Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 10


__ADS_3

Arvin dari tadi mengikuti Melia, sebenarnya dia tidak tega melihat Melia di usir oleh Devan. Ingin rasanya dia menonjok muka Devan, tetapi dia sudah salah. Arvin sangat menyayangi Melia, sayangnya dia tidak berhak untuk ikut campur urusan rumah tangga Melia.


Ingin rasanya Arvin memeluk dan menenangkan Melia, tapi apa daya dia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. "Sepertinya aku harus pergi dari hidupmu, Mel! tidak seharusnya aku menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mu. Bahagia selalu, Melia," ucapnya dengan air mata menetes di kedua pipinya.


Arvin hari ini juga akan pindah ke luar kota, dia lakukan agar tidak mengganggu Melia lagi. Rasa bersalah yang membuatnya mengambil keputusan berat ini, dia harus bisa melupakan orang yang dia sayang.


"Ayo aku antar pulang! jangan sedih lagi ya, aku yakin semua baik-baik aja," ucap Rena.


"Aku gak bisa pulang ke rumah, Ren. Nanti kalau Papah tanya aku jawab apa? aku sudah banyak dosa, tiap mereka tanya soal suami harus berbohong. Papah sakit jantung, aku takut penyakitnya kambuh kalau tau semua," Jelas Melia.


Rena hendak mengajak Melia ke rumahnya, tetapi Melia menolak karena tidak enak dengan suami sahabatnya itu. Kemudian Rena mengajak Melia ke rumah Ayahnya, kebetulan Ayah Rena berada di rumah sendiri.


Di tengah perjalanan Rena mendapatkan pesan singkat dari Arvin, dia berpamitan pada Rena dan memintanya untuk menjaga Melia dengan baik. Rena kemudian memberikan ponselnya pada Melia.


"Cepat Ren, kita ke bandara! kita gak punya banyak waktu," kata Melia.


Rena melajukan mobil Melia dengan kecepatan tinggi, karena waktu mereka tidak banyak. Melia hendak mencegah Arvin pergi, dia tidak mau kehilangan kekasihnya. Kalau tidak karena Papahnya dia sudah minta diceraikan Devan.


Setelah sampai Melia menyuruh Rena untuk menunggu di mobil saja, dia tidak mau Rena capek. Tetapi Rena tetap mengikuti Melia, dia khawatir dengan keadaan sahabatnya.


Melia berlari menuju ke ruang tunggu pesawat, untung saja Arvin masih di situ. Melia langsung memeluk Arvin sembari menangis, dia tidak rela Arvin meninggalkannya.


"Mel, aku harus pergi! ini semua demi kebahagiaan dan kebaikan mu," kata Arvin membalas pelukan Melia.


"Tidak! justru sebaliknya yang akan terjadi kalau kamu pergi. Aku butuh kamu," ucap Melia berusaha mencegah Arvin pergi.


"Kamu istri orang! gimana kita mau bersama, lebih baik kita jalani hidup masing-masing," kata Arvin menghapus air mata Melia.


Ucapan Arvin menyadarkan Melia, apa yang dikatakan ada benarnya. Tetapi perasaan mereka tidak bisa di bohongi sama sekali, mereka hanya mengungkapkan apa yang di rasa.


Rena yang menyaksikan mereka berdua ikut meneteskan air mata, perjuangan kisah cinta sahabatnya benar-benar butuh perjuangan.


Melia gagal mencegah kepergian Arvin, semua keputusan Arvin sudah bulat dan tidak bisa di ganggu gugat.


"Vin, aku tetap akan menunggu kamu pulang," ucap Melia.

__ADS_1


Arvin hanya tersenyum, perlahan dia melepaskan genggaman tangan Melia karena pesawat yang di tumpanginya hendak terbang.


Melia hanya bisa menangis meratapi kepergian Arvin, Rena mendekat dan memeluk sahabatnya itu.


"Dia hanya mewujudkan cita-citanya! doakan yang terbaik saja," ucap Rena.


Rena mengirim pesan pada suaminya kalau dia hendak tidur di rumah ayahnya, karena menemani Melia yang sedang sedih. Devan mengizinkan Rena menginap di sana, tetapi nanti dia akan menyusul.


"Mel, kamu mau makan apa? gimana kalau kita beli martabak kesukaan kamu," ucap Rena sembari melajukan mobil Melia.


Melia yang duduk di sebelah Rena hanya menggelengkan kepalanya, dia masih sedih di tinggal Arvin pergi.


"Kalau kamu gak mau makan, terus sakit...


"Arvin pasti akan pulang, Rena! dia akan ada di saat aku sakit, menjaga ku," kata Melia memotong ucapan Rena.


"Salah! justru dia tidak akan tau kalau kamu sakit, aku gak akan kasih kabar," kata Rena.


Mereka berdua kemudian tertawa, Rena memang suka bercanda saat Melia sedih. Begitu juga sebaliknya kalau Rena lagi sedih, Melia pasti akan memenangkan.


"Ayah!" teriak Melia saat melihat Arman sedang menyirami tanaman di depan rumah.


Arman menghentikan aktivitasnya saat melihat putrinya datang, dia kemudian menemui Melia dan Rena.


"Melia, lama kamu tidak ke sini? kemana saja," ucap Arman.


"Kebetulan lagi banyak kesibukan, Yah," kata Melia dengan mata lebam.


"Ayah, kita ke dalam dulu," ajak Rena karena Melia masih sedih.


"Iya sayang," ucap Arman dengan lembut.


Mereka kemudian masuk ke dalam rumah, dan duduk di ruang keluarga. Melia juga sudah di anggap seperti anak sendiri oleh Arman, jadi mereka terlihat sangat akrab.


🥀🥀

__ADS_1


"Bro, besok lu datang ke ulang tahun Sania gak?" tanya Andra.


"Males, gue! lagian itu cewek sok kenal, kalau datang gue ajak istri biar aman," kata Devan.


"Pacar lu si Fira pasti datang tuh," kata Andra lagi.


"Jelaslah! mereka kan saudara," ucap Devan yang memang mengenal keluarga Fira.


"Secara mereka bersaing dapetin lu, kalau gue mah ogah," ejek Andra.


Kebetulan Sania berkerjasama dengan Devan, tetapi yang sering meng-handle pekerjaan Devan adalah Andra. Devan malas setelah mengetahui kalau Sania saudara Fira, keduanya sama-sama menyukai Devan.


"Gue pulang dulu! mau ke rumah mertua," pamit Devan.


"Barengan, dong! masa lu tega tinggalin gue sendiri," kata Andra.


"Mobil lu kemana? tadi kesini naik apa? bikin repot orang aja!" ketus Devan.


"Tadi nebeng Jelita, tetangga sebelah," jawab Andra.


Devan menyuruh Andra yang menyetir mobilnya, dia hendak melajukan mobilnya menuju ke rumahnya terlebih dulu.


"Ada yang ngikutin kita," ucap Andra.


Devan menoleh ke belakang, tetapi dia mengatakan mungkin mobil yang sama-sama lewat. Kemudian Andra memberhentikan mobilnya di tepi jalan, mobil yang mengikutinya ikut berhenti.


"Kenapa berhenti lagi," protes Devan.


"Lu lihat itu mobil merah! ngikutin kita lagi, ada yang gak beres ini," ucap Andra.


"Jelita mungkin yang mengikuti kita," kata Devan.


Andra melajukan mobilnya dengan pelan, dia berhenti di sebuah restoran lalu mencoba turun dari mobil. Dia meninggalkan Devan sendiri di dalam mobil, dan mengawasi mobil yang mengikutinya tadi.


Ponsel Devan berdering, ternyata panggilan dari Rena yang memberitahu kalau Rena sudah bersama Melia di rumah Ayahnya. Devan juga mengatakan kalau belum bisa datang, karena di ikuti oleh orang yang tidak dia kenal.

__ADS_1


Orang yang mengikuti mereka tidak turun dari mobil, kemudian Andra menyuruh Devan untuk menyusulnya masuk ke dalam restoran. Andra sudah mengintai orang itu dari lantai atas, Devan pun mengikuti apa yang dikatakan oleh Andra.


__ADS_2