
Rena belum bisa memaafkan kebohongan Devan, dia masih sakit hati. "Mas, kalau sudah tidak kedinginan, lebih baik Mas pulang," ucapnya.
"Tidak sayang, Mas tetap akan bersama kamu," ucap Devan.
Devan juga sudah memohon pada istrinya agar tidak diusir dari rumahnya, tetapi Rena masih belum ingin bertemu dengan Devan sebenarnya. Kalau tidak melihat Devan menggigil kedinginan, ia tidak akan pernah membukakan pintu untuk suaminya.
"Sayang, walaupun Mas menikah dengan Melia tetapi Mas sayang sama kamu," ujar Devan.
"Kenapa tega menyakiti dua wanita sekaligus! apa Mas bukan manusia," ucap Rena.
"Melia tidak pernah menyukai Mas, sayang! kita menikah karena diancam oleh Salman, Papah angkat Melia," ucap Devan.
"Rena tau, Mas! Bahkan Melia sering cerita soal sikap Mas," kata Rena. Mungkin dari awal kalau Rena tau masih bisa memaafkan, Mas," Lanjutnya.
"Tapi bukan kemauan Mas juga menikah dengannya, bahkan orang tua dia sendiri yang menjerumuskan anaknya! salah Mas dimana," kata Devan.
"Salah Mas, tidak bilang dari awal kalau menikah dengan Melia," ucap Rena tidak berubah.
Devan mengakui salahnya sudah berbohong pada istrinya, dia juga meminta maaf. Tetapi Rena masih belum bisa memaafkan suaminya itu, Dia juga berjanji tidak akan mengulang kebohongan lagi, walaupun itu terpaksa sekalipun asalkan Rena mau memaafkannya kembali.
"Non, ada yang mau bertemu," ucap Ayu.
"Tolong suruh masuk aja, Mbak! siapapun orangnya Rena gak peduli," ucap Rena.
Ternyata yang datang adalah Melia bersama Andra, dia mau menjelaskan dan meminta maaf pada Rena.
"Rena," ucap Melia.
"Ada apa datang kesini?" ucap Rena ketus.
"Saya mau meminta maaf, Rena! sudah menyembunyikan semuanya," kata Melia.
"Kamu menganggap aku apa, Mel? selama ini kita selalu bersama, setiap ada masalah kamu cerita! Aku tidak menyangka ternyata kamu istri suamiku," kata Rena.
"Rena... " ucap Melia lirih.
"Aku tidak peduli lagi dengan semuanya, Melia! kamu tidak perlu menjelaskan apapun lagi," kata Rena.
"Rena, kamu tidak tau apa yang dialami Melia! selama ini dia sudah berusaha mengurus perceraiannya dengan Devan, sampai rela meninggalkan hartanya," kata Andra.
Rena tetap tidak peduli dengan ucapan Andra, yang Rena sesalkan mereka berdua menutupi semua hampir satu tahun.
"Aku sadar, Rena! aku yang salah, sudah tega berbohong sama kamu. Tolong maafkan aku," ucap Melia memeluk Rena.
__ADS_1
Rena meneteskan air matanya, dia mencoba untuk menurunkan egonya dengan memaafkan Melia dan suaminya. Dia sadar tidak selamanya manusia akan benar terus, pasti akan ada banyak kesalahan yang sudah dilakukan.
Memaafkan memang tidak mudah, apalagi kesalahan mereka adalah berbohong dan menyembunyikan rahasia sebesar ini.
Devan dan Melia sangat bahagia, akhirnya bisa meluluhkan hati Rena. Mereka berdua memeluk Rena secara bergantian, dan berjanji hendak mengurus perceraian mereka secepatnya.
"Mel, sebenarnya kalian tidak perlu bercerai," kata Rena.
"Maksudnya apa, Sayang? tidak mungkin lagi, Mas harus mencintai Melia," kata Devan.
"Gue juga gak sudi suka sama, lu," ucap Melia.
"Udah jangan berantem! gue juga punya perasaan, Melia," sahut Andra.
"Dia masih istri gue, Ndra," kata Devan sembari memeluk Rena.
Melia ingin mengajak Rena untuk makan malam, sebagai bentuk terimakasih karena sudah memaafkannya. Akhirnya dia bisa akur lagi dengan Rena, itu adalah suatu kebahagiaan.
"Sayang, ada yang terlupakan," kata Devan.
"Apa, Mas?" ucap Rena.
"Tolong cabut tuntutan perceraian kita," ucap Devan.
Devan kaget mendengar ucapan Rena, kemudian meminta ponsel Rena lalu menghubungi pengacara keluarga, dia meminta untuk menggagalkan perceraian ini.
"Jangan dicabut, Rena! biar tau rasa tuh orang," ucap Andra.
"Iya, gak akan," ucap Rena tersenyum.
Devan lalu mengajak Rena untuk pulang ke rumah Mamah Nadia, tetapi dia menolak karena masih ingin menempati rumah peninggalan orang tuanya.
"Melia, harusnya ini pelajaran buat lu! jangan asal mau dinikahkan sama suami orang," ujar Devan.
"Tenang aja! gue mau nikah sama Andra aja kalau gitu," kata Melia asal.
"No! gue gak mau punya istri ceroboh kaya lu, udah bangun siang! makan yang mahal," ujar Andra.
"Apalagi lu, pelit! ngalahin demit," kata Melia.
"Berisik kalian semua," kata Devan.
Melia juga tidak mau pulang dia mau menemani Rena, tinggal di rumah Ayahnya. "Rena, nanti Papah sama Mamah aku mau kesini," kata Melia.
__ADS_1
"Yaampun! aku jadi merepotkan mereka, rasanya gak enak," ucap Rena.
"Iya, harus kesini itu Salman! biar bertanggung jawab," sahut Devan.
"Sekalian dong, gue bisa lamar Melia," ucap Andra asal bicara.
Selang beberapa menit orang tua Melia sudah sampai di depan rumah, mereka semua menyambut dengan ramah kedatangan Salman dan Ema.
"Rena, sebenarnya semua ini salah Om. Sudah mengancam Devan untuk menikah dengan Melia, Om juga menjebaknya untuk tanda tangan surat perjanjian, yang isinya tidak akan pernah menceraikan Melia. Om minta maaf," ucap Salman dengan sungguh-sungguh.
"Rena sudah memaafkan semuanya, om! Rena harap kejadian seperti ini tidak terjadi lagi, rasanya sakit hidup dalam kebohongan," kata Rena.
"Tante juga minta maaf, Rena," ucap Ema.
Rena tersenyum karena semua sudah saling memaafkan dan mengakui kesalahannya, terutama Papah angkat Melia.
"Devan, kamu masih marah sama Om?" tanya Salman karena dia dari tadi memperhatikan Devan hanya diam dan tidak mempedulikan dirinya.
"Seperti yang Om lihat! gimana jadi seorang laki-laki yang harga dirinya direndahkan," ucap Devan.
Devan tetap memberikan maaf untuk Salman, tetapi dengan syarat harus dengan segera mengurus perceraiannya dengan Melia.
"Melia, lu harus siap jadi janda," kata Andra asal bicara tanpa memikirkan perasaan Melia saat ini.
Melia sekarang merasa senang karena masalah ini terselesaikan dan dia bisa akur dengan orang tuanya lagi, tetapi ada satu hal yang membuat dia bersedih. Dia akan berstatus menjadi seorang janda, yang selalu dicap buruk dimata orang.
"Gak papa gue janda, entar juga ada yang mau menjadi suami gue," ucapnya melirik Andra.
Melia kemudian mengatakan kalau ingin menepati janjinya, mereka semua hendak diajak untuk makan malam. Kebetulan dia tidak berkerja lagi, karena tidak diperbolehkan oleh Mamah Ema.
"Pah, Mah, kalian pulang aja dulu! Melia nanti mau tidur disini, kita juga mau makan-makan dulu," ujar Melia.
"Iya, sayang! kita juga mau makan berdua ingat berdua!" ucap Mamah Ema.
"Om, Tante, izinkan saya melamar Melia gimana?" ucap Andra.
"Boleh! asal mahar rumah seisinya," ucap Mamah Ema bercanda.
"Oh... iya! aku sudah punya rumah dari Devan," ujar Melia.
Rena menatap tajam Devan, meminta penjelasan, karena tadi sempat bilang kalau tidak sayang sama Melia dan tidak pernah menyentuhnya juga.
"Sayang, nanti Mas jelaskan," kata Devan.
__ADS_1
Rena mengerucutkan bibirnya, karena dia yang tidak tau apa-apa sendiri.