Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 13


__ADS_3

Melia saat ini benar-benar heran dengan pemikiran Papahnya, kalau Devan tau dia sangat malu. Apalagi hanya demi perusahaan melakukan hal seperti ini, tidak ada hasilnya juga karena Devan memang jarang aktif di kantor.


Devan datang ke rumah sakit, dia hendak menjenguk Papah Melia. Ada rasa iba dibenaknya saat melihat Melia duduk sambil menangis didepan ruang rawat.


"Hapus air matamu! aku tidak suka melihat orang menangis," ucap Devan sembari memberikan tisu pada Melia.


Melia menerima tisu dari Devan, lalu menghapus air mata yang mengalir dari kedua matanya. "Akhirnya lu datang juga! terimakasih sudah menyempatkan diri," ucapnya.


"Tidak perlu berterimakasih, sudah sepantasnya gue datang. Gue mau lihat keadaan Bokap lu," kata Devan.


Melia berdiri dari duduknya, kemudian mengantarkan Devan masuk ke dalam ruangan dimana Papahnya sedang terbaring lemah.


"Gimana keadaan, Papah? Maaf baru bisa jenguk," kata Devan.


"Alhamdulillah sudah membaik, Papah tau kamu pasti sibuk sekali. Bagaimana dengan perusahaan kamu?" tanya Papah Melia.


"Aku tidak tahu, Pah! sekarang aku lagi sibuk urus keluarga," ucap Devan sengaja berbohong karena dia tidak mau masalah keluarga campur aduk dengan pekerjaan, walaupun itu hanya bertanya dan sekedar ingin tau.


"Pah, lebih baik Papah istirahat ya! Biar kita temani Papah diluar," ucap Melia.


Melia tidak mau Papahnya banyak pikiran, jadi dia mengajak Devan untuk mengobrol diluar kamar Papahnya.


"Tunggu! Papah belum selesai bicara dengan Devan," kata Papah Melia.


Devan kembali duduk di kursi tunggu yang sudah disediakan, ia siap mendengarkan apa yang ingin diucapkan oleh Papah Melia.


Papah Melia meminta Devan untuk berkerjasama dengan perusahaan miliknya, tetapi Devan menolak karena urusan perusahaan bukan dia yang pegang. Papah Melia terus memaksa, sampai berkata menantu harus nurut dengan mertua. Devan tidak mau kalah, dia juga berkata kalau seandainya tidak diancam mau dibunuh dia tidak akan pernah menikah dengan putrinya.


"Kalau kamu menolak aku tidak bisa memaksa, tapi aku minta satu permintaan. Tolong resmikan hubungan pernikahanmu dengan Melia," kata Papah Melia. Dalam pikirannya kalau sampai perusahaannya bangkrut setidaknya Melia hidup terjamin, karena selama ini Papah Melia tau kalau Devan anak seorang konglomerat.


"Tidak bisa, Pah! dalam waktu dekat saya akan meresmikan pernikahan saya dengan istri saya," ucap Devan sudah tidak peduli lagi dengan keadaan Papah Melia.


"Berani kamu tidak memperlakukan putri ku dengan adil! sekarang keluar!" usir Papah Melia.


Dengan senang hati Devan meninggalkan Papah Melia, tak lama kemudian Papah Melia penyakitnya kambuh. Kebetulan Ema datang dan menyalahkan Devan atas kejadian ini. Melia hanya bisa menangis dan menangis, karena Papahnya yang bersalah.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan pada suamiku! kenapa bisa seperti ini," ucap Ema sembari mengoyak tubuh Devan.


"Aku hanya mengatakan apa yang seharusnya Papah tau, Mah," ucap Devan tanpa ada rasa menyesal, dia melakukan demi memperjuangkan Rena.


Dokter yang memeriksa Papah Melia mengatakan kalau kondisinya sudah stabil lagi. Ema kemudian masuk ke dalam ruangan dimana suaminya sedang dirawat.


"Lebih baik lu, pulang dulu! Gue gak mau terjadi apa-apa dengan Bokap gue," kata Melia.


Devan langsung meninggalkan rumah sakit itu, diperjalanan dia mendapatkan pesan kalau Papahnya sudah pulang dari luar kota. Devan diminta untuk pulang ke rumah lebih dulu, karena ada sesuatu yang harus dibicarakan.


Sampai di rumah Devan langsung menemui Papahnya, keluarga saat ini sudah berkumpul. "Ada acara apa ini? tumben bisa lengkap," ucap Devan tanpa ada rasa bersalah.


Hadi Mahendra menatap anaknya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, rasa kecewa seorang Papah yang tidak dimintai restu ketika anaknya hendak menikah.


"Plak... plak...


Tamparan keras mengenai mukanya, Hadi Mahendra sangat murka saat ini. "Apa kamu sudah tidak menganggap orang tuamu ini!" ucapnya dengan keras.


Devan kemudian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa dia bisa menikah dengan dua istri sekaligus.


Devan tidak menjawab pertanyaan Papahnya, hingga sebuah tamparan menjadikan pipinya memar. Hadi kemudian meninggalkan anaknya itu.


"Pah, Devan gak salah! ini semua salah kita sebagai orang tua, terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Kita hanya bisa memberinya uang dan uang," ucap Nadia mengikuti suaminya yang berjalan menuju ruang kerjanya.


"Jangan belain dia, Mah! ini soal meminta izin, bukan yang lain," kata Hadi Mahendra.


"Terserah, Papah aja! Mamah pusing," ucapnya kemudian masuk ke dalam kamar.


Papah Devan kemudian menyuruh anak buahnya untuk mencari tau siapa saja yang sudah dinikahi oleh anaknya, dia hanya memberikan waktu selama dua puluh empat jam pada orang suruhannya.


Devia membantu Devan duduk, kemudian dia hendak mengambilkan air untuk mengompres bekas tamparan itu.


"Gak usah, Dev! kakak baik-baik saja kok," kata Devan.


"Lebih baik kakak pulang saja! dari pada disini nanti Papah marah lagi," kata Devia yang merasa kasihan dengan kakaknya.

__ADS_1


"Kakak harus bertanggung jawab, Dev," ucap Devan penuh dengan penyesalan.


"Lagian kakak kenapa juga mau menikah karena dipaksa oleh orang gak dikenal. Coba kalau melakukan kesalahan langsung bilang ke Papah, pasti semua beres," ucap Devia.


"Kakak bukan anak kecil, yang selalu ngadu kalau ada masalah," kata Devan.


Devia tetap menyuruh Devan pulang, kemudian dia menemui Papahnya. Devia meminta Papahnya agar tidak marah lagi pada Devan.


***


Sore hari Devan baru pulang ke rumah Rena, dia meminta maaf pada istrinya karena lupa tidak menjemputnya.


Rena juga kaget melihat suaminya dengan luka memar di pipinya, kemudian dia mengambil air untuk mengompres.


"Mas, tolong jelaskan apa yang terjadi! kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Rena sembari mengompres bekas tamparan itu.


Devan mengatakan apa yang terjadi sebenarnya, Rena menjadi merasa bersalah. Rena kemudian meminta Devan untuk mengantarkannya ke rumah mertuanya itu.


Rena dan Devan sampai di rumah langsung menemui Papahnya, Hadi Mahendra menyambut Rena dengan baik karena kesopanan Rena.


"Pah, sebelumnya kedatangan saya kesini ingin meminta maaf atas nama Ayah saya. Yang sudah memaksa Mas Devan untuk menikahi saya," ucap Rena dengan lembut.


"Semuanya sudah terlanjur dan terjadi! kamu tidak perlu meminta maaf," kata Hadi Mahendra yang sudah mulai reda amarahnya.


Rena juga meminta restu pada Hadi dan Nadia agar pernikahannya dengan Devan langgeng, orang tua Devan akhirnya memberikan restu.


Hadi dan Nadia bisa menerima Rena menjadi menantunya, mereka juga ingin berkunjung ke rumah Rena untuk menemui Ayah Rena.


**


Orang suruhan Hadi Mahendra sudah mendapatkan identitas kedua besannya, mereka langsung membicarakan masalah ini.


"Bagaimana hasilnya? siapa sebenarnya wanita yang dinikahi Devan?" tanya Hadi Mahendra.


"Gadis yang ada didepan itu anak dari Arman Wijaya, Tuan," ucap orang itu.

__ADS_1


"Apa!" kaget Hadi Mahendra.


__ADS_2