
Kaki Rena berdarah sehingga membuat semuanya panik, mereka lalu membawa Rena ke rumah sakit. Karena darah begitu banyak yang keluar, Devan sudah menangis ketakutan. Dia merasa sangat bersalah, karena tidak hati-hati.
Dokter Alex sudah berusaha mengeluarkan pecahan kaca dari kaki Rena, dia juga meminta Devan untuk mencari donor darah. Kebetulan stok di rumah sakit habis.
"Mah, gimana ini? Devan sudah mencari kemana-mana tidak ada stok darah buat Rena," ucap Devan dengan panik.
"Biar aku saja yang mendonorkan darah untuk Rena," ucap Melia kebetulan darah mereka sana.
"Tidak! Mamah tidak mau darah dia mengotori tubuh Rena," ucap Nadia.
"Ini mendesak, Mah! jangan egois," ucap Devan.
"Kamu gak tau malu, Devan! jangan membuat istrimu berhutang budi," kata Nadia.
Untung saja Devia datang, dia yang akhirnya menjadi donor darah untuk Rena. Kebetulan darah Devia dan Papahnya sama. Usia Papah Devan sudah tidak memungkinkan lagi untuk menjadi pendonor darah.
Melia menangis, rasanya sakit hati ketika mendapatkan penolakan saat hendak menolong sahabatnya sendiri.
"Hapus air matamu! tidak ada gunanya menangis," ucap Andra sembari memberikan sapu tangan untuk Melia.
"Sahabat gue terbaring lemah, Ndra! gue ingin sesekali membantunya, kenapa tidak diperbolehkan," ucap Melia sembari mengelap air mata dan ingusnya.
"Tante Nadia belum bisa menerima lu! sabar ya," ucap Andra memeluk Melia untuk menenangkan.
Melia mengembalikan sapu tangan milik Andra, tetapi Andra menolak karena bekas ingus Melia. Dia meminta sapu tangan yang baru, karena yang diberikan kepada Melia sudah lama.
"Keterlaluan lu, Mel! bekas ingus dikembalikan, minimal ganti sama yang baru," ucap Andra.
"Gue juga gak mau bawa pulang, soalnya udah kotor," ucap Melia.
"Ya udah sini! biar gue buang," kata Andra tetapi tidak diperbolehkan oleh Melia.
Melia memasukkan sapu tangan itu kedalam tasnya, lalu dia mengajak Andra untuk menjenguk Rena.
Andra berpesan pada Melia, agar tidak terlalu mengambil hati ucapan Mamah Nadia karena memang sudah wataknya begitu.
__ADS_1
"Devan, gimana keadaan Rena?" tanya Melia saat berada di ruang tunggu.
"Baru diperiksa dokter lagi," jawab Devan.
"Lu, yang sabar ya! Rena anak yang kuat, dia pasti baik-baik saja," kata Melia menenangkan.
Devan hanya menganggukkan kepalanya, dia tau Rena dan bayinya pasti akan baik-baik saja. Tetapi tetap ada rasa khawatir, karena dia yang merasa bersalah.
"Van, kamu lebih baik makan dulu! biar Papah sama Mamah yang jaga Rena," kata Hadi Mahendra sembari menepuk pundak anak sulungnya.
"Devan gak bisa makan, Pah! kalau belum melihat Rena," ucap Devan.
"Kalau kamu ikut sakit siapa yang akan jaga istri dan anak kamu? cepat makan dulu," kata Papahnya.
"Rena juga belum makan, Pah! Devan gak bisa," ucap Devan.
Hadi Mahendra menawarkan diri untuk membelikan makanan untuk Devan, tetapi Devan tetap menolak karena belum tau kondisi istrinya.
Sekarang gantian Andra yang membujuk Devan, agar mau makan tetapi sama saja tidak berhasil. Devan tetap bersikeras tidak akan makan sebelum memastikan keadaan istri dan anaknya baik-baik saja.
Tak lama kemudian Dokter Alex keluar dari ruangan periksa Rena, beliau meminta Devan untuk segara ke ruangannya.
"Sabar! duduk dulu," kata Dokter Alex.
"Jangan bercanda dong! gue panik nih," ucap Devan lalu duduk didepan meja Dokter Alex.
Dokter Alex mulai menjelaskan keadaan Rena, beliau mengatakan kalau keadaan Rena dan bayinya baik-baik saja. Beruntung Rena tadi tidak pingsan dan langsung mendapatkan pertolongan, transfusi juga berjalan lancar.
"Lu, aja yang kurang hati-hati jaga Rena," ucap Dokter Alex.
Devan tidak mengelak, dia mengakui kesalahannya. Karena memang tadi dia yang salah, tidak berhati-hati saat mengambil susu.
Devan kemudian menemui Rena yang sudah dipindahkan ke ruang rawat, dan sudah boleh dijenguk.
Papah Hadi, Mamah Nadia, Melia, Andra sudah berada di ruangan itu, kebetulan Devia diminta untuk istirahat di ranjang sebelah Rena.
__ADS_1
"Sayang, bagaimana keadaan kamu? masih sakit gak? Maafkan, Mas ya," kata Devan sembari menggenggam tangan Rena.
"Rena baik-baik saja, Mas! namanya juga musibah gak ada yang tau," kata Rena sama sekali tidak menyalahkan suaminya.
Devan lalu mencium kening istrinya, dia nampak bahagia dan sangat bersyukur karena keadaan istrinya tidak menghawatirkan.
"Kak Devan, gak ada ucapan terimakasih gitu," ucap Devia yang tubuhnya masih lemas. Saat ini dia membutuhkan istirahat untuk pemilihan karena masih sedikit pusing.
Devan kemudian beranjak dan menuju ke arah Devia, dia duduk disebelah Devia yang terbaring. "Adikku sayang, kakak mengucap banyak terimakasih sudah menyelamatkan orang yang kakak sayangi. Sebagai ucapan terimakasih kamu minta dibelikan apa? mobil, rumah atau apa?" ucapnya.
"Tidak bisa begitu dong! itu pemborosan, lagian Devia masih sekolah," sahut Andra.
"Betul, Ndra! Om, setuju dengan pendapat kamu," kata Hadi Mahendra.
"Papah, Om, kok kalian gitu! terserah kak Devan dong, mau kasih hadiah apa," ucap Devia tidak terima.
"Karena tidak diperbolehkan jadi Kakak kasih kamu ini aja," ucap Devan memberikan uang seratus ribu pada Devia.
"Gara-gara kalian! gagal deh punya rumah dan mobil baru," ucap Devia mengerucutkan bibirnya.
Melia hanya bisa menyaksikan semua ini, dia merasa tidak ada artinya berada ditengah-tengah keluarga ini. Dia merasa tidak dianggap sama sekali, mau membantu tidak diperbolehkan. "Harusnya aku yang mendapatkan ucapan terimakasih itu, bukan kamu Devia," ucapnya dalam hati.
"Melia, maaf ya sudah merepotkan kamu! padahal harusnya kamu kerja hari ini, malah nungguin aku," ucap Rena.
"Bukan salah kamu juga sayang, kalau tidak kerja itu salah dia sendiri! sebagai teman yang baik memang harus ikut menjaga temannya," sahut Nadia.
"Mamah!" teriak Devan.
"Maafkan Mamah ku, Melia," ucap Rena.
"Gak papa kok! lagian Melia sudah sering diperlakukan seperti ini. Tidak ada yang perlu untuk dimaafkan," ucap Melia tersenyum.
Papah Melia memutuskan untuk mengajak istrinya dan Devia pulang, karena memang sudah diperbolehkan. Sedangkan Devan diminta untuk menjaga Rena, Andra dan Melia dipersilahkan untuk beraktivitas saja.
Melia kemudian pergi ke cafe tempat dia berkerja, karena merasa bosan. Sampai di cafe dia dikejutkan dengan ulah dua orang yang membuat berantakan cafe, Melia berteriak minta tolong tapi percuma karena keadaan sepi pengunjung. Teman kerja Melia juga disekap oleh orang itu, Melia lalu berusaha keluar dari dalam cafe.
__ADS_1
Dia berlari dengan kencang hendak menuju ke dalam mobilnya, tetapi dia terjatuh dan kakinya sakit.
"Mau lari kemana, kamu!" bentak orang itu. Membuat Melia ketakutan, tetapi orang itu justru semakin mendekati Melia.