
Ke esokan harinya jam dinding menunjukkan pukul delapan pagi. Novia yang sudah sedari subuh bangun untuk melaksanakan sholat subuh dan membereskan rumahnya dari sisa acara kemarin. Kini selesai beberes dan membersihkan badan nya yang sudah lengket karena aktivitasnya, Novia berdiam diri dikamar sembari merenung atas sikap kasar kakak nya terhadap dirinya semalam.
"Kenapa ya orang-orang diluar sana begitu akrab dengan kakaknya, bahkan terkadang malah seperti sahabat yang dengan senangnya bertukar cerita, melewati hari hari yang indah bersama sama," gumam Novia seraya menghela nafas panjang.
Tak lama iya merenung dering telfon pun berbunyi dari ponsel nya yang sedari tadi sepi senyap. Dengan langkah agak malas ia beranjak mengambil ponselnya dari atas nakas. Segurat senyum pun terlukis ketika dirinya mengetahui siapa yang menelfon nya di pagi hari itu.
"Hallo assalamualaikum mas, tumben telfon pagi gini biasanya sibuk dikantor." Mengembangkan senyum manisnya.
"Wa'alaikumsalam sayang, hari ini aku cuti biarlah asistenku yang mengurus nya," ucapnya dengan lembut. "Hari ini aku mau ajak kamu ke villa, aku tau kamu lagi gak baik baik aja sayang." Dengan nada yang cemas dan khawatir.
"Aku baik-baik aja kok mas, gak ada yang perlu mas khawatirin," ucap Novia menenangkan.
"Enggak sayang, pokoknya aku sebentar lagi otw ke rumah kamu kamu siap siap gih."
"Iya mas iya, ya ampun calon suamiku bawel banget ya," ucapnya meledek.
"Hmmmm udah berani ngeledek ya sekarang." terlihat gemas.
"Yaudah aku siap siap dulu ya mas," ucapnya seraya meredakan tawa yang sebelumnya.
"Iya sayangku yang cantik," ucapnya meledek.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Novia pun bergegas bersiap untuk pergi, lagipula untuk apa berdiam diri dirumah juga pikirnya malah akan membuatnya semakin sedih karena sikap kakak dan ibu nya.
__ADS_1
Tak lama selesai Novia bersiap mobil Andra pun terparkir manis dihalaman nya. Novia bergegas keluar rumah dan langsung menyambut kekasihnya yang datang. Terlihat seorang pria tampan dengan penampilan yang tidak formal dan terkesan santai pun menuruni mobil mewahnya.
"Ada ibu didalam? Aku mau izin bawa anaknya yang imut ini pergi," ledek Andra setelah turun dari mobil dan menghampiri Novia yang berdiri di teras rumah.
"Ibu gak ada, kakak juga gak ada lagi kerja. Biar nanti aku whatsapp aja," ucapnya datar.
"Yaudah yuk berangkat." Membukakan pintu mobil untuk Novia.
...(Andra)...
...(Novia)...
Diperjalanan suasana pun hening, hanya ada suara lagu yang terdengar lirih. Novia menatap kosong kedepan seolah pikiran nya entah sedang berada dimana. Andra pun fokus menyetir hingga mereka keluar dari jalan raya memasuki pedesaan dan hutan pinus yang cukup rindang nan sejuk.
"Sayang are you okay?" tanya Andra khawatir dengan keadaan kekasihnya itu, karena sedari mereka dalam perjalanan Novia hanya diam tak seperti biasanya yang ceria dan semangat.
"Okay mas, aku gak apa-apa," ucapnya tersenyum meyakinkan Andra.
Andra hanya tersenyum seraya mengelus kepala Novia dengan lembut. Andra tak mau banyak bertanya di kondisi yang ia tau bahwa Novia sedang tidak baik baik saja. Setelah beberapa jam perjalanan, mereka pun tiba di villa pribadi milik Andra. Andra pun memasukkan mobil ke dalam garasi, turun dan langsung membukakan pintu untuk Novia. Novia hanya tersenyum tanpa sepatah katapun, Andra menjadi bingung dengan tingkah laku calon istri nya itu yang mendadak jadi pemurung.
Mereka masuk ke dalam villa tersebut, disambut oleh wanita paruh baya yang biasa mereka sebut bik sumi. Di ruang tv Novia duduk dan masih tetap diam, tak bicara sepatah katapun. Raut wajahnya masih sama lesu nya seperti awal mereka berangkat menuju villa tadi. Andra duduk disampingnya langsung memegang kedua tangan Novia dan mengelus punggung tangan nya dengan lembut.
__ADS_1
"Sayang kenapa? ada masalah ya?" tanya nya dengan lembut.
"Enggak, aku baik baik aja mas," jawabnya dengan menunjukkan senyuman yang Andra faham sekali itu penuh dengan beban.
"Lihat aku sini, ayo lihat aku," ucap Andra dan Novia pun menatap wajah calon suami nya itu dengan menahan bulir air mata yang akan tumpah. "Denger ya sayang, kamu punya aku kamu gak sendiri kalo ada apa apa cerita sama aku. Kita dua bulan lagi menikah, ayo belajar dari sekarang kalo ada masalah apapun cerita sama calon suamimu ini." Menatap lekat Novia.
Novia tak mampu berkata bibirnya terasa kelu untuk berucap dan menceritakan hal yang menyakitkan yang ia rasakan selama bertahun tahun lamanya. Dimana ia selalu diperlakukan tidak adil, kebebasan nya direnggut, kebahagiaan nya selalu dikorbankan untuk kakaknya yang sangat disayangi oleh ibunya. mamah dan papah angkat nya yang notabane nya adalah kakak kandung dan kakak ipar dari ibunya pun sangat memuja muja kakak nya Mutia, seolah Mutia tak pernah ada cacat sedikit pun dimata mereka. Hanya ayahnya saja yang bersikap netral tanpa membela siapapun, tapi itu semua terasa percuma karena kerap kali kakak dan ibunya selalu berdrama seolah Novia ini anak yang nakal dan tidak pernah menurut perkataan orang tua nya. Tak jarang kakak dan ibunya itupun memfitnah Novia dengan mengadukan ke ayahnya Novia bahwa Novia ini pemalas dan tidak tau tentang pekerjaan rumah.
Novia masih diam tak bergeming sedikitpun saat ditanya oleh calon suaminya. Tiba-tiba Novia merasa tubuhnya direngkuh oleh pria dihadapannya. Disitulah tangis Novia pecah, air mata yang ia bendung dan coba tahan kini tak mampu ia tahan lagi. Andra mengusap lembut kepala calon istrinya itu, ia hanya diam membiarkan Novia menangis dipelukan nya. Andra tau dan faham bahwa wanita memang terkadang perlu menangis hanya untuk mengurangi sedikit rasa sakitnya.
"Menangislah kalo itu bisa membuat kamu lega," ucap Andra dengan lembut.
Setelah beberapa saat Novia pun berhenti menangis, dan mulai bisa menceritakan semua keluh kesah yang memenuhi otaknya selama ini. Andra nampak kesal dan menahan amarahnya tatkala calon istrinya itu menceritakan semua yang dialaminya selama ini, Novia juga menceritakan bahwa dirinya semalam ditampar oleh kakaknya. Andra geram dan dan melempar vas bunga di hadapan nya. Novia terperanjat melihat ekspresi Andra yang biasa nya terlihat teduh dan jauh dari kata galak, kini berubah menjadi seperti macan yang ingin melahap mangsanya.
"Ma....mas, to...tolong jangan marah aku takut," ucapnya terbata bata menahan rasa takut melihat calon suaminya.
"Maaf sayang, aku kelepasan." Merengkuh tubuh mungil Noviaa dan menusap punggungnya menenangkan.
"Aku mohon jangan pernah benci keluargaku ya, bagaimanapun mereka tetap keluargaku." Melepas pelukan dan menatap lekat Andra.
"Inilah kenapa aku yakin menjadikan kamu istri aku, kamu baik, hati kamu tulus. Dan penyesalanku kenapa baru sekarang aku bersama kamu. Pasti kamu tersiksa banget bertahun tahun ngelewatin semua ini sendiri," ucapnya cemas.
"Aku gak apa-apa sayang, sampai sekarang buktinya aku bisa ngelewatin semua ini. Dan dengan itulah aku sekarang jadi perempuan yang kuat dan gak mudah menyerah dengan keadaan," ucapnya mencoba menenangkan calon suami nya.
"Aku janji, mulai dari sekarang aku akan jaga kamu. Aku gak akan biarin wanita wanita jahat itu nyakitin kamu," ucapnya dengan penuh penekanan.
"Iya, makasih." Novia tersenyum bahagia.
__ADS_1