Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 40


__ADS_3

Devan bangun dari tidur hendak pergi ke kantor, dia ingin mencari tau siapa orang yang telah mengurung Rena di toilet.


"Mas, mau kemana?" tanya Rena.


"Ke kantor, sayang! apa kamu mau ikut?" tanya Devan.


Rena kemudian ikut suaminya ke kantor, karena dia tidak tau mau ngapain kalau berada di rumah. Sampai di kantor Devan mengumpulkan semua karyawannya, dengan wajah yang tidak seperti biasanya. Bahkan para karyawannya sampai heran, mereka merasa tidak melakukan kesalahan apapun.


"Siapa yang sudah berani mengurung istri saya di gudang? jawab!" ucapnya dengan keras.


Tidak ada yang menjawab, para karyawan justru bingung karena ada yang belum tahu kalau Devan sudah menikah.


"Kalian gak ada yang mau mengatakan!" bentak Devan.


Rena berusaha menenangkan suaminya, dia tidak mau sampai karyawan jadi korban gara-gara mengurungnya.


Ada satu karyawan yang dari tadi diam, kemudian Rena mendekati karyawan itu. Rena tidak mau sampai karyawan itu dipecat, ia mengajak karyawan itu masuk ke ruang kerja Devan.


Orang itu bersimpuh di kaki Rena, sembari minta maaf. Dia menyesal melakukan perbuatannya, demi dibayar oleh orang dia rela melakukan semua itu.


"Siapa yang sudah membayar mu? katakan!" ucap Devan dengan keras.


"Tuan Salman... " ucap karyawan itu.


Karyawan itu menerima tawaran Salman karena butuh biaya untuk saudaranya yang sedang sakit, dia benar-benar terpaksa. Sebenernya dia diperintahkan untuk membunuh Rena, tetapi tidak tega jadi hanya mengikat saja.


Devan mengepalkan tangannya, ingin rasanya membalas perbuatan Salman. Dia juga sudah tau apa tujuannya melakukan kejahatan itu.


"Mas, sudah gak papa! maafkan dia, biar berkerja lagi," ucap Rena.


"Tapi dia harus dihukum, sayang! perbuatannya sudah keterlaluan," ucap Devan.


Rena terus berusaha meyakinkan suaminya kalau dia baik-baik saja, agar karyawan itu tidak dihukum walaupun sudah berbuat jahat. Apalagi karyawan itu sudah jujur dan melakukan karena terpaksa, jadi Rena sangat menghargai kejujuran orang itu.


Devan menuruti apa kata istrinya, kalau sampai ada lagi karyawan yang berbuat jahat ia akan langsung memecatnya.


"Mas, lebih baik kita pulang saja! ini sudah hampir petang," ucap Rena agar masalah ini tidak diperpanjang lagi.

__ADS_1


Devan akhirnya mau diajak pulang oleh istrinya, tetapi hanya mengantarkan pulang karena ia berencana akan membuat perhitungan dengan Salman. Devan tidak akan tinggal diam soal Salman, sesekali ingin memberinya pelajaran.


"Salman itu siapa, Mas?" tanya Rena yang memang belum tau nama Papah Melia. Walaupun Rena dan Melia bersahabat tetapi Rena belum mengenal dengan akrab siapa Salman, dulu waktu Rena main ke tempat Melia Papahnya jarang berada di rumah karena kerja di luar kota.


"Dia adalah orang yang ingin berkerja sama dengan perusahaan Mas, tetapi Andra tolak karena orang itu berniat tidak baik," jelas Devan. Tidak berkata jujur, karena takut Rena akan marah dan tau semuanya.


"Oh... pantes saja orang itu cari masalah terus," ucap Rena.


Sampai di rumah Devan hanya mengantar Rena pulang, ia langsung menuju ke rumah Salman. Di rumah Salman ia mengetuk pintu dengan keras, kebetulan Mamah Ema yang membuka pintu untuk Devan.


"Devan, mana Melia? tumben datang kesini sendiri," ucap Mamah Ema dengan lembut.


"Mana Papah, Mah?" tanyanya dengan wajah menahan amarah.


"Ayo masuk dulu! Mamah panggil dulu ya," kata Mamah Ema.


Tak lama kemudian Salman datang sambil tersenyum, dia seperti mengejek Devan.


"Akhirnya anda keluar juga! sebenarnya apa mau anda, sampai tega menyuruh orang untuk membunuh istri saya," ucap Devan.


"Papah! kenapa bicara seperti itu? Mamah tidak suka," sahut Mamah Ema.


"Mah, Papah sudah berhasil membuat dia tidak bisa menceraikan Melia! tinggal satu langkah lagi, yang menjadi penghalang," kata Salman terang-terangan.


Devan merasa hatinya sangat sakit, dia mengepalkan tangannya ingin rasanya menonjok muka Salman.


"Devan, maafkan suami Mamah ya! semua ini diluar kendali saya dan Melia. Seandainya kita tau rencana Papah seperti ini, kita tidak akan mendukung," ucap Ema penuh dengan penyesalan.


"Jangan merendahkan diri, Mah! kita sudah benar," ucap Salman.


"Diam, Pah!" teriak Ema.


Sekarang Ema dan Salman bertengkar karena masalah ini, sedangkan Devan pergi ke rumah yang ditempati Melia. Dia ingin Melia segera mencari cara agar bisa bercerai.


"Melia!" teriak Devan.


"Iya gue denger! gak usah teriak juga," sahut Melia.

__ADS_1


"Lu, tau apa yang sudah dilakukan oleh bokap lu? dia sudah berani menyuruh orang untuk membunuh Rena," jelas Devan.


"Tidak... tidak mungkin! Papah akan tega n


mencelakai Rena," ucap Melia sembari menggelengkan kepalanya.


Devan menuduh kalau Melia bersekongkol dengan Salman karena tidak percaya dengan apa yang sudah dikatakan oleh Devan, Melia tidak tau kalau Papahnya orang yang sangat jahat tega melakukan apa saja demi ambisinya.


"Sekarang gue minta lu cari cara agar kita bisa cerai! gue gak mau Rena dalam bahaya!" ucap Devan dengan tegas.


"Kenapa Rena dan Rena yang selalu lu belain, gue juga korban pernikahan gak jelas ini," ucap Melia merasa kesal dengan Devan karena selalu menyalahkannya saat ada keributan dengan Salman.


"Sadar lu, anggap pernikahan ini gak jelas! kenapa gak cari cara agar jelas," ucap Devan. Semua gara-gara orang tua lu," Lanjutnya. Devan kemudian pergi dari rumah Melia, saat keluar ia membanting daun pintu dengan keras sehingga menimbulkan suara dan Melia menangis. Tetangga Devan sampai ada yang keluar dari dalam rumah, mereka melihat apa yang terjadi.


"Mas, gimana ketemu sama orang itu?" tanya Rena saat suaminya masuk ke dalam kamarnya.


"Iya, sayang! semua sudah beres," kata Devan berbohong.


Rena lalu menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya, dia tau kalau Devan sangat lelah dapat dilihat dari raut wajahnya.


***


Keesokan harinya Rena sudah bersiap untuk berangkat ke kampus, hari ini ia akan melakukan kegiatan penelitian bersama teman-temannya.


"Sayang, Mas akan antar sampai di pantai," ucap Devan saat berada di meja makan.


"Rena bisa berangkat bareng Melia dan yang lain, Mas," ucap Rena menolak.


"Kakak mau ke pantai? Devia gak diajak," ucap Devia.


"Ini kegiatan kampus, Devia. Kalau liburan keluarga aja kamu boleh ikut," kata Devan.


Devan tidak tega jika Rena harus berangkat bersama teman-temannya, dia ingin mengikuti tanpa sepengetahuan Rena tetapi pekerjaan Devan sangat banyak. Kebetulan Andra juga baru berada di luar kota, jadi Devan tidak bisa mengawasi istrinya.


Devan hanya bisa mengantarkan Rena sampai di kampus saja, wajahnya terlihat tidak ikhlas. Tetapi Rena juga harus mengikuti kegiatan itu, agar nilainya bagus.


Rena dan teman-temannya berangkat ke pantai dengan menggunakan bus yang sudah disiapkan oleh pihak kampus, mereka sangat bahagia. Karena sopir tidak hafal jalan mereka semua tersesat disebuah hutan, mereka tidak ada yang sadar karena asyik bernyanyi seperti anak kecil.

__ADS_1


__ADS_2