Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 30


__ADS_3

Melia baru saja menelpon Devan, ia meminta untuk ditemani di rumah sakit malam ini. Devan menolak karena tidak ingin membuat istrinya sakit hati lagi, saat Melia hendak membujuk Devan lagi Rena datang dari toilet sehingga terpaksa ia mematikan teleponnya.


Devan mengirimkan pesan untuk Rena, dia meminta agar Rena segera pulang karena kesal dengan Melia yang semakin ngelunjak menurutnya.


"Rena, lebih baik kamu pulang," ucap Melia.


"Kenapa kamu mengusir ku, Mel? kamu gak mau aku temani," ucap Rena.


"Bukan begitu! tapi kamu butuh istirahat, Rena," kata Melia.


"Kamu sekarang berubah, sebenarnya kenapa? cerita dong kalau ada apa-apa, biar aku ngerti," ucap Rena mulai merasakan ada keanehan pada Melia.


Melia mengatakan kalau dia tidak pernah berubah, hanya lagi banyak masalah saja. Rena memberitahukan apa yang dikatakan dokter tadi, kalau Melia tidak boleh banyak pikiran. Kemudian dia berpamitan untuk pulang, karena Devan dari tadi selalu mengirimkan pesan untuknya.


Devan ternyata saat ini sudah berada di rumah, ia sedang tiduran di sofa kamarnya sambil menunggu istri cantiknya datang.


"Mas, sudah pulang?" tanya Rena saat masuk ke dalam kamar dan melihat suaminya.


"Baru saja kok," jawab Devan.


"Rena buatin minum dulu ya! maaf pulang terlambat," ucap Rena baginya kalau dia pergi suaminya sudah ada di rumah, ia terlambat.


Devan melarang Rena untuk membuatkan minuman, dia justru menyuruh istrinya untuk membersihkan tubuhnya karena dari pergi.


"Devan, Rena!" teriak Mamah Nadia.


Devan dan Rena kemudian buru-buru menemui Mamahnya, Nadia akan teriak lagi jika tidak ada yang menyahut.


"Ada apa, Mah?" tanya Rena dengan lembut.


"Kalian sibuk gak? kalau tidak Mamah mau ajak ke pesta pernikahan anaknya teman Mamah, soalnya Papah kalian gak bisa pulang," jelas Nadia.


"Gimana ya, Mah? Rena ngikut aja," kata Rena tidak enak kalau menolak permintaan mertuanya.


"Tidak!" sahut Devan tidak akan pernah lagi mengizinkan istrinya untuk pergi ke pesta manapun mulai sekarang.


"Mamah sudah siapin baju untuk Rena ke pesta, kebetulan di butik langganan Mamah ada baju pesta model baru," kata Nadia sembari memperlihatkan baju pesta yang dia bawa.


Baju pesta yang dibawa Nadia ber model tanpa lengan, jadi seperti kemben dan bawahannya panjang. Harga baju itu memang mahal, karena bahan dan kualitas bagus.


Devan merebut baju itu lalu membuangnya ke tempat sampah, dengan baju yang tertutup saja sudah membuat orang memperhatikan istrinya apalagi baju yang terbuka.


"Devan, kok dibuang! kamu ini gimana sih, itu harganya mahal," kata Nadia mengambil baju itu lalu membersihkan dengan tangannya.


"Mah, itu baju kurang bahan! gak malu apa dilihat banyak orang," ucap Devan.

__ADS_1


"Tapi ini cocok buat Rena," kata Nadia.


Devan lalu menyeret istrinya masuk ke dalam kamar, dan mengunci pintu dari dalam. Nadia yang ada diluar berteriak sambil menggedor pintu kamar Devan.


"Mas, kasian Mamah! jangan gitu lagi, kita bisa menolaknya secara halus," ucap Rena.


"Sayang, jangan belain Mamah lagi! dia tetap salah, masa kamu disuruh pakai baju kurang bahan," ucap Devan padahal sudah biasa dia datang ke pesta menemui banyak wanita pakai baju kurang bahan. Apalagi teman Mamahnya, walaupun sudah nenek-nenek masih saja berpakaian sexy.


"Tapi baju Mamah gak ada yang kurang bahan, Mas," kata Rena.


"Jangan belain Mamah terus," ucap Devan memeluk istrinya.


"Lepas, Mas! Rena mau bantu Minah siapin makan malam," ucap Rena.


Devan tidak menghiraukan istrinya, dia malah mempererat pelukannya.


"Kakak!" teriak Devia.


"Saat kita berdua di kamar, pasti ada saja yang memanggil! gimana mau jadi anak kita," ucap Devan dengan wajah kesalnya.


"Mas, sudah siap menjadi seorang Ayah?" tanya Rena.


Devan belum sempat menjawab pertanyaan Rena, Devia sudah berteriak lagi memanggil Rena. Devan kemudian menuju ke arah pintu dan membukanya.


"Ini buat kak Rena," ucap Devia memberikan buah rambutan. Ini tadi petik dibelakang rumah," Lanjutnya.


"Kenapa tidak taruh di dapur? tuh ada semutnya," ucap Devan dengan gemas menjewer telinga Devia.


"Aw... sakit!" teriak Devia.


"Mas, hentikan," ucap Rena.


Devan baru melepaskan telinga Devia, setelah istrinya meminta melepaskan telinga Devia.


"Makanya jangan ganggu orang terus," ucap Devan.


"Siapa yang ganggu! orang Devia mau kasih ini buah ke kak Rena," ucap Devia mengerucutkan bibirnya.


"Minah!" teriak Devan.


Saat ini Minah sedang memasak di dapur, dia memutar musik dengan suara yang lumayan kencang dan sambil berjoget. Jadi Minah tidak mendengar Devan berteriak, memanggilnya.


"Lagi masak mungkin, Mas," kata Rena.


Devan kemudian ke dapur, dia langsung mematikan musik Minah.

__ADS_1


"Den, kenapa dimatikan musiknya? Minah lagi nyanyi ini," ucap Minah.


"Biar cepat mateng masaknya! dipanggil dari tadi gak dengar," kata Devan.


"Hehehe... Maaf Den, lagi fokus soalnya," ucap Minah melanjutkan masaknya.


Devia dan Rena saat ini sudah berada dibelakang rumah, mereka berdua memetik buah rambutan yang buahnya lebat.


"Kak, lihat! aku bisa memanjat pohon sekarang," kata Devia yang sudah berada di atas pohon.


"Turun! entar jatuh gimana," ucap Rena khawatir dengan adik iparnya.


Kebetulan dibawah pohon itu ada kolam renang, jadi kalau jatuh masuk ke dalam kolam yang kebetulan baru saja dibersihkan.


***


Andra malam ini datang ke rumah sakit di mana Melia sedang dirawat, dia menemani Melia karena malam ini tidak ada yang menemaninya.


"Ini gue bawain roti, lumayan buat ganjal perut lu," kata Andra memberikan satu potong roti.


"Banyak banget! ini gak bakal habis dimakan," kata Melia.


"Lu, dibawain bukannya terimakasih malah mengejek," kata Andra. Buruan makan," Lanjutnya.


Melia kemudian memakan roti itu sampai habis, karena ukuran roti itu kecil. " Enak banget, beli dimana?" tanyanya.


"Sisa meeting di kantor tadi, gue kantongi. Lumayan kan dari pada beli," ucap Andra.


"Mending tadi gak usah bawa apa-apa! kelewatan lu, roti sisa aja dibawa," kata Melia.


"Kita harus hidup lebih hemat lagi, jangan boros kalau jadi orang. Dari pada roti ini dibuang kan sayang, gue kasih lu aja jadinya," kata Andra.


"Ini bungkusnya bawa pulang gak? lumayan buat bungkus lagi," kata Melia memberikan plastik itu pada Andra.


Andra menerima plastik itu dan memasukkan ke dalam tas Melia, karena kesal dari tadi diledek terus oleh Melia.


Suster datang memberitahukan pada Melia, kalau dokter spesialis akan memeriksanya dan Andra di suruh keluar lebih dulu.


Dokter mengambil sample darah Melia untuk dicek lab, karena takut ada penyakit lain yang lebih serius.


"Tunggu hasilnya lima belas menit lagi ya," ucap Dokter.


"Iya, Dok. Semoga hasilnya tidak ada yang menghawatirkan," kata Melia.


Dokter menyuruh Melia untuk istirahat lebih dulu, kalau hasilnya bagus Melia sudah diperbolehkan pulang.

__ADS_1


__ADS_2