Suamiku Adalah Mantan Kekasih Kakakku

Suamiku Adalah Mantan Kekasih Kakakku
Bertemu


__ADS_3

Sabtu pagi Novia libur kuliah karena dosen nya sedang berada di luar kota, ia melakukan rutinitas nya setiap pagi dimana ibu nya selalu menyuruhnya untuk membereskan rumah. Hari ini ibu dan kakaknya akan pergi entah kemana, sebelum ibunya berangkat ia mengajak Novia berbincang-bincang sebentar.


"Nov, ibu gak jadi menjodohkan pak Satrio dengan kakak mu jadi kamu aja yang nikah sama dia," ucap ibu Dewi dengan santai dan seenaknya.


Novia terkejut mendengar pernyataan dari ibu nya. Karena dari kemarin ibu nya ingin sekali menjodohkan kakak nya dengan Satrio, tapi kenapa hari ini ibunya berubah pikiran.


"Loh bu kenapa?" tanya Novia yang merasa heran dengan sikap ibunya.


"Kakak kamu gak mau, dia katanya udah punya pacar." Sembari bersiap untuk pergi.


"Hemmm gitu bu, kirain kenapa." Menunduk pasrah akan ucapan ibunya.


"Yaudah kamu sarapan dulu sebelum beres beres rumah, ibu sama kakak mau pergi keluar sebentar ada urusan." berbicara dengan seenaknya dan beranjak pergi bersama anak kesayangan nya.


"Iya bu." Mengangguk patuh.


Novia pun segera beres beres rumah nya.


Setelah selesai Novia mandi dan sarapan, sehabis itu Novia masuk ke kamar untuk menonton drakor di laptopnya.


"Ih sad banget si cerita nya," gumam Novia tak terasa Novia pun menangis hanya karena menonton film drama korea.


Novia memang tipe gadis yang melow, jadi dia tidak bisa dibentak apalagi dipukul. Novia adalah anak yang sangat penurut. Saat sedang asik menonton film drama korea tiba-tiba handphone Novia berdering. Novia segera mengangkat nya karena takut itu telfon penting dari keluarga nya.


"Hallo nov," ucap seseorang di telfon dengan suara yang tk asing ditelinganya.


Ternyata yang menelfon Novia adalah si Caca.


"Halo....apaan si ca ganggu aja lagi nonton film drakor," jawab Novia dengan kesal karena konsentrasi nya menonton jadi terganggu.


"Nov," panggil Caca dengan nada menangis.


"Eh ca lo kenapa nangis?" tanya Novia yang seketika menghentikan aktifitas nya menonton film.


"Bokap gue masuk rumah sakit." Dengan suara yang terisak-isak.


"Eh rumah sakit mana? lo share loc sekarang gua otw kesana." langsung mematikan laptop nya dan mulai beranjak dari kasurnya.


"Iya nov," jawab Caca dengan patuh.


Panggilan of.


Tanpa basa-basi Novia pun bergegas memesan ojol gdan langsung pergi kerumah sakit.


"Ca gimana keadaan papah lo?" berlari dan langsung memeluk Caca.


"Bokap gue kena serangan jantung nov." Menangis dipelukan Novia.


"Yang sabar ya ca, papah lo pasti baik baik aja ca." Mengelus-elus punggung Caca dan mencoba untuk menenangkan sahabatnya.


"Mamah lo kemana ca?" tanya Novia seraya melepas pelukan.


"Mamah gue lagi ke ruangan dokter nov," jawab Caca dengan suara parau nya.


"Yaudah lo tunggu sini dulu ya duduk, gue mau beli minum bentar buat lo." Beranjak dari tempat duduknya.


"Jangan lama lama nov," pinta Caca dengan wajah lesu dan lemas nya.


"Iyaa gue gak lama kok." Tersenyum menangkan Caca.


Novia pun pergi membeli minum di kantin rumah sakit. Tapi ketika hendak ke kantin Novia melihat seseorang yang seperti nya ia kenal.


"Itu kaya pak Satrio deh," gumam Novia pelan sembari mencoba mendekati.


"Tapi kok pak Satrio di rumah sakit, siapa yang sakit." Dengan cepat langsung mendekati karena khawatir.


"Mas." Menyentuh lengan pak Satrio.


"Novia." Satrio terkejut.


"Mas, kamu ngapain disini?" tanya Novia dengan heran.


"emm.......ini...... aku......" Berbicara dengan terbata-bata.


"Mas sakit?" tanya Novia dengan khawatir sembari memegang lengan Satrio.


"Enggak, aku baru aja jenguk temen aku yang sakit dia dirawat disini." senyum penuh kelembutan.


"Oh syukurlah aku kira mas sakit." menarik nafas dan membuangnya dengan perasaan lega.


"Enggak kok aku sehat, kamu sendiri ngapain disini?" tanya Satrio balik.


"Itu.......astagfirullah aku lupa." Novia menepok jidatnya.

__ADS_1


"Mas aku pergi dulu ya mau ke kantin beliin minum temen aku." Dengan buru-buru ingin meninggalkan Satrio.


"Kalo gitu aku ikut kamu deh."


"Yaudah yuk nanti aku ceritain," ajak Novia dengan terburu-buru langsung menuju kantin.


Mereka pun ke kantin untuk membelikan minum untuk Caca. setelah membelikan minum untuk Caca, Novia langsung memberikan minum itu kepada sahabatnya.


"Ca ini minum dulu." Memberikan minum kepada caca.


"Makasih nov." Duduk bersandar di dinding dengan wajah nya yang pucat dan lemas.


"Novia tante titip caca dulu ya, tante mau ke bagian administrasi dulu," pinta tante Yuni, ibunya Caca.


"Iya tante." Mengangguk patuh.


ibu Caca pun meninggalkan mereka dan menuju ruang administrasi. Caca yang baru sadar bahwa ada pak Satrio di samping Novia pun terkejut dan langsung spontan menyapa dosennya itu.


"Eh pak Satrio, maaf saya gak sadar kalo ada bapak." Tersenyum berat saat menyadari bahwa ada dosen nya disana.


"Iya gak apa apa kok, semoga papah kamu cepet sembuh ya." Tersenyum ramah.


"Iya pak terimakasih." Membalas senyuman Satrio dengan ramah.


Tiba-tiba telfon Novia berbunyi.


"Sebentar ya aku angkat telfon dulu ya." Novia berpamitan kepada Caca untuk mengangkat telfon.


"Iya."


Mengangkat telfon.


"Hallo," ucap Novia dengan lembut.


"Hallo, kamu dimana? ibu pulang dirumah gak ada orang." ternyata yang menelfon adalah ibunya, yang menanyakan kemana Novia pergi.


"Eh iya bu maaf Novia lupa izin, ini temen Novia si Caca papah nya sakit jadi Novia tadi langsung buru buru kerumah sakit," ujar Novia menjelaskan dengan lembut.


"Oh yaudah, kirain kamu kemana. Jangan pulang terlalu malam ya," pinta ibunya dengan tegas.


"Iya bu," jawab Novia dengan patuh akan perintah ibunya.


Panggilan of.


"Tante Novia pulang dulu ya, udah sore soalnya takut ibu cari aku." Novia berpamitan pulang kepada tante Yuni.


"Oh iya nov, makasih ya udah nemenin Caca," jawab tante Yuni dengan ramah.


"Iya tante sama sama, nanti kalo Novia ada waktu senggang Novia kesini lagi." Tersenyum imut.


"Iya nov hati hati ya."


"Iya tante, ca pulang ya."


"Okey, makasih ya." Memeluk.


"Iya sama sama." Melepas pelukan.


Novia pun pulang diantarkan oleh pak Satrio. Diperjalanan mereka sesekali saling toleh-menoleh dan tersenyum selayaknya pasangan kekasih yang sedang dimabuk cinta.


"Aku pengen cepet-cepet nikah sama kamu," ucap Satrio spontan sembari meraih tangan Novia.


"Ya sabar dong, ngebet banget kaya nya." Novia yang melihat tingkah kekasihnya itu pun tertawa seraya meledek.


Satrio hanya tersenyum mendengar ledekan dari kekasihnya itu.


"Oh iya mas, tolong ceritain sedikit dong tentang ibu nya mas biar nanti kalo ketemu aku gak bingung harus apa."


"Oke, kamu mau aku ceritain tentang apa dari ibu?" tanya satrio dengan semangat.


"Hem ibu suka makanan apa?" tanya Novia.


"Ibu apa aja suka si tapi yang paling favorite nya ibu itu makanan pedas, ibu gabisa kalo makan makanan nya gak berbau cabai."


"Selain itu mas?" tanya Novia dengan semangat mengorek cerita tentang calon ibu mertua nya.


"Ibu juga suka makanan yang berbau coklat." Menjelaskan dengan sabar dan penuh kasih sayang.


"Hem, ibu orang nya kaya apa si mas?" terus bertanya dengan begitu antusiasnya.


"Ibu itu penyayang, lemah lembut, perhatian sama anak, pokok nya ibu paling hebat buat aku dan adik adik aku." Masih dengan sabar dan bernada lembut menjelaskan kepada calon istri nya.


"Oh iya mas, kalo ayah nya mas gimana orang nya?" tanya Novia penasaran.

__ADS_1


"Ayahku orang nya tegas, disiplin, dan benar benar mendidik anaknya supaya jadi laki-laki yang bertanggung jawab, gak kasar sama wanita, dan harus jadi imam yang baik untuk keluarga." Seketika wajah nya berubah menjadi sedih dan tak bersemangat seperti sebelumnya.


"Wah, kaya nya agak galak ya? hehe." Masih dengan wajah polos nya.


"Lumayan, itu karena sikap disiplin nya." Tersenyum yang sedikit dipaksakan namun tetap manis terlihat.


"Duh aku jadi deg-degan deh mau ketemu ayahnya mas," ucap Novia tanpa keraguan.


"kamu gak akan ketemu langsung sama beliau." Nada mulai melemah dari yang sebelumnya.


"Loh kenapa mas?" tanya Novia untuk menjawab rasa penasaran nya.


"Karena ayahku sudah meninggal dunia." Menghela nafas panjang seperti seseorang yang menahan sakit di dada akibat trauma masa lalu.


"Hah? mas maaf aku gak maksud untuk buat mas sedih." Novia langsung merasa bersalah dan nada nya melemah.


"Iya gak apa apa kamu kan gak tau." Tersenyum sembari mengelus kepala Novia dengan penuh kasih sayang.


"Makan dulu yuk ke resto favorite aku." Mengalihkan pembicaraan.


"Hey sekarang resto itu juga Favorite aku mas."


"Yaudah resto itu akan jadi resto favorite kita."


Mereka berdua pun tertawa bersama. Sesampai nya di resto, mereka langsung memesan makanan kepada pelayan resto.


"Selamat datang pak, silahkan ini buku menu nya."


"Kamu mau mau makan apa nov."


"Kaya kemarin aja mas."


"Oke, mba seafood saus padang dua es teh dua ya."


"Baik pak, mohon ditunggu ya."


"Oke."


Sementara makanan sedang di pesan, Novia dan Satrio tiba-tiba menjadi saling diam dan entah harus berbicara apa. Namun, seketika Novia memecah keheningan itu dengan memanggil calon suami nya itu.


"Mas," panggil nya dengan spontan membuat Satrio langsung menghentikan aktivitas nya bermain ponsel.


"Iyaa sayang," jawab Satrio dengan nada yang lembut tanpa penekanan.


"Hehe gak apa apa manggil aja."


"Hih gemes." Satrio yang gemas dengan kelakuan Novia pun langsung mencubit pipi Novia.


"Aduh........aduh........aduh......sakit mas," rintih Novia yang pipinya di cubit.


"Hehe biarin aja abis kamu jail." Tersenyum puas.


Tiba-tiba suasana menjadi hening sepersekian menit mereka hanya saling bermain ponsel mereka masing-masing tanpa melontarkan sepatah katapun.


"Aku masih gak menyangka kita sedekat ini, dan aku berharap kita lebih dekat dari ini," ucap Satrio dengan spontan kepada Novia.


"Iya, aku juga gak menyangka mas."


"Gak menyangka apa?" menaikkan salah satu alisnya.


"Gak menyangka kalo aku bisa jadi calon istri dari dosen paling ganteng dan paling cerdas di kampus hehe," ledek Novia membuat pipi Satrio memerah.


"Lah pinter gombal ya sekarang." Satrio sangat gemas melihat tingkah laku Novia hingga tak tahan untuk mencubit hidung Novia.


"Aduh........kalo lama lama disini gak bisa nih aku." Sambil memegang hidungnya yang tampak memerah akibat dicubit oleh Satrio.


"Loh kenapa memangnya?" tanya Satrio dengan heran.


"Mukaku bisa bengkak bengkak dicubitin."


Tertawa bersama, tak lama pesanan pun datang. Pak Satrio dan Novia pun menyantap hidangan yang sudah mereka pesan. Setelah selesai makan pak satrio mengantarkan novia pulang kerumahnya.


Diperjalanan arah pulang ke rumah Novia.


"Mas, makasih ya untuk hari ini." Novia memasang senyum manis nya kepada calon suaminya itu.


"Iya sayang." Tersenyum lembut menyiratkan kasih sayangnya kepada Novia.


"Boleh izin senderan gak." Seraya menyenderkan kepala nya di bahu pak Satrio.


"Hemmm.....iya sayang sini bersandar." Tersenyum dan mengelus kepala Novia yang bersandar di bahunya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


setelah sampai rumah Novia pak Satrio langsung berpamitan pulang karena hari sudah malam dan ia menyuruh Novia untuk langsung beristirahat.


__ADS_2