
Rena menanyakan kepada Devan dan Rena kenapa akrab sekali, padahal mereka belum lama kenal.
Devan dan Melia saling bertatapan, mereka menjelaskan pada Rena tetapi dengan versi yang berbeda dan membuat Rena agak curiga kalau mereka sudah lama kenal.
"Tapi gak papa kok, kalau Mas Devan dan Melia saling kenal dari dulu. Rena justru senang, berati selama ini Mas Devan memang benar-benar menjaga hatinya untuk ku," ucap Rena tersenyum menutupi luka yang sedikit teriris karena ketidakjujuran mereka berdua. Rena hanya berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Sayang, pasti Mas akan jaga hati ini buat kamu! jangan berfikir yang macam-macam. Ayo kita istirahat saja," ucap Devan berusaha menenangkan Rena.
"Mas, duluan aja! Rena masih ingin disini," ucap Rena.
Melia lalu mengajak Rena untuk berbicara, dia tidak ingin sahabatnya memikirkan yang tidak dengan suaminya. Walaupun terlihat akrab tetapi justru sebaliknya, Devan tidak pernah baik dengan Melia. Dia selalu menyalahkan Melia, jika ada masalah.
"Sayang, ini udah malam! istirahat dong, kasihan calon cucu Mamah," ujar Nadia.
Rena lalu berpamitan untuk beristirahat, dia tidak ingin membuat kecewa Mamah mertuanya jadi tidak membantah ketika disuruh.
Setelah semua tidur, Papah Hadi dan Mamah Nadia meminta Melia untuk pergi ke ruang kerjanya. Dia ingin meminta keterangan kepada menantunya, yang tidak dianggap ini.
"Melia, benar nama kamu?" tanya Papah Hadi.
"Iya, Om! nama saya Melia, tetapi jangan tanya siapa orang tua saya," kata Papah Hadi.
Hadi tersenyum karena sudah tau asal usul dari Melia, bahkan dia tau semua tentang Salman yang tak lain orang tua angkat Melia.
"Sungguh malang nasibmu, Nak! dimanfaatkan oleh orang yang pura-pura menjadikan mu seorang anak," ucap Hadi.
"Om, kenapa bisa tau soal Papah? apakah kalian saling mengenal," ucap Melia.
"Papah kamu itu orang jahat! apa kamu tidak tau, atau pura-pura bodoh," sahut Nadia.
"Mamah! jangan membuat Melia semakin tertekan, dia sudah cukup menderita. Anak ini hanya korban," jelas Hadi memberikan penjelasan pada istrinya yang memang tidak tau kebenarannya.
"Maaf, Pah! Mamah memang tidak mengenal mereka," kata Nadia.
__ADS_1
Hadi meminta istrinya untuk mendengarkan pembicaraan mereka lebih dahulu, karena kalau tidak hanya akan menimbulkan kesalahpahaman.
Melia sangat bersyukur akhirnya ada orang yang mau mengerti dirinya, walaupun dia tetap disalahkan pada akhirnya.
"Kenapa kamu tidak mengurus perceraian mu dengan Devan, setelah kamu tau semuanya," ucap Hadi.
"Devan menandatangani surat perjanjian yang isinya tidak akan pernah bercerai dengan saya, Om," jelas Melia.
"Ema! harusnya kamu meminta tolong dia, wanita yang sangat tulus dan baik hati," kata Hadi.
Waktu itu Ema tidak bisa berkutik, dia seperti diancam oleh Salman juga. Untuk melindungi Melia saja harus bersembunyi, jangan sampai dia ketahuan. Melia menceritakan tentang perjuangan Mamah Ema, saat melindungi dirinya.
"Salman orang yang sangat licik! wajar jika kamu dan Ema kalah," kata Hadi sudah hafal dengan watak seorang Salman.
"Om, saya juga sudah memilih meninggalkan fasilitas dari Papah agar bisa cerai dengan Devan, tetapi kita tidak bisa mengurus karena surat perjanjian itu tidak diberikan," ucap Melia.
Yang Melia khawatirkan adalah Rena, dia takut sahabatnya tidak bisa menerima kenyataan pahit ini.
"Kalian semua tidak mencoba membicarakan hal ini pada Rena, kalau sampai dia tau dari orang kamu dan Devan adalah orang yang pertama kali dia benci. Jadi lebih baik kamu sendiri atau Devan yang mengatakan pada Rena," ucap Hadi.
Nadia juga melarang mereka untuk menyakiti Rena, menantu kesayangannya itu tidak boleh tau hal ini.
Papah Hadi juga menyuruh Mamah Nadia dan Melia untuk saling memaafkan dan saling menyayangi, dia tidak tega melihat menantunya saling berperang karena ulah Salman.
Mamah Nadia dan Papah Hadi, menyuruh Melia untuk istirahat karena sudah tengah malam. Dia juga hendak istirahat juga dengan istrinya.
Rena terbangun dari tidurnya, dia hendak mengambil air minum di dapur tetapi bertemu dengan Melia yang baru saja keluar dari ruang kerja Papah Hadi.
"Melia, kamu belum tidur?" tanya Rena.
"Belum ini baru mau tidur," jawab Melia sebenarnya takut kalau Rena mendengarkan semua pembicaraannya dengan Hadi dan Nadia.
Rena kemudian segera pergi ke dapur untuk minum, karena air putih persediaan di kamarnya sudah habis dan belum sempat mengambilnya tadi.
__ADS_1
Melia ternyata mengikuti Rena ke dapur, dia juga mengambil minum.
"Rena, aku besok pulang saja ya? rumah aku gak ada yang menempati aku takut suamiku pulang ke rumah.
"Kok gitu! padahal aku ingin kamu disini sampai aku melahirkan," kata Rena.
"Itu lama sekali, Rena! aku takut akan rumah ku hilang," kata Melia bercanda.
Rena tetap menginginkan Melia tinggal bersama, kurang lebih sampai dia melahirkan. Ia hanya ingin berbagi kebahagiaan dengan sahabatnya. Jadi tidak menjadi masalah baginya, kalau Melia lama disini.
Melia juga mengatakan kalau tidak enak dengan anggota keluarga yang lain, walaupun Rena mengizinkan tetapi yang lain belum tentu.
Rena kemudian mengajak Melia untuk tidur dan melarang membahas masalah ini, dia tidak mau mendengar alasan apapun yang berbentuk penolakan.
***
Esok hari Rena bangun lebih awal, dia hendak membantu Minah menyiapkan sarapan tetapi tidak diperbolehkan.
"Jangan bantu Minah, Non! sudah sana duduk dulu, Minah buatin susu," kata Minah.
"Saya gak suka susu, Mbak! nanti saja saya bikin minuman coklat," kata Rena.
"Non, kenapa manggil Minah pakai Mbak sih! padahal tuaan Non, dari pada Minah," protes Minah.
Rena tersenyum mendengar ucapan Minah, selama ini Rena tidak menyangka kalau akan sedekat ini dengan Minah.
Selesai menyiapkan sarapan pagi Rena membangunkan suaminya, dia takut Devan telat berangkat ke kantor. Urusan pekerjaan Devan sekarang sangat banyak, ditambah mengurus perusahaan Ayah Rena. Walaupun ada orang kepercayaan, tetapi perusahaan itu sekarang menjadi tanggung jawab Devan dan Rena.
Rena yang seharusnya mengurus perusahaannya sendiri, tetapi tidak memungkinkan karena kondisinya yang saat ini tengah hamil. Apalagi kehamilan Rena tidak wajar, jadi harus ekstra hati-hati dan banyak istirahat.
Seluruh penghuni rumah saat ini sudah berkumpul di ruang makan, termasuk Andra dan Melia juga sudah berkumpul. Minah juga ikut duduk bersama mereka, karena kalau Minah sarapan dibelakang mereka tidak mau memakan masakan buatan Minah.
"Minah, kenapa makan roti mulu tiap pagi! nasi goreng gitu kek," ucap Andra.
__ADS_1
"Ini apa, Ndra! makan nih," kata Mamah Nadia.
"Sayang, kamu mau susu?" tanya Devan hendak mengambil gelas yang berisi susu tetapi, tangan Devan tak sengaja menyentuh gelas coklat milik Rena sehingga jatuh dan pecah. Gelas itu mengenai kaki Rena yang kebetulan duduk disebelahnya.