
Karena ada yang berteriak memanggil namanya dan menggedor pintu rumah, Rena kemudian membuka pintu dan menemui orang itu.
"Akhirnya keluar juga kamu!" ucap Fira dengan keras.
Rena mempersilahkan Fira masuk ke dalam rumah dan mengajaknya untuk mengobrol, dia tidak mempermasalahkan status Fira yang tak lain adalah mantan kekasih suaminya.
"Ada perlu apa mencari saya?" tanya Rena dengan sopan.
"Aku minta tinggalin Devan! dia tidak suka sama kamu," ucap Fira.
"Maaf, sepertinya anda salah! Mas Devan ada sama saya, jadi tidak mungkin kalau gak suka," ucap Rena.
"Suami kamu itu milikku! sampai kapanpun aku tidak akan pernah berhenti melepaskannya," kata Fira.
"Ada apa ini?" sahut Devan baru keluar dari rumah setelah mendengar keributan.
Fira langsung memeluk Devan, dia mengatakan kalau tidak ingin berpisah dari Devan lagi. Rena hanya diam menyaksikan semua itu, tetapi ingin rasanya meminta penjelasan pada Devan.
Devan membentak Fira dan mengusirnya pergi dari rumahnya, setelah Fira pergi mereka berdua masuk ke dalam rumah.
"Mas, jelaskan tadi maksudnya apa? kenapa Fira selalu mengejar Mas terus," ucap Rena meminta penjelasan.
"Sayang, kamu jangan marah ya! Fira sebenarnya sangat menyukai Mas, jadi sikapnya seperti itu selalu mengejar-ngejar," jelas Devan. Sepertinya Mas pernah menjelaskan," Lanjutnya.
Rena bisa memaklumi kejadian itu, dia juga berjanji tidak akan marah lagi kalau kejadian seperti ini terulang lagi.
"Mas, kita belum bilang Mamah kalau mau kesini. Nanti gimana kalau nyariin," ucap Rena.
"Biar nanti Mas yang jawab kalau tanya, sekarang kita nyantai aja di sini," kata Devan.
Devan kemudian mengambil laptopnya, dia berkerja dari rumah. Sedangkan Rena membuatkan kopi untuk suaminya.
"Mas, ini kopinya! minum dulu keburu dingin," ucap Rena sembari meletakkan kopi di meja.
"Makasih, sayang! bentar ya, ini lagi nanggung kerjaannya," ucap Devan.
"Rena bisa bantu gak Mas, kira-kira," kata Rena.
"Mas kamu temani saja sudah senang, sayang," ucap Devan tersenyum ke arah istrinya.
Rena tiduran di sofa dekat suaminya, dia memainkan ponselnya lama-lama rasa kantuk datang menghampiri sehingga membuatnya terlelap.
__ADS_1
Devan lalu mendekat ke arah istrinya, dia membelai wajah cantik istrinya. Suara dering ponsel harus menghentikan aktifitasnya, Devan berjalan menjauh dari Rena karena telepon dari Melia.
Melia mengabarkan kalau saat ini dirinya sudah berada di rumah, dia juga mengatakan kalau berharap Devan bisa menemaninya. Tetapi Devan menolak permintaan Melia, ia mengatakan kalau sedang sibuk dengan pekerjaannya di kantor.
Lagi-lagi rasa kecewa yang didapatkan oleh Melia, tau akan mendapatkan perlakuan seperti itu Melia tidak akan menghubungi Devan.
"Devan mematikan teleponnya, lalu hendak kembali ke tempat dimana istrinya berada. Rena ternyata sudah berada dibelakangnya, Devan pun kaget.
"Mas, kenapa berbohong? Bilang sibuk pekerjaan di kantor," ucap Rena.
"Sayang, ini gak penting! percayalah," ucapnya meyakinkan Rena.
Devan lalu merangkul pundak istrinya, dan melanjutkan pekerjaannya tadi.
"Sial! Melia bikin hampir ketauan Rena aja," ucap Devan dalam hati.
Diam-diam Rena memperhatikan suaminya, yang seperti orang sedang melamun. Dia kemudian mengajak Devan berbicara.
***
Melia melemparkan ponselnya, dia kecewa dengan Devan. Padahal tadi malam Andra sudah menasehatinya agar tidak terlalu berharap dengan Devan. Cinta Devan ke Rena tidak bisa dipisahkan karena orang ketiga, hanya maut yang mampu membuat mereka terpisah.
"Luapkan kekesalan lu! percuma gue ngomong panjang lebar gak lu dengerin," kata Andra yang kebetulan datang mengantarkan makan siang untuk Melia.
"Gue nyesel, Ndra... " ucap Melia lirih.
Mumpung ada kesempatan Andra memeluk Melia, dia menenangkan Melia yang sedang kecewa. "Lu, jangan banyak pikiran, entar sakit lagi! gak ada yang jagain di rumah sakit," ucapnya.
"Kenapa juga tadi gue pakai acara telepon Devan, harusnya gue sadar diri," kata Melia.
"Gue tampar lu, lama-lama! udah jangan dipikirkan lagi," kata Andra kesal sendiri dengan Melia karena tidak menuruti apa katanya.
Melia kemudian memakan makanan yang dibawakan oleh Andra, setelah habis dia bertanya harganya dan hendak menggantinya tetapi Melia terkejut karena Andra mengatakan kalau tidak membeli.
"Jadi ini makanan kamu dapat dari mana?" tanya Melia.
"Tenang itu higenis kok! cuma gue bawa dari kantor, gak mungkinlah beli," jelas Andra.
"Sumpah baru ini, gue nemuin orang yang super pelit," kata Melia sudah kembali ceria karena tingkah Andra yang membuat melupakan masalahnya.
Andra tidak terima jika dikatakan pelit, karena dia hanya memanfaatkan dari pada dibuang. Setelah memastikan Melia makan dan minum obat Andra kembali ke kantor.
__ADS_1
"Dari mana aja lu? mana berkas yang tadi gue kasih," ucap Tasya dengan galak saat bertemu dengan Andra di kantor.
"Berkas apa? gue gak nerima berkas," kata Andra.
"Tadi gue titipin...
Tasya langsung pergi tidak jadi melanjutkan ucapnya, dia teringat berkas itu dititipkan pada salah satu petugas kebersihan.
Andra kemudian masuk ke dalam ruang kerjanya, dia mulai fokus dengan berkas yang ada di meja kerjanya lagi.
Tok... tok... tok...
"Masuk!" sahut Andra.
"Ndra, gimana dong ini kalau Pak Devan marah," ucap Tasya yang datang ke ruang kerja Andra.
"Emang gue pikirin! makanya jangan ceroboh," kata Andra.
"Tadi gue titipin berkas dari perusahaan A ke petugas kebersihan, gue suruh kasih ke lu," jelas Tasya.
"Panggil aja orangnya! lu bisa tanya taruh dimana itu berkas," ucap Andra.
Tasya sangat ketakutan karena berkas itu penting, kemudian dia mencari ditumpukan meja kerja Andra tetapi tidak menemukan apapun.
"Tolongin gue dong, Ndra," ucap Tasya dengan wajah paniknya.
"Cari sendiri aja! lu tau kan, itu berkas besok pagi harus ada di ruang meeting," jelas Andra.
"Makanya itu gue nyariin! aduh gimana ini," ucap Tasya kebingungan.
Andra kemudian menemui semua petugas kebersihan dan menanyakan berkas itu, tetapi tidak ada yang merasa dititipi. Mereka juga tidak bertemu dengan Tasya tadi, saat ini ada lima orang yang ditanya oleh Andra.
"Dari sekian orang ini, mana yang lu titipin berkas?" tanya Andra.
"Gak ada, Ndra! mungkin sudah pulang kali ya," ucap Tasya.
Andra kemudian mengajak Tasya untuk mencari berkas itu di ruang kerja Devan, tetapi dia justru menemukan sebuah kertas dan satu tangkai bunga mawar.
"Bucin amat Pak Devan," ucap Tasya.
"Ini dari siapa ya? bahaya ini kalau Rena tau," ucap Andra.
__ADS_1
Andra kemudian menyimpan bunga itu, agar tidak ada yang melihatnya. Kemudian dia fokus mencari berkas yang hilang itu.
Tasya takut dipecat karena kecerobohannya, dia sudah sering menitipkan berkas untuk diberikan Andra ke orang. Baru kali ini dia kehilangan berkas penting, yang dia titipkan.