
Tak terasa sudah seminggu lamanya Novia ditinggalkan oleh calon suaminya. Rasa pilu yang begitu hebatnya dan sakit yang begitu menyakitkan masih ia rasakan, namun ia paksakan menjalani hari-hari seperti biasa nya. Walau berat baginya tapi hidup harus terus berjalan apapun yang terjadi ia hanya bisa berusaha kuat dan tabah.
Pagi ini Novia akan berangkat ke kampus. Ini merupakan hari ketiga ia masuk kampus setelah sekian lama izin untuk menjaga Satrio dan menemaninya sampai ke peristirahatan terakhirnya. Novia masih tampak berduka, wajahnya sayu tanpa semangat. Caca mencoba berulang kali menguatkan sahabatnya namun usaha nya selalu sia-sia dikala Novia teringat Satrio, ia akan menangis kembali seperti ingatan tentang kepergian Satrio masih sangat membekas dalam hati dan fikiran Novia.
Minggu ini ada ujian akhir semester untuk Novia dimana sehabis ini ia akan melakukan KKN lalu menyusun proposal skripsi dan rangkaian kegiatan lainnya untuk menuju kelulusan nya. Novia tampak sayu tak jarang ia sering sekali melamun sendirian, jarang bergabung dengan teman-teman yang lainnya. Namun Caca selalu setia menemani nya kemana pun Novia berada.
"Nov udah dong sedih nya, gue jadi ikutan sedih terus kalo liat lo kaya gini," ucap Caca yang terlihat sedih melihat kondisi sahabat nya yang sedang terpuruk.
"Ca lo mau gak nemenin gue ke rumah ibu Inggit," ucap Novia dengan nada yang rendah.
"Yaudah gue temenin, tapi lo harus janji dulu sama gue untuk gak terlalu sedih kaya gini. Ya gue tau kok nov lo berhak untuk sedih, tapi mau sampe kapan?" tanya Caca dengan nada yang melemah.
"Maaf ya gue sering banget ngerepotin lo, dan makasih juga lo selalu nemenin dan ngehibur gue," ucap Novia seraya memegang kedua tangan Caca.
"Iya nov, lo itu udah gue anggep kaya sodara kandung gue sendiri." Memeluk Novia.
Setelah selesai kuliah Caca mengantarkan Novia untuk kerumah ibu inggit. Caca terus mendampingi Novia karena ia takut sahabatnya akan berbuat sesuatu yang berbahaya pada dirinya melihat kondisi yang serapuh seperti sekarang ini Caca menjadi over thinking kepada Novia.
Setelah sampai kerumah ibu inggit, Novia masih meneteskan air mata nya. Ia teringat kenangan-kenangan manis bersama dengan Satrio.
"Nov lo kenapa kok nangis?" tanya Caca.
"Gak apa-apa ca," jawab Novia lirih.
"Yaudah yuk turun dari mobil," ajak Caca.
Mereka pun turun dari mobil dan langsung menemui ibu Inggit, kondisi rumah saat itu sangat sepi seperti tidak ada orang.
"Assalamualaikum," ucap Novia dan Caca.
"Wa'alaikumsalam." Membuka pintu.
"Eh non Novia," ucap asisten rumah tangga ibu Inggit.
"Iya bik, ibu nya ada?" tanya Novia kepada asisten rumah tangga ibu Inggit.
"Ada non lagi di teras belakang, masuk non." Mempersilahkan Novia dan Caca untuk masuk.
__ADS_1
"Iya bik terimakasih." Novia dan Caca masuk ke dalam untuk menemui ibu Inggit.
Novia dan Caca pun menuju teras belakang untuk menemui ibu Inggit. semenjak kepergian Satrio, Novia kondisinya memburuk dan tidak bisa kerumah ibu Inggit selama hampir satu minggu ini.
"Assalamualaikum ibu." Menghampiri ibu Inggit dan langsung memeluk nya.
"Wa'alaikumsalam sayang." Membalas pelukan Novia dengan hangat.
"Gimana keadaan ibu?" tanya Novia kepada ibu Inggit dengan lemah lembut.
"Alhamdulillah sudah baikan, kamu gimana keadaan nya sayang sudah sehat?" tanya sembari mengusap kepala Novia.
"Alhamdulillah bu Novia juga udah baikan."
"Alhamdulillah," ucap ibu Inggit seraya tersenyum.
"Oh iya bu, kenalin ini temen Novia si Caca." Memperkenalkan sahabatnya itu kepada ibu Inggit.
"Oh yang kemarin nemenin kamu itu ya." Ibu Inggit tersenyum dengan sangat ramah.
"Iya bu." Bersalaman dengan ibu Inggit.
"Terimakasih bu." Caca tersipu malu, muka nya seketika memerah.
"Hem, nov ada sesuatu yang ingin ibu kasih ke kamu. Ini amanah dari Satrio yang dititipkan ke ibu sebelum dia pergi meninggalkan kita." Berbicara dengan nafas berat.
"Apa itu bu?" tanya nya dengan penasaran.
"Sebentar kamu tunggu sini ya ibu akan ambilkan ke kamar ibu," pinta ibu Inggit.
"Iya bu," ucap Novia dengan patuh.
setelah beberapa menit kemudian Novia menunggu akhirnya ibu inggit kembali membawa kertas yang entah apa isi di dalamnya.
"Ini Nov coba kamu baca, ibu juga mau tau isinya apa soalnya ibu sengaja biar kamu duluan yang lihat."
"Iya bu." Novia pun membuka lipatan kertas itu dan membacanya.
__ADS_1
Dear calon istriku yang sangat aku sayangi.
maaf yang akan pertama kali aku sampaikan, maaf karena aku tidak bisa menepati janjiku untuk menikahi mu. Maaf karena aku belum bisa sepenuhnya membahagiakan mu dan maaf karena aku membuatmu bersedih dan membuatmu memiliki luka yang sangat dalam. Satu hal yang ingin aku sampaikan sebenarnya selama ini ada hal yang aku ingin sangat sampaikan tapi aku gak mau membuatmu bersedih. Maka dari itu aku menyembunyikan nya, bukalah amplop berwarna putih yang aku titipkan di ibuku.
Maafkan aku telah menyembunyikan semuanya darimu percayalah aku sangat menyayangimu, i love you calon istriku.
Tak terasa air mata membasahi pipi Novia, setelah membaca surat dari Satrio ia langsung membuka amplop berwarna putih yang dititipkan ke ibu Inggit. Setelah dibaca Novia sangat syok melihat diagnosa dokter yang menyatakan bahwa calon suaminya itu memiliki sakit yang sangat serius yaitu kamker otak stadium dua. Ia tak percaya karena selama ini Satrio selalu terlihat baik-baik saja.
"Bu ini benar?" tanya Novia gemetar seraya meneteskan air mata nya.
"Iya sayang, maafin ibu ya gak bilang ke kamu soalnya Satrio yang minta ibu supaya gak bilang ke kamu karena takut kamu nya sedih." Menggenggam tangan Novia dan ikut meneteskan air matanya.
"Jadi operasi kemarin gagal karena ini?" Menangis sesegukan.
"Iya sayang, sebetulnya di kepala Satrio ada penggumpalan darah di otak akibat benturan yang cukup keras waktu kecelakaan itu. Kondisi itu diperparah oleh sakit kankernya yang sudah mulai menyebar ke bagian kepala dan tubuh nya, itulah yang membuat operasi itu sangat beresiko untuk Satrio." Meneteskan air mata.
Flashback on.
"Mas." Menyentuh lengan Satrio.
"Novia." Satrio terkejut.
"Mas, kamu ngapain disini? "
"Emm.......ini...... aku......"
"Mas sakit? "
"Enggak, aku baru aja jenguk temen aku yang sakit dia dirawat disini"
"Oh......syukurlah aku kira mas sakit" perasaan lega.
Flashback of.
"Jadi waktu itu aku ketemu dia itu sebenernya dia gak jenguk temannya tapi lagi check up karena sakit kanker," batin Novia.
Novia menangis sesegukan mengingat segala sesuatu yang menyakitkan tentang Satrio. Ibu Inggit yang melihat calon mantunya itu menangis langsung memeluknya dan menenangkan nya. Ibu Inggit tau bagaimana perihnya ditinggal oleh orang yang sangat disayang. Caca pula mencoba menguatkan Novia yang sedang menangis sesegukan di pelukan ibu Inggit, Caca mencoba mengelus punggung Novia agar Novia lebih tenang. Ibu Inggit meminta tolong kepada caca agar mengambilkan segelas air untuk Novia.
__ADS_1
"Ca tolong ambilkan segelas air putih ya untuk Novia. Minta aja sama bibik, bibik di dapur kok"
"Iya bu." Caca langsung menuju dapur untuk mengambilkan segelas air putih untuk Novia.