
"Mas, kan ada Melia juga yang ikut penelitian," ucap Rena.
"Sayang, dia gak bisa menjamin keselamatan kamu! di pantai juga ombaknya besar," alasan Devan tidak masuk akal.
"Rena bukan anak kecil, Mas! bisa jaga diri," ucap Rena.
"Pokoknya tidak boleh!" ucap Devan dengan tegas.
Rena melangkahkan kaki keluar dari ruang kerja suaminya, dia sedih karena tidak mendapatkan izin. "Buat apa aku capek kuliah, kalau nilai ku tetap jelek," ucapnya dalam hati.
Bruk...
"Maaf, Pak! saya tidak sengaja," ucap Rena menabrak seseorang lalu membantu orang itu memungut berkas yang berserakan.
"Rena!" kaget Alex dokter yang tidak waktu itu memeriksa Melia.
"Dokter! kenapa anda bisa berada di kantor suami saya?" tanya Rena tak kalah terkejut.
"Saya ingin mengajukan kerjasama dengan perusahaan ini. Kebetulan kalau milik suami kamu," ucap Alex.
Rena takut Devan melihat keakrabannya dengan dokter Alex, kemudian dia berpamitan untuk segera pergi dari tempat itu.
"Rena, tunggu!" teriak dokter Alex saat Rena pergi meninggalkannya.
Rena terus melangkah, ia pura-pura tidak mendengar dokter Alex tersenyum lalu pergi ke ruang kerja Devan karena mereka sudah ada janji.
"Kenapa mesti ketemu dokter Alex sih! untung saja Mas Devan tidak melihat," ucapnya dalam hati.
Rena masih memikirkan cara agar mendapatkan izin dari suaminya, dia sampai berfikir hendak kabur saja. Tetapi dia tidak mungkin melakukannya, karena masih menghormati suaminya.
"Syukurlah Non Rena sudah pulang, kalau tidak Minah di rumah sendiri," ucap Minah saat membukakan pintu untuk Rena.
"Memangnya Mamah kemana? Devia juga belum pulang," ucap Rena.
"Pergi keluar kota, Non! karena Tuan meminta mereka ke sana gitu, tadi Minah dengar," kata Minah.
Rena kemudian masuk ke dalam kamarnya, ia memberitahukan Devan agar nanti tidak pulang malam. Dia pun segera membersihkan tubuhnya, lalu istirahat.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Minah mengetuk pintu kamar Rena, ia memberitahu kalau ada tamu yang datang ke rumah. Tamu itu adalah Fira, ia mencari Devan.
"Ada perlu apa ya?" tanya Rena.
"Devan mana? aku gak nyari kamu," ucap Fira.
Rena memberitahu kalau Devan saat ini masih berada di kantor, Fira marah-marah karena tadi ia dari kantor Devan tidak diperbolehkan masuk. Sekarang keamanan kantor sedang diperketat, jadi tidak sembarangan orang bisa masuk. Kalau ada perlu mereka harus ada janji lebih dulu, Devan tidak mau kejadian seperti kemarin terulang lagi.
"Gara-gara kamu pasti! aku tidak diperbolehkan masuk ke kantor Devan lagi," kata Fira. Sebelumnya Devan mengenalmu aku bebas keluar masuk kantor itu.
"Mas Devan pasti akan melakukan itu semua, dia tidak mau kalau sampai istrinya terluka," ucap Rena.
Fira hendak menampar Rena tetapi dia takut dengan sapu milik Minah, kemudian Fira meninggalkan rumah Devan.
"Non, gak papa kan? kok ada gitu orang seperti itu, gak ada kapoknya," kata Minah merasa kesal dengan perlakuan Fira.
"Gak papa, kok Mbak! makasih sudah bantu Rena tadi," kata Rena.
Kalau tidak ada Minah pasti Rena sudah ditampar oleh Fira, karena Fira orang yang sangat nekad dan tidak tau malu.
Minah juga menyarankan Rena agar membawa sapu jika Fira datang lagi, agar tidak membahayakan nyawanya.
"Mas, untung saja kamu sudah pulang! kalau tidak Rena hanya berdua dengan Minah," kata Rena.
"Kan Mas gak mau terjadi apa-apa sama kamu," ucap Devan mencubit gemas pinggang ramping istrinya.
Rena kemudian membuatkan Devan kopi, lalu menyiapkan makan malam. Padahal hanya untuk bertiga.
Padahal Devan berencana hendak mengajak istrinya dan Minah untuk jalan-jalan sore. Tetapi tidak jadi karena Rena dan Minah sudah memasak lebih dulu.
Saat Devan sudah terlihat santai Rena mulai mendekatinya, dia ingin membahas soal penelitiannya di pantai yang tidak diberikan izin oleh Devan. Rena menjelaskan Dengan pelan, agar diperbolehkan untuk ikut kegiatan tersebut.
"Mas, tinggal besok keputusannya! tolong Rena," kata Rena dengan wajah penuh harap pada suaminya itu. Syukur dia bisa meluluhkan hati sang suami, yang keras karena rasa cemburunya.
"Sayang, kenapa bahas soal itu lagi! Mas tadi sudah bilang," ucap Devan mematahkan harapan Rena.
Rena juga sudah tidak memaksa lagi, dia menuruti apa perkataan suaminya. Walaupun dalam hatinya ingin sekali untuk ikut kegiatan itu, demi nilai yang bagus.
__ADS_1
***
"Ndra, lu tau gak! gue dah kaya maling masuk rumah sendiri, tapi tetap aja tidak menemukan berkas itu," ucap Melia yang saat ini menemui Andra di sebuah warung makan.
"Gak disimpan di rumah kali, coba cari di kantor," ucap Andra asal, padahal di kantor banyak CCTV yang menyulitkan gerak Melia.
"Lebih baik gue nyuruh orang atau gimana ya, untuk cari di kantor Papah gue," ucap Melia sembari memikirkan cara.
Andra bertanya pada Melia, apakah dia sudah benar-benar ikhlas dengan keputusannya atau belum. Apalagi tindakan yang dia ambil sangat beresiko.
"Lu, tenang aja! gue melakukan semua ini demi kebahagiaan Rena juga, bukan hanya demi orang tua," kata Melia.
Tapi lu, gak cinta sama Devan kan? soalnya kalau kamu suka, patah dong hati lu," ucap Andra meledek Melia.
"Perasaan sih aman! tapi gue harus tinggal dimana?" tanya Melia.
Andra akan mengusahakan rumah yang ditempati Melia saat ini bisa menjadi miliknya, asal dia benar-benar cerai dari Devan.
Melia semakin bersemangat untuk bercerai dengan Devan, karena jadi istrinya juga rugi. Devan juga tidak pernah memberikan nafkah apapun. Ia sudah lelah berharap lebih pada Devan, status mereka hanya merubah kartu tanda penduduk saja.
Sudah hampir satu jam mereka berdua mengobrol, waktunya juga sudah hampir malam.
"Mel, lu pulang sendiri berani gak?" tanya Andra berniat hendak mengantarkan Melia pulang.
"Beranilah! emang lu, pulang malam aja takut," ucap Melia.
Melia akhirnya pulang sendiri dengan mengendarai mobilnya, Andra mengikuti Melia dari belakang. Karena Melia melajukan kendaraannya dengan kencang, jadi dia tidak tau kalau Andra ada dibelakangnya.
Andra tidak tega melihat Melia pulang sendiri, bagaimana pun dia juga seorang perempuan itu alasan Andra tidak tega.
Ditengah perjalanan Melia baru sadar kalau ada yang mengikuti, dia mencoba melajukan kendaraannya dengan pelan. Dia juga berfikir kalau menghiraukan orang yang mengikutinya gak akan sampai di rumah.
"Andra!" kaget Melia saat melihat Andra turun dari mobil.
"Gue cuma mau pastikan aja, lu sampai rumah beneran atau mampir," ucap Andra.
Melia menyuruh Andra masuk dulu ke rumahnya, mereka kemudian melanjutkan percakapan mereka tadi yang sempat tertunda.
__ADS_1
Tak disangka kejadian tidak mengenakkan terjadi lagi, ada orang yang memecahkan pot bunga lagi. Melia dan Andra keluar untuk mencari tahu, tetapi orang itu sudah tidak ada.