
"Kenapa kita bisa tersesat! tanggung jawab dong, Pak!" teriak salah satu mahasiswa pada sopir bus.
"Maaf, saya pikir tadi jalan raya," ucap sang sopir.
Keadaan menjadi ribut, mereka ada yang menyalahkan sopir ada juga yang menyalahkan temannya yang asyik bernyanyi.
"Berhenti! jangan ribut!" teriak Melia.
Semua terdiam mendengar teriakan Melia, karena dari tadi ia bicara tetapi tidak ada yang mendengarkan. Mereka semua kemudian berjalan kaki keluar dari hutan itu.
"Rena, wajah kamu pucat sekali," ucap Melia dengan panik.
"Aku gak papa, Mel! masih kuat jalan kok," kata Rena.
Melia mengambilkan air putih untuk Rena, karena tidak tega melihat sahabatnya yang nampak pucat. Ia juga mengajak Rena untuk beristirahat lebih dulu, tetapi Rena menolak karena takut ketinggalan rombongan perjalanan juga masih jauh.
**
Di kantor Devan tidak bisa fokus berkerja, ia memikirkan Rena dari tadi. Ia sangat khawatir dengan istrinya, kebetulan ponsel Rena juga tidak bisa dihubungi.
Devan menyuruh Andra untuk segera pulang, karena tidak ada yang membantunya berkerja.
"Van, lu gila! baru juga gue mau kenalan sama cewek di sana ganggu aja lu," ucap Andra yang sudah sampai di kantor.
"Rena lebih penting," ucap Devan.
"Dia bini lu, masa gue yang harus ngurusin," ucap Andra kesal.
Devan menceritakan pada Andra kalau istrinya mengikuti kegiatan kampus, dan dia sangat mengkhawatirkannya. Dia juga mengatakan kalau Rena pergi dengan Melia.
"Hahaha.... ! Lu, emang pinter milih bini bisa akur gitu," ucap Andra meledek Devan.
Alhasil pukulan mendarat di lengan Andra, dan membuatnya merasa kesakitan.
Devan mengajak Andra ke pantai yang Rena tuju, karena dari tadi perasaannya tidak enak. Dia hanya ingin memastikan kalau istrinya dalam keadaan baik-baik saja.
Andra mau diajak oleh Devan, asal dia dikasih bonus bulan ini. Andra mengatakan kalau dia baru banyak kebutuhan, untuk berkunjung ke rumah neneknya yang ada di kampung.
"Gampang itu, entar gue ajak Rena juga ke kampung nenek," ujar Devan. Karena dari dulu mereka sering berkunjung ke rumah nenek selalu berdua, sampai nenek juga menyebut kalau Devan juga cucunya.
Andra lalu menyiapkan kendaraannya, mereka lalu berangkat ke pantai.
"Pantai itu jalanya rumit, Van! kalau gak hafal bener bisa nyasar ke hutan," ucap Andra.
"Sok tau lu!" ketus Devan.
__ADS_1
"Gak percaya lu! ini mau lewat mana?" tanya Andra yang kebetulan menyetir mobilnya.
"Terserah lu aja! yang penting gue ketemu Rena," kata Devan.
Mereka berdua hampir sampai di pantai, tetapi harus melalui jalan dekat hutan yang membuat Rena dan rombongannya tersesat. Andra bingung karena ditempat itu tidak ada petunjuk sama sekali.
"Kok berhenti!" protes Devan.
"Gue bingung, kita jalan ke kanan atau kiri. Soalnya kalau sampai salah jalan kita bisa tersesat," ucap Andra.
Mereka turun dari mobil, kebetulan ada seseorang warga yang melintas di jalan itu. Andra bertanya pada orang itu, tetapi orang itu mengatakan kalau tidak tahu.
"Aneh," ucap Andra dengan pelan.
Kebetulan ponsel Devan ada jaringan, jadi mereka bisa mencari dimana lokasi pantainya. Padahal mereka berdua menggunakan operator yang sama, tetapi ponsel milik Anda tidak ada jaringan.
Saat mereka mulai melanjutkan perjalanan, Devan melihat segerombolan mahasiswa. Ia meminta Andra untuk menghentikan mobilnya.
"Van, itu ada Melia sama Rena," ucap Andra menunjukkan keberadaan Melia dan Rena yang sedang berjalan.
"Gue kesana dulu," ucap Devan langsung berlari ke arah istrinya.
Andra yang tadinya ada disebelah Devan, akhirnya ikut menyusul Devan.
"Sayang, kenapa kamu pucat sekali? katanya ke pantai, kok ada di hutan," ucap Devan.
Rena sudah tidak berdaya lagi, ia pingsan akibat kelelahan. Dengan cepat Devan mengendong tubuh istrinya dan dibawa masuk ke dalam mobil.
"Devan, tunggu!" teriak Melia.
Melia lalu nekad masuk ke dalam mobil. "Aku ikut," ucapnya.
"Ndra, cepat jalan!" teriak Devan dari dalam mobil. Andra sedang berbicara dengan seorang dosen yang menjadi pembimbing kegiatan itu, ia meminta izin untuk membawa Rena terlebih dahulu ke rumah sakit. Untung saja dosen itu mengizinkan, karena dia juga akan menggagalkan kegiatan ini.
Mereka kemudian hendak membawa Rena ke rumah sakit, ternyata apa yang dikhawatirkan Devan terjadi juga.
"Sayang, kamu harus bertahan! sebentar lagi kita sampai," ucap Devan dengan pelan.
Andra melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, sesuai dengan permintaan Devan. Melia sampai ketakutan, dan menyuruh Andra berjalan dengan pelan. Tetapi Melia justru menjadi berdebat dengan Andra.
"Diam!" teriak Devan.
Mereka berdua lalu terdiam, karena sudah sampai di rumah sakit.
"Dokter, tolong istri saya," ucap Devan dengan wajah paniknya.
__ADS_1
"Devan, tunggu sebentar ya! aku periksa Rena dulu," ucap Dokter Alex.
"Lu, Lex! awas pegang-pegang istri gue," ucap Devan.
Dokter Alex hanya tersenyum lalu menutup pintu ruang periksa. Lima menit kemudian Dokter Alex keluar dari ruangan itu, dia menyuruh Devan untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Gak usah basa-basi lu! gimana keadaan istri gue," ucap Devan.
"Selamat sebentar lagi, lu jadi bokap," ucap Alex tersenyum.
Devan sangat bahagia mendengar kabar itu, kemudian dia menebus obat untuk Rena dan menyelesaikan administrasi.
*
Andra dan Melia yang menunggu di luar ruangan Rena dirawat, mereka berdebat. Melia yang ingin menunggu Rena sampai sadar, sedangkan Andra mengusir karena takut pernikahan Melia dan Devan akan terbongkar.
"Lu, tenang aja! gue bisa jaga rahasia, kalau gue mau udah gue bilang dari dulu," kata Melia.
"Gak usah bandel! cepat pulang," ucap Andra.
"Ogah!" teriak Melia.
Devan datang dengan wajah yang begitu gembira, dia tersenyum menuju ke arah Andra.
"Lu, gila! istri sakit malah bahagia," ucap Andra.
Devan lalu memeluk Andra, dia juga mengatakan kalau sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah. Andra pun turut berbahagia, sedangkan Melia juga ikut tersenyum mendengar sahabatnya sebentar lagi akan mempunyai seorang anak.
"Rena, maafkan aku! aku benar-benar menjadi benalu dalam rumah tanggamu," ucapnya dalam hati.
Karena Rena sudah sadar mereka semua sudah diperbolehkan masuk ke dalam ruangan dimana Rena dirawat.
Devan langsung memeluk istrinya, dan mencium kening istrinya didepan Melia dan Andra. "Sayang, terimakasih sudah memberiku keturunan," ucapnya sembari mengelus perut istrinya yang masih datar.
"Mas, aku hamil ya?" tanya Rena yang memang belum mengetahui apa yang terjadi dengannya.
"Iya, sayang," ucap Devan.
Rena menitihkan air mata kebahagiaan, dia sangat bersyukur bisa memberikan suaminya keturunan dengan secepat itu.
"Sayang, apa dokter itu menyentuhmu?" tanya Devan menunjuk ke arah Alex.
"Aku tidak tahu, Mas," ucap Rena.
"Rena aja pingsan, gimana bisa tau disentuh atau tidak! dasar bodoh," kata Andra.
__ADS_1
Rena mengajak pulang ke rumah, dia sudah tidak sabar hendak memberikan kabar bahagia ini kepada keluarganya. Tetapi Alex melarang, karena ada sesuatu yang harus dia jelaskan pada Devan.