
"Devan adalah anak Hadi Mahendra, orang yang aku benci! dia selalu unggul dari ku dalam segala hal," ujar Salman membuat istrinya tercengang.
"Kenapa Papah tega menikahkan Melia dengan anaknya?" tanya Ema dengan wajah khawatir.
"Melia bukan anak kandung kita! jadi Mamah tidak perlu khawatir," ucap Salman tersenyum.
Ema kemudian menanyakan dimana anaknya, dia tidak menyangka kalau suaminya akan tega melakukan semua ini.
Anak mereka sudah meninggal sejak dilahirkan, agar istrinya tidak stres Salman mengambil bayi dari panti asuhan sebagai gantinya. Makanya dia tega melakukan apapun demi ambisinya, dengan mengorbankan Melia.
Sebenarnya Ema tidak tega dengan Melia, lalu ia memikirkan cara agar Melia bebas dari suaminya. Kalau mengatakan pada Melia, Ema takut akan kehilangan Melia untuk selamanya. Melia pasti akan sangat membenci dirinya.
"Papah, jahat! tidak mempunyai perasaan," kata Ema.
Salman mengepalkan tangannya, amarahnya meledak ketika mendengar ucapan istrinya. Dia mengira kalau istrinya akan mendukung perbuatan jahatnya, tetapi perkiraannya salah. Ema justru menentang perbuatan jahatnya.
Setelah Salman meninggalkan rumah untuk berkerja, Ema menemui Melia.
"Melia, ada yang ingin Mamah sampaikan sama kamu," kata Ema.
"Katakan Mah, ada apa," ucap Melia sembari mengusap air matanya.
"Sayang, maafkan Mamah! ada hal yang harus kamu tau sekarang juga," ucap Ema kemudian memeluk Melia karena tidak sanggup untuk mengatakan kebenaran yang baru dia ketahui.
Melia bingung dengan sikap Mamahnya, tidak biasanya dia bersikap seperti ini. Dia kemudian membalas pelukan Ema.
"Mamah harap kamu tidak membenci Mamah setelah mengetahui semuanya, ini semua mengenai diri kamu, sayang," ucap Ema.
"Katakan, Mah! apapun yang terjadi Melia janji tidak akan pernah membenci, Mamah," kata Melia dengan yakin.
"Sebenarnya Papah dan Mamah, bukan orang tua kandung kamu, Melia... " ucap Ema lirih.
Melia bertambah sedih, lalu menanyakan dimana orang tua kandungnya. Tetapi Ema tidak mengetahui, karena saat dia melahirkan anaknya meninggal dan diganti oleh Salman dengan Melia. Setelah mendengar penjelasan Ema, Melia kemudian pergi ke ruang kerja Papahnya. Dia di bantu Ema mencari berkas adopsi dari panti asuhan.
"Mah, kenapa tidak ada berkasnya? dimana Papah menyimpannya," ucap Melia sambil mencari berkas itu.
"Biasanya Papah kamu menyimpan disini, kalau tidak di kantor," kata Ema.
__ADS_1
Mereka tidak menemukan berkas yang mereka cari, sepertinya Salman menyimpan dengan rapat. Agar tidak ketahuan oleh Ema.
Ema lalu mengajak Melia keluar dari ruang kerja Salman, sebelum orangnya datang. Kalau sampai ketahuan mereka berdua pasti akan dihukum.
"Melia, lebih baik kamu tinggalkan rumah ini! karena Papah kamu menggunakan kamu, sebagai korban untuk mendapatkan apa yang dia mau," kata Ema.
"Maksud Mamah? Melia tidak akan pernah meninggalkan Papah sama Mamah, apapun itu yang terjadi," kata Melia.
"Tidak! kamu harus pergi dari sini, demi keselamatan kamu," ucap Ema.
Melia benar-benar keras kepala, dia akan tetap tinggal di rumah Ema. Walaupun dia bukan anak kandungnya, bagaimana pun mereka sudah membesarkan Melia.
Ema masih penasaran berkas dari panti asuhan, lalu dia mencari di kamarnya. Ia membuka almari baju suaminya, ternyata ada di bawah tumpukan baju yang tidak pernah dia pakai.
"Melia, kamu baca berkas ini," ucap Ema sembari memberikan berkas itu.
Melia mulai membacanya disitu tertulis bahwa, orang tua Melia bernama Wulan Lesmana dan Anton Lesmana tetapi mereka sudah meninggal karena kecelakaan. Tertulis juga kalau anak mereka minta diberi nama Melia Lesmana.
"Mamah dan Papah kandung ku ternyata sudah meninggal... " ucapnya lirih.
Melia kemudian memeluk erat Ema, dia mengatakan Ema tetap orang tuanya. Melia tidak ingin melukai hati Ema. Sejahat apapun orang tua angkatnya bagi Melia mereka tetap orang baik, yang telah sudi merawatnya.
Pulang dari kantor Salman tetap bersikap seperti biasanya, dia sudah tidak marah lagi dengan Melia.
"Melia, turuti apa kata Papah kalau kamu ingin bahagia," ucap Salman saat berada di ruang makan.
"Kalau untuk menghancurkan Devan, aku tidak mau, Pah," kata Melia.
"Sekarang kamu pikir! kalau hidupmu terjamin kamu akan bahagia," kata Salman lagi.
"Percuma hidup terjamin tetapi tidak ada rasa cinta dan kasih sayang," kata Melia.
"Itu bodohnya anak jaman sekarang, cinta tidak bikin kenyang! Kalau kamu punya anak dari Devan, otomatis anak kamu mendapatkan warisan. Kamu dan anakmu bisa hidup bahagia, sedangkan warisan dari Papah tidak ada apa-apanya," ujar Salman.
"Seandainya kemarin Melia menikah dengan Arvin semua juga akan seperti itu, Pah," kata Melia.
"Anak itu masih kuliah, sedangkan dia hanya bisa satu cafe kalau bangkrut kamu sudah tidak punya apa-apa," kata Salman.
__ADS_1
"Devan sudah punya istri, Pah! Melia tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan rumah tangga Devan," kata Melia.
Salman terus mempengaruhi Melia, dia tetap meyakinkan agar Melia mau menuruti kemauannya. Dia juga mengatakan kalau Papah Devan selalu berada diatasnya dalam berbagai hal.
"Melia, Papah melakukan semua demi kebaikan kamu," ujar Salman.
Melia tidak terpengaruh dengan apa yang sudah Salman katakan, dia tetap ingin bercerai dengan Devan. Bagaimana pun Devan tidak pernah bersalah, justru ide Papahnya itu yang menurutnya tidak baik.
Keesokan harinya Melia pergi kuliah lebih dulu, tak sengaja dia melihat mobil Devan tetapi belum jelas siapa yang diantarkan oleh Devan karena Eros datang menyapanya.
"Melia!" teriak Eros.
"Apa lu?" tanya Melia sembari menoleh ke arah Eros.
"Lihat Rena gak? gue mau memberikan dia sesuatu," ucap Eros sambil melihat sekeliling tempat itu mencari keberadaan Rena.
Saat melihat ke arah mobil Devan ternyata sudah tidak ada, dan tiba-tiba Rena sudah ada dibelakang Eros.
"Rena gak berangkat mungkin," kata Melia padahal dia sudah melihat Rena yang memberikan isyarat agar tidak mengatakan pada Eros.
"Gue ke dalam dulu ya," pamit Eros tanpa menoleh ke belakangnya.
Setelah Eros menjauh Rena dan Melia tertawa, karena sudah berhasil mengelabuhi Eros.
"Melia, mata kamu kenapa? kamu habis nangis ya?" tanya Rena sembari memegang pipi Melia.
"Aku gak tau kenapa, akhir-akhir ini hidupku penuh masalah," jawab Melia tersenyum ke arah Rena.
"Cerita kalau ada masalah, jangan dipendam sendiri! aku siap mendengarkan semua," ucap Rena.
"Kamu memang sahabat terbaik ku," kata Melia.
Rena langsung memeluk sahabatnya itu, lalu mengajaknya untuk ke perpustakaan mencari buku untuk mengerjakan tugas.
"Rena, buku yang kemarin mana?" tanya Melia.
"Ada di mobil suamiku, aku lupa mengambilnya. Sebentar aku suruh antar saja," ucap Rena kemudian mengambil ponselnya untuk memberitahu Devan.
__ADS_1