Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 26


__ADS_3

Perlahan Andra membuka panci yang ditunjukkan oleh Minah tadi, dan ternyata setelah dibuka isinya adalah kepiting rebus.


"Minah, keterlaluan kamu! masa iya kepiting rebus suruh makan," ucap Andra.


"Makanya kalau Minah lagi sibuk jangan ganggu! Minah kerja disini," jelas Minah kemudian menunjukkan makanan yang sudah diberesi tadi pada Andra.


"Nah, gini dong dari tadi," ucap Andra kemudian ia makan dengan lahap tanpa ada suara.


"Giliran udah makan anteng! dasar kerjanya ganggu," omel Minah melanjutkan pekerjaannya.


Devan datang memanggil Andra, dia dari tadi disuruh ke kantor malah mengganggu Minah. Ingin rasanya dia menjitak temannya itu, belum lagi kalau Devia nongol pasti rumah mendadak seperti pasar. Tetapi momen seperti ini akan tidak mereka temui lagi, jika salah satu pergi atau kemana.


***


Keesokan harinya Nadia datang ke rumah Andra yang ditempati Melia. Dia mengetuk pintu dengan kencang, karena dari tadi tidak ada sahutan dari dalam.


Lima menit kemudian Melia baru membuka pintu rumah, dia masih dalam keadaan berantakan mata lebam dan rambut acak-acakan khas bangun tidur.


"Maaf, anda siapa? kenapa pagi-pagi datang ke rumah orang, ganggu orang tidur," ucap Melia berdiri di depan pintu sembari menggaruk rambutnya.


"Kenalkan dulu, saya Mamahnya Devan," ucap Nadia melihat Melia dari atas sampai bawah.


"Em... Mamah! Mari silahkan masuk," ucap Melia menjabat tangan Nadia.


Melia mempersilahkan Nadia untuk duduk, kemudian dia pergi ke dapur untuk membuatkan minuman.


"Mamah, kenapa tidak bilang-bilang kalau mau datang," ucap Melia malu karena penampilannya masih berantakan.


"Saya kesini cuma mau melihat seperti apa wanita yang sudah berani menjebak anak saya! kamu tau Devan sudah menikah," kata Nadia.


"Mah, maafkan orang tua saya! kalau saya tau dari awal Devan sudah menikah, pasti saya tolak," kata Melia. Tetapi semua sudah terlanjur," Lanjutnya.


"Bagus kalau kamu sudah tau," ucap Nadia.


"Bahkan saya mengenal istri Devan, dia adalah sahabat ku," ujar Melia.


"Apa! aku gak salah dengar kan," kata Nadia.


Melia menceritakan semua yang dia alami, hingga menitihkan air mata. "Saat ini hanya Devan yang bisa membantu saya, Mah. tolong jangan suruh kita cerai dulu," ucapnya.

__ADS_1


"Biar Devan yang menentukan sendiri! aku ingatkan jangan sampai kamu suka sama Devan, aku tidak mau Rena sakit hati," kata Nadia.


"Kenapa... kenapa semua orang hanya memikirkan perasaan Rena! mereka semua tidak ada yang peduli dengan ku," ucapnya dalam hati.


Melia hanya mengangguk, air matanya semakin menetes deras. Dia merasakan sakit hati karena merasa tidak ada yang peduli, bahkan kekasihnya lebih memilih meninggalkan dirinya.


Nadia kemudian berpamitan pulang, karena Rena di rumah sendiri.


"Mah, tunggu!" teriak Melia saat Nadia hendak masuk ke dalam mobil.


"Kenapa lagi? aku tidak meminta kalian bercerai, tetapi jaga perasaan Rena," ucap Nadia.


"Apa boleh Melia main ke rumah, untuk menemui Rena," kata Melia.


Nadia berfikir kalau mereka satu rumah, Rena akan cepat mengetahui semuanya dan dia bisa kehilangan menantu yang sangat dia sayangi. "Maaf, aku tidak akan mengizinkan untuk itu," ucapnya kemudian masuk ke dalam mobil.


Melia menatap kepergian Nadia, dia seperti tidak dianggap oleh mertuanya itu.


Melia masuk ke dalam rumah, lalu menguyur tubuhnya dibawah pancuran shower. Selesai mandi Melia berkaca, dengan keadaan masih berbalut handuk.


"Melia! kamu harus bisa melewati semua ini," ucapnya.


Melia tersenyum sambil berkaca, dia hanya menguatkan dirinya sendiri dibawah gempuran masalah yang tidak ada habisnya.


***


"Tapi kakak belum minta izin, Dev," kata Rena.


Devia terus memaksa Rena untuk menemaninya jalan-jalan ke mall, karena dia sekarang sedang libur sekolah.


Rena akhirnya mau menuruti apa keinginan adik iparnya itu, kebetulan dia juga tidak ada kuliah. Dia sampai lupa tidak meminta izin sama Devan, saking terburu-buru. Mereka berdua pergi ke mall naik taksi online, karena di rumah tidak ada kendaraan lagi.


"Kakak, mana ini yang bagus pink atau ungu?" tanya Devia sembari menempelkan dua baju yang berbeda pada tubuhnya.


"Yang pink aja! kelihatannya lebih lembut warnanya," ucap Rena.


"Ok deh! yang pink aja," kata Devia mengembalikan baju yang warna ungu tadi.


Devia menyuruh Rena untuk memilih baju yang pantas untuknya, Rena menolak karena tadi dia hanya ingin menemani adiknya.

__ADS_1


"Cepat kak, pilih! nanti Devia yang bayar," kata Devia baru saja dapat uang jajan dari Papahnya dan Devan.


"Harusnya kakak yang beliin kamu, Dev. Tapi kakak belum ada uang," kata Rena.


"Kak Devan baru saja kasih aku, Kak. Emang gak dikasih?" ucap Devia.


"Dikasih ATM, Dev," ucap Rena menunjukkan kartu ATM pemberian dari Devan.


"Kakak gak adil," ucap Devia.


Devia meminta Rena untuk mentraktirnya makan, karena melihat ATM milik Rena yang pastinya isinya banyak. Mereka berdua bercanda dan saling meledek, seperti saudara kandung sendiri.


"Devia, kamu mau makan apa?" tanya Rena.


"Makanan yang paling mahal di cafe ini," jawab Devia begitu melihat menunya ia tidak jadi memesan. Gak jadi kak! yang ini aja," Lanjutnya.


"Oke," ucap Rena kemudian memanggil pelayan cafe itu dan memesan makanan yang ditunjuk Devia tadi.


Sembari menunggu makanan datang Rena membuka ponselnya, ternyata puluhan pesan masuk dari suaminya. "Dev, kakak mu marah," ucapnya.


"Biarin aja kak! nanti juga baikan lagi," kata Devia asal.


Rena menghubungi balik suaminya, dan mengatakan kalau sedang berada di cafe bersama Devia. Kebetulan pas jam makan siang, jadi Devan menyusul ke cafe itu.


"Sayang, kenapa gak bilang kalau mau jalan sama Devia," ucap Devan saat sudah sampai di cafe dimana Rena dan Devia berada.


"Maaf, Mas! tadi kita gak ada rencana," kata Rena.


"Setidaknya bilang dong, Mas kan bisa kasih kalian jajan," kata Devan.


Devia lalu berterima kasih pada Devan, karena sudah mengirimkan sejumlah uang kepadanya. Devan bingung, dia merasa tidak mengirimkan uang pada Devia.


Kebetulan makanan sudah datang, mereka bertiga lalu makan bersama. Disela-sela makan Devia mengatakan ingin mempunyai ATM seperti milik Rena, Devan bertambah kaget karena dia juga sudah memberikan tetapi isinya berbeda.


"Kakak udah kasih buat kamu, Dev! masa minta lagi, bisa bangkrut nanti," kata Devan.


"Kakak, kapan kasih? Devia belum nerima lho," ujar Devia.


Devan kemudian mengingat-ingat lagi, dimana dia menaruh kartu ATM yang akan diberikan pada adiknya.

__ADS_1


"Habisin dulu makanannya! nanti kita cari," sahut Rena.


Selesai makan mereka ikut Devan ke kantor, karena mereka ingin mencarinya di sana. Kebetulan Rena dan Devia tadi juga tidak membawa kendaraan sendiri.


__ADS_2