu sampai diruangan nya ia langsung memeluk tubuh Satrio yang sudah tidak bernyawa lagi dengan sangat erat. seakan ia tak mau untuk ditinggalkan kekasihnya itu.
"Mas!!! bangun," teriak Novia yang histeris.
Sedang ibu Inggit juga tumbang dan langsung dibawa ke ruang UGD untuk mendapatkan perawatan oleh dokter, ibu Inggit diantar oleh Adam dan Idris ke ruang UGD.
"Mas, kamu jahat !!! kenapa kamu tinggalin aku !!! kamu janji kita akan hidup sama-sama." Novia masih terus saja histeris.
Vano yang melihat Novia seperti itu hanya bisa menangis, ia sudah tak sanggup lagi untuk menguatkan Novia karena sejujurnya ia juga sangat terpukul dan sedih karena kehilangan kakaknya.
__ADS_1