Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 7


__ADS_3

"Devan, Melia sudah membicarakan semua sama Mamah. Tolong maafkan keluarga kita yang memaksamu menikah dengan Melia," ucap Ema.


"Gak papa, Mah. Kita tinggal atur waktu cerai saja! saya tidak mau sampai istri saya tau, dan dia sakit hati," jelas Devan.


"Tolong jangan ceraikan Melia! kamu harus tetap bersama anak saya, maafkan Mamah yang egois ini," kata Ema.


"Apa! Mah, apalagi alasannya? Mamah juga sudah tau status saya," kata Devan.


"Papah Melia mempunyai penyakit jantung, kalau tau semua ini pasti penyakitnya kambuh! Mamah gak punya pilihan lain," ucap Ema penuh dengan kesedihan.


"Justru kalau kita tidak bercerai, ada tiga orang yang tersakiti! apa Mamah memikirkan perasaan mereka," ucap Devan. Terutama istri saya kalau tau semua, mertua saya," Lanjutnya.


Melia hanya bisa menangis, dia yang mempunyai seorang kekasih harus kandas karena pernikahan yang tidak dia inginkan ini.


Devan kecewa karena tidak bisa bercerai dengan Melia, kemudian ia pergi ke kantornya. Di kantor dia tidak bisa berkonsentrasi, ia memikirkan Rena.


Ayah Rena dan Rena sudah sangat mempercayainya, bahkan menitipkan Rena pada Devan. Devan teringat semua ucapan Ayah Rena.


Rena wanita yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, Ayahnya yang selama ini sudah berperan sebagai seorang Ayah sekaligus seorang ibu buat Rena. Dia tidak menikah lagi karena takut Rena kurang kasih sayang.


"Pagi-pagi dah ngelamun aja, bro," ucap Andra yang datang membawakan berkas.


"Menurut lu, gue harus gimana! gue gak bisa cerai ma istri kedua," ucap Devan.


"Jujur aja sih sama istri pertama, nanti yang gak mau ma lu pasti minta cerai! kelar kan masalah lu," kata Andra.


"Gue sayang ma Rena, gue gak mau kehilangan dia," kata Devan.


Andra tampak bingung, yang barusan ngomong temannya atau bukan. Biasanya Devan akan mengatakan terserah mau ketauan atau tidak, dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada wanita.


"Lu, sadar ngomong gitu," kata Andra.


"Pingsan gue!" ketus Devan.


Siang hari saat jam istirahat kerja, Devan menjemput Rena di kampus. Dia mengajak Rena ke kantor, karena kalau di rumah Rena akan sendiri.

__ADS_1


"Sayang, kamu bikin aku gak konsentrasi," ucap Devan sembari menatap wajah cantik Rena.


"Mas, harusnya tadi antar Rena ke rumah," ucap Rena tersenyum.


Devan mengajak Rena ke kantor karena ingin, menunjukkan di mana dia berkerja. Mulai sekarang dia ingin terbuka dengan Rena.


🥀


"Tante, tolong bujuk Devan biar gak mutusin aku! aku mohon," ucap Fira yang saat ini menemui Nadia Mamahnya Devan.


"Devan sudah mempunyai istri! kamu masih muda, masa depan kamu masih panjang. Carilah laki-laki yang masih lajang juga, jangan jadi pelakor," kata Nadia.


"Cinta tidak peduli dengan semua yang Tante katakan, ini semua dari hati yang tulus. Ayolah, Tante," rengek Fira.


"Fira, kamu tau diri dong! Masa kamu mau jadi selingkuhan Devan," ucap Nadia.


Fira tidak menyerah begitu saja, dia mengatakan akan merebut Devan apapun itu caranya. Dia sudah tidak peduli dengan status Devan, yang penting dia mendapatkan hati Devan.


"Mereka bisa cerai, Tante! tolong bantu Fira," ucap Fira lagi.


"Sebelum Tante mau membantu, Fira gak mau pergi," kata Fira.


"Ya udah, kamu jadi patung di depan pintu! aku mau pergi arisan," kata Nadia kemudian masuk ke dalam mobilnya hendak pergi.


"Tante! tunggu! pembicaraan kita belum selesai," ucap Fira.


Minah yang mengintip dari tirai jendela sangat bahagia, melihat Fira di tinggal pergi oleh Nadia. Sekarang Fira berganti mengetuk pintu rumah, karena tidak di buka oleh Minah dia menggedor-gedor pintu dengan keras.


"Berisik!" teriak Devia saat membuka pintu.


"Mana Devan? aku mau ketemu," ucap Fira.


"Bisa sopan gak sih, Kak! entar pintu rumah ku rusak gimana, emang mau tanggung jawab," kata Devia sembari berkacak pinggang.


"Gak usah bahas yang lain, deh! cepat mana Devan," ucap Fira memaksa padahal Devia memang gak tau di mana keberadaan Devan.

__ADS_1


"Sejak menikah Kakak jarang tidur di rumah, lagian ngapain juga ke sini. Enakan di rumah istrinya," kata Devia.


Fira marah-marah pada Devia, dia tidak terima dengan jawaban Devia. Fira hampir menjambak rambut Devia, untung saja Minah datang membawa sapu.


"Pukul nih berani jambak Non Devia," ucap Minah sembari mengarahkan sapu ke arah Fira.


"Pukul aja kalau berani! aku panggil satpam ini," kata Fira.


Fira tidak menyerah walaupun hendak di pukul dengan sapu, dia malah menantang. Kemudian Devia memanggil satpam untuk mengusir Fira, karena sudah mengganggu kenyamanan.


🥀


Mamah Ema saat ini berbicara dengan Papah Melia, sebenarnya dia ingin mengatakan yang sebenarnya tentang Devan.


"Menurut Papah, Devan itu orang nya gimana? sepertinya kok Mamah kurang suka, punya menantu seperti dia," ucap Ema.


"Tanya Melia dong, Mah! Bahagia tidak, kan Devan pacarnya," ucap Papah Melia dengan tersenyum.


"Melia sekarang kelihatan kurus, kasihan dia. Gimana kalau mereka biar cerai saja, Pah," kata Ema sengaja menghasut Papah Melia agar menyetujui perceraian itu dan penyakitnya tidak kambuh.


"Pernikahan itu bukan mainan, Mah! jangan asal nyuruh cerai, apa Mamah gak mikir dampaknya nanti gimana," kata Papah Melia.


"Kalau anak kita tidak bahagia, kenapa enggak," kata Ema.


Membujuk Papah Melia memang tidak mudah, dia tetap bersikeras pada pendiriannya. Ucapan istrinya tidak ada yang dia dengar, bahkan dia berencana akan mengajak tinggal bersama Devan agar rasa benci istrinya hilang.


"Mamah gak setuju, Pah! Kalau gitu Mamah aja yang pergi dari rumah," kata Ema.


"Mamah, jangan seperti anak kecil," kata Papah Melia.


Mamah Ema sudah tidak sanggup membujuk Papah Melia, kalau di tentang bisa berakibat fatal. Sore ini Papah Melia mengajak Mamahnya berkunjung ke rumah Melia. Awalnya Mamah Ema menolak, karena dia dari rumah Melia. Tetapi Papah Melia tetap dengan pendiriannya, Mamah Ema kemudian memberi tahu Melia dengan mengirimkan pesan.


Melia yang menerima pesan dari Mamahnya langsung menelpon Devan, tetapi tidak di angkat karena Devan saat ini sedang bersama Rena. Devan dan Rena saat ini sedang mengurus rencana bulan madunya.


"Lebih baik aku datang ke kantor Devan saja! mungkin dia baru sibuk," ucap Melia dalam hati.

__ADS_1


Melia kemudian bersiap-siap menuju ke kantor Devan, ia berangkat sendiri dengan mobilnya. Kebetulan jalanan saat ini sedang macet, karena ada perbaikan jalan. Dari rumah ke kantor Devan tidak ada jalan cepat yang lain, hanya ada satu jalur. Akhirnya setelah beberapa menit terjebak dalam kemacetan, Melia sampai juga di kantor Devan.


__ADS_2