
Ke-esokan pagi nya, Novia menjalankan aktivitas seperti biasa nya dimana iya membereskan rumahnya. kebetulan hari ini ia sedang tidak kuliah.
"Nov, hari ini ibu mau pergi sebentar mau kerumah ibu Inggit tadi dia nelfon ibu diminta kerumah nya."
"Mau ngapain bu?" tanya Novia kepada ibunya.
"Mungkin mau ngomongin tentang masalah pernikahan kalian aja si."
"Owalah yaudah bu."
"Yaudah ibu mau siap-siap dulu ya."
"Iya."
Jam menunjukkan pukul 12.30 wib Novia membersihkan dirinya untuk bersiap sholat dzuhur. Setelah selesai sholat Novia mendapatkan telfon dari ibu nya.
"Assalamualaikum, hallo bu?"
"Wa'alaikumsalam." Suara yang terdengar sangat sedih.
"Ibu kenapa?" tanya Novia dengan khawatir.
"Nov.......... " Menghela nafas.
"Kenapa bu? ibu kenapa?" tanya Novia semakin khawatir.
"Kamu dateng kerumah sakit HARAPAN BUNDA sekarang ya nov."
"Iya bu, tapi ibu kenapa? bilang dulu sama Novia."
"Udah kamu dateng kesini dulu nanti ibu jelasin." Suara gemetar.
Tanpa basa-basi pun Novia pun langsung menuju rumah sakit untuk menyusul ibunya.
Diperjalanan Novia merasa khawatir, cemas takut kalau kalau terjadi sesuatu yang buruk pada ibunya.
Tiba dirumah sakit Novia langsung menelfon ibunya untuk menanyakan ibu nya dimana. karena nama ibunya tidak ada dicatatan buku resepsionis rumah sakit. Ibu nya pun memberi tau kalau dirinya sedang di ruangan ICU Novia semakin panik langsung menanyakan ke suster dimana letak ruangan ICU dan langsung berlari menuju ruang ICU.
"Ibu........." Teriak Novia dan langsung memeluk ibunya
"Nov kamu harus kuat." Wajah sedih.
"Ibu ngomong apa sih......ibu gak kenapa-napa kan?" tanya Novia seraya mengecek keadaan ibunya.
"sayang yang kuat ya ini semua ujian." Ibu Inggit tiba-tiba memeluk Novia dan menangis tersedu-sedu.
Novia sangat bingung kenapa ibu Inggit bisa dirumah sakit dan kenapa mereka bersedih, siapa yang sakit? Novia pun bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"bu, ini ada apa sih? Novia gak ngerti. siapa yang sakit?" tanya Novia semakin penasaran.
"Satrio kecelakan nov, kondisinya sekarang kritis." Nada pelan.
Mendengar ibu nya berbicara Novia terjatuh.
kaki nya lemas jantungnya seperti berhenti berdetak. Tubuh Novia di tahan oleh Adam dan Idris yang dengan sigap menangkap Novia. Sedangkan Vano memapah Ibu Inggit untuk diajak duduk di kursi.
Novia bengong dan terus mengeluarkan air mata nya, seakan-akan masih tidak percaya pria yang sangat mencintai dan menyayangi nya sekarang dalam keadaan antara hidup dan mati.
"Istigfar kak kita doa in ya semoga kak Satrio baik-baik aja. Aku yakin kak Satrio kuat dia bisa ngelewatin ini semua. Kita juga harus kuat supaya kak Satrio juga kuat ngelewatin masa kritisnya kita doa sama sama ya." Adam menahan air mata tetap memaksakan senyum untuk menenangkan Novia.
"Iya kak kita doa in sama-sama ya," ucap Idris mencoba membantu menenangkan Novia.
Vano datang membawa air mineral botol yang ia beli di kantin. dia memberikan nya kepada ibu Novia ibunya dan Novia.
__ADS_1
"Nih kasihin ke kak Novia." Menyodorkan minum ke Adam untuk diberikan kepada Novia.
Novia yang sedari tadi hanya bengong dan terus mengeluarkan air mata, lama-kelamaan wajahnya tampak pucat.
"Kak, minum dulu ya supaya lebih enakan." Menyodorkan sebotol air minum.
Novia mengambil nya tanpa sepatah kata pun dia masih tetap bengong dan terus mengeluarkan air mata. Dua jam kemudian doker pun datang untuk mengecek keadaan Satrio. Setelah keluar dari ruang ICU dokter mengajak ibu inggit ke ruangan nya untuk memberitahu kodisi Satrio saat ini.
"gimana dokter riza keadaan kakak saya?" tanya Adam.
"Kakak kamu masih dalam kondisi kritis. Kita harus banyak berdoa dan berusaha dam," jawab dokter Riza dengan wajah sedih.
Dokter Riza adalah senior adam di rumah sakit itu dimana Adam juga bekerja dirumah sakit tempat kakak nya dirawat.
"Baik dok, jika ada apa-apa tolong beritahu saya."
"Iya dam. Hm....... Ibu inggit bisa keruangan saya, ada hal yang harus saya sampaikan. Dan untuk keluarga nya yang lain boleh masuk tapi hanya boleh satu orang satu orang saja ya bergantian."
"Baik dok. Nov kamu masuk ya liat kodisi Satrio, ibu mau keruangan dokter dulu."
Novia pun masuk keruangan ICU. Novia sedih Novia hancur melihat orang yang ia sayangi harus di tempeli oleh banyak alat medis yang melekat di tubuh Satrio. Novia duduk dan memegang tangan Satrio yang di pasang infus dan beberapa selang lainnya.
"mas......" Meneteskan air matanya.
"Jangan tinggalin aku." Dengan suara yang berat.
"Aku ber doa sama Allah semoga kamu baik-baik aja, tolong jangan tinggalin aku sendirian." menangis tersedu-sedu.
"Cuma kamu yang bisa memperlakukan aku layaknya seorang putri di kerajaan, kamu sayangin aku dengan kelembutan. gimana aku bisa hidup tanpa kamu." Novia tak kuat menahan tangisnya.
"Tolong mas, bertahan demi aku, demi impian kita yang tinggal selangkah lagi." Terus meneteskan air matanya.
"Kemarin kamu bilang kamu akan menjadikan aku pasangan hidup kamu sampai kamu menutup mata, tapi aku yakin ini gak sekarang kan mas?" menangis terisak-isak.
"Maaf kalo selama ini aku jarang banget ngomong sayang sama kamu." Menahan air mata.
"Padahal kamu selalu bilang sayang ke aku puluhan kali."
"Maafin aku sayang......... maaf." Novia terus mengeluarkan air mata nya yang tak dapat ia bendung karena rasa sedihnya yang amat dalam.
"Kamu harus kuat ya......... aku akan selalu doa in kamu." Menyeka air mata.
"Aku sayang kamu mas." Mencium tangan dan kening Satrio.
Setelah itu Novia keluar ruangan dengan badan yang sempoyongan seperti tidak ada tenaga. Melihat Novia yang sempoyongan dengan sigap adam memapahnya.
"Kak......are you okay?" tanya adam kepada calon kakak iparnya.
"Okay," jawab Novia dengan suara berat nya.
"Aku anter ke UGD aja ya kak biar di periksa disana?"
"Enggak aku gak apa-apa kok, cuma lemes aja kaki nya."
"Yaudah duduk sini kak." Adam mencoba memapah Novia ke kursi.
"Ibuku sama ibu Inggit dimana ya?"
"Ibu kakak tadi pamit pulang duluan mau ngabarin keluarga besar katanya kalo kak Satrio kecelakaan soalnya batrai hp nya abis tadi. Kalo ibu masih diruangan dokter dari tadi belum balik lagi kesini".
"kalo Idris kemana? kok gak keliatan."
"Idris tadi nganterin ibu nya kakak pulang," jawab Vano.
__ADS_1
"Owalah." Nada rendah.
"Kalian gak mau masuk ke dalam?"
"Eh kak aku masuk duluan ya," ucap Adam.
"Yaudah sono duluan nanti gantian," jawab Vano.
"Oke."
Setelah 1 jam kemudian Vano dan Adam sudah bergantian masuk. Datang ibu inggit dengan wajah sedih nya.
"Ibu, apa kata dokter? mas Satrio baik-baik aja kan?"
Ibu inggit duduk di samping Novia.
"Satrio harus di operasi karena ada penyumbatan di kepala nya dan itu ada dua kemungkinan dia akan lupa ingatan atau dia akan gak ada." Menangis memeluk Novia.
"Bu............ itu gak bener kan? mas Satrio akan baik-baik aja kan? bu tolong bilang kalo semua ini gak 100% bener kan?" Novia menangis tersedu-sedu kaki nya semangkin lemas dada nya terasa lebih sesak dari sebelumnya.
Vano dan Adam mencoba menenangkan ibu nya dan Novia.
"Kita berdoa ya semoga gak akan ada hal terburuk yang terjadi sama kak Satrio." Vano menyeka air mata nya.
"Aku juga yakin kok ........... semua akan baik-baik aja. kak satrio pasti kuat dia kan orang yang kuat ayo kita doa sama-sama untuk kak satrio. Aku janji akan carikan dokter bedah yang lebih bagus dari aku sendiri di rumah sakit ini. Dia dokter senior disini rata-rata operasi nya 99% pasti berhasil," ucap Adam untuk menenangkan keluarganya.
Adam pun langsung bergegas ke ruang profesor gunawan.
"Siska prof ada? "
"Eh..... dokter Adam, ada kok. Silahkan masuk ke dalam."
"Makasih."
Adam langsung memasuki ruangan.
"Selamat sore prof."
"Iya dam......ada apa? oh iya saya dengar kakak kamu masuk rumah sakit ya? "
"Iya prof, kakak saya kecelakaan."
"Saya turut sedih atas musibah yang menimpa kakak mu."
"Iya prof terimakasih."
"Jadi ada apa dam?"
"Saya tau prof sudah banyak melakukan operasi dan itu berhasil, saya mau prof yang mengoperasi kakak saya."
"Loh bukannya yang akan mengoperasi itu seharusnya kamu?"
"Iya prof saya tau, tapi saya gak bisa bertaruh nyawa kakak saya sendiri apalagi dia sebulan lagi ingin melangsungkan pernikahan. Saya akan sangat menyesal kalau operasi itu sampai gagal."
"Hem............ saya mengerti dam, baik saya yang akan mengoperasi kakakmu."
"Terimakasih prof."
"Sama-sama dam, apapun hasilnya kita serahkan semua nya sama Allah karena hanya Allah lah yang menakdirkan hidup dan mati nya seseorang."
"Iya prof, kalau begitu saya permisi dulu mau mengurus surat-surat operasi kakak saya."
"Iya dam, harus banyak berdoa ya." Menepuk pundak Adam.
__ADS_1
"Iya prof."