
Setelah adam mengurus kepulangan jenazah Satrio. Mereka pun membawa jenazah Satrio pulang kerumah untuk di mandikan, di sholat kan dan di makamkan. Novia yang masih sangat lemas terus di dampingi oleh Vano, Vano takut jika Novia tiba-tiba jatuh pingsan kembali. Sementara itu ibu Inggit juga terus di dampingi Adam dan Idris. Ibu Inggit juga sangat lemas jiwa nya juga terguncang lebih terguncang dari Novia. Pasalnya ia sudah kedua kalinya kehilangan orang yang sangat ia sayangi.
Setelah jenazah Satrio sampai di kediaman ibu Inggit, ramai orang berkumpul untuk mengucapkan bela sungkawa atas kepergian anak sulung nya itu. Keluarga besar Novia pun turut hadir untuk menguatkan Novia dan keluarga Satrio terutama ibu Inggit, Caca pun turut hadir untuk menguatkan sahabatnya yang sedang sangat rapuh.
"Lo harus kuat ya Nov, gue yakin semua ini pasti ada hikmahnya. Gue tau lo sedih banget kehilangan orang yang lo udah sayang banget, tapi lo harus percaya Allah selalu sayang sama lo dia pasti punya rencana yang indah di balik ini semua Nov." Memeluk Novia dan mencoba menguatkan nya.
Novia hanya terdiam tanpa sepatah kata pun saat di peluk Caca, jiwa nya masih terguncang hanya air mata saja yang terus membasahi pipinya. Hingga tiba saat nya jenazah akan dimandikan, dan Novia melihat dan mengusap wajah calon suaminya itu untuk terakhir kalinya. Novia tau bahwa ia tak akan lagi bisa mengusap dan memandangi wajah calon suami nya itu secara langsung.
"Mas aku sayang kamu, sangat sayang." Sembari mengelus pipi Satrio, Novia mencoba menahan air mata nya agar tidak jatuh ke tubuh Satrio. Itu membuat dadanya semakin sesak karena menahan sakit yang begitu hebatnya.
"Aku mencoba ikhlas mas walaupun ini benar-benar berat buat aku, mungkin Allah lebih sayang kamu. Aku yakin kamu akan lebih bahagia disisi Allah, dan kamu udah gak ngerasain sakit lagi." Tak terasa air mata Novia jatuh ia tak dapat lagi membendung air mata nya.
"Selamat jalan sayangku, penyejuk hatiku, penenang jiwaku, sikap lembut kamu akan selalu aku ingat sampai kapanpun dan kamu akan selalu ada di hati aku. Aku akan terus doa in kamu sayang supaya kamu diberi tempat terindah disisi Allah, i love you sayang." Terakhir kalinya ia mengelus wajah Satrio dan memandanginya dengan lekat.
Vano yang mendengar calon kakak iparnya mengucapkan kata-kata terakhir untuk kakak nya tak sanggup membendung air matanya, ia menangis sesegukan melihat kakaknya yang sudah tak bernyawa lagi. Setelah semua melihat Satrio untuk yang terakhir kalinya, jenazah Satrio di mandikan dan di kafankan. Setelah itu mereka pun mensholatkan jenazah Satrio, lalu mengantarkan nya ke peristirahatan terakhirnya.
Banyak yang turut mengatarkan Satrio ke peristirahatan terakhirnya, ada dari kalangan dekan bahkan rektor turut hadir. Para dosen-dosen serta mahasiswa/i yang mengagumi Satrio dan dekat dengan nya juga turut hadir dan mengantarkannya ke peristirahatan terakhirnya. Novia yang terus dipapah oleh Vano. Ibu Inggit yang terus dijaga oleh Adam dan Idris, tiga putra nya ini terus menguatkan Novia dan juga ibu Inggit.
__ADS_1
Setelah selesai memakamkan jenazah Satrio, Novia hanya bisa memeluk nisan calon suaminya itu. Bahkan setelah semua selesai berdoa dan beranjak pulang Novia masih tetap memeluk nisan yang bertuliskan nama Satrio. Sedangkan ibu Inggit jatuh pingsan kembali lalu Idris dan Adam membawa ibunya itu pulang.
"Kak pulang yuk, udah sore," ucap Vano dengan nada lembut nya.
Novia masih terdiam dan tidak menggubris ajakan Vano untuk pulang. Dia terus menangis sambil memeluk nisan calon suaminya itu. Caca pula masih terus menemani sahabatnya itu, ia tak ingin meninggalkan sahabatnya yang jiwa nya sedang terguncang karena kepergian calon suami nya.
"Nov, gue tau lo sedih dan gue faham kok. tapi kita pulang dulu ya udah mau magrib." Caca jongkok sembari memegang kedua pundak Novia dan berbicara dengan lembut.
"Enggak!! gue masih mau disini nemenin mas Satrio, kasian dia sendirian," ucap Novia sembari menangis sesegukan.
"Bener ya?" ucap Novia memastikan.
"Iya kak aku janji," ucap Vano dengan lemah lembut.
"Mas Novia pulang dulu ya, besok Novia kesini lagi buat tengokin mas. Maafin Novia yang gak bisa 24 jam nemenin mas lagi, I love you sayang." Novia berpamitan memeluk dan mencium nisan Satrio ketika akan hendak pulang.
Caca yang melihat sahabatnya sangat terpukul hatinya juga ikut sakit, Novia yang ia kenal kuat dan sabar bisa sampai seperti ini terpukulnya. Tak terasa Caca meneteskan air matanya melihat tingkah laku sahabatnya itu yang seolah-olah menganggap calon suaminya itu masih hidup.
__ADS_1
"Yuk," ucap Caca saat ingin memapah sahabat nya itu untuk diajak pulang kerumah.
Merekapun telah sampai di kediaman Satrio, Novia yang tubuhnya masih kotor dengan tanah makam Satrio duduk di kursi dengan tatapan kosong.
"Nov istigfar," ucap sahabatnya itu.
Novia masih tidak ada respon sedikitpun, hingga Caca menggoyang-goyangkan tubuh Novia. Novia tetap diam tak ada respon sedikitpun, Caca bingung harus berbuat apa ia langsung memanggil adam untuk bisa menangani Novia. Saat adam dan Caca kembali untuk melihat keadaan Novia, mereka panik dan terkejut saat mendapati Novia yang sudah tergeletak di lantai. Adam langsung membopong Novia ke sofa dan mengoleskan minyak di hidungnya supaya Novia lekas sadar.
Tak lama Novia bangun dan Caca langsung memberikan nya minum. Saat melihat kondisi Novia yang masih lemah Adam menyuruh Caca untuk membersihkan badan Novia mengganti bajunya karena setelah itu Adam akan memasang infus untuk Novia. Caca membersihkan badan dan Novia sudah berganti pakaian yang kemarin dibeli oleh ibu Inggit saat sebelum Satrio meninggal. Adam langsung memasang infus di tangan Novia, Novia masih tetap diam tanpa sepatah kata apapun. Novia diam seribu bahasa hanya air mata yang terus keluar dari matanya.
Novia terus membayangkan saat-saat terindah nya bersama calon suami nya sebelum calon suaminya meninggalkan ia untuk selama-lama. Novia akan selalu rindu dengan sikap manis dan lemah lembut Satrio kepada Novia semasa Satrio masih hidup.
"Nov istigfar, gue tau ini berat banget buat lo tapi lo mau gak mau harus jalanin ini semua walaupun harus dipaksa awalnya tapi gua yakin lo kuat." Memeluk Novia dan menguatkannya.
"Gue gak bisa ca, ini terlalu berat." Menangis dipelukan Caca.
"Bisa nov bisa, gua yakin lo wanita yang kuat. masih banyak disini yang sayang sama lo." Menangis sembari mengelus punggung sahabatnya.
__ADS_1