Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 33


__ADS_3

Devan dan Rena sedang berada diperjalanan menuju ke kantor, tadi Rena berencana untuk pulang ke rumah Mamah Nadia lebih dulu tetapi dilarang.


"Ada apa ini?" tanya Devan saat melihat Andra dan Tasya berada di ruang kerjanya.


"Em... anu... itu...


"Lu, mau ngomong apa? gak jelas banget," kata Devan memotong ucapan Andra.


"Maksudnya Tasya nyari berkas," kata Andra.


"Berkas apa? kenapa nyari di sini, dari tadi gak ada yang bawa berkas kesini," ucap Devan. Sebelum gue pergi maksudnya," Lanjutnya.


"Gue juga gak nerima," kata Andra.


Tasya kemudian memberanikan diri menjelaskan hilangnya berkas tersebut, dia juga meminta maaf atas kecerobohannya. Dia menyesal sudah melakukan kesalahan yang tidak dia duga, kalau tau akan jadi seperti ini dia tidak akan menitipkan lagi.


"Apa kamu sudah tanya pada petugas kebersihan?" tanya Devan.


"Sudah, Pak! tetapi orangnya tidak ada," jawab Tasya.


"Ya sudah, lanjutkan pekerjaan mu! soal berkas biar Andra yang urus," kata Devan.


"Baik, Pak! permisi," ucap Tasya.


"Enak aja lu! kok gue lagi, ngerepotin orang aja," ucap Andra kesal.


Rena memberikan ide pada suaminya untuk melihat CCTV di kantor, siapa saja yang masuk ke kantor tanpa izin. Mereka bertiga kemudian pergi ke ruang keamanan, Devan meminta petugas keamanan memutar rekaman CCTV. Ternyata benar ada orang asing yang memata-matai perusahaan Devan, dan orang itu yang menerima berkas dari Tasya.


"Mas, kenal orang itu?" tanya Rena.


"Tidak Sayang, sepertinya orang itu bukan karyawan disini. Tetapi kenapa bisa masuk? sampai ke ruang kerja Tasya," kata Devan.


"Keamanan harus diperketat, Mas! Jangan asal membawa orang asing masuk tanpa persetujuan petugas keamanan," kata Rena.


Devan kemudian meminta pada petugas keamanan agar memperketat akses masuk kantor.


"Gue curiga itu orang suruhan, soalnya pakai ganti baju," sahut Andra.


"Aku tau suruhan siapa, ini tidak bisa dibiarkan!" ucap Devan dengan keras kemudian pergi meninggalkan Rena dan Andra.


"Mas, mau kemana!" teriak Rena. Tetapi Devan sudah tidak menyahut panggilan Rena, dia pergi dengan mengendarai mobilnya dengan kencang.


Andra mengajak Rena menunggu Devan di ruang kerja, karena kemungkinan Devan akan lama. Rena sangat khawatir dengan suaminya, seandainya dia tau suaminya pergi ke mana pasti sudah menyusul.


"Duduk, Ren! gak capek apa mondar-mandir dari tadi," ucap Andra.


"Aku khawatir sama Mas Devan, Ndra! kalau terjadi apa-apa gimana, aku takut," ujar Rena.

__ADS_1


Suamimu orang yang pemberani, jadi gak mungkin dia kalah lawan orang itu," kata Andra menenangkan Rena padahal dia juga khawatir takut terjadi apa-apa dengan Devan.


Rena sedikit lega mendengar ucapan Andra, dia lalu duduk di sofa sembari mengirim pesan untuk suaminya.


*


Devan menuju ke kantor milik Salman, dia ingat orang yang di CCTV itu adalah orang yang mengancamnya di toilet rumah sakit.


"Salman, keluar!" teriak Devan.


"Dasar tidak punya sopan santun!" ucap Salman.


"Orang tua seperti anda tidak perlu dihormati!" teriak Devan.


Devan menanyakan soal orang suruhan Salman yang mengambil berkasnya, Salman tidak mengakui perbuatannya. Devan langsung memperlihatkan rekaman CCTV itu, baru dia tertawa dan mengatakan ingin menghancurkan perusahaan Devan.


"Kembalikan berkas yang sudah anda ambil!" teriak Devan dengan kencang.


"Berkas ini hanya sampah disini," ucap Salman melemparkan berkas itu ke arah Devan.


Devan memungut berkas yang berserakan tadi, kemudian dia langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan pada Salman.


Devan menuju ke rumah yang dia tempati dengan Melia, dia sangat kesal dengan ulah Salman.


"Devan! akhirnya lu mau datang ke sini juga," ucap Melia saat membuka pintu.


"Gue gak tau! jangan tanya masalah perusahaan," kata Melia.


"Bilang sama dia jangan mencari masalah," kata Devan langsung pergi begitu saja.


Melia menjadi sedih, dia merasa tidak tahu menahu soal perusahaan tetapi Devan marah dengannya.


***


"Mas, kamu dari mana saja? bikin khawatir aja," ucap Rena saat suaminya sudah datang.


"Ada perlu sebentar, Sayang," ucap Devan tersenyum ke arah Rena.


Devan memberikan berkas itu pada Andra, agar diteliti oleh Andra. Kemudian ia mengajak Rena pulang ke rumah, tetapi Rena menolak karena ingin membantu Andra meneliti berkas itu.


"Sayang, biarkan Andra yang meneliti berkas itu! ayo kita pulang," ucap Devan.


"Mas, kasihan Andra kerja sendiri," ucap Rena.


"Dia sudah terbiasa, sayang! ada Tasya juga nanti yang akan membantu Andra," ucap Devan.


Karena tidak berhasil mengajak Rena pulang akhirnya Devan mengalah, dia kembali berkerja lagi bersama Andra.

__ADS_1


Rena tersenyum bahagia, suaminya ternyata mau menuruti permintaannya.


Mereka bertiga pulang dari kantor sudah larut malam, karena pekerjaan yang tertunda dan menyiapkan meeting untuk besok. Devan mengajak Andra untuk pulang ke rumahnya, dari pada ke apartemen sendiri.


"Van, cacing di perut gue udah bunyi," ucap Andra.


"Entar aja makan di rumah biar irit," kata Devan melirik istrinya yang duduk disebelahnya.


"Pelit, lu!" ketus Andra.


Tanpa menunggu persetujuan mereka, Devan membelokkan mobilnya menuju ke tempat makan.


"Mas, katanya mau makan di rumah?" tanya Rena.


"Sekali-kali, sayang! itung-itung nyenengin Andra," kata Devan.


"Ini gue demen," sahut Andra lalu turun dari mobil.


Mereka bertiga memesan makanan yang sama, agar cepat selesai makan. Sampai di rumah ternyata Nadia dan Minah menunggu mereka didepan pintu.


"Devan, Rena! kalian kemana saja?" tanya Nadia dengan wajah khawatir.


"Ada sedikit masalah, Mah! makanya kita baru pulang,"


ucap Devan .


Rena menjelaskan pada Nadia apa yang terjadi di kantor tadi, awalnya Nadia tidak percaya tetapi Rena terus meyakinkan agar tidak salah paham.


Nadia lalu menyuruh mereka untuk beristirahat, kecuali Andra yang sekarang masih berada di dapur dia sedang membungkus makanan untuk dibawa ke rumah Melia.


Dipikiran Andra terlintas ada nama Melia, dia lupa tidak mengirimkan makan malam untuk Melia.


"Jangan banyak-banyak! nanti kalau gak habis kan sayang," ucap Minah.


"Minah, ini sedikit kok," kata Andra.


Padahal Andra mengambil satu piring nasi, sayur dan berbagai lauk pauk hingga tempat makan yang dia ambil penuh.


"Awas aja nanti kalau gak dimakan semua! besok gak boleh ambil lagi," kata Minah.


"Pasti habis Minah sayang, soalnya gak makan dari tadi," kata Andra kemudian berangkat menuju ke rumah Melia.


Ditengah perjalanan mobil yang digunakan oleh Andra macet, membuat Andra kebingungan. "Gak mungkin gue telfon Devan," ucapnya dalam hati.


Akhirnya dia menghubungi Tasya, tetapi tidak ada jawaban dari Tasya.


"Masa gue telpon Minah, gak mungkin dia bisa bantu! mobil minta ditukar ini," ucapnya sembari menendang ban mobil hingga membuat kakinya kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2