
Ke-esokan hari nya, jam masih menunjukkan pukul 04.58 WIB. Novia nampak tertidur pulas di sofa, Satrio yang sudah bangun lebih dulu mencoba membangunkan Novia karena ingin mengajaknya sholat subuh.
"Nov,"panggil Satrio, namun belum ada respon dari Novia.
"Nov," panggil Satrio kembali dengan suara yang agak keras dari sebelumnya.
Novia tersentak mendengar panggilan dari Satrio, Novia mengira terjadi sesuatu kepada Satrio. Novia pun langsung membuka mata nya dan melihat ke arah Satrio.
"Eh......iya ada apa mas?" Novia langsung berjalan ke arah Satrio.
"Maaf ya aku ganggu kamu tidur." Dengan suara lembut nya.
"Iya gak apa-apa, mas perlu apa?" tanya Novia kepada calon suami nya itu.
"Enggak aku gak perlu apa-apa, aku mau ajak kamu sholat subuh." Seraya tersenyum.
"oh udah subuh ya?" tanya Novia sembari bergegas bangun.
"Iya," jawab Satrio lirih.
"Yaudah mas sholat subuh duluan gih, aku ambil air dulu." Novia bangkit dari tempat duduknya dan bergegas mengambil air wudhu.
"Iya," jawab satrio dengan lembut.
Mereka pun melaksanakan sholat subuh, setelah selesai sholat subuh Novia membacakan ayat suci Al-Qur'an sampai mata hari terbit. Saat ini waktu menunjukkan pukul 07.00 suster mengetuk pintu kamar rawat inap Satrio untuk memeberikan sarapan untuk nya. Novia mengambil sarapan dan mulai menyuapi calon suami nya itu.
"Mas, sarapan dulu ya" ajak Novia dengan nada sangat lembut.
"Iya." Dengan wajah yang sayu.
Novia pun menyuapi Satrio dengan begitu telaten, sampai tak terasa makanan itu habis. Setelah selesai menyuapi sarapan kepada calon suami nya, Novia pun mandi dan memebersihkan diri nya. Kebetulan semalam ibu inggit membelikan beberapa baju dan perlengkapan lainnya untuk Novia. Setelah selesai mandi Novia kembali ke menjaga calon suami nya itu.
Novia duduk di samping Satrio, dipandanginya wajah calon suami nya itu yang sedang tertidur lelap. Dipegang tangan calon suami nya itu dengan penuh kelembutan, ia tak mau melewatkan satu momen pun saat Satrio sedang terbaring lemah seperti ini. Hingga tak terasa Novia pun tertidur di samping Satrio. Tiba-tiba Satrio terbangun dari tidurnya, dan tersenyum mendapati calon istri nya yang tertidur disampingnya dan masih setia memegang tangan nya.
Di usapnya ubun-ubun kepala Novia seraya ia tersenyum bahagia. Hingga tak terasa air mata membasahi pipi Satrio, entah apa yang dipikirkannya hingga membuat ia menangis. Tak begitu lama Novia sadar akan aktivitas satrio yang menyentuhnya ia mulai terusik dan terbangun dari tidurnya, Satrio yang melihat kekasih nya itu terbangun langsung menghapus air mata nya.
"Mas, udah bangun? " tanya Novia dengan lembut.
"Udah sayang," jawab Satrio dengan lembut .
"Mas mau apa?" tanya Novia.
__ADS_1
"Enggak, mas gamau apa-apa." seraya menggelengkan kepala.
"Kalo mau apa-apa bilang ya sama Novia," ujar Novia dengan lembut.
"Iya sayang." Seraya tersenyum.
Tak lama ibu inggit dan ketiga adik Satrio pun datang untuk melihat keadaan Satrio. Operasi Satrio di jadwalkan esok pagi, hari ini adam sibuk mempersiapkan operasi untuk kakak nya.
"Assalamualaikum." Salam ibu Inggit seraya membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam," jawab Satrio dan Novia secara bersamaan.
"Gimana sayang keadaan nya apa kepala nya masih sakit?" tanya ibu Inggit kepada anaknya.
"Alhamdulillah udah gak terlalu kok bu," jawab Satrio dengan suara yang masih terlihat lemah.
"Kamu udah sarapan sayang?" tanya ibu Inggit kepada calon mantu kesayangan nya itu.
"Belum bu, tapi aku udah suapin mas Satrio kok" jawab Novia dengan wajah yang kurang tidur.
"Yaudah nih ibu bawa makanan buat kamu, ibu tau kamu belum sarapan. Dihabiskan ya sarapan nya supaya sehat dan bisa jagain Satrio." Ibu Inggit memberikan makanan seraya tersenyum penuh kasih sayang kepada Novia.
"Iya bu terimakasih ya." Menerima makanan yang diberikan oleh calon ibu Mertua nya.
Setelah selesai menelfon ibunya dan meminta izin kepada dosen kampus nya Novia kembali masuk untuk kembali menemani Satrio.
"Nov tolong jaga Satrio sebentar ya ibu mau ke ruang profesor Gunawan dulu," pinta ibunya dengan nada lembut.
"Iya bu," jawab Novia yang tengah sarapan di sofa.
Tinggalah mereka berdua di dalam ruang rawat inap itu. Adam sedang bertugas di rumah sakit itu, sedangkan Vano setelah menengok keadaan kakaknya juga langsung pamit untuk bekerja begitu pula dengan Idris. Mereka akan mengambil cuti esok hari untuk sama-sama menemani Satrio melawati operasi nya.
"Mas." Novia mengelus pundak Satrio dengan lembut.
"Iya sayang," jawab Satrio lirih.
"Mas mau aku kupasin buah?" tawar Novia dengan lemah lembut.
"Enggak deh, aku mau minum aja haus"
"Iya." Sembari mengambil minum dan memberikan nya kepada Satrio dengan perlahan-lahan.
__ADS_1
Setelah memberikan minum kepada Satrio, Novia duduk terdiam sembari memegang tangan Satrio.
"Mas, kok tangan mas dingin banget ya? mau aku matiin AC nya ya biar gak dingin?" tanya Novia yang cemas akan kondisi calon suami nya itu.
"Gausah sayang, aku gak dingin kok," ucap Satrio dengan wajah sayunya.
"Yaudah, mas istirahat aja." Menyelimuti tubuh Satrio.
"Aku mau jalan jalan sama kamu," pinta Satrio dengan nada lemah nya.
"Tapi mas kan masih belum kuat." Novia menolak karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan mengingat kondisi Satrio yang masih sangat lemah.
"Aku udah kuat kok." Mencoba meyakinkan calon istrinya.
"Tapi mas." Wajah ragu.
"Aku mohon, sekali ini aja. anggep ini permintaan terakhirku." Seraya tersenyum.
"Ih, mas jangan ngomong kaya gitu dong." tak terasa Novia meneteskan air mata nya karena Satrio yang berbicara seperti itu.
Novia sangat takut jika harus kehilangan calon suami yang sangat dicintainya itu. Akhirnya Novia meminta izin kepada dokter untuk keluar untuk mengajak Satrio jalan-jalan dengan menggunakan kursi roda. apapun akan dilakukan Novia demi menuruti permintaan kekasihnya itu. Dan akhirnya dokter mengizinkan Novia untuk membawa Satrio jalan-jalan, tapi dengan satu syarat Satrio tidak boleh keluar dari kamar rawat inap nya melebihi satu jam. Jika tidak ia akan mengalami sesuatu yang buruk karena tubuh nya akan bertambah parah.
Akhirnya mereka pun bisa keluar dan berjalan-jalan melihat kolam ikan yang ada ditaman rumah sakit. Satrio nampak senang karena kekasihnya itu selalu setia bersamanya dan terus mendampingi nya dalam keadaan suka maupun duka.
"Mas seneng?" Novia berjongkok di depan kursi roda Satrio dan memegang tangan satrio dengan lembut seraya tersenyum manis.
"Seneng, makasih sayang udah mau ajak aku jalan-jalan." Meraih tangan Novia dan mencium punggung tanganya dengan lembut.
Seketika pipi Novia langsung memerah karena menahan gejolak dihatinya. Novia sangat menyayangi calon suami nya itu, dia selalu ingin berada di samping calon suami nya itu.
"Makasih ya, udah mau nemenin aku sampai detik ini." Seraya tersenyum.
"Iya mas ini udah kewajiban aku sebagai calon istrinya mas." Mengelus-elus tangan Satrio dengan lembut.
Tak terasa sudah setengah jam Novia mengajak Satrio jalan-jalan, kini ia membawa kembali kekasihnya itu kedalam ruang rawat inap nya. Novia tidak ingin mengambil resiko yang lebih jauh untuk kesehatan Satrio.
"Mas maaf ya gak bisa ajak mas jalan-jalan lebih lama, nanti kalo mas udah sehat baru kita akan jalan-jalan keluar lebih lama lagi," ujar Novia.
"Gak apa-apa sayang begini aja udah membuat aku senang banget, asal kamu terus sama aku aku akan merasa tenang sampai akhir nanti operasi." Masih senantiasa memegang tangan calon istri nya.
"Mas gak boleh ngomong macem-macem lagi ya, aku yakin mas akan baik baik aja." Seraya memeluk Satrio dengan erat.
__ADS_1
"Iya sayang." Membalas pelukan Novia seraya tersenyum.