Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 29


__ADS_3

Devan mendapatkan pesan dari Melia, yang mengatakan kalau dirinya dirawat di rumah sakit. Tetapi saat ini ia sedang istirahat bersama Rena, karena sudah malam pesan dari Melia hanya dibaca lalu dihapus. Dia takut Rena membaca pesan itu, yang akhirnya bisa mengakibatkan pertengkaran dengan Rena.


Devan melihat istrinya yang tertidur dengan pulas, ia tatap wajah cantiknya. Semakin ada rasa tidak tega dan menyesal tadi dia sudah memarahi istrinya, padahal bukan salah Rena. Harusnya dia paham kalau laki-laki akan bersikap seperti itu ketika melihat wanita cantik, apalagi Rena yang terbilang temannya sendiri.


"Maafkan," ucapnya sembari mengelus wajah Rena.


Kemudian ia membenarkan selimut istrinya yang sempat tersingkap, lalu memeluk tubuh istrinya dan ikut terlelap ke alam mimpi.


***


"Gimana? suami lu dateng gak?" tanya Eros.


Melia menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum ke arah Eros. Senyum untuk menutupi luka yang dia pendam, agar temannya tidak tau apa yang dia sedang rasakan saat ini.


"Jangan-jangan suami lu, selingkuh! masa istrinya sakit gak peduli sama sekali, coba telpon aja," ucap Eros dengan kesal.


"Udah gak papa! lu, kalau mau pulang silahkan," ucap Melia tersenyum.


"Lu, malah ngusir gue! Melia, harusnya berterimakasih kek," kata Eros.


Melia tertawa mendengarkan ucapan temannya, walaupun sering berdebat tetapi Eros orang yang baik.


"Walaupun gue begini, gue juga punya rasa tanggung jawab! gak kaya suami lu," kata Eros.


Karena sudah tengah malam, Eros menyuruh Melia untuk minum obat dan beristirahat. Kebetulan dia juga sudah ngantuk, Eros menuju ke sofa yang ada di ruangan itu lalu merebahkan tubuhnya.


***


Pagi hari Rena sudah bersiap untuk pergi ke kampus, dan Devan hendak ke kantor.


"Kak, berangkat ke kampus bareng yuk! nanti mobilku kakak bawa setelah antar aku," ucap Devia.


"Em....


"Gak boleh! Rena aku yang antar," sahut Devan memotong ucapan Rena.


"Kakak, kan harus ke kantor! ngeselin deh, gak dibolehin," ucap Devia.


"Ada apa ini? pagi-pagi kalian udah ribut aja," kata Nadia.


"Tau tuh, kak Devan," ucap Devia kemudian berpamitan pada Nadia dan Rena lalu berangkat ke sekolah.


Devan akhirnya mengantarkan Rena ke kampus, dia masih tidak rela istrinya digoda laki-laki lain. Sampai diparkiran kampus, Devan ikut turun dari mobil.


"Mas, Rena masuk ke dalam dulu" ucap Rena.


"Mas antar kamu ke dalam, sayang," kata Devan menggandeng tangan istrinya.


"Boleh, Mas," ucap Rena seraya menautkan jari-jarinya ke jari tangan suaminya.


Sikap Devan seperti anak kecil, yang takut kehilangan ibunya. Dia mengantarkan Rena sampai duduk di dalam kelas. Setelah memastikan istrinya tidak ada yang menggoda dia baru pergi meninggalkan kampus dan menuju ke kantor.


Tiba-tiba Eros datang menemui Rena, membuat Rena takut Devan masih ada dilingkungan kampus.


"Kenapa seperti ketakutan gitu, Rena? suamimu udah pergi," kata Eros.


"Yang benar saja? aku takut Mas Devan kembali lagi," kata Rena.


"Gak bakalan! Rena, gue mau kasih kabar," kata Eros.


"Kabar apa? tumben banget kasih kabar segala, bahagia atau sedih ini," ucap Rena.


"Melia sekarang ada di rumah sakit," kata Eros membuat Rena kaget.

__ADS_1


"Apa! dimana?" ucap Rena.


Eros memberitahu alamat rumah sakit dimana Melia dirawat, Rena sangat khawatir sekali. Dia langsung bergegas meninggalkan kampus.


Rena menghadang taksi yang lewat didepan kampus. "Pak, jalan cepat ya! ke rumah sakit," ucapnya.


Rena sampai juga di rumah sakit yang dimaksud oleh Eros, kemudian dia mencari ruang dimana Melia dirawat. Tak sengaja dia menabrak seseorang karena tidak melihat ke arah depan.


"Mas! kenapa ada disini?" tanya Rena mengerutkan dahinya.


"Sayang, kamu ngapain disini? Mas habis jenguk teman kerja kantor," ucap Devan.


"Hai, Rena," sapa Andra yang ada dibelakang Devan, Rena hanya tersenyum.


Rena mengatakan kalau dia ingin menjenguk Melia yang dirawat, ia juga mengajak Devan tetapi Andra melarang karena pekerjaan di kantor banyak.


Devan berpesan pada Rena agar hati-hati, karena dia dan Andra harus segera ke kantor. Rena mengiyakan ucapan suaminya, lalu Rena mencari dimana Melia.


"Untung saja gak ketahuan," ucap Andra.


"Ini semua gara-gara lu, coba tadi kita jangan kesini," ucap Devan.


"Gak usah bawel! kita ke kantor sekarang," ucap Andra.


Ceritanya tadi habis mengantarkan Rena ke kampus, Devan langsung pergi ke apartemen miliknya mengajak Andra ke rumah sakit untuk menjenguk Melia. Devan mengajaknya pulang dari kantor, tetapi Andra nekad mengajak sekalian jalan ke kantor. Sebelum sampai di rumah sakit Andra berhenti di toko bunga, ia membelikan bunga untuk Melia satu tangkai.


***


Rena membuka pintu kamar dimana Melia dirawat, Melia terlihat sedang mencium bunga yang dia pegang.


"Yang dapat bunga senengnya," ucap Rena sembari tersenyum.


"Rena!" kaget Melia.


"Kenapa kaget gitu! gak seneng ya aku datang," ucap Rena langsung memeluk Melia.


"Engga, kok kamu tau aku sakit? dari siapa?" tanya Melia.


"Eros yang kasih kabar, dia bilang semalam jagain kamu. Emang suamimu gak jenguk, Mel?" tanya Rena.


"Kamu tau kan, kalau suamiku lebih mengutamakan istrinya. Tadi pagi kesini cuma sebentar, kasih bunga terus pergi," jelas Melia.


"Kamu yang sabar, pasti semua ada hikmahnya," ucap Rena tersenyum.


Melia tidak tau harus mengatakan apa pada Rena, kalau dia tau semuanya.


"Kok bengong," ucap Rena lagi.


"Aku lagi gak konsen aja, kamu kesini sama siapa?" tanya Melia.


"Sendiri, kebetulan Mas Devan sudah berangkat ke kantor. Tadi ketemu juga didepan, katanya dia jenguk temannya yang lagi sakit," jelas Rena.


"Enak ya punya suami yang perhatian, kemana-mana diantar. Aku ingin ngerasain kaya kamu, Rena," ucap Melia.


"Mas Devan perhatian tapi, dia terlalu protektif," kata Rena. Kamu mau dikekang," Lanjutnya.


Melia biasanya tidak suka dikekang ataupun diatur, dia menyukai kebebasan. Jadi kemungkinan kalau sama Devan bisa tiap hari berantem, berbeda dengan Rena yang selalu nurut dan mengalah dengan suaminya.


Dokter yang akan memeriksa Melia datang, dia ingin mengecek keadaan Melia.


"Nona, bisa keluar sebentar," ucap Dokter tampan yang bernama Alex.


"Baik, Dok," ucap Rena.

__ADS_1


Setelah beberapa menit dokter itu memanggil Rena, dia menjelaskan kondisi Melia sekarang.


"Nona, teman anda sepertinya terlalu banyak pikiran. Kalau bisa ajak dia liburan atau kemana, jangan biarkan menyendiri," jelas dokter.


"Saya usahakan dokter, apa sudah boleh pulang?" tanya Rena.


"Nunggu dokter spesialis ya? sebenarnya saya dokter kandungan, kebetulan ada kunjungan dengan pasien," ucap Dokter Alex.


Dokter itu mengajak Rena untuk berkenalan, Rena juga mengatakan kalau dia sudah bersuami. Dia takut akan terjadi salah paham lagi.


"Memangnya kenapa kalau sudah punya suami? saya juga punya istri, namanya Chika," ucap Dokter sambil tersenyum.


"Kurang tepat saja, dok," kata Rena.


Dokter juga menyarankan agar Melia tidak berfikir terlalu berat dulu, setelah mendengarkan penjelasan dokter Rena mengatakan pada Melia.


Melia menyuruh Rena untuk pulang dulu, tetapi Melia tidak ada yang menjaga ia pun menolak.


"Aku mau tunggu sampai suami kamu datang, Mel," ucap Rena sembari menyuapi Melia makan.


"Dia gak akan bakal datang," ucap Melia.


Rena tetap bersikeras hendak menjaga Melia, dia bahkan sampai meminta izin pada Devan agar diperbolehkan untuk menjaga Melia.


"Rena, kamu juga belum makan kan? sana makan dulu," ucap Melia agar ada kesempatan untuk mengirimkan pesan pada Devan.


Rena kemudian pamit untuk ke kantin lebih dulu, kebetulan dia juga sudah lapar. Di kantin Rena bertemu dengan dokter Alex lagi, dia menemani Rena makan siang kebetulan tidak ada jam praktek.


Dokter itu bercerita panjang lebar dengan Rena, ia mengatakan kalau belum punya keturunan.


"Rena, apa kamu sudah mempunyai anak?" tanya Alex.


"Belum, kita belum lama menikah. Aku tidak tau suamiku ingin menunda atau tidak," ucap Rena tersenyum.


"Lebih baik segera saja, jangan sampai menyesal seperti saya. Dulu kita menunda punya anak karena karir, sekarang istri saya jadi wanita yang sibuk dengan pekerjaan. Dari kantornya juga dilarang mempunyai anak lebih dulu," ucap Alex.


"Sedih ya, Dok? saya juga tidak mau seperti itu, tapi gak tau kalau suami," ucap Rena. Saya juga masih kuliah, dok," lanjutnya.


Alex melarang Rena untuk memanggilnya dokter, dia ingin dipanggil nama saja agar tidak canggung. Rena pun menuruti apa kata Alex.


"Sepertinya kurang sopan kalau saya panggil Alex aja," ucap Rena.


"Justru saya suka dipanggil nama," ujar Alex.


Rena kemudian berpamitan untuk pergi duluan, dia tidak enak meninggalkan Melia sendiri.


"Rena, tunggu!" teriak Alex.


"Ada apa lagi, Lex?" tanya Rena.


Alex meminta nomor ponsel Rena, dia beralasan jika nanti ada yang Rena tanyakan soal kandungan atau soal wanita. Rena pun memberikan, karena suatu hari nanti pasti akan membutuhkan itu.


"Maaf, aku kelamaan," ucap Rena.


"Gak papa kok, tadi juga ada suster disini," ucap Melia.


Rena kemudian berpamitan untuk ke toilet sebentar, karena ingin buang air kecil. Setelah selesai dia kembali ke tempat Melia lagi, kebetulan jarak toilet tidak jauh.


"Cepat sekali, Ren?" ucap Melia sembari mematikan teleponnya.


"Kok dimatikan teleponnya?" ucap Rena melihat Melia seperti orang yang gugup.


"Udah selesai kok," kata Melia tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2