Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 58 TAMAT


__ADS_3

Mamah Nadia dan Devan dengan senang hati menerima tawaran Melia, karena mereka sudah pasrah dan tidak tau harus berbuat apa lagi.


"Iya, Melia! Tante mengizinkan, terimakasih sudah mau membantu. Maafkan keegoisan Tante waktu itu," ucap Nadia sembari memeluk Melia.


"Gue juga sangat berterimakasih sama lu, Mel," kata Devan.


Melia melakukan semua ini karena Rena adalah sahabatnya, dia malu dengan Rena kalau tidak membantunya.


"Udah ngobrolnya! ayo Melia," ucap Dokter Alex.


Proses transfusi darah dari Melia berjalan dengan lancar, kini tinggal menunggu Rena sadar dari komanya.


Berhubung bayi Rena sudah diperbolehkan untuk dibawa pulang, Melia ingin sekali merawat bayi sahabatnya.


"Devan, kalau gue yang rawat bayi lu gimana?" tanya Melia.


"Maaf, Mel! biar Mamah saja yang merawat bayi ku dan Rena," kata Devan.


Melia tau bagaimana perasaan Devan, jadi tidak berani memaksa.


"Iya, Melia! benar kata Devan, dia juga kemarin bilang sama saya," kata Mamah Nadia.


Devan belum memberi nama bayinya karena menunggu Rena sadar, dia ingin istrinya yang memberikan nama.


"Dok, apa Rena bisa dijenguk," ucap Mamah Nadia.


"Untuk sementara waktu pasien harus banyak istirahat, jadi belum bisa," kata Dokter Alex.


"Lex, kapan istri gue sadar," sahut Devan.


"Lu, yang tabah! kita akan berusaha semaksimal mungkin," kata Dokter Alex.


Hati Devan bertambah hancur, apalagi ditambah mendengarkan tangis bayinya.


Keesokan harinya Rena juga belum sadarkan diri, kini bayinya sudah berada di rumah. Rena juga sudah diperbolehkan untuk dijenguk, karena sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa namun berbagai alat bantu masih melekat pada tubuhnya.


"Pak, kalau bisa pasien harus diajak bicara sesering mungkin, agar cepat sadar," ucap seorang suster.


"Baik, Suster," ucap Devan singkat.


Siang hari Melia datang ke rumah sakit, dia ingin menjenguk Rena.


"Van, lu makan dulu deh! biar gue jagain Rena," kata Melia.


"Gue mau makan bareng Rena, Mel," ucap Devan.


"Kalau lu sakit yang ada gak bisa jaga Rena, terus anak lu gimana? mikir dikit, gue tau perasaan lu saat ini," kata Melia dengan kesal.

__ADS_1


"Tapi lu jaga Rena baik-baik ya! jangan pergi sebelum gue datang," kata Devan.


Devan kemudian keluar dari ruang rawat Rena, kebetulan saat diluar bertemu dengan Andra dan Papahnya. Jadi mereka bertiga pergi ke kantin rumah sakit tersebut.


***


"Melia, terimakasih ya sudah menjagaku," ucap Rena.


"Kamu seperti sama siapa aja, Rena! dulu kita juga sering bersama," ucap Melia.


"Banyak aku yang merepotkan kamu! oh... iya. aku mau menitipkan anak ku sama kamu dan Mas Devan, kebetulan kalian juga belum bercerai kan?" ucap Rena.


"Gak, Rena! kan waktu itu kamu ikut ke pengadilan, kalau kita sudah bercerai! soal anak kamu, kan kamu sama Devan bisa rawat sendiri," ucap Melia. Anak kamu butuh kasih sayang, perhatian kamu," Lanjutnya.


"Aku sudah bahagia, bersama Ayah," ucap Rena.


"Rena!" teriak Melia.


"Melia, lu kenapa?" tanya Andra yang baru datang.


"Rena, kamu jangan pergi! kasihan anak kamu," ucap Melia sambil menangis.


"Mel! lu kenapa?" tanya Andra lagi.


Melia mengatakan kalau dia tadi bertemu dengan Rena, ternyata dia tertidur dan bermimpi bertemu Rena. Padahal tadi Melia tidak mengantuk, tetapi tiba-tiba matanya terpejam.


"Melia, kamu jangan menangis lagi! Rena pasti akan sadar, kita do'akan saja," ucap Hadi Mahendra.


"Iya, Om! Rena juga tidak akan tega meninggalkan anaknya.


Andra mengajak Melia untuk melanjutkan pekerjaannya, karena tadi ditinggal begitu saja. Papah Devan juga harus pergi, karena ada keperluan.


Mamah Nadia juga belum bisa datang, karena harus menjaga bayi Rena di rumah.


Devan yang tinggal seorang diri menunggu istrinya, kini menggenggam erat tangan Rena. Dia menguatkan istrinya, agar bisa cepat sadar karena kasihan anaknya yang belum pernah Rena sentuh, peluk, bahkan dia gendong.


"Sayang, cepat bangun! masa kamu tega membiarkan anak kita tidak merasakan kasih sayangmu, dia membutuhkanmu sayang! bahkan Mas belum kasih nama buat anak kita, Mas nunggu kamu bangun," ucap Devan menitihkan air mata.


Mata Rena juga meneteskan air mata, jari tangannya sedikit bergerak. Tetapi belum juga terbangun dari komanya, kemudian Devan mengelap air mata Rena dengan tisu.


"Mas janji tidak akan meninggalkan kamu sedetikpun, akan selalu ada disamping kamu! cepat bagun sayang, kita rawat buah hati kita bareng-bareng," ucap Devan lagi.


Satu minggu sudah berlalu, Devan tidak pernah pulang ke rumah. Bahkan untuk melihat anaknya, hanya melalui video call. Dia tidak mau meninggalkan Rena sendiri di rumah sakit.


Siang hari Andra dan Melia juga selalu datang, untuk menggantikan Devan sebentar. Devan meninggalkan Rena hanya saat mandi dan makan.


"Lex, gimana perkembangan istri gue," tanya Devan saat Dokter Alex selesai memeriksa Rena.

__ADS_1


"Kita hanya bisa berdoa, semoga ada keajaiban, Van! kalau alat bantu kita lepas mungkin Rena....


"Maksud lu apa! bicara seperti itu!" teriak Devan tidak terima dengan penjelasan Dokter Alex.


Padahal Dokter Alex mengatakan apa yang sedang terjadi dengan Rena, dia juga sudah berusaha semaksimal mungkin. Berbagai cara dia lakukan agar Rena segera sadar, Dokter Alex juga menyarankan agar anak mereka dibawa ke rumah sakit dahulu untuk didekatkan dengan Rena.


Devan lalu memberitahukan pada Mamahnya, agar cepat datang ke rumah sakit dengan anaknya.


Mamah Nadia segera mengajak seluruh penghuni rumah untuk pergi ke rumah sakit, dia sangat panik dengan keadaan Rena. Sampai di rumah sakit, Mamah Nadia memberikan bayi Rena pada Devan.


"Sayang, ini anak kita! coba lihatlah, mirip sekali dengan mu," ucap Devan mendekatkan bayinya pada Rena.


Bayi itu menangis dengan kencang, membuat Devan panik. "Sayang, cepat bangun anak kita menangis, aku tidak tau cara mendiamkan," kata Devan.


Perlahan Rena mulai menggerakkan tangannya, dan mulai membuka matanya.


"Sayang, kamu bangun," ucap Devan lalu memberikan bayinya pada Mamah Nadia.


Devan sangat bahagia sampai menangis, sembari memeluk Rena dengan erat.


"Sayang, jangan banyak bergerak dulu," kata Devan lalu memangil Dokter Alex.


Dokter Alex segera memeriksa keadaan Rena, yang ternyata sudah sangat baik. Dia sangat bersyukur karena ada keajaiban yang membuat Rena sadar. Dokter Alex juga sudah melepas semua alat bantu pernafasan.


"Sayang, ini anak kita," ucap Devan memberikan bayinya pada Rena.


Dengan rasa bahagia yang begitu mendalam, Rena memeluk bayinya dan menciumnya.


"Mas, Melia mana?" tanya Rena.


"Ada diluar, sayang! biar Mamah panggil," ucap Mamah Nadia.


Kini semua sudah berkumpul di ruangan itu, Rena memberikan nama untuk bayinya REVAN JAYA MAHENDRA.


Mamah dan Papah Devan sangat bahagia, mereka juga setuju dengan nama yang diberikan oleh Rena.


"Semuanya yang ada disini! gue mau melamar janda kesayangan gue yaitu Melia," ucap Andra. Membuat mereka semua bersorak gembira.


Andra mengeluarkan sebuah cincin berlian, dan memasangkan di jari Melia. Melia meminta izin Rena dan Devan, keduanya sangat setuju.


Akhirnya lamaran Andra berjalan dengan mulus, mereka semua sangat bahagia. Revan menangis dengan kencang, membuat mereka semua tertawa.


**Setiap ada kepedihan pasti akan ada kebahagiaan yang menghampiri, jalani hidup penuh dengan rasa bahagia dan jangan pernah mengeluh walaupun cobaan terus menghampiri.


...❤❤❤...


...TAMAT**...

__ADS_1


__ADS_2