
Melia datang lagi ke kantor, dia membawakan makanan untuk Devan. "Mulai sekarang gue mau jadi istri yang nurut sama suami," ucapnya duduk di sofa ruang kerja Devan.
"Terserah lu mau ngapain," kata Devan fokus dengan laptop yang ada di mejanya.
"Gue udah susah payah masak buat lu, buruan makan! entar dingin gak enak lho," kata Melia.
"Lu, gak liat gue lagi kerja!" ketus Devan.
Andra datang sambil berlari menuju ke ruangan Devan. "Van, gawat! di depan ada Rena mau ke sini," ucap Andra dengan jantung berdegup kencang takut kalau Rena masuk ke ruang kerja Devan.
Devan menyuruh Melia untuk bersembunyi terlebih dahulu, dia tidak mau sampai Rena mengetahui semuanya. Melia akhirnya sembunyi di belakang sofa, yang ada di pojok jadi Rena tidak akan melihatnya.
"Sayang, kamu kesini gak bilang-bilang," ucap Devan seraya mencolek dagu istrinya.
"Kalau bilang namanya gak surprise dong, Mas," ucap Rena tersenyum lalu duduk di sofa sebelah Devan.
"Bawa apa ini," ucap Devan melihat kotak makanan yang dibawa Rena.
"Makan buat, Mas. Ini tadi Rena masak dibantu Minah," ujar Rena membuka kotak makan itu lalu memberikan pada Devan.
Devan dengan senang hati menerima makanan dari Rena, lalu ia memakan makanan itu dengan lahap. "Kok tau makanan kesukaan Mas," Ucapnya.
"Sesuai isi kulkas, Mas," kata Rena mengambilkan minuman untuk Devan.
Melia yang ada di balik sofa merasa iri dengan sahabatnya, yang diperlakukan dengan baik dan makanan yang dibawa oleh Rena dimakan sedangkan darinya disentuh pun tidak.
"Sayang, kamu makan belum?" tanya Devan disela-sela makannya.
"Nanti aja Mas, di rumah," jawab Rena.
Devan menyuapi makan untuk Rena, tetapi Rena menolak karena makanan yang dia bawa untuknya.
"Sekali aja, sayang! makan ya," ucap Devan menyodorkan satu sendok nasi dan lauknya.
"Beneran sekali! ya Mas," ucap Rena lalu membuka mulutnya.
Devan tersenyum bahagia melihat istrinya, kebahagiaan yang belum pernah dia temui dalam hidupnya. Membahagiakan orang yang paling dia cintai, itulah tujuan hidupnya saat ini.
"Mas, kok lihatin Rena gitu! habisin dong makanannya," ucap Rena mengoyak tangan suaminya.
"Kamu cantik sekali, Sayang," ucap Devan dengan lembut sembari mengelus pipi istrinya. Dia paling tidak bisa mengendalikan diri ketika berdua dengan istrinya, sampai lupa dengan Melia yang bersembunyi dibelakang sofa dan menyaksikan mereka berdua.
__ADS_1
"Mas, Rena pulang dulu ya! takutnya ganggu Mas kerja," ucap Rena sembari membereskan kotak makanan.
Devan menawarkan diri untuk mengantarkan Rena pulang, tetapi dia menolak. Rena tau kalau suaminya banyak pekerjaan, jadi dia tidak ingin merepotkan.
"Sayang, Mas antar pulang! gak ada penolakan," kata Devan.
"Rena bawa mobil sendiri kok, Mas. Tadi pinjam punya Mamah," kata Rena.
Devan mengerutkan dahinya, kalau terlalu lama Rena pergi Mamahnya bisa marah. Karena sering keluar dengan teman-teman sosialitanya.
"Rena hidupmu begitu bahagia, bahkan kamu dikelilingi orang yang menyayangimu," ucap Melia dalam hati sembari menitihkan air mata.
Devan dan Rena kemudian keluar dari ruang kerjanya, mereka hendak pulang ke rumah bersama.
Setelah Devan dan Rena keluar, Melia keluar dari persembunyiannya. Ia duduk bersandar di sofa sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? haruskah aku menghancurkan kebahagiaan sahabat ku," ucap Melia.
"Memang lu, harus segera ambil keputusan! tau sendiri Devan begitu cinta dengan Rena," sahut Andra kemudian duduk disebelah Melia.
"Jujur lama-lama gue iri sama Rena, begitu banyak orang yang sayang sama dia. Berbeda dengan gue, yang ternyata hanya seorang yatim piatu," ucap Melia bersandar di bahu Andra.
"Singkirin kepala lu, main sandar aja!" ketus Andra.
"Devan sulit untuk jatuh cinta sama cewek, walaupun banyak yang dekat sama dia hanya buat mengisi kekosongan hatinya aja. Sekarang dia udah nemuin yang dia cari, Rena. Jadi lu belum beruntung, jangan berharap sama dia. Mending segera cerai, itu justru lebih baik," ujar Andra.
Melia meragukan ucapan Andra, dia justru tertantang untuk mendekati Devan. Tetapi dia takut sakit hati, dan Rena pasti akan lebih tersakiti karena belum tau yang sebenarnya.
"Kita gak bisa cerai, gara-gara Papah angkat gue," jelas Melia. Devan dijebak untuk tanda tangan perjanjian pernikahan kita," jelas Melia.
"Ceroboh itu anak! gak pakai mikir sebelum melakukan sesuatu yang akhirnya merugikan diri sendiri," kata Andra.
"Andra! Kalian di ruang Pak Devan ngapain?" kata Tasya hendak mengantarkan berkas ke meja Devan.
"Tasya, ini tidak seperti apa yang kamu lihat," ucap Andra.
Melia segera menegakkan kepalanya, dia tidak mau dianggap berbuat yang tidak-tidak oleh karyawan Devan.
Tasya langsung keluar setelah meletakkan berkas itu, Andra mengejar Tasya.
"Tasya! tunggu!" teriak Andra.
__ADS_1
"Apa? mentang-mentang lu asisten pribadi Pak Devan terus seenaknya pacaran di ruang kerja," ucap Tasya.
"Dia lagi sedih, kasihan gak punya temen buat cerita. Ya udah gue temenin dia," ucap Andra meyakinkan Tasya.
Tasya adalah tetangga di apartemen Devan, sekaligus karyawan di kantor Devan. Dia juga salah satu wanita korban kibul Andra.
"Terserah! gue mau kerja," ucap Tasya tidak peduli dengan penjelasan Andra.
Andra kembali ke ruang kerja Devan, ia menyuruh Melia untuk meninggalkan kantor. Sebelum menimbulkan masalah baru, dan sebelum Devan datang.
"Iya gue cabut!" kata Melia dengan buru-buru meninggalkan kantor Devan.
"Perlu gue anterin gak," ucap Andra.
"Gak! gue bisa sendiri, apalagi diusir kayak gini," kata Melia sambil melangkahkan kaki.
Andra mengikuti Melia sampai ke tempat parkir, dia memastikan ada yang menggangu. Lalu dia kembali ke ruang kerjanya.
**
Devan dan Rena ternyata mereka tidak pulang ke rumah, tetapi ke apartemen milik Devan.
"Sayang, dulu Mas tinggal di sini sendiri," kata Devan.
"Kenapa tidak ditempati, Mas? kan sayang kalau dibiarkan kosong," kata Rena.
"Andra sering ke sini, Sayang. Kamu mau tinggal disini? " tanya Devan.
"Engga, Mas! walaupun rumah kita kecil, lebih nyaman di rumah," kata Rena.
Devan mengajak Rena duduk, dia menceritakan kalau besok diminta oleh Ayah Rena untuk mengajari memimpin perusahaan.
"Mas, maafkan Ayah! selalu membuat Mas repot," kata Rena.
"Sudah menjadi kewajiban Mas, Sayang! kamu tidak perlu meminta maaf," kata Devan.
"Andra!" teriak Tasya dari luar.
Rena yang mendengar suara orang teriak, lalu ia keluar.
"Andra gak ada di sini, Mbak," kata Rena.
__ADS_1
"Jangan bohong kamu!" ucap Tasya dengan suara keras. Kemudian dia masuk ke dalam apartemen untuk mencari Andra.