
Tak terasa hari pun sudah sore, matahari mulai tenggelam. Novia masih saja menjaga Satrio seakan-akan ia tak mau meninggalkan kekasih nya itu. Tiba-tiba dokter dan keluarga Satrio memasuki ruangan ICU tempat Satrio dirawat.
"Permisi, pak Satrio bisa pindah ya ke ruang rawat karena kondisi nya sudah stabil," ucap prof Gunawan dan tersenyum ramah.
"Baik dok," jawab Satrio dengan suara lirih nya.
"Alhamdulillah Nov Satrio sudah stabil kondisi nya," ucap ibu Inggit kepada Novia dengan mata yang berkaca-kaca seraya memeluk Novia.
"Alhamdulillah ya bu." Novia pun meneteskan air matanya.
Satrio pun dipindahkan ke ruang rawat inap karena kondisi nya yang sudah lumayan stabil. Jadwal operasi Satrio di undur menjadi lusa mengingat banyak yang perlu di persiapkan oleh prof Gunawan dan pihak rumah sakit, agar operasi nya berjalan lancar tanpa ada kemungkinan buruk apapun.
Satrio kini sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, Novia tetap berada di samping Satrio tak ingin sedikitpun meninggalkan kekasih nya itu. Sementara itu Ibu Inggit pulang ke rumah di antarkan oleh Vano, mengambil beberapa keperluan untuk Satrio. Sedangkan Adam sedang bertugas di rumah sakit itu.
"Mas," panggil Novia kepada Satrio dengan suara lembut.
"Iya sayang." Tersenyum dengan wajah yang sayu.
"Makan dulu ya Novia suapin, besok sore kan mas udah mulai disuruh puasa sama dokter. Soalnya pagi nya kan mas mau di operasi." Novia menawarkan dengan nada yang lembut.
"Iya sayang," ucap Satrio patuh.
Novia menyuapi Satrio dengan penuh ketelatenan. Setelah selesai makan Novia memberikan minum kepada Satrio. Namun, saat memberikan minum Satrio tersedak dan batuk-batuk.
"Mas, maaf ya mas Novia ngasih minum nya gak hati-hati." Wajah sangat merasa bersalah.
"gak apa-apa sayang ini bukan salah kamu, uhukkk........uhukkkkk." Satrio terus saja batuk hingga dia terasa ingin muntah dan dia memuntahkan di tanganya.
"Mas.........mas gak papa? sebentar aku ambil tissu," tanya Novia dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
Novia memberikan tissu nya kepada satrio untuk mengelap tangan nya. Novia terkejut air mata nya jatuh tanpa komando dan kaki nya langsung gemetar ketika melihat tangan dan mulut Satrio dipenuhi oleh darah.
"Mas," teriak Novia dengan cepat langsung membersihkan tangan dan mulut Satrio yang dipenuhi darah.
Setelah selesai membersihkan darah nya Novia langsung dengan cepat ingin memanggil dokter. Namun tangan Novia ditahan oleh Satrio.
"Sayang mau kemana." Memegang tangan Novia agar tidak pergi meninggalkan nya.
"Aku mau panggil dokter mas." Dengan raut wajah yang khawatir dan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Gak usah ya, kamu disini aja nemenin aku," pinta Satrio dengan suara berat nya.
"Tapi mas aku gak mau kamu kenapa-napa." Kembali duduk dan menangis.
"Aku gak apa-apa sayang." Mencoba bangun dan langsung memeluk Novia.
"Aku sayang kamu mas, aku gak mau kehilangan kamu, aku gak sanggup mas." Memeluk erat Satrio dan menangis tersedu-sedu.
"Aku juga sayang banget sama kamu." Memeluk erat Novia.
Satrio tak mampu membendung air mata nya, namun ia harus tetap kuat. Satrio mencoba menenangkan Novia dengan mengelus punggung Novia dan berkata bahwa dia sayang dengan Novia dan dia baik-baik saja.
Setelah menangis cukup lama, kini Novia duduk di samping Satrio dan terus memegang tangan Satrio.
"Mas, mas mau minum?" tanya Novia dengan mata yang masih sembab.
"Iya, aku haus banget." Seraya memegang lehernya yang terdengar serak.
Novia memberikan minum dengan sangat hati-hati, karena ia takut Satrio tersedak lagi. Setelah memberikan minum kepada Satrio, Novia kembali memegang tangan Satrio dipandang nya kekasihnya itu dengan lekat. Hingga tak terasa akhirnya waktu magrib pun tiba.
"Mas, Novia mau ambil wudhu dulu ya mau sholat magrib," pungkas Novia.
"Mas dulu ya yang sholat nanti baru kamu," pinta Satrio.
Setelah Satrio selesai sholat, kini bergantian dengan Novia yang sholat. Setelah selesai sholat Novia membaca ayat-ayat Al-Qur'an beberapa menit, hingga tak terasa Satrio pun tertidur mendengar merdu suara lantunan ayat Al-Qur'an yang terucap dari bibir Novia.
"Eh, mas udah tidur," Gumam Novia sambil tersenyum melihat calon suami nya yang tertidur pulas.
Novia pun membaringkan kepala nya di tepi ranjang Satrio. Dan mungkin sangking lelahnya ia menangis sampai-sampai ia ikut ketiduran di samping Satrio. sekitar satu jam lebih Novia terbangun terkejut mendengar suara ibu Inggit dan adik-adik satrio yang datang. Sebenarnya ibu Inggit tak ingin membangunkan Novia, namun saat itu Vano dan Idris berisik hingga membuat Novia terbangun. Novia terlalu sensitif kalau mendengar suara yang agak ramai.
"Eh, ada ibu." Mencoba membuka matanya yang sudah sangat sembab karena terlalu banyak memangis.
"Maaf ya sayang, ibu sebenarnya gak mau kamu bangun. Karena ibu tau kamu pasti capek banget jagain Satrio." Mengelus pundak Novia dengan lembut.
"cuma ini ni dua anak ini ribut banget suara nya." Mencubit satu persatu pinggang Idris dan Vano.
"Aduhh....... duh..... bu kok aku si yang ribut kan Idris," jawab Vano sembari meringis kesakitan.
"Ih apaan si orang kak Vano juga yang ribut duluan," ujar Idris dengan muka tak terima.
__ADS_1
"Udah-udah orang juga udah pada besar tapi masih suka ribut," ujar ibu inggit seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua putra nya.
"Satrio tidur nov?" tanya ibu Inggit.
"Iya bu tadi pas Novia lagi ngaji, eh tau-tau dia udah tidur." Tersenyum.
"Syukur deh, biarin aja dia istirahat. awas ya kalo sampe kakak kalian bangun karena suara berisik dari kalian ibu sentil ginjal kalian." Ibu inggit memarahi Vano dan juga Idris.
Novia hanya terkekeh melihat ibu Inggit yang memarahi Vano dan Idris. Setelah memarahi Idris dan Vano ibu Inggit mengajak Novia mengobrol di luar. merekapun duduk di kursi depan ruangan Satrio.
"Sayang kamu mau nginep sini jagain Satrio?" tanya ibu Inggit kepada calon mantu nya seraya mengelus pundak nya.
"Iya bu, Novia mau disini jagain mas Satrio," jawab Novia dengan suara yang masih lemas.
"Udah izin belum sama ayah ibu kamu?" tanya ibu Inggit memastikan.
"Sudah bu tadi pas Novia berangkat Novia udah bilang mau nginep rumah sakit," ujar Novia menjelaskan.
"Yasudah kalo kamu mau jagain Satrio disini, ibu akan pulang nanti, karena yang jaga hanya boleh satu orang." Mengelus punggung Novia.
"Oh hanya boleh satu orang ya bu? aku fikir ibu juga akan disini nemenin mas Satrio."
"Enggak sayang, peraturan dari rumah sakit nya begitu." Berbicara dengan sangat lembut.
"Hem.......kalo ibu mau nemenin mas Satrio gak apa-apa kok bu, Novia nanti pulang aja." Novia memilih untuk mengalah walaupun ia sangat ingin menemani Satrio tapi bagaimanapun ibu Inggit adalah ibu kandung Satrio dan pasti nya Satrio lebih butuh ibunya saat ini.
"Enggak sayang, kamu aja yang nemenin. Habiskanlah waktu bersama dia." Mata ibu Inggit berkaca-kaca.
"Ibu kenapa ngomong gitu?" tanya Novia bingung dengan perkataan Ibu Inggit.
"Enggak, gak ada apa-apa kok." Tersenyum menutupi kesedihan nya.
"Bu," panggil Novia dengan lembut.
"Iya sayang," jawab ibu Inggit seraya menoleh ke arahnya.
"Novia minta maaf ya," ucap Novia dengan wajah bersalah nya.
"Loh kenapa kamu minta maaf sayang?" tanya ibu Inggit bingung.
__ADS_1
"Tadi mas Satrio muntah darah Novia udah mau lari panggil dokter, tapi tangan Novia ditahan sama mas Satrio dia gak mau Novia panggilin dokter untuk dia. Novia khawatir bu Novia takut mas Satrio kenapa-kenapa," ucap Novia sambil menangis.
Tanpa berbicara sepatah kata pun ibu Inggit langsung memeluk Novia dan menangis tersedu-sedu. Novia yang merasakan prilaku ibu Inggit agak aneh, berfikir bahwa sepertinya ada yang disembunyikan oleh calon ibu mertua nya itu.