
Melia harus kembali menelan kenyataan pahit, apa yang dia lihat saat ini lebih menyakitkan dari apa yang sedang dia alami saat ini.
"Rena... " ucapnya lirih.
Melia melihat Rena turun dari mobil Devan, Rena yang menarik-narik tangan Devan menuju ke arahnya. Melia kemudian menghapus air matanya dan pura-pura tersenyum.
"Mas, kenalin ini Melia teman yang aku ceritain itu," ucap Rena tersenyum bahagia bisa mengenalkan suaminya pada sahabatnya.
Melia lalu menjabat tangan Devan, seperti orang berkenalan pada umumnya. Begitu pula dengan Devan, mereka pura-pura tidak mengenal demi menjaga hati Rena.
"Sayang, Mas berangkat ke kantor dulu ya," ucap Devan.
"Kenapa buru-buru, Mas! kita ngobrol dulu sama Melia," kata Rena.
"Kerjaan Mas banyak, Sayang," ucap Devan sembari mengelus pucuk rambut Rena.
Begitu perhatian Devan pada Rena membuat Melia memalingkan mukanya, dia ingin menjerit dan menangis dengan kencang.
"Ya Udah! lain kali ya, Mas?" ucap Rena.
"Pasti, Sayang," ucap Devan lalu mencium kening Rena didepan Melia.
Devan kemudian pergi ke kantornya, kini tinggal Rena dan Melia.
"Melia, kamu kenapa lagi? kok seperti habis menangis," ucap Rena.
"Gak papa, Rena! aku ke toilet dulu," kata Melia.
"Aku antar ya," ucap Rena dengan wajah khawatir.
Di dalam toilet Melia menangis, dia tidak tau dari mana akan mengatakan kebenarannya pada sahabatnya. "Kenapa harus Rena! Kenapa," ucapnya dalam hati.
Tok... tok... tok...
"Melia... Mel... kamu baik-baik aja kan?" tanya Rena berada dibalik pintu toilet.
Melia menghapus air matanya, lalu mencuci muka dan mengelapnya dengan tisu baru dia membuka pintu dan keluar dari dalam toilet. Aku baik-baik saja, Rena! kamu jangan khawatir," ucapnya.
Rena tersenyum dan memeluk sahabatnya, mereka kemudian pergi ke kelas karena ada pelajaran dari dosen.
"Rena, seandainya kita punya suami yang sama gimana?" tanya Melia saat dosen sudah keluar dari kelas.
"Aku akan bahagia, kita bisa tinggal satu rumah. Tetapi aku berharap semua jangan sampai terjadi, aku takut kalau suami kita tidak adil persahabatan kita yang jadi korban," jawab Rena dengan bijak.
"Arvin gak kasih aku kabar," ucap Melia mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Sudah tanya keluarganya? dia sampai belum," kata Rena.
Melia menggelengkan kepalanya, lalu mengajak Rena untuk pulang .
Pulang dari kuliah Rena langsung ke rumahnya, sedangkan Melia pergi ke kantor Devan. Dia ingin berbicara dengan Devan, soal Rena.
"Devan, gue mau bicara sebentar," kata Melia berada di ruang kerja Devan.
"Bicara apa? katakan saja!" ucapnya dengan ketus.
"Gue minta tolong, jangan sakiti Rena! dia orang baik, selalu ada buat gue," kata Melia.
"Justru lu yang nyakitin dia," kata Devan.
"Gue tau! kalau kita bisa cerai sekarang gue lakuin, tapi ini masalahnya menyangkut persetujuan orang tua," jelas Melia.
"Sekarang lu pilih sahabat atau keluarga! biar semua kelar," kata Devan. Gue udah cari pengacara buat urus masalah ini," Lanjutnya.
"Apa? kenapa lu gak tanya gue dulu," kata Melia.
Menurut Devan kalau menunggu persetujuan Melia akan lama, dan mengulur waktu. Devan tidak mau sampai Rena mengetahui dan kecewa dengannya. Devan tidak ingin kehilangan Rena, wanita yang paling dia cintai. Walaupun sering berganti kekasih tetapi Devan tidak pernah serius, dia hanya ingin tau saja.
"Devan! kita harus ke luar kota sekarang juga!" teriak Andra tidak tau kalau ada Melia didalam.
"Masalah proyek yang kita kerjakan kemarin, udah ayo berangkat! jangan ngobrol terus," kata Andra.
"Melia, lebih baik lu pulang aja! ingat, cepat urus perceraian kita!" ucap Devan dengan tegas.
"Eh... ada Melia! jadi malu," ucap Andra lalu tersenyum.
Melia kemudian pulang, dia berencana membahas masalah ini dengan Papahnya.
Devan dan Andra kemudian menyiapkan berkas yang akan dia bawa, karena waktu mereka terbatas. Devan pulang ke rumah lebih dulu.
"Sayang, Mas sekarang harus keluar kota lebih dulu," ucap Devan.
"Rena di rumah sendiri dong, Mas," ucap Rena mengerucutkan bibir.
Devan mengatakan pada istrinya, kalau dia akan mengantarkan Rena ke rumah Mamahnya agar lebih dekat dengan Mamah Nadia, Devia dan Minah. Rena menyetujui permintaan suaminya itu.
"Mah, Devan titip Rena ya! ada kerjaan diluar kota," ucap Devan saat mengantarkan Rena.
"Kaya barang aja! yang lama ya," ucap Nadia bercanda.
"Awas aja kalau sampai lecet! pokoknya Mamah yang harus tanggung jawab," ucap Devan.
__ADS_1
Devan memberikan selembar kertas pada Mamahnya, di kertas tertulis dilarang menyuruh Rena dan memarahinya. Nadia hanya tertawa melihat kelakuan putra sulungnya.
"Udah sana berangkat! malah ngomong aja dari tadi," usir Nadia.
"Tante, Rena, aku pamit dulu! do'ain dapat jodoh di sana," ucap Andra.
Rena hanya tersenyum melihat kekonyolan dua orang itu, mereka berdua menurut Rena memang cocok. Devan berpamitan pada istrinya, lalu mencium keningnya.
Setelah Devan dan Andra berangkat Nadia memanggil Minah kesayangannya.
"Minah!" teriak Nadia.
"Iya, Nyah! Minah dengar jangan teriak," kata Minah.
"Antar Nona Rena ke kamarnya, saya mau pergi arisan," pamit Nadia.
"Siap! Nyonya," ucap Minah.
"Sayang, kamu istirahat aja! Mamah mau arisan dulu," ucap Nadia pada Rena.
"Mamah, hati-hati ya," kata Rena.
"Ayo Non, masuk aja! biarkan Nyonya tiap hari arisan terus," ucap Minah sembari membawakan koper milik Rena.
Rena hendak meminta kopernya, tetapi Minah tidak memperbolehkan. Sesuai pesan majikannya, dia takut kalau Rena lecet.
Devia tau kalau Rena datang, langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia mengajak ngobrol kakak iparnya dan mengajaknya jalan-jalan. Rena menolak ajakan Devia, karena belum izin ke suaminya.
"Kakak, kenapa gak mau? nanti kita jajan di sana, banyak makanan enak," rayu Devia.
"Mas Devan gak ada di rumah, Devia. Kakak tidak mau membuatnya khawatir," ucap Rena.
"Kak, ayolah! jangan nurut-nurut sama kak Devan," ujar Devia.
Rena tetap tidak mau diajak adik iparnya, karena dia harus nurut dan menghargai suaminya. Dia kemudian menyuruh Devia untuk belajar, dia juga mengatakan kalau Devan sudah pulang baru mau diajak jalan-jalan.
Malam hari Rena mendapatkan panggilan telepon dari suaminya, Devan memberikan kabar kalau dia sudah sampai di luar kota.
"Sayang, aku sudah sampai," kata Devan.
"Syukurlah, Mas! semoga lancar ya urusannya," kata Rena.
"Iya, Sayang! sekarang kamu tidur, ini udah malam," kata Devan.
Begitulah kiranya percakapan mereka, Devan juga mengatakan kalau akan mempercepat pekerjaannya agar besok bisa pulang. Tiba-tiba telepon mereka mati, Rena begitu panik karena belum selesai berbicara dengan suaminya. Rena kemudian menghubungi Devan kembali, tetapi tidak bisa.
__ADS_1