
Jam menunjukkan pukul 05.00 wib.
Hari ini Novia libur karena dosen mata kuliahnya sedang keluar kota. Novia mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat subuh. Selesai sholat subuh Novia berbaring di kasur dan masih menggunakan mukena. Tiba-tiba handphone nya berbunyi.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam mas, ada apa kok tumben subuh-subuh telfon."
"Enggak, cuma iseng aja cek hp kok kmu online wa nya jadi aku telfon deh."
"Owalah kirain ada apa."
"Enggak kok,, kamu udah sholat subuh?" tanya Satrio dengan lembut.
"Sudah mas."
"Alhamdulillah kalo sudah."
"Iya....... mas udah sholat subuh? "
"Sudah."
"Oh iya,, nanti kita berangkat jam berapa ya mas? "
" Oh iya aku lupa bilang sama kamu, aku jam setengah 8 sampai jam 9 masih ngajar di kampus kita berangkat nya jam sepuluhan aja ya."
"Oh....... iya mas gak apa-apa kok itu kan udah jadi tanggung jawab mas buat ngajar."
"Iya....... makasih ya udah mau ngertiin aku." Tersenyum.
"Yaudah gih sana siap siap ntar telat loh."
"Oke deh siap ibu negara," ledek Satrio.
"Ibu negara?"
"Ya iyalah, kamu ibu negara aku setelah ibuku." Tertawa.
"Ih.........dasar."
"Yaudah aku siap siap dulu ya."
"Iya mas."
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Tut........ tut..............tut
Pagi harinya, Novia membereskan rumah dan meninta izin kepada orang tua nya untuk pergi membeli baju untuk acara lamaran nya. Setelah meminta izin Novia bergegas membersihkan rumah nya dan bersiap-siap. Sementara itu pak Satrio sedang mengajar adik tingkat nya Novia. Setelah selesai mengajar satrio pun langsung bergegas menjemput Novia.
Tok..... tok...... tok...
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, eh nak Satrio silahkan masuk." Nada bicara yang lebih ramah dari sebelum nya.
"Iya bu, terimakasih."
"Tunggu ya nak ibu panggilkan Novia dulu, dia tadi lagi dandan."
"Iya ibu." Tersenyum.
.
Ibu novia pun memanggil novia yang sedang bersiap-siap di dalam kamarnya.
"Nov.........." Panggil ibu Novia dari luar kamar.
"Iya bu," sahut Novia dari dalam kamarnya.
"satrio udah dateng tuh, nungguin kamu di ruang tamu."
"Oh........... iya bu ini Novia udah selesai kok dandan nya."
"Yaudah ibu mau ke tempat mama dulu ya, dirumah ada kak mutia kok jadi gausah di kunci pintu nya."
"Iya bu."
Setelah selesai berdandan Novia pun menghampiri pak Satrio yang sudah sedari tadi menunggu Novia di ruang tamu.
"Eh mas maaf ya nunggu lama."
Satrio bengong memandangi Novia yang cantik di poles oleh make up natural.
"Hey mas." Mencoba menyadarkan Satrio dari lamunan nya.
"Eh iya...... kenapa?" tersentak.
"Ih bengong."
__ADS_1
"Kamu cantik banget."
"Gombal banget deh."
Wajah Novia Tampat memerah menahan malu karena di goda oleh Satrio.
"Ih beneran."
"Yaudah yuk berangkat."
"Ayuk."
Di perjalanan mereka saling diam dan suasana menjadi sangat hening tak ada suara musik hanya ada suara mesin mobil yang sangat lembut menyala.
"Sayang." Mencoba memecah keheningan.
Novia yang sedari tadi melamun tersentak oleh panggilan Satrio.
"Eh.......... iya mas," seraya membetulkan posisi duduknya.
"Are you okay?"
"Oke kok mas"
"Are you happy?" tanya Satrio meyakinkan.
"I'm happy," jawab Novia seraya tersenyum bahagia.
"Terus kenapa ngelamun?"
"Aku cuma masih gak nyangka kok bisa ya aku nikah sama dosen aku sendiri." Tersenyum.
Satrio memegang tangan Novia dan melempar kan senyum manis nya.
"Semua itu udah ada skenario nya sayang."
Novia mengangguk sembari tersenyum.
"Abis kita cari baju gimana kalo kita makan ke resto kesukaan kita."
"Iya mas." Tersenyum.
Sampai di mall Novia dan Satrio menuju toko yang menjual gaun dan untuk lamaran. Sesampai nya di toko mereka memilih milih baju yang cocok untuk Novia.
"Mas ini kaya nya bagus deh."
"Yaudah kamu ke ruang ganti coba baju nya."
Novia tampak cocok menggunakan gaun itu.
Novia pun keluar dari ruang ganti untuk menunjukkan nya kepada Satrio.
"Gimana mas, bagus? cocok gak di aku?"
Hanya bisa bengong melihat kecantikan Novia yang terpancar pada saat menggunakan gaun itu.
"Mas?"
"Eh......iya bagus, bagus banget."
"Serius? "
"Iya kamu cantik banget pake gaun itu, kamu ambil yang itu aja ya bagus banget soalnya di badan kamu cocok."
"Hmmm........ iya mas, aku ganti baju lagi ya."
"Iya."
Ketika berganti baju novia penasaran melihat harga dari baju itu. Ketika dilihat Novia terkejut karena di bandrol harga nya Rp. 10.000.000.
"Hah gila ini baju mahal banget, duh gausah beli yang ini deh cari yang lain aja deh yang lebih murah," gumam Novia dengan suara hampur tak terdengar.
Novia keluar dari ruang ganti, langsung menghampiri Satrio yang kebetulan sendang duduk sendirian di kursi sofa.
"Mas aku gak jadi ngambil baju itu deh." Bisik Novia.
"Loh kenapa? kaya nya tadi kamu suka." Merasa heran.
"Iya aku emang suka, tapi harga nya mahal banget mas aku takut ngerepotin mas dan keluarga mas."
"Kamu ini." Tertawa kecil.
"Ish mas kok malah ketawa sih."
"Ambil aja kalo emang kamu suka, gausah ngeributin harga. Pokoknya apapun yang buat kamu bahagia aku akan kasih buat kamu." Memegang tangan Novia dan tersenyum manis.
"Tapi........ mas."
"Ambil sayang." Tersenyum manis.
Novia berganti baju kembali dan duduk menghampiri Satrio. Novia masih duduk dan terdiam di samping Satrio . Melihat Novia yang hanya duduk terdiam Satrio pun langsung bediri menuju kasir.
__ADS_1
"Mba saya mau bayar baju yang tadi di coba sama calon istri saya." Tersenyum.
"Iya pak."
Novia hanya bengong melihat tingkah Satrio yang tanpa basi-basi langsung.
"Berapa totalnya? "
"Sepuluh juta rupiah pak," Ucap sang kasir toko baju itu.
"Saya bayar pake debit ya."
"Oh iya mas silahkan."
"Ini barangnya ya mas, terimakasih." Tersenyum.
"Oke sama-sama." Tersenyum balik.
"Ya tuhan ganteng banget ini cowo, perhatian lagi sama calon istri nya, kalo ada lagi yang kaya gini sisahin satu untuk aku ya tuhan" batin si kasir toko itu.
Satrio menghampiri Novia.
"Ayuk, apa kamu mau nginep disini? " ledek Satrio.
"Eh............ enggak." Langsung berdiri dan menggandeng tangan Satrio
Di parkiran mall.
"Mas."
"Iya sayang."
"Mas gak beli baju sekalian? "
"Hmmm.......... enggak."
"Loh kok enggak? jangan bilang karena beliin baju buat aku ya uang mas jadi abis gak bisa beli baju?" muka polos.
"Ya enggak lah sayang, baju aku itu udah disiapin sama ibu." Tertawa lepas melihat ekspresi Novia yang sangat lucu.
"Hehe maaf mas kirain kan abis baju yang mas beliin buat aku tadi mahal banget."
"Kamu itu lucu ya." Terkekeh.
Novia hanya nyengir dan menahan malu karena sudah salah bicara.
"sayang."
"Iya mas? "
"Aku gak tau kenapa aku bisa bener bener sayang sama kamu, tapi intinya aku takut buat kehilangan apalagi kamu pergi jauh dari aku."
"Kok mas ngomong nya gitu si."
"Gak apa-apa aku cuma pengen kamu tau aja kalo aku sayang banget sama kamu." Tersenyum.
"Iya mas aku juga."
"Juga apa? "
"Ih enggak." Pipi memerah menahan malu.
"Gak apa-apa ngomong aja." Tersenyum.
"Enggak kok lupain aja." Menahan malu.
"Aku gak pernah loh denger kamu bilang sayang ke aku, coba aku mau denger," ledek Satrio.
"Ih apaan si mas, malu." Memasang wajah yang imut.
"Gak usah malu dong, aku ini calon suami kamu loh."
"Iya tapi malu." Wajahnya tampak memerah.
"Ayo dong, untuk pertama kali nya dan untuk yang terakhir kalinya juga gak apa-apa," rayu satrio.
"Ih mas kok ngomong nya gitu si."
"Ya abis kamu mau bilang sayang ke calon suami sendiri aja malu." Tersenyum.
"Hem............... mas"
"Iya sayang."
"Aku sa............. sayang banget sama kamu."
"Em......................gemesssss." Mencubit pipi Novia.
"Aww sakit tau."
Tertawa bersama.
__ADS_1