Suamiku Adalah Mantan Kekasih Kakakku

Suamiku Adalah Mantan Kekasih Kakakku
Bertemu Ibu Mertua #1


__ADS_3

Minggu pagi.


"Nov," panggil ibu Dewi kepada anaknya.


"Iya bu," jawab Novia seraya mendekati ibunya.


"Hari ini ibu ada acara arisan sama temen temen ibu pulang nya agak sore. Tolong kmu beresin rumah ya, kakak mau main sama pacarnya." Seraya memeriksa tas branded nya.


"Iya bu, oh ya bu nanti Novia mau izin pergi." Meminta izin dengan wajah lugu nya.


"Sama Satrio?" tanya ibunya menebak.


"Iya bu, rencana nya nanti pak Satrio mau ajak Novia kerumah ibu nya." Dengan nada lirih.


"Hem, yaudah pergilah tapi beres beres rumah dulu ya." Perintahnya seraya berkaca di cermin yang ada di ruang keluarga.


Kini ibu Novia tampak baiasa saja melihat kedekatan anak nya dengan Satrio, karena hal yang ia inginkan tidak disukai oleh anak kesayangan nya Mutia. Ibu Dewi bisa dibilang sangat memanjakan Mutia, apapun yang Mutia mau pasti akan diwujudkan oleh ibunya. Sedang Novia kalau meminta apapun atau memiliki barang apapun harus rela mengalah dan bersabar untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, tidak jarang juga ia harus menabung sendiri padahal ibu dan ayahnya mampu membelikan hal yang Novia inginkan namun ibu dan ayahnya selalu memprioritaskan keinginan Mutia.


"Iya bu"


"yaudah ibu berangkat dulu ya, nanti pergi pintu jangan lupa di kunci, titipin kuncinya di rumah mama "


"Iya bu," jawab Novia patuh.


Novia pun membereskan rumah nya.


setelah selesai membereskan rumah nya iya pun bersiap-siap mandi, berganti baju, sholat dan berdandan. Jam menunjukkan pukul satu siang.


"Tok.....tok.....tok." Terdengar ketukan pintu.


"Assalamualaikum." Terdengar suara Satrio mengucapkan salam.


"Wa'alaikumsalam," jawab Novia dari dalam rumah seraya berjalan untuk membukakan pintu.


Saat Novia membuka pintu, Satrio bengong dan memandangi Novia yang sangat cantik dengan polesan make up yang terlihat natural.


"Hey, kok bengong si mas." Mengibas-ngibaskan tangan nya di depan wajah Satrio.


"Kamu cantik banget sayang," ujar Satrio dengan lekat memandangi kekasihnya yang imut itu.


"Ih gombal." Mencubit pinggang Satrio gemas.


"Aww ih beneran, kamu cantik banget." Meringis kesakitan.


"Udah ah yuk, eh mau masuk dulu gak?" tanya Novia dengan sikap nya yang manis.


"Enggak usah, kita langsung berangkat aja ya ibu udah nunggu dirumah," pinta Satrio kepada Novia karena ibunya sudah tidak sabar bertemu calon menantunya.


"Yaudah yuk, aku kunci pintu dulu ya," ucap Novia dengan imut.


"Iya sayang," sahut Satrio seraya bergegas membukakan pintu mobil untuk Novia.


Sebelum mereka pergi, Novia terlebih dahulu menitipkan kunci rumahnya di rumah mamah angkat nya. Setelah itu barulan mereka pergi kerumah ibu Inggit. Di dalam mobil Novia hanya tampak diam tak bicara sepatah kata pun, lalu Satrio mengajak nya bicara untuk memecah keheningan di dalam mobil itu.


"Hey, kenapa kok diem aja?" tanya Satrio seraya menoleh kearah kekasihnya.


"Gak apa-apa mas, cuma sedikit gugup aja." beberapa kali mengela nafas dan terlihat berkeringat padahal Novia berada di dalam mobil yang ber AC.


"Jangan gugup, ibu aku gak galak kok." Meraih tangan Novia dan menggenggam nya.


"Iya tapi tetep aja gugup mas." Meremas rok nya menahan detak jantungnya yang sudah tak aman.


"Jangan gugup ya, tenang aja ada aku kok." Tersenyum sembari mengelus punggung tangan Novia untuk menenangkan kekasihnya itu supaya tak gugup.


"Iya mas." Tersenyum.


Mobil pun berjalan dengan kecepatan sedang. Sesampai di rumah ibunya Satrio Novia dibuat terkejut, dia hanya bisa bengong ketika melihat rumah megah bergaya eropa dengan cat putih emas yang berdiri kokoh. Halaman yang begitu luas dan taman yang begitu indah dihiasi bunga-bunga tulip yang cantik. Novia menjadi tambah gugup sekaligus minder mengingat ia yang hanya berasal dari keluarga yang tidak sebanding dengan Satrio.


Satrio membukakan pintu mobil untuk Novia dan menyodorkan lengan nya, meminta agar di gandeng. Novia menggandeng lengan Satrio.


"Assalamualaikum, bu Satrio pulang bawa calon mantu nih," ucap Satrio meledek seraya menggandeng Novia ke dalam rumah ibunya.


"Ih mas." Mencubit pinggang Satrio seraya menahan rasa canggung nya.


"Wa'alaikumsalam, eh calon mantu ibu udah dateng," Ucap Ibu inggit dengan ramah kepada Novia.


Novia bersalaman dan dipeluk oleh ibunya Satrio. Ibu nya Satrio begitu ramah dengan Novia, Novia sangat senang karena disambut dan diterima dengan sangat baik di keluarga nya Satrio.


"Apa kabar bu? sehat?" tanya Novia dengan canggung.

__ADS_1


"Alhamdulillah nak, sehat," jawab Ibu inggit seraya merangkul Novia.


"Yaudah yuk nak masuk." Merangkul Novia mengajak nya ke ruang keluarga.


Begitu masuk rumah Satrio, Novia benar-benar tercengang melihat rumah mertua nya itu yang super megah bergaya eropa dan funiture nya semua dari kayu-kayu yang tak murah. Lampu-lampu kristal yang sangat besar menghiasi setiap ruangan dan aksesoris rumah yang semua nya terlihat sangat mahal dan Novia belum pernah menjumpai nya di rumah-rumah megah manapun, sepertinya barang-barang milik ibunya Satrio itu limited edition.


"Ini kenalin adek-adek aku," ucap Satrio dengan manisnya.


"Hi aku devano panggil aja Vano," ucap Vano dengan ramah.


"Hi aku Idris," ucap Idris dengan ramah.


"Hi kak, aku Adam." Memperkenalkan dirinya dengan ramah pula.


"Iya aku Novia , panggil aja Novia," ucap Novia dengan canggung.


"Wah calon istri kakak cantik juga, pinter banget milih calon istri nya," ucap Idris sengaja meledek kakaknya.


"Iyalah calon istri nya siapa dulu." Dengan percaya diri dan bangga nya.


"Dih.........kepedean," sahut Adam seraya terkekeh melihat tingkah laku kakaknya.


"Yaudah yuk makan, ibu udah masakin buat calon mantu ibu." Menggandeng Novia dan mengajaknya ke meja makan.


"Calon mantu aja nih, kita anak anak nya enggak?" tanya Satrio meledek ibunya.


"Iya ibu nih jadi lupa sama kita," ucap Adam memperjelas pertanyaan kakaknya.


"Kan kalian udah sering ibu masakin jadi sekarang gantian dong, sekali kali ibu masakin buat mantu ibu ini." Tersenyum bahagia.


"Iya iya bu, yaudah yuk kita ke meja makan," jawab Vano sebagai penengah.


Mereka pun makan sambil berbincang bincang sedikit. Selesai makan, mereka duduk duduk di ruang keluarga yang sangat lebar.


"Novia yuk ikut ibu, ibu mau ajak kamu keliling liat rumah, sekaligus ibu mau ngobrol berdua sama kamu," ajak Ibu Inggit.


"Bu aku gak diajak?" tanya Satrio dengan tampang sedih.


"Enggak, kamu tunggu sini sama adik-adik kamu ibu mau berdua aja sama calon mantu ibu." Meledek sembari merangkul Novia.


"hem.......yaudah tapi calon istri aku jangan di apa-apain ya bu?"


"Enggak ibu apa apain lah mau ibu apain juga, orang cuma mau ngobrol aja kamu itu terlalu overthinking sama ibu. " Terkekeh.


Ibu dan novia berjalan keliling rumah. Novia melihat halaman belakang yang sangat luas dan hijau.


"Bu itu apa ya bagus banget ada danau nya?" tabya Novia dengan heran.


"Itu lapangan golf," Jawab ibu inggit menjelaskan.


"Hah? lapangan golf pribadi, berasa minder banget lama lama ada di keluarga ini," batin Novia.


"Memangnya siapa bu yang suka bermain golf?" tanya Novia dwngan iseng.


"Dulu waktu si Satrio masih SMA, dia suka banget main golf sama ayahnya." Wajah sedih.


"Maaf bu Novia gak maksud buat ibu jadi sedih." Memegang pundak ibu.


"Iya gak apa apa kok nov, ibu sudah ikhlas." Tersenyum sembari memegang tangan Novia yang ada di pundak nya.


"Bu, itu lapangan apa?" menunjuk lapangan tanpa rumput.


"Oh......itu lapangan berkuda," jawab ibu Inggit dengan santai.


Lagi-lagi Novia dibuat terkejut.


"Jangan bilang abis ini ada lapangan buat pendaratan heli, bisa jantungan lama lama gue disini kaget mulu." Dalam hati Novia.


"Kamu mau coba berkuda?" tanya ibu Inggit menawarkan.


"Enggak bu, gak usah aku takut jatuh." Tersenyum malu.


"Hehe kamu sama seperti ibu, ibu juga walaupun ada lapangan berkuda tapi enggak pernah naik kuda nya." Tertawa.


"Ibu juga takut jatuh?" tanya Novia seraya terkekeh.


"iya."


Mereka tertawa bersama.

__ADS_1


"Yuk kita duduk di teras belakang," ajak ibu inggit kepada


Ibu inggit mengajak Novia untuk duduk diteras belakang, disana suasana nya sangat sejuk karena di depan teras nya adalah lapangan golf, pepohonan hijau dan danau.


"iya bu"


Mereka pun duduk diteras itu sembari menikmati segar nya udara dan suasana yang tenang.


"Bik.....," panggil ibu Inggit kepada art nya.


"Iya bu," jawab asisten rumah tangga nya.


"Tolong buatin minum ya buat saya dan Novia."


"Baik bu."


Asisten rumah tangga ibu inggit pun pergi ke dapur untuk mengambilkan minum untuk Ibu Inggit dan Novia.


"Nov, ibu berterima kasih sekali sama kamu karena kamu sudah mau menerima anak ibu."


"Ibu jangan bilang begitu, seharusnya Novia yang berterimakasih sama keluarga ini karena sudah mau menerima Novia dan memperlakukan Novia dengan baik sekali." Tersenyum.


"Oh iya kamu bisa masak?" tanya ibu Inggit.


"Bisa bu," jawab Novia dengan senyuman manis ciri khas nya.


"Oh ya, sebenernya kalo kamu gak bisa masak juga gak apa apa, toh nanti juga ada bibik yang bisa masak."


"Novia dari SMP sudah diajarin masak bu sama ibu Novia, jadi Novia juga terbiasa untuk masak dan bikin kue."


"Kamu bisa bikin kue?" tanya ibu Inggit dengan senang.


"Bisa bu," jawab Novia dengan penuh kasih sayang.


"Wah kebetulan sekali ibu suka makan cake sama puding coklat, nanti kapan kapan buatkan buat ibu ya."


"Iya bu, siap."


Mereka bersenda gurau, saling bertukar cerita satu sama lain.


"Bu, ini minum nya silahkan mba Novia diminum."


"Iya bik terimakasih." Tersenyum ramah.


"Ibu tu seneng banget kamu main ke sini, maklum ibu gak punya anak perempuan jadi suka kesepian deh."


"Loh memang nya mas Satrio dan adik adik nya jarang pulang ya bu?" tanya Novia heran.


"Kalo satrio sudah punya rumah sendiri, memang nya kamu belum pernah diajak ke rumahnya?" tanya ibu Inggit.


"Belum bu."


"Yasudah nanti biar ibu yang suruh Satrio ajak kerumah nya, gimana si Satrio ini punya calon istri masa gak pernah di ajak main kerumah nya."


"Iya bu." terkekeh mendengar keluh kesah mertuanya.


"Ya beginilah, kalau sore ibu biasa duduk disini, sering kesepian karena anak-anak ibu sibuk semua, makanya ibu seneng banget kamu main kesini."


"Ibu tinggal dirumah sendirian?" tanya Novia.


"Enggak, ada si Idris sama Adam."


"Vano?"


"Vano sama seperti Satrio dia sudah punya rumah sendiri."


"Hem........begitu." Mengangguk paham.


"Yah, walaupun mereka tinggal disini juga ibu tetep aja kesepian."


"kok begitu bu?" tanya Novia heran.


"Mereka pergi kerja pagi pulang malam, itulah kenapa ibu sering merasa kesepian." Ibu Inggit menyampaikan keluh kesah nya.


"Ibu tenang aja nanti sering sering Novia temenin ibu, biar ibu gak kesepian." Tersenyum.


"Makasih ya nov, ibu tu seneng banget punya menantu ramah kaya kamu." Senyum lebar.


"Ih ibu bisa aja." tertawa bersama.

__ADS_1


__ADS_2